
Fani kembali dari dapur dengan membawa semangkuk bubur di tangannya. Ia lalu duduk di tepi ranjang, tepatnya di samping Eza.
"Za., kamu makan dulu yah, ga usah mikirin macam-macam dulu," ucap Fani sembari menatap Eza dengan lembut.
Fani menyendok buburnya dan mengarahkannya pada Eza, bermaksud untuk menyuapi laki-laki yang berada di hadapannya itu.
"Buka mulutmu, Za ga usah keras kepala di saat yang seperti ini," ucap Fani sedikit kesal karena Eza tak kunjung membuka mulutnya.
Eza menurut pada Fani, ia membuka mulutnya sedikit, Fani yang melihat itu langsung mengarahkan sendoknya ke mulut Eza untuk menyuapinya.
"Udah, Fa aku bisa makan sendiri," ucap Eza setelah menelan buburnya.
"Gapapa, Za udah nurut aja napa, Za buka mulutmu lagi !" titah Fani dan entah kenapa Eza menurutinya, mungkin karena ia merasa bersalah telah memperlakukan Fani dengan kasar selama ini ataukah karena ia merasa berhutang karena Fani telah berbaik hati memperdulikannya.
"Makan yang bener, Za jangan ngelamun," ucap Fani yang melihat Eza makan sambil melamun.
__ADS_1
"Cerewet banget sih lo, Fa," ucap Eza untuk menutupi rasa malunya yang tertangkap basa sedang melamun.
"Cerewet gini karena gue care sama lo, Za," ucap Fani.
"Iya iya, makasih yah, Fa," ucap Eza dengan sedikit senyum yang ia berikan pada wanita yang sedang menyuapinya itu.
"Makasih untuk apa ?" tanya Fani kemudian.
"Makasih karena lo udah care sama gue, makasih karena lo udah ngerawat gue, dan maafin gue juga tentang perlakuan gue ke lo akhir-akhir ini," ucap Eza yang berterima kasih sekaligus minta maaf karena jujur saja ia merasa bersalah telah memperlakukan wanita itu dengan kasar.
"Iya iya. Udah ah ga usah melow gitu, makan cepat, habisin buburnya baru minum obat," titah Fani lagi.
Fani terus menyuapi Eza dengan telaten sampai buburnya habis. Setelah itu ia membantu Eza untuk minum obat.
"Lo istirahat ya, Za. Gue kembaliin ini dulu," ucap Fani sambil memperlihatkan mangkok bekas makan bubur.
__ADS_1
"Oh iya, Za gue tidur di sini yah karena gue udah ga kuat kalo harus nyetir mobil pulang. Tenang aja gue akan tidur di sofa ruang tamu kok," ucap Fani meminta izin, ya karena memang apartemen Eza hanya memiliki satu kamar yang kini di tempati Eza.
"Sekali lagi makasih yah, Fa dan maaf udah ngeropotin lo," ucap Eza yang lagi-lagi berterima kasih dan juga merasa tidak enak pada Fani.
"Santai aja, Za," ucap Fani sambil tersenyum manis pada Eza.
"Lo emang sahabat terbaik gue, Fa," ucap Eza tersenyum, namun itu membuat senyum manis yang semula terbit di wajah Fani lenyap seketika.
"Gue keluar, Za," ucap Fani dan langsung keluar.
Ia berlari ke dapur setelah menutup pintunya, di sana ia menangis mengingat perkataan Eza yang hanya menganggapnya sebagai sahabat.
"Kenapa lo hanya menganggap gue sebagai sahabat, Za. Apa kurangnya gue, kenapa lo ga pernah ngelirik gue sekali pun, Za. Kenapa lo ga pernah sadar dengan perasaan gue, Za. Gue itu sayang sama lo, Za. Gue cinta sama lo, Za kenapa lo hanya menganggap gue sebagai sahabat, ga lebih dari itu, Za. Hati gue sakit, Za selama ini melihat laki-laki yang gue suka malah menyukai orang lain yang tak lain adalah sahabat gue sendiri, Za. Gue kesel sama diri gue sendiri yang tak bisa melupakan lo, Za yang tak bisa menghilangkan rasa ini, Za. Gue sesak, Za tiap liat lo yang sangat care pada Puput, apalagi saat melihat lo hancur karena ditolak, aku lebih sakit, Za. Aku lebih hancur. Kapan sih, Za lo nganggap gue ada, nganggap gue lebih dari sekedar sahabat," lirih Fani dengan terisak.
πΈπΈπΈ
__ADS_1
***Maaf yah 2 part ini khusus ke Eza dan Fani, kasian mereka kalo hanya sebagai pajangan, ntar ngambek merekanya. Tapi next part kembali ke Kevin Puput kok π€ππ
jangan lupa LIKE, KOMEN, dan VOTE π€π€π