
Bak adegan romantis dalam sebuah drama, Andreas rela tersiram air kotor demi melindungi wanita yang merupakan istrinya itu. Posisi wajah mereka begitu dekat. Andreas menatap dalam Zoya yang ada di dalam rangkulannya.
Ini pertama kalinya Andreas benar-benar memandang wajah Zoya. Dari sana dia menyadari jika istrinya itu cantik dan memiliki bola mata yang indah meneduhkan.
DUG.. DUG..
Degupan jantung Andres tiba-tiba terasa lebih cepat seperti orang sedang kasmaran. Dia segera menjauh dari Zoya. Dia tidak mau sampai Zoya mendengar detak jantungnya yang entah mengapa tidak berdetak seperti biasanya saat dekat dengan Zoya.
Zoya menutup mulutnya yang terbuka dengan satu tangan. Hal itu karena dia melihat punggung Andreas basah dan jasnya menjadi sangat kotor.
"Aduh maaf ya Tuan, gara-gara saya jadi basah dan kotor seperti itu." Ucap Zoya merasa bersalah.
"Tidak apa-apa, lebih baik jas ini yang kotor daripada kau." Ucap Andreas sembari melepas jasnya, sebelum airnya ikut membasahi kemejanya juga.
BLUSH ..
Perkataan Andreas itu membuat pipi Zoya memerah. Dia cukup tercengang atas perkataan suaminya itu. Karena ini pertama kalinya Andreas perhatian padanya. Tapi saat mengingat apa yang di katakan Andreas malam itu, Zoya tidak jadi merasa senang.
"Apakah kau akan berdiri di sana sampai besok pagi?" Tanya Andreas yang sudah akan masuk ke dalam mobilnya.
"Eh.. tidak Tuan." Jawab Zoya tersentak dari lamunannya.
"Lalu kenapa kau masih diam di sana?" Andreas memberi isyarat untuk Zoya ikut dengannya masuk ke dalam mobil.
Zoya pun langsung berjalan cepat menuju mobil. Dia masuk kedalam dan duduk di bangku belakang.
"Kau menganggapku sopir pribadi?" Ujar Andreas tanpa menoleh.
"Maaf Tuan, saya tidak bermaksud begitu." Ucap Zoya sembari beranjak keluar dan pindah ke bangku depan di sebelah Andreas.
Beberapa menit kemudian Andreas masih belum juga menjalankan mobilnya. Padahal Zoya sudah naik dan menutup pintunya dengan benar.
Tiba-tiba saja Andreas mendekat pada Zoya, sangat dekat sekali. Seperti akan memeluk Zoya. Hal itu membuat Zoya tidak bisa berpikir jernih. Zoya berpikir Andreas akan menciumnya. Matanya pun terpejam.
CEKLEK ...
Mendengar bunyi itu Zoya langsung sadar jika Andreas hanya memasangkan sabuk pengamannya. Ternyata sejak tadi Andreas menunggu Zoya memasang sabuk pengamannya. Itulah yang membuat Andreas tidak lekas mengemudikan mobilnya. Kini setelah sabuk Zoya terpasang mobil pun jalan.
Zoya membuka mata dan langsung membuang muka menatap keluar jendela. Dia sungguh sangat malu. Bisa-bisanya dia memikirkan hal-hal di luar jangkauan seperti itu.
__ADS_1
Hal langka pun terjadi. Andreas yang notabene kaku dan sedingin es batu itu terlihat tersenyum karena tingkah Zoya. Namun sayangnya Zoya tidak melihat kejadian itu.
Dalam perjalanan Zoya hanya terdiam dengan pemikiran-pemikiran di dalam otaknya. Menurutnya sikap Andreas berbeda malam ini. Andreas memang masih ketus dengan ucapannya, tapi tindakannya begitu manis.
"Arah pulang ke apartemen dari kantor dan butik itu tidak searah. Jadi Tuan Andreas sengaja menjemputku." Batin Zoya sembari menahan agar tidak tersenyum.
DRTT.. DRRTT...
Ponsel Andreas yang diletakkan di dasbord menyala. Tertera panggilan masuk dari Papa Brahmantya. Andreas segera memakai handsfree yang memang sudah tersambung pada ponselnya.
"Halo pah, ada apa?"
"Andreas mama sakit. Papa bawa mama ke rumah sakit Harapan Sehat."
"Aku akan menyusul kesana sekarang juga."
Andreas langsung berputar balik menuju kearah rumah sakit. Zoya pun langsung bertanya ada apa.
"Kenapa Tuan, ada apa?" Tanya Zoya
"Mama sakit." Jawab Andreas singkat.
Andreas melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia ingin segera sampai di rumah sakit untuk mengetahui keadaan mamanya.
CIIIITT ...
Sampainya di rumah sakit, Andreas langsung keluar dari mobil dan berlari mencari mama dan papanya berada. Zoya pun mengikutinya. Dan akhirnya mereka bertemu papa Brahmantya di depan ruang IGD.
"Pah, bagaimana keadaan mama?" Tanya Andreas dengan rasa cemas.
"Mama masih di dalam di tangani dokter." Jawab papa Brahmantya.
"Kejadiannya bagaimana pah, kenapa papa tidak mengabari sejak awal jika mama sakit?" Tanya Andreas lagi.
"Kejadiannya itu tiba-tiba. Tadi siang saja mama masih baik-baik saja. Nah baru malam ini dia mengeluh perutnya begah sakit lalu pingsan." Papa Brahmantya menjelaskan kronologinya.
Dokter pun keluar memanggil papa Brahmantya untuk menjelaskan keadaan mama Irma. Tentu saja Andreas juga ikut mendekat karena dia juga penasaran dengan keadaan mamanya.
"Bu Irma hanya mengalami konstipasi dan kolestrolnya meningkat. Hanya perlu di jaga pola makan sehatnya saja. Tapi Bu Irma tetap harus rawat inap sekitar 1-2 hari untuk recovery." Ucap Dokter menjelaskan kondisi mama Irma.
__ADS_1
"Oh iya terimakasih Dokter." Ucap papa Brahmantya.
Andreas pun dapat bernafas lega mamanya tidak dalam kondisi mengkhawatirkan. Dukanya kehilangan Rania belum hilang, dia tidak sanggup jika harus melihat mamanya sakit parah. Tapi dia bersyukur itu tidak terjadi.
.
.
Mama Irma sudah di pindahkan ke kamar rawat VVIP. Saat ini Zoya sendirian menunggu mama Irma di sana. Papa Brahmantya sudah pulang bersama sopirnya atas permintaan Andreas. Andreas tidak mau papanya ikut sakit juga karena tidak akan bisa istirahat dengan nyaman di rumah sakit. Sementara Andreas sendiri masih mengurus administrasi dan mengambil obat mama Irma.
Mama Irma sudah sadar tadi, dan kini kembali tidur karena efek obat yang di berikan dokter. Keringatnya terlihat bercucuran di keningnya. Melihat itu Zoya tak tinggal diam, dia mengambil tisu dan mengusapnya secara perlahan.
Setelah itu Zoya kembali duduk. Rasa kantuk tiba-tiba menyerang dirinya. Dia pun menunduk dan menyandarkan kepalanya di tepian kasur tempat mama Irma berbaring. Dan beberapa detik kemudian matanya terpejam.
Jam menunjukkan pukul 20:45 WIB. Saat itu Andreas kembali ke kamar mama Irma. Mendapati pemandangan dimana Zoya tertidur pulas seraya memegang tangan mamanya.
Andreas merasa kasihan melihat Zoya tertidur dengan posisi duduk seperti itu. Namun dia juga tidak tega membangunkannya. Andreas mendekati Zoya. Tangannya bergerak ingin membelai kepala Zoya. Namun belum sampai menyentuhnya, Zoya sudah terbangun. Dengan cepat Andreas menyingkirkan tangannya dan sedikit menjauh.
"Mas Andreas eh Tuan Andreas maksud saya maaf." Ucap Zoya lirih, dia memanggil mas hanya pada saat ada orang lain. Saat ini mama Irma tidur jadi dia akan memanggil Tuan lagi.
"Tidak apa-apa, panggil saja seperti itu." Ucap Andreas.
Zoya cukup tersentak dengan pernyataan Andreas itu. Sikap Andreas malam ini benar-benar berubah.
KRUCUK ..
Perut Zoya berbunyi. Perutnya sudah protes memberontak minta di isi. Karena dia belum makan malam dan siang tadi hanya minum jus karena saking sibuknya dia sampai lupa makan.
"Ayo ikut denganku." Ucap Andreas.
"Kemana mas? Ini mama bagaimana?" Tanya Zoya.
"Mama sudah tidur, tidak apa-apa." Ucap Andreas.
Mereka berdua berjalan keluar dari rumah sakit. Kebetulan di depan rumah sakit itu ada restoran yang buka 24 jam. Andreas yang sangat peka, mengajak Zoya kesana. Tentu saja Zoya tidak menolaknya. Karena dia sudah sangat lapar.
"Zoya aku minta maaf." Ucap Andreas yang lagi-lagi membuat Zoya tercengang. "Aku minta maaf atas perkataan kasarku malam itu." Sambung Andreas.
Zoya menatap tidak percaya pada pria yang berjalan di sebelahnya itu. Seorang Andreas yang dingin, ketus, kaku, dan egois itu berucap maaf padanya.
__ADS_1
"Apakah aku sedang bermimpi?" Batin Zoya yang merasa tidak percaya.