
Senja sore yang indah mengiringi perjalanan Zoya pulang ke apartemen. Hari ini Andreas mengirim sopirnya untuk menjemput Zoya. Jika saja tidak sibuk, Andreas pasti memilih menjemput sendiri istrinya.
Pulang di jam lima sore, membuat Zoya terjebak di kemacetan. Tapi karena suasana hatinya sedang baik, dia tetap duduk tenang sembari terus mengagumi bucket bunga mawar dari Andreas itu.
"Nona maaf, saya telah salah memilih jalur. Sepertinya kemacetan ini akan lama." Ucap Danu merasa bersalah.
"Tidak apa-apa pak, saya juga tidak sedang buru-buru." Ucap Zoya tentunya dengan senyum ramahnya.
Lagipula Andreas berkata akan pulang larut malam nanti. Jadi Zoya tidak perlu menyiapkan makan malam. Karena Andreas berkata akan makan di luar nanti saat menemui kliennya.
Perjalanan menuju apartemen yang harusnya hanya sekitar tiga puluh menit, menjadi memakan waktu lebih dari satu jam karena kemacetan parah.
Zoya turun di depan lobby. Tak lupa dia berucap terimakasih sebelum meninggalkan mobil.
Dengan langkah pasti dan senyum yang memancarkan aura kebahagiaan, Zoya memasuki gedung tempat huniannya berada. Tentu saja dengan bucket bunga yang ada dalam dekapannya.
TAP .. TAP ..
Langkahnya terhenti ketika Jemyma berdiri menghadang jalannya menuju ke lift.
"Nona Jemyma." Sebut Zoya pada wanita yang saat ini menatap sinis padanya. Saat itu juga Jemyma menariknya ke sudut yang sepi.
"Enak sekali ya, seorang kacung tinggal di apartemen semewah ini." Ujar Jemyma dengan tatapan sinisnya.
Kemudian Jemyma langsung fokus pada bunga yang di bawa oleh Zoya. Lantas dia merebutnya secara paksa dan membaca kartu ucapan yang ada di sana. Ekspresinya langsung muram, lalu di buangnya bucket itu ke lantai. Bukan hanya itu, Jemyma juga memijakinya hingga terkoyak.
"Apa yang Nona lakukan? Jangan di rusak, ini milik saya." Pekik Zoya seraya mencoba menyelamatkan bucketnya. Namun yang terjadi malah tangannya yang terinjak oleh Jemyma.
"Aw," Pekik Zoya yang merasa kesakitan karena terkena heels sepatu Jemyma.
Tidak menghentikan aksinya, Jemyma malah tersenyum senang melihat Zoya kesakitan. Kini bunga itu benar-benar hancur.
Melihat itu lantas Zoya menitikkan air matanya. Meski hanyalah sebuah bucket bunga, tapi itu sangat berarti untuknya. Apalagi itu bucket pertama dari suaminya. Seraya menangis, Zoya memunguti bunga-bunga yang terlepas dari tangkainya.
"Issh, dasar lebay." Hardik Jemyma seraya melipat kedua tangannya diatas perut. "Kau itu harusnya sadar diri. Kau tidak pantas menerima bunga dari Andreas. Apalagi menerima cinta darinya!" Seru Jemyma dengan penuh emosi pada Zoya.
__ADS_1
Jemyma memang sengaja datang untuk melabrak Zoya. Setelah klarifikasi yang di lakukan Andreas beredar, banyak berita negatif yang mencoreng nama Jemyma. Hal itu berimbas pada pekerjaannya sebagai seorang selebritis. Bahkan di kolom komentar sosial medianya, banyak yang menyebutnya wanita gila. Gila karena tidak berhasil menggapai cinta sang kakak ipar. Lantas dia murka dan menyalahkan semua ini pada Zoya.
Zoya hanya sibuk memunguti bunga-bunga di lantai, dan tidak mendengar ocehan Jemyma. Hal itu membuat wanita dua puluh lima tahun itu semakin murka. Jemyma menendang Zoya hingga tersungkur. Setelah itu dia menginjaki bunga itu lagi.
"Lihatlah ini, aku akan membuatnya hancur lebur." Ucap Jemyma dengan kejamnya.
Zoya tidak tinggal diam. Dia terus berusaha menghentikan Jemyma dengan memegangi kakinya. Tapi lagi-lagi dia di tendang olehnya. Kali ini cukup keras hingga membuatnya memekik kesakitan karena siku tangannya membentur lantai.
Tak hanya berhenti di sana. Jemyma mengampiri Zoya dan menjambak rambutnya dengan keras.
"Aaah." Pekik Zoya. "Lepaskan Nona, sakit!"
"Aku tidak akan melepaskannya. Ini pelajaran bagimu karena sudah merebut Andreas dariku." Ucap Jemyma seraya memperkuat tarikannya.
"Aaa, sakit nona. Saya mohon lepaskan." Zoya terus meringkih kesakitan. Tapi itu sama sekali tidak membuat hati nurani Jemyma terketuk.
"Aku baru akan melepaskanmu jika kau berjanji meninggalkan Andreas." Ucap Jemyma.
"Maaf saya tidak bisa melakukan itu." Ucap Zoya seraya menggelengkan kepala. Hal itu membuat Jemyma semakin memperkuat tarikannya. "Aaa, sakit. Tolong.." Teriak Zoya.
Jemyma benar-benar melakukan hal beringas. Dia sama sekali tidak punya rasa kasihan pada Zoya. Zoya terus berusaha melepaskan diri dan tetap berteriak meminta tolong.
Tiba-tiba ada tangan seseorang mencengkram erat tangan Jemyma. Sontak Jemyma juga Zoya mendongak melihat tangan siapa itu.
"Lepaskan dia." Ucap Rafli dengan tatapan datarnya.
"Kau yang harusnya lepaskan tanganku. Tidak usah menjadi sok pahlawan. Kau itu siapa?" Jemyma menolak mentah-mentah permintaan Rafli yang masih di ucapkan secara halus itu.
Jemyma malah ingin kembali menjambak rambut Zoya. Namun yang terjadi adalah tangannya mendapat cengkraman keras sampai dirinya pun merasa kesakitan. Akhirnya dia melepaskan rambut Zoya.
"Aw, sakit. Lepaskan aku brengsek!" Umpat Jemyma seraya meronta.
Tanpa memberi aba-aba Rafli langsung melepaskan tangan Jemyma. Sampai membuat wanita arogan itu jatuh karena kehilangan keseimbangan. Sontak saja dia mengumpat tak ada habisnya. Namun Rafli tidak perduli.
"Zoya kau tidak apa-apa?" Tanya Rafli sembari berjongkok dan memegang bahu Zoya.
__ADS_1
"Iya aku baik-baik saja. Terima kasih." Ucap Zoya seraya mengangguk pelan.
Rafli hampir lupa diri jika saat ini Zoya adalah istri orang. Dia langsung menjauhkan tangannya dari bahu Zoya dan kembali berdiri.
Sementara Zoya menghapus air matanya dan kembali mengambil sisa bucket bunga yang masih tersisa.
Rafli ingin langsung pergi saja. Tapi melihat Jemyma yang dianggapnya sebagai wanita gila masih ada di sana, dia merasa Zoya masih belum aman. Akhirnya dia mengulurkan tangannya pada Zoya.
Zoya terdiam menatap kearah Rafli. Rasanya dia ragu menerima uluran tangan dari mantan kekasihnya itu. Tapi jika dia menolak rasanya akan malah terlihat tidak baik. Lagipula ini hanya sebuah uluran tangan, jadi tidak apa-apa.
Namun saat meraih uluran tangan Rafli, tangan seseorang menyerobot lebih dulu menggenggam tangan Zoya. Membawa Zoya ke dalam dekapannya.
"Mas Andreas." Sebut Zoya pada suaminya yang kini berada tanpa jarak dengannya.
Lantas Rafli menatap telapak tangannya sendiri seraya tersenyum getir. Dia memasukkan tangannya ke dalam saku.
"Apa yang terjadi?" Tanya Andreas dengan tatapan penuh kekhawatiran pada Zoya.
Zoya tidak bisa menjawabnya. Dia takut Andreas akan murka pada Jemyma dan malah memperkeruh keadaan. Pastinya Jemyma akan semakin kesal jika melihat Andreas membela Zoya.
Tapi Andreas langsung sadar jika pasti ini ulah Jemyma. Karena ada Jemyma di sana yang terlihat masih terduduk di lantai.
Andreas melepaskan rangkulannya pada Zoya lalu bergerak mendekat kearah Jemyma.
"Mas Andreas, tolong aku. Si kacung itu kasar sekali. Tadi dia mendorongku di bantu pria itu juga. Sepertinya dia itu selingkuhannya." Ucap Jemyma membalikkan fakta, juga memfitnah Zoya dan Rafli.
Rafli cukup tercengang mendengar pernyataan yang keluar dari mulut Jemyma. Dia lebih dari dugaannya. Dia itu benar-benar wanita ular. Padahal jelas dia yang menyerang Zoya.
"Mas kakiku sakit, tolong bantu aku berdiri." Ucap Jemyma dengan manja. "Ini semua gara-gara kacung itu!" Seru Jemyma seraya menunjuk Zoya.
"Diam! Aku bukan orang bodoh yang percaya begitu saja dengan perkataanmu!" Seru Andreas penuh Amarah. "Aku peringatkan padamu, jangan lagi berbuat kelewat batas pada Zoya." Tegas Andreas.
Setelah itu Andreas kembali pada Zoya. Dia menggandeng tangan Zoya untuk pergi dari sana. Sebelum pergi dari sana, Andreas menoleh sebentar pada Rafli.
"Terima kasih sudah membantu istri saya." Ucap Andreas dengan sangat jelas pada Rafli. Seakan dia ingin menyatakan jika Zoya adalah miliknya sekarang. Rafli hanya membalasnya dengan anggukan.
__ADS_1
Mereka pun pergi meninggalkan Jemyma sendirian di sana.
"Aaargh, sial!" Umpat Jemyma. "Lihat saja nanti, aku akan memisahkan kalian!" Ucap Jemyma bertekad.