Love In Forced Marriage

Love In Forced Marriage
Bab 37 // Malam yang gagal


__ADS_3

Dalam sekejap posisi Zoya sudah berubah. Saat ini Andreas sudah berada di atasnya. Mereka kembali melakukan ciuman yang kini sudah berubah menjadi ciuman yang menuntut. Zoya memejamkan matanya menikmati saja apa yang sedang terjadi.


Andreas mulai melangkah jauh. Dia membuka baju yang dikenakannya sendiri. Lalu beralih pada kancing baju Zoya. Jantung Zoya berdegup kencang. Malam yang selama ini ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Dia akan resmi menjadi istri Andreas yang seutuhnya.


Pada Akhirnya, kancing baju piyama yang di kenakan Zoya terlepas semua. Memperlihatkan dua bukit indah yang masih terbungkus bra.


Andreas langsung menelan salivanya. Dia terus menatapnya tanpa berkedip. Hal itu membuat Zoya merasa malu.


"Mas aku malu." Lirih Zoya seraya menutup wajahnya dengan kedua tangan.


Andreas langsung menyingkirkan tangan Zoya. Dia tidak berbicara apapun melainkan langsung kembali mencium bibirnya dengan mesra.


Sisi liar Andreas keluar malam ini. Tangan nakalnya mulai beraksi menyentuh bukit kenyal milik sang istri.


Zoya kembali memejamkan mata. Dia mencoba rileks dan menikmati apapun yang di lakukan oleh suaminya.


DRTTT... DRRT ...


Terdengar suara getar handphone milik Andreas. Tapi Andreas tidak menghiraukannya. Dia sudah larut dalam permainan ranjang dan enggan untuk menyudahinya.


DRTT .. DRRTT..


Handphone terus mengeluarkan suara getarnya berkali-kali. Sampai akhirnya Andreas terpaksa menyudahi aktivitasnya. Dia turun dari kasur dan meraih handphonenya yang ada di atas nakas.


Sementara Zoya langsung menghela nafas panjang seraya menutupi tubuh bagian atasnya yang sudah terbuka itu. Zoya sungguh merasa dag dig dug. Melihat Andreas bertelanjang dada membuatnya teringat sesuatu. Sesuatu yang pernah tidak sengaja di lihatnya. Dia bertanya-tanya, benarkah malam ini dia akan kehilangan kegadisannya? Lantas Zoya langsung menarik selimut sampai menutupi setengah wajahnya yang memerah itu.


Andreas sudah selesai menelefon. Jantung Zoya yang baru saja berdetak normal kini kembali melonjak saat Andreas naik ke kasur lagi.


Tapi bukannya melanjutkan yang tadi, Andreas malah merapikan kembali baju yang di kenakan Zoya.


"Kau tidur saja dulu. Aku harus meeting dengan klien luar negeri." Ucap Andreas setelah mengancingkan kembali piyama tidur Zoya.


"Jadi mas Andreas mau keluar sekarang?" Tanya Zoya.


"Tidak, tenang saja aku tidak akan meninggalkanmu sendirian. Aku meeting lewat video." Jawab Andreas.


"Emmh, baiklah." Ucap Zoya seraya mengangguk.


Andreas tidak egois untuk meminta Zoya menunggunya. Jadi dia menyuruh wanita yang kini di cintainya itu untuk tidur.

__ADS_1


Rasa yang tadinya menuntut pemuasan perlahan siran seiring kesibukan yang di lakukan Andreas. Dia melakukan meetingnya di meja kerja yang masih berada di dalam kamar.


Sementara Zoya tidak langsung tertidur. Dia sesekali menatap kearah sang suami. Aura ketampanannya bertambah saat tengah serius seperti itu. Apalagi dilihatnya Andreas sangat fasih berbahasa asing. Benar-benar pria yang sempurna.


Cukup lama Zoya memperhatikan Andreas hingga rasa kantuk mulai menyerangnya. Akhirnya dia pun memejamkan matanya.


Jam menunjukkan pukul 23:45, Andreas menutup laptopnya. Meetingnya dengan klien dari amerika sudah selesai. Dia menggeliatkan tubuhnya lalu beranjak dari kursi kerjanya.


Senyum tipis terukir di bibirnya kala melihat Zoya tertidur pulas di kasur miliknya. Tapi kini ia pastikan kasur itu menjadi milik Zoya juga.


Andreas kembali mengganti bajunya dengan piyama tidur. Kemudian dengan perlahan dia menaiki kasur. Dia tidak mau membuat tidur pulas Zoya terganggu.


Dengan posisi miring, Andreas dapat dengan jelas menatap wajah cantik Zoya. Rasa penatnya hilang sirna setelah melihat pemandangan indah di depan matanya. Ingin rasanya membelai wajah Zoya, tapi Andreas mengurungkan niatnya itu.


"Dulu aku selalu memakinya meski itu hanya karena masalah kecil. Rasanya aku sangat menyesal sekarang." Gumam Andreas. Setelah puas memandang wajah Zoya, dia pun memejamkan mata.


****


Pagi kembali menyapa. Zoya sudah terbangun lebih dulu dan keluar dari kamar Andreas. Lalu semuanya berjalan seperti biasanya.


Saat ini Zoya dan Andreas sudah berkumpul di meja makan. Mereka berdua menikmati sarapan bersama.


"Emhh, iya mas." Jawab Zoya serta mengangguk.


Bukan tanpa alasan Andreas menyuruh Zoya pulang ke rumah. Takutnya, saat ditinggal sendirian terjadi pemadaman lagi yang akan membuat Zoya ketakutan. Jadi lebih baik Zoya tinggal bersama mama Irma dan papa Brahmantya untuk sementara waktu.


Usai sarapan dan membersihkan piring-piring kotor, Zoya membantu suaminya mengemas baju dan beberapa barang ke dalam koper.


Tepat di jam sembilan pagi mereka berdua meninggalkan apartemen. Penerbangan Andreas jam setengah dua belas siang. Jadi dia tidak langsung ke bandara. Dia lebih dulu pergi ke rumah orang tuanya untuk berkunjung serta mengantarkan Zoya.


Sesampainya di sana, Zoya langsung di sambut pelukan hangat oleh ibu mertuanya.


"Sayang mama kangen banget." Ucap mama Irma.


"Zoya juga kangen sama mama." Ucap Zoya membalas ungkapan rindu mertuanya.


"Ya sudah yuk masuk, papa ada di dalam." Ucap Mama Irma sembari menggandeng Zoya masuk ke dalam.


Andreas berjalan di belakang mama Irma dan Zoya. Rasanya dia terlupakan sebagai putra kandung mama Irma. Tapi itu tidak jadi masalah bagi Andreas. Dia malah senang melihat kedekatan istrinya dengan mamanya.

__ADS_1


Dan kini mama Irma, papa Brahmantya, Andreas serta Zoya duduk bersama di ruang tengah. Dalam kesempatan kali ini Andreas akan menyampaikan tentang masalah hubungannya dengan Zoya.


"Mah, pah, ada yang ingin aku katakan pada kalian." Ucap Andreas.


"Katakan saja Ndre." Ucap papa Brahmantya. Mama Irma pun juga langsung menatap fokus kearah putranya.


"Aku sudah siap mendaftarkan pernikahanku dengan Zoya secara sah di KUA." Ucap Andreas.


Mama Irma dan papa Brahmantya memberi respon positif. Mereka begitu bahagia mendengar itu. Sementara Zoya tersenyum tersipu.


"Mama senang sekali mendengarnya." Ucap Mama Irma seraya merangkul Zoya.


"Papa mendukung keputusanmu." sahut papa Brahmantya.


"Hmm kali ini harus ada pesta pernikahan. Mama akan mengurus semuanya. Kalian ingin dilaksanakan kapan?" Tanya Mama Irma yang sudah sangat berantusias.


"Emm untuk itu kita bicarakan nanti setelah aku pulang perjalanan dinas. Aku juga belum memberitahu kedua orang tua Zoya." Jawab Andreas.


"Baiklah, saat kau pulang nanti kita bicarakan lagi. Pokoknya harus secepatnya." Ucap Mama Irma sembari tersenyum.


"Ya sudah aku berangkat dulu ya pah, mah. Soalnya aku mau cek berkas ke kantor dulu." Ucap Andreas berpamitan. Dia mencium tangan kedua orang tuanya secara bergantian.


Zoya mengantarkan Andreas sampai ke depan. Sebelum pergi, Andreas menyampaikan pesan-pesannya pada sang istri. Terutama perihal menjaga diri. Andreas meminta Zoya untuk tidak menemui Jemyma apapun alasannya. Andreas juga sudah memerintah pak Danu untuk mengantar kemanapun Zoya pergi. Jadi dia tidak perlu lagi naik taksi ataupun ojek.


"Ya sudah aku berangkat dulu." Ucap Andreas pada Zoya.


"Iya mas, hati-hati di jalan ya. Semoga selamat sampai tujuan dan di lancarkan pekerjaannya." Ucap Zoya seraya mencium tangan Andreas.


Andreas membalasnya dengan anggukan lalu bergegas menuju mobilnya. Tapi baru beberapa langkah, dia kembali lagi.


"Kenapa mas? Apa ada yang ketinggalan?" Tanya Zoya.


Cup ..


Sebuah ciuman mendarat di kening Zoya. Andreas juga merangkul Zoya sebentar kemudian melepasnya.


"Aku berangkat. Kau hati-hati di rumah." Ucap Andreas yang kemudian bergegas pergi. Setelah memeluk dan mencium Zoya dia mendadak salah tingkah.


Senyum bahagia pun terukir di bibir Zoya. Dia tidak menyangka, suaminya yang dingin itu bisa bersikap manis juga.

__ADS_1


Mama Irma yang mengintip dari jendela merasa sangat gemas melihat keromantisan mereka. Hal yang sangat ia nantikan akhirnya terjadi juga.


__ADS_2