
Zoya termenung di dalam ruangan kerjanya. Matanya sembab akibat menangis terlalu lama. Sebenarnya dia malu datang ke butik dengan kondisi seperti itu, tapi ada pekerjaan yang tidak bisa dia tinggalkan. Dia harus tetap profesional. Kacamata hitam menjadi solusi untuknya.
Zoya terus mencoba mengingat, apa saja yang dia lakukan kemarin-kemarin. Rasanya tidak ada kesalahan apapun yang di lakukannya. Lagipula dia dengan Andreas juga terus berkomunikasi dengan baik.
"Apa sebenarnya kesalahanku padanya, aku tidak pernah berbuat macam-macam selama dia tidak ada." Gumam Zoya merasa begitu frustasi memikirkan ini semua.
Zoya benar-benar merasa terpuruk. Sampai dia tidak bisa makan apapun sejak tadi. Pikirannya yang kacau, membuatnya lupa rasa lapar dan haus.
Jam menunjukkan pukul tiga sore. Zoya pun keluar dari butik. Pekerjaannya sudah terselesaikan. Dia tidak di jemput ataupun memesan taksi, melainkan langsung berjalan kaki. Menurutnya dengan berjalan kaki seraya menghirup udara sore, akan sedikit membuat pikirannya rilex.
Di jalan Zoya melihat sepasang suami istri yang memiliki satu anak bayi. Mereka terlihat sangat bahagia. Zoya sampai ikut merasa bahagia melihatnya. Dia jadi termenung sendiri. Kapan rumah tangganya berjalan harmonis seperti mereka. Senyum getir terukir di bibirnya, karena sebuah rumah tangga yang harmonis akan sulit ia wujudkan. Baru memulai saja sudah ada pertengkaran besar lagi diantarnya dengan Andreas.
Lama Zoya terdiam di tepi jalan itu. Bahkan dia tidak sadar orang-orang berlarian meneduh karena hujan yang turun secara tiba-tiba.
Hujan turun semakin lama semakin lebat. Tapi Zoya tetap bertahan pada posisinya. Dia melepas kacamata yang di pakainya.
"Katanya hujan memberi kedamaian." Ucap Zoya dengan suara yang sudah bergetar. Beberapa detik kemudian dia menangis meluapkan seluruh kesesakan di dalam hatinya.
Tubuh Zoya sudah basah kuyup terkena air hujan. Dia pun menutup matanya, mencoba meresapi tetesan air hujan. Namun tiba-tiba saja tetesan air hujan tidak dapat lagi dia rasakan.
"Suaranya masih terdengar tapi kenapa tetesannya berhenti?" Zoya bertanya sendiri dan kemudian membuka matanya.
Ternyata sebuah payung menaungi dirinya. Payung itu di pegang oleh pria yang cukup ia kenali.
"Kak Haris," Sebut Zoya saat sudah melihat orang yang memayungi dirinya.
__ADS_1
Dan di sinilah mereka sekarang, duduk di sebuah halte bus untuk meneduh. Haris memberikan sapu tangannya agar Zoya dapat menyeka wajahnya yang basah.
"Terima kasih." Ucap Zoya seraya menerima sapu tangan itu.
Haris hanya mengangguk. Melihat kondisi Zoya saat ini, Haris jadi kembali teringat tentang apa yang di dengarnya tadi. Andreas dan Zoya adalah suami istri, dan saat ini mereka tengah bertengkar karena diduga Zoya berselingkuh. Namun melihat kesedihan Zoya dari raut wajah dan perilakunya, Haris merasa tidak percaya dengan statement Andreas.
"Kau kenapa hujan-hujanan begitu, kau bisa sakit." Ucap Haris.
"Hmm, tidak apa-apa kok. Saya hanya ingin saja." Ucap Zoya seraya tersenyum untuk menutupi kesedihannya. Dia tidak mau jika orang lain sampai tahu tentang kesedihannya.
"Aku sudah tahu semuanya, mengenai kau dan Andreas." Ucap Haris yang membuat Zoya langsung tertegun. "Konyol sekali ya, aku pernah menyukai istri dari pria lain dan itu sepupuku sendiri." Sambung Haris seraya tersenyum getir.
"Emmh, maaf kak saya tidak bermaksud menyembunyikan status saya sebagai istri mas Andreas." Ucap Zoya dengan tatapan rasa bersalahnya.
"Its ok, aku sudah bisa menerima kenyataannya. Tapi dari yang kudengar kau menghianatinya. Apa itu benar?" Tanya Haris mengutarakan rasa penasarannya.
"Tadi aku tidak sengaja mendengar Andreas marah dan menyebutmu telah menghianatinya. Atau dengan kata lain berselingkuh." Ucap Haris menjelaskan pada Zoya apa yang sudah ia ketahui di kantor tadi.
Zoya cukup terkejut mendengar hal itu. Ternyata karena hal itu Andreas marah padanya. Tapi dia sama sekali tidak melakukan hal itu.
"Tidak, itu tidak benar kak. Terima kasih informasinya. Saya harus pergi sekarang." Ucap Zoya seraya bergegas berlari, dia menembus hujan yang sangat deras itu.
Haris pun tidak bisa menghentikan Zoya. Dia semakin merasa bingung dengan kisah cinta Andreas dan Zoya. Sudah sangat rahasia ada masalah besar di dalamnya pula.
*****
__ADS_1
Zoya berlari sampai ke apartemen. Kakinya tidak lagi merasakan lelah. Yang dia inginkan hanyalah segera bertemu dengan Andreas. Tadinya dia naik taksi, tapi jalanan yang begitu macet membuatnya merasa tidak sabar. Dia memutuskan untuk menempuh perjalanan dengan berlari.
Sebelumnya dia juga sudah menelefon Yuda, menanyakan keberadaan Andreas. Yuda mengatakan jika Andreas pulang ke apartemen karena merasa pusing.
Sama seperti Zoya, Andreas belum mau pulang ke rumah orang tuanya. Mereka berdua sama-sama masih menyembunyikan masalah itu.
Dengan baju yang basah kuyup. Zoya memasuki lift untuk menuju ke lantai 9. Dia sudah tidak perduli karena menjadi pusat perhatian seluruh orang yang di lewatinya. Yang pasti dia ingin cepat bertemu suaminya untuk menjelaskan segalanya.
Akhirnya Zoya pun sampai di unit apartemennya. Tanpa berbasa-basi lagi, dia berteriak memanggil nama Andreas.
"Mas Andreas, mas Andreas ada di mana?"
Setelah beberapa kali di panggil, Andreas pun muncul dari dalam kamarnya. Tatapannya langsung menggambarkan kekesalan. Tapi Zoya sama sekali tidak merasa takut, dia langsung berlari kecil mendekat pada Andreas.
Tangan Andreas langsung memberi isyarat agar Zoya menghentikan langkahnya. Dia tidak mau terpaut jarak sangat dekat dengan wanita yang sudah menodai pernikahan suci mereka.
"Mas semua yang mas Andreas pikirkan tentang saya itu tidak benar. Saya tidak pernah berbuat macam-macam dengan pria manapun." Ucap Zoya mencoba menjelaskan pada Andreas.
Tidak menanggapi sepatah katapun, Andreas kembali masuk ke dalam dan kembali dengan membawa ponselnya. Dia menunjukkan bukti kuat yang membuat Zoya sulit berkelit.
"Ini yang kau anggap tidak macam-macam? Tidur dengan pria lain itu apa namanya jika bukan macam-macam!" Ucap Andreas dengan penuh emosi. Sampai-sampai wajahnya memerah.
"Saya bersumpah atas nama Allah mas. Saya tidak pernah melakukan yang ada di foto juga video itu. Saya tidak ada hubungan apapun lagi dengan Rafli." Ucap Zoya mencoba terus mengembalikan kepercayaan dari suaminya.
Sayangnya Andreas lebih percaya dengan bukti yang ada di handphonenya. Zoya pun bingung sendiri. Dia berusaha mengingat apa yang terjadi beberapa hari kebelakang. Namun menurutnya tidak ada hal janggal.
__ADS_1
Andreas pun mengambil kembali paksa handphone miliknya dari tangan Zoya.
"Mas percayalah padaku, itu bukan aku. Aku tidak pernah tidur dengan pria manapun selain dengan mas Andreas semalam." Ucap Zoya apa adanya.