
Setelah selesai sholat berjamaah Pak Aldrich, Pak Dana dan Kevin berbincang di ruang keluarga, apalagi topik utama jika ketiga pria itu sudah bersama, pasti tak lain dan tak bukan mengenai segala sesuatu yang berhubungan dengan bisnis.
Sedangkan Bu Amrah dan Bu Siska bergegas ke dapur setelah membereskan perlengkapan sholatnya.
"Loh kamu udah bangun, Sayang ?" tanya Bu Amrah ketika melihat putrinya sudah berada di dapur sepagi itu.
"Loh mantu mami kok udah bangun aja, kamu ga capek, Sayang ?"
Belum Puput menjawab pertanyaan mamanya, sekarang maminya juga ikut bertanya, hal itu membuat Puput mengerutkan keningnya.
"Loh, Mah, Puputkan emang selalu begini. Puput ga capek kok, Mih."
Bu Amrah dan Bu Siska saling menatap dan bersamaan menarik tangan Puput dan mendudukkannya di meja makan.
"Loh, Mama sama Mami kenapa sih, Ais mau buat sarapan," ucap Puput yang semakin bingung dengan kedua mamanya itu.
"Sayang dengerin mama, apa semalam kamu ..... ?" tanya Bu Amrah dengan mengkode, kedua tangannya ia angkat dengan jari membentuk huruf V dengan isyarat tanda petik yang membuat Puput tak mengerti.
"Apa sih, Mah, Ais ga ngerti."
"Aduh polosnya mantu, Mami. Gini, Sayang apa semalam kamu dan Kevin ga membuatkan kami cucu ?" tanya Bu Siska to the point yang berhasil membuat Puput melototkan matanya, hawa panas tiba-tiba menyerang pipinya yang kini sudah seperti kepiting rebus.
"Mmmm eng...ga, Mah, Mih, Ais...."
__ADS_1
"Haaaa ?" heboh kedua orang itu memotong ucapan Puput.
"Kenapa, Sayang, apa kamu ga mau kasi sama suami kamu ?" tanya Bu Amrah.
"Apa anunya Kevin yang lemah yang membuatnya tidak menyentuh kamu ?" lanjut Bu Siska.
Pertanyaan mama dan maminya itu sontak membuat Puput menepuk jidatnya.
"Aduhh, Mama sama Mami dengerin Ais yah, jangan dipotong, oke ?" ucap Puput yang mendapat anggukan dari kedua orang itu.
"Jadi gini, kami tidak membuatkan kalian cucu itu karena Ais lagi ada tamu, Ais lagi haid, Mah, Mih," jelas Puput sehingga membuat kedua orang itu ber oh ria.
"Aduh kasiannya mantu mama."
Ucap kedua orang itu bersamaan, tanpa menyadari jika orang yang tadinya mereka introgasi sudah tidak ada di dekatnya karena Puput sudah kembali ke dapur untuk melanjutkan aktifitas memasaknya.
30 menit berlalu, masakannya pun sudah siap dan sudah tertata rapi di atas meja makan.
"Mama sama Mami duduk aja yah, biar Ais yang panggil kakak, papa sama papi."
"Iya, Sayang."
"Kak, Pah, Pih, ayo makanannya sudah siap." ucap Puput menghampiri ketiga orang itu.
__ADS_1
"Iya, Sayang," " ucap ketiganya.
Pak Dana dan Pak Aldrich berdampingan di depan, sedangkan di belakang kedua pengantin baru itu berjalan sambil bergandengan tangan.
"Sayang kami ada hadiah buat kalian ?" ucap Pak Aldrich setelah mereka selesai sarapan.
"Apa, Pih ?" tanya Kevin dan Puput.
"Ini," ucapnya seraya menyodorkan selembar amplop.
Kevin mengambil amplop itu dan membukanya, keduanya saling menatap.
"Tiket ke Maldives ?" tanya Kevin.
"Iya, Boy. Itu tiket bulan madu kalian selama seminggu di Maldives, itu hadiah dari kami dan sepulang dari sana kalian yang harus memberikan kami hadiah yang tak ternilai harganya," ucap Pak Aldrich.
"Iya itu hadiah pernikahan kalian, besok kalian berangkatnya, dan semua fasilitas di sana sudah kami siapkan," tambah Pak Dana.
"Makasih ya Pah, Mah, Pih, Mih," ucap Puput tersenyum tulus dan diikuti oleh Kevin.
πΈπΈπΈ
jangan lupa LIKE, KOMEN, dan VOTE ππ
__ADS_1