
Di tepi jalanan yang begitu ramai, Zoya berlari sekencang-kencangnya. Ternyata berita yang beredar itu benar adanya. Selama ini dia berusaha untuk dekat dengan Andreas tapi tidak dengan sebaliknya.
Jika memang Andreas menyukai Jemyma, mengapa mereka tidak menikah saja dari dulu?
Mengapa dulu tidak bilang saja pada Rania jika ia ingin menikah dengan Jemyma saja bukan Zoya.
Jadi Zoya tidak perlu terlibat dalam hubungan yang rumit dan banyak menguras air mata ini.
Zoya terus berpikir keras sembari tetap berlari tanpa arah. Sampai-sampai tanpa sadar dia menyebrang sembarangan. Sebuah mobil yang melaju cukup kencang pun harus mendadak mengerem karenanya.
CIIIITT .....
Zoya menunduk sembari menutupi kedua telinganya dengan tangan. Posisinya tepat di depan mobil yang nyaris menabraknya. Beruntung si pengendara berhasil mengerem sehingga tidak sampai menabraknya.
HUFF ..
Haris menghembuskan nafas lega. Kemudian dia lekas turun dari mobil, untuk memastikan orang yang nyaris di tabraknya itu tidak terluka.
"Zoya.." Sebut Haris saat melihat ternyata Zoya orang yang nyaris di tabraknya.
"Kau tidak apa-apa kan, apa ada yang terluka?" Tanya Haris seraya memperhatikan kaki Zoya.
"Saya tidak apa-apa kak." Jawab Zoya dengan suara sangat pelan.
TIINN .. TIINN.. TIIN..
Kendaraan kendaraan di belakang mobil Haris sudah ribut membunyikan klakson. Karena letak mobil Haris yang berhenti di tengah jalan.
"Ayo Zoya ikut denganku saja." Ajak Haris seraya langsung menuntun Zoya masuk ke dalam mobilnya.
"Iya iya maaf sebentar sebentar." Ucap Haris kepada para pengendara lain.
BRUUM .....
Haris melajukan mobilnya kembali. Haris memperhatikan Zoya yang terlihat sendu itu. Haris itu pandai membaca perasaan orang hanya dari matanya saja.
"Zoya, kau sedang ada masalah ya?" Tanya Haris menyibak lamunan Zoya.
"E .. Tidak kak. Oh ya maaf tadi saya menyebrang sembarangan." Ucap Zoya
"Kau tidak bisa berbohong denganku. Aku itu bisa membaca pikiran seseorang." Ucap Haris dengan ekspresi serius.
Zoya langsung tercengang mendengar pernyataan Haris. Selain itu dia juga panik. Karena saat ini dia sedang memikirkan tentang Andreas. Dia percaya begitu saja dengan pernyataan Haris.
__ADS_1
AHAHA..AHAHA...
Haris tertawa renyah melihat ekspresi Zoya. "Aku hanya bercanda." Ucap Haris yang membuat Zoya merasa lega.
"Jika ada masalah berat, kau bisa bercerita denganku. Daripada kau pendam sendiri lalu hampir tertabrak seperti tadi." Ucap Haris dengan sesekali menoleh kearah Zoya. Karena saat ini dia sedang menyetir.
"Hmm.. Saya hanya sedang pusing memikirkan pekerjaan." Jawab Zoya berbohong. Mana mungkin dia bercerita pada Haris tentang masalah hubungannya dengan Andreas. Haris saja tidak tahu jika dirinya adalah istri dari bosnya.
"Oh kalau begitu aku akan membawamu ke suatu tempat." Ucap Haris seraya tersenyum.
"Tempat apa kak?" Tanya Zoya merasa ragu ikut dengan Haris saat ini.
"Eisst, kau jangan berpikiran negatif ya. Aku tidak akan membawamu ke hotel atau semacamnya. Aku ini pria baik-baik." Jawab Haris meyakinkan Zoya agar tidak merasa takut ataupun ragu ikut dengannya.
Haris membawa Zoya cukup jauh. Sedari tadi Zoya melihat ke sekeliling jalanan yang di lewatinya. Rasanya asing, dia tidak pernah melewati jalanan itu.
Setelah kurang lebih satu jam perjalanan. Mereka sampai di tempat tujuan. Haris turun dan membukakan pintu untuk Zoya.
"Seharusnya tidak perlu kak, saya bisa membuka pintu sendiri." Ucap Zoya merasa tidak enak diperlakukan bak orang spesial oleh Haris.
"Tidak apa-apa Zoya, justru aku senang bisa membukakan pintu untukmu." Ucap Haris
Mereka pun masuk ke dalam. Ternyata Haris mengajak Zoya ke kebun strawberry.
"Apa kau suka strawberry Zoya?" Tanya Haris
"Sangat suka." Jawab Zoya dengan mata yang berbinar. Dia langsung berjalan menyusuri kebun yang berisi tanaman yang berbuah merah manis asam itu.
Haris mengambil keranjang kecil dan menyusul Zoya. Haris cukup senang ternyata keputusannya mengaja Zoya kesana itu tepat. Zoya yang tadinya sendu seperti orang baru putus cinta, kini sudah ceria lagi.
Puas memakan serta memetik buah strawberry di sana, Mereka pun memutuskan untuk pulang. Haris membayarkan apapun yang di beli Zoya dari kebun itu.
"Terima kasih ya kak, sudah di ajak kemari di bayarin juga." Ucap Zoya
"Iya sama-sama. Nah begini kan enak di lihatnya tidak murung seperti tadi." Ucap Haris merasa senang melihat Zoya sudah kembali tersenyum.
Kemudian Haris kembali membukakan pintu untuk Zoya. Perlakuannya begitu manis. Zoya sampai membayangkan jika seandainya sifat Andreas sama seperti Haris.
Haris mengantarkan Zoya sampai ke apartemen. Sebenarnya Zoya berniat turun di pinggir jalan saja. Tapi Haris memaksa untuk mengantarnya sampai di depan rumah.
"Ternyata kau tinggal satu gedung dengan Andreas." Ucap Haris
"E.. Iya kak. Saya di beri fasilitas tinggal di sini. Tapi kita beda unit kok." Ucap Zoya menjelaskan karena merasa takut Haris akan curiga.
__ADS_1
"Kau ini tidak perlu menjelaskan. Ya iyalah kalian beda unit. Kalian kan bukan suami istri." Ucap Haris seraya tertawa kecil.
"Em, Iya kak benar sekali." Zoya menimpali seraya tertawa juga. "Terima kasih untuk hari ini." Ucap Zoya
"Iya sampai jumpa." Ucap Haris sebelum akhirnya pergi dari lobi Apartemen.
Zoya membalasnya dengan lambian tangan. Kemudian dia melangkah masuk ke dalam dengan tentengan paper bag berisi buah strawberry juga pancake.
Sampai di dalam Unit tempat tinggalnya, Zoya memasukkan buah dan pancake itu kedalam kulkas. Kemudian dia masuk ke kamar menaruh tas dan mengambil handuk untuk mandi.
BRAK ..
Terdengar pintu di tutup dengan keras. Hal itu di lakukan oleh Andreas yang baru saja pulang.
Zoya langsung keluar kamar untuk menyapa suaminya itu. Meski dia tahu Andreas tak pernah menginginkan di sambut olehnya.
"Darimana saja kau?" Tanya Andreas. Ini pertama kalinya Andreas bertanya pada Zoya lebih dulu.
"Saya tadi pergi ke kebun strawberry dengan kak Haris." Jawab Zoya dengan sangat hati-hati.
"Siapa yang mengizinkanmu pergi dengan dia?" Tanya Andreas dengan nada bentakan. "Sejak kapan kau dekat dengannya sampai memanggilnya dengan sebutan kak." Sambung Andreas.
Zoya masih terdiam belum menjawabnya. Tatapan Andreas membuatnya takut. Namun di dalam hatinya terasa berkecamuk. Andreas marah karena melihatnya bersama Haris. Namun dia sendiri bermesraan dengan Jemyma.
"Jauhi dia dan jangan pernah bertemu dengannya lagi!" Perintah Andreas dengan tegas seraya melangkah memasuki kamar.
"Mengapa saya harus menjauhi kak Haris, sementara Tuan Andreas menjalin hubungan dengan Nona Jemyma." Ucap Zoya dengan berani.
Andreas langsung berbalik arah kembali mendekati Zoya. Suasana terasa begitu mencekam saat ini. Ekspresi Andreas menggambarkan jika dia akan marah besar.
"Beraninya kau berkata seperti itu tanpa tahu faktanya." Ucap Andreas seraya menatap tajam mata Zoya.
"Fakta jika Tuan sebenarnya mencintai nona Jemyma, iya kan?" Terka Zoya, "Tuan bersikap ketus dengan saya karena saya menghalangi hubungan Tuan dengan Nona Jemyma. Tuan tidak bisa menikahinya karena terikat janji dengan almarhumah Bu Rania." Sambung Zoya dengan suara lantang.
"Kau salah! Hingga kini tidak ada wanita yang aku cintai selain Rania." Tegas Andreas dengan nada bentakan. "Aku bersikap ketus karena kau terus berusaha mendekatiku." Ucap Andreas mengatakan alasannya.
"Hari-hariku terasa sangat tersiksa. Kau harusnya mengerti itu." Ucap Andreas yang kemudian berlalu pergi masuk ke dalam kamarnya.
BRAKK ..
Sekali lagi Andreas membanting pintu dengan keras. Membuat Zoya sampai meringis mendengarnya.
"Aku harus mengerti? Lalu siapa yang akan mengerti aku?" Gumam Zoya merasa frustasi.
__ADS_1