
Sesampainya di rumah sakit, Mama Irma langsung di bawa ke ruang tindakan untuk di periksa. Zoya dan Andreas sama-sama merasa cemas.
Andreas masih bertanya-tanya, apa yang sebenarnya terjadi. Apakah ada masalah yang besar sehingga membuat mamanya terguncang.
Dari ujung koridor rumah sakit, terlihat papa Brahmantya berlarian. Papa Brahmantya tadinya sedang golf, setelah di telefon oleh Andreas dia langsung menyusul.
"Apa yang terjadi Ndre?" Tanya papa Brahmantya dengan penuh kekhawatiran.
"Aku juga tidak tahu pah, tadi mama pingsan begitu saja setelah menerima telefon." Jawab Andreas.
Mereka bertiga pun menunggu dengan rasa kecemasan masing-masing. Kemudian tanpa sengaja Zoya melihat berita yang viral hari ini dari ponselnya.
"Ini kan teman arisan mama Irma. Apa mama pingsan karena tertipu olehnya juga?" Gumam Zoya di dalam hati. Dia melihat berita terungkapnya penipu investasi bodong kelas kakap. Banyak sekali yang di rugikan oleh wanita yang Zoya kenali sebagai sahabat ibu mertuanya. Namun dari keterangan yang ada, korban akan sulit mendapatkan ganti rugi. Karena pelaku bunuh diri setelah tertangkap.
Zoya ingin memberitahu suami juga papa mertuanya. Namun ia terdahului oleh dokter yang keluar dari ruang tindakan. Lantas mereka bergegas meminta penjelasan dokter.
"Dok bagaimana keadaan mama saya?" Tanya Andreas dengan rasa cemasnya. Ini kedua kalinya dalam waktu dekat mamanya masuk rumah sakit.
"Ibu Irma terkena serangan jantung ringan. Suatu beban pikiran yang menekan yang memicunya. Jadi untuk saat ini lebih baik berikan dukungan pada beliau agar tetap berpikir rilex." Ucap Dokter menjelaskan keadaan mama Irma.
Mendengar penjelasan dari Dokter, Zoya merasa semakin yakin jika ini ada hubungannya dengan berita yang ia baca tadi.
Papa Brahmantya ikut Dokter untuk penjelasan yang lebih lanjut. Saat ini hanya tinggal Andreas dan Zoya berdua saja.
"Mas ada yang ingin saya katakan." Ucap Zoya.
"Ini di rumah sakit, aku tidak ingin berdebat." Ucap Andreas tanpa mau menatap wajah Zoya.
"Ini bukan tentang kita mas. Ini mengenai mama Irma." Ucap Zoya lagi.
"Katakan." Balas Andreas singkat. Kali ini Andreas mau menatap Zoya.
Zoya memberikan ponselnya yang menunjukkan berita kematian pelaku penipuan investasi bodong.
"Apa maksudnya ini?" Tanya Andreas merasa bingung.
__ADS_1
"Wanita yang bunuh diri itu teman arisan mama. Mungkin mama merupakan salah satu korbannya. Korban dari investasi bodong." Ucap Zoya menjelaskannya secara gamblang.
Andreas sedikit terkejut mendengar hal itu. Bisa-bisanya mamanya ikut-ikutan berinvestasi yang tidak jelas seperti itu. Tapi Andreas enggan menanggapi perkataan Zoya. Dia akan bertanya langsung saja pada mamanya setelah siuman nanti.
*****
Satu malam di rumah sakit, mama Irma sudah boleh pulang. Dia akan menjalani rawat jalan di rumah. Dokter berpesan untuk tidak membebani pikiran Mama Irma. Oleh sebab itu Andreas terpaksa menyembunyikan masalahnya dengan Zoya.
Zoya serta Andreas pun kembali menginap di sana. Mereka tidak bisa pulang ke apartemen untuk menjaga mama Irma.
Saat ini Zoya tengah berbincang santai dengan mama Irma di kamar. Yang awalnya membicarakan seputar makanan sehat, kini beralih seputar kehidupan rumah tangga. Mama Irma penasaran, apakah Zoya dan Andreas sudah malam pertama atau belum.
"Eh ngomong-ngomong apakah kau dan Andreas sudah ..?" Tanya Mama Irma seraya menggerakkan dua jarinya.
Zoya tersenyum malu mendengar pertanyaan mama mertuanya. Tapi kemudian dia mengangguk mengiyakan.
"Wah, senang sekali mama. Itu artinya mama akan segera menjadi Oma." Ucap Mama Irma dengan ekspresi bahagianya.
Sementara Zoya langsung berubah murung. Dia kembali teringat akan perkataan Andreas yang menyuruhnya melupakan malam pertama mereka.
"Kenapa raut wajahmu terlihat bersedih sayang? Mama tidak salah kan jika menginginkan cucu darimu, apakah ada masalah?" Tanya Mama Irma yang sedikit curiga dengan ekspresi Zoya.
"Kalau mau punya anak kan harus ada prosesnya dulu mah, mungkin Zoya sedang memikirkan itu." Ucap Andreas yang tiba-tiba sudah ada di sana.
"Emhh, iya mah benar kata mas Andreas. Saya hanya tidak ingin terlalu membuat mama berharap. Kehamilan itu kan Allah yang menakdirkan." Ucap Zoya menimpali perkataan suaminya.
Mama Irma pun tersenyum. Mendengar perkataan Zoya itu membuatnya semakin menyayangi menantunya itu. Mama Irma memberi rangkulan kasih sayang pada Zoya.
"Iya sayang, mama tahu. Mama doakan saja semoga secepatnya di titipkan anugerah di perutmu ini." Ucap Mama Irma sembari mengusap perut Zoya.
Zoya tersenyum lalu beralih menatap Andreas yang berdiri tak jauh dari ranjang. Raut wajah Andreas begitu datar, sama sekali tidak ada senyum untuknya. Tapi saat mama Irma menatap, baru Andreas sedikit tersenyum.
"Ya sudah kalian beristirahat sana. Sebentar lagi papa pasti kembali dan menemani mama." Ucap Mama Irma.
"Iya mah, selamat beristirahat." Ucap Zoya. Dia mengikuti langkah Andreas yang sudah berjalan lebih dulu.
__ADS_1
"Jangan lupa buat cucu untuk mama." Teriak Mama Irma dengan keras. Zoya menoleh menanggapi dengan senyuman, begitu juga dengan Andreas.
***
Di dalam kamar, Andreas hanya bungkam. Dia seperti tidak menganggap Zoya ada di sana. Zoya pun juga sadar diri, dia mengalahi tidur di bawah hanya beralaskan kasur tipis.
"Mas tidur saja di atas. Saya akan tidur di bawah seperti biasa." Ucap Zoya yang tidak mendapat respon apapun dari Andreas. Zoya hanya bisa menghela nafas perlahan. Dia harus sabar kembali menghadapi sifat dingin suaminya.
Andreas langsung berbaring begitu saja seraya membelakangi tempat dimana Zoya tidur.
"Mas apakah kau sudah tidur?" Tanya Zoya dengan sangat berhati-hati. Dia takut akan mendapat bentakan.
"Ehmm." Andreas hanya menjawab dengan berdehem. Menandakan jika ia belum tidur.
Zoya pun lega karena dia tidak di bentak oleh Andreas. Langsung saja dia mengungkapkan sebuah permintaan.
"Mas, beri saya satu kesempatan untuk membuktikan jika semua bukti perselingkuhan itu hanyalah rekayasa." Ucap Zoya penuh harap.
Andreas masih terdiam. Dia sedang berpikir. Sejak kemarin Zoya terus berkata jika itu bukan dirinya. Namun yang membuat Andreas tidak bisa percaya adalah, saat malam itu tidak ada noda darah di atas sprei. Andreas jadi menganggap jika ia bukanlah yang pertama.
"Mas itu beneran bukan saya. Sepertinya memang ada seseorang yang merekayasa semua itu." Ucap Zoya yang terus membela diri.
Andreas langsung terduduk dan menatap serius kearah Zoya.
"Kau jangan membohongiku. Kau ingat bukan, saat malam itu. Aku bukan orang pertama bagimu." Ucap Andreas.
Zoya menatap bingung. Tapi kemudian dia paham dengan apa yang di maksud oleh Andreas.
"Mas Andreas salah paham. Saya memang harusnya mengatakan dari awal. Saya kehilangan itu bukan karena telah berhubungan intim dengan pria. Tapi itu karena waktu kecil saya jatuh dari sepeda." Ucap Zoya menjelaskan yang sebenarnya.
Andreas tersenyum getir menanggapinya. Dia menganggap Zoya itu pandai berkelit.
"Jika mas tidak percaya, bisa tanyakan itu pada ibu dan saya bisa menunjukkan rekaman medisnya." Ucap Zoya.
"Percayalah mas, saya tidak berbohong. Beri saya satu kesempatan untuk membuktikan segalanya." Ucap Zoya kembali memohon.
__ADS_1
"Baiklah, satu kesempatan. Tapi ingat, aku tidak suka kebohongan." Ucap Andreas dengan tegas.
"Iya mas, saya akan membuktikannya. Terima kasih." Ucap Zoya dengan senyum cerah. Dia merasa senang akhirnya Andreas dapat sedikit luluh.