Love In Forced Marriage

Love In Forced Marriage
Bab 45 // hanya editan


__ADS_3

Di ruang tengah kediamannya yang mewah, Flora tengah duduk membaca majalah. Dia sedang melihat katalog produk barang-barang brandid terbaru.


TAP.. TAP ..


Jemyma berjalan menghampiri mamanya. Di tangannya terlihat segelas jus yang menyegarkan. Memang setiap pagi Jemyma selalu meminum jus saja. Dia membatasi kalori yang masuk ke dalam tubuhnya, berdalih menghindari berat badan naik.


"Ehmm, mama serius banget. Lihat apa sih?" Tanya Jemyma.


"Ini sayang ada tas dan sepatu keluaran terbaru. Mama sudah memilih ini, jika kau mau pilih saja. Mama yang akan membayarnya." Ucap Flora seraya menyerahkan majalah pada putrinya.


"Ini mahal loh mah, yakin mau bayarin? Jangan bilang mama ambil uang kantor papa ya," Terka Jemyma menuduh mamanya yang bukan-bukan.


"Issh, bukan lah. Mama juga bisa hasilin uang sendiri. Nggak harus bergantung dengan papa. Sudahlah pilih saja jika kau mau." Ucap Flora.


"Oke," balas Jemyma singkat tanpa banyak tanya lagi. Jemyma sama sekali tidak curiga mamanya mendapat uang dari mana.


Flora tidak bekerja tapi bisa mendapatkan uang miliyaran, ìtu bukanlah satu hal yang kebetulan. Memang dia telah melakukan sesuatu hal yang bisa di bilang jahat. Tapi itulah tujuan hidupnya saat ini. Membalaskan dendam keluarganya. Ya, dia ada sangkut pautnya dengan mama Irma yang tertipu investasi bodong. Yang di beredar dalam berita memang pelaku investasi bodong, tapi dia tidak memakan uang Irma. Uang Irma mengalir kepada Flora. Flora juga ada di balik kematian pelaku yang juga sahabatnya.


"Mah aku yang ini saja. Tapi benar mama punya uang? Mama tidak mencuri kan, atau melakukan penggelapan arisan?" Terka Jemyma.


"Kau ini berkata apa, mama tidak mencuri milik siapapun. Ini pure uang mama. Sudahlah jangan banyak tanya." Ucap Flora meyakinkan Jemyma.


"Baiklah," Ucap Jemyma percaya saja.


Flora tersenyum senang setelah melakukan pembayaran barang yang ia beli.


"Aku tidak mengambil milik siapapun. Karena uang ini seharusnya memang milikku." Gumamnya dalam hati.


"Oh ya Jemy, bagaimana perkembangan tentang hubungan Andreas dengan kacung itu?" Tanya Flora.


"Hemm, perfect mah. Mereka sudah terpecah belah. Sepertinya akan segera bercerai." Jawab Jemyma dengan sangat yakin.


"Bagus, di saat seperti ini kau harus gencar mendekatinya." Ucap Flora.


"Iya mah." Ucap Jemyma seraya tersenyum senang.


****


Di ruang makan Andreas sekeluarga tengah sarapan bersama. Di tengah-tengah makan, Mama Irma kembali menyinggung masalah persiapan pernikahan.

__ADS_1


"Jadi kapan kalian akan mengadakan pesta pernikahan? Bagaimana jika minggu depan saja?" Tanya Mama Irma.


Seketika sendok yang semula di pegang jatuh begitu saja dari genggaman Andreas.


TLANG ..


"Kau kenapa Ndre? Kok seperti yang sangat terkejut gitu," Ujar papa Brahmantya.


"Iya Ndre, padahal kita kan sudah membahas ini berkali-kali. Bukan yang pertama."Sahut mama Irma.


"Emhh, tidak apa-apa kok mah pah. Tanganku licin saja." Jawab Andreas.


"Mah, pah, sepertinya kita belum bisa mengadakan pesta pernikahan dalam waktu dekat ini. Kondisi mama kan masih belum benar pulih." Ucap Andreas.


"Kenapa mama sehat kok. Mama tidak sakit." Ucap Mama Irma.


"Ya kata dokter kan mama belum boleh terbebani pikiran yang berat. Nanti jika dalam waktu dekat ini pastinya mama akan urus ini itu, takutnya mama jadi sakit lagi." Ucap Andreas.


"Iya mah benar kata mas Andreas. Lebih baik menunggu keadaan mama benar-benar pulih." Ucap Zoya menimpalinya.


"Baiklah, bagaimana jika bulan depan saja. Mama tidak mau ada penolakan. Deal bulan depan." Ucap Mama Irma yang tak bisa di bantah lagi.


Usai sarapan, Andreas pamit pergi ke kantor. Zoya pun juga izin pergi sebentar. Dia akan bertemu dengan Ezra untuk mencari solusi tentang masalahnya.


.


.


Di sebuah kafe Ezra dan Zoya sudah duduk berhadapan. Ezra tengah mengamati foto yang ada di layar ponsel.


"Ini sempurna sih, nyata banget." Ucap Ezra.


"Jangan bilang kau juga berpikir jika itu aku." Ujar Zoya.


"Eh tidak, tenang aku percaya padamu. Menurutku ini sih editan yang sempurna hampir tidak terlihat."Ucap Ezra.


"Iya, lalu aku harus bagaimana Zra? Bantu aku untuk membuktikan jika ini hanyalah editan." Ucap Zoya memohon pada Ezra.


"Sebentar, kapan terakhir kali kau bertemu Rafli?" Tanya Ezra.

__ADS_1


"Satu hari sebelum mas Andreas marah padaku, itu kemarinnya aku bertemu Rafli. Tapi kita hanya gak sengaja berpapasan di loby hotel." Jawab Zoya.


"Trus apa yang terjadi selanjutnya? Apa ada sesuatu yang aneh terjadi gitu?" Tanya Ezra dengan serius.


Zoya pun mencoba menyusun kembali ingatannya di hari itu. Dia ingat berpapan dengan Rafli dan mereka berbincang sebentar. Mereka sama-sama akan menemui seseorang dalam urusan pekerjaan. Lalu mereka berpisah. Zoya ke restoran sementara Rafli ke salah satu kamar yang ada di sana.


"Aku bertemu Rafli, lalu klienku. Dan setelah itu tiba-tiba aku .. Aku tidak ingat apapun lagi. Tau-tau hari sudah malam dan aku berada di dalam taksi. Katanya sih aku pingsan." Ucap Zoya menjelaskan apa yang di ingatnya.


"Fix ini ada yang menjebakmu. Jangan-jangan ini ulah wanita uler itu?" Terka Ezra.


"Maksudmu nona Jemyma, aku juga berpikir begitu. Tapi kan aku gak bisa menuduh tanpa bukti." Ucap Zoya.


"Nah, itu masalahnya. Tapi aku ada satu cara untuk membuktikan jika ini adalah foto editan." Ucap Ezra dengan yakin.


Zoya pun menatap penuh harap, dia seakan mendapatkan jalan terang. Ezra menjelaskan apa yang akan di lakukannya. Ezra memiliki teman yang ahli dalam menyelidiki tentang foto editan atau bukan. Teman Ezra itu juga dapat memperlihatkan keadaan foto asli sebelum teredit.


Ezra langsung menghubungi temannya yang bernama Toni. Dia menyuruh Toni untuk datang ke kafe itu.


"Hai Zra," Sapa Toni saat sampai di sana.


"Hai, sini sini duduk. Oh iya kenalin ini Zoya my bestie." Ucap Ezra.


Zoya dan Toni pun berjabat tangan. Kemudian mereka berdiskusi tentang masalah yang dihadapi Zoya. Toni pun mengeluarkan laptopnya dan mulai mengerjakan tugasnya.


Zoya harap-harap cemas menunggu hasilnya. Semoga saja Toni bisa membantunya.


Setelah empat puluh lima menit berkutat dengan laptop. Akhirnya hasil di dapatkan.


"Jadi bagaimana Ton?" Tanya Ezra penasaran. Begitu pula dengan Zoya yang sudah sangat berharap jika masalahnya dapat terselesaikan hari ini.


Toni membalik laptopnya mengarahkan pada Zoya dan Ezra. Dia berhasil memperlihatkan foto sebenarnya. Foto aslinya memperlihatkan Zoya dan Rafli itu tertidur seolah tak berdaya. Mereka masih mengenakan pakaian lengkap.


"Jadi benar tadinya ini hanya sebuah editan," Ujar Zoya.


"Iya begitulah tampak asli fotonya. Dilihat dari gambar asli sepertinya ada yang menjebakmu." Ucap Toni pada Zoya.


"Fix nih, ini pasti kerjaan si artis norak itu. Dan di hari itu pasti kau di beri obat sehingga tidak ingat apapun." Ucap Ezra yang lagi-lagi menebak ini adalah ulah Jemyma.


"Tidak penting siapa yang melakukannya. Sekarang yang penting bantu aku jelaskan semua ini pada mas Andreas." Ucap Zoya.

__ADS_1


"Ya baiklah, aku dan Toni akan membantumu." Ucap Ezra seraya tersenyum. Toni pun mengangguk setuju.


__ADS_2