LOVE STRUGGLE (PERJUANGAN CINTA)

LOVE STRUGGLE (PERJUANGAN CINTA)
Good Job


__ADS_3

Setelah pesanannya datang, Puput segera permisi kepada kedua sahabatnya. Puput tak ingin suaminya menunggu lama.


"Thanks ya, Za. Kalau gitu gue pulang duluan ya, kasian suamiku pasti sudah kelaparan," pamitnya kepada Eza dan Fani.


"Iya, Put. Hati-hati ya," ucap Eza.


"Take care, Put," ucap Fani.


"Ok, kalian juga hati-hati ya pulangnya, bye gaes," ucap Puput seraya berlalu.


"Siap, bye," ucap keduanya bersamaan.


Puput sudah sampai di parkiran, ia mencari mobil jemputannya dan ternyata sudah berada tak jauh dari tempatnya sekarang.


"Silahkan, Nona," ucap sang supir membukakan pintu untuk majikannya.


"Terima kasih, Pak," ucap Puput setelah berada di dalam mobil.


Pak supir pun melajukan mobilnya menuju perusahaan.


"Pak, kita mampir dulu yah di restoran yang di depan."


"Iya, Nona."


Beberapa menit kemudian mobil yang membawa Puput memasuki area restoran, Puput turun untuk membelikan makanan untuk suaminya lalu kembali ke mobilnya.


Entah kenapa Puput begitu bahagia ingin bertemu sang suami. Sepanjang perjalanan ia terus tersenyum bahagia.


Setelah sampai di kantor, Puput turun dengan membawa 2 kantung makanan, satu untuknya dan satunya lagi untuk suaminya, dengan wajah yang begitu bahagia.


Tanpa mengetuk pintu, Puput langsung membukanya karena ia yakin, suaminya itu pasti tak akan marah karena ia tak mengetuk pintunya.


Setelah membuka pintunya, Puput begitu kaget melihat suaminya sedang bermesraan dengan wanita seksi, ia begitu kecewa, ia begitu benci dengan laki-laki yang katanya hanya mencintainya itu tapi ternyata malah bermesraan dengan wanita lain di belakangnya.


Raut wajah yang semula berbinar dengan kebahagian berubah menjadi muram dengan pipi yang sudah banjir dengan air mata.


"Sa...yang," ucap Kevin dengan suara tercekat serta dengan ekspresi kagetnya.


Puput yakin bahwa suaminya itu pasti kaget karena aksi mesranya itu ia pergoki.


"Gue benci sama kamu !" suara tegas yang disertai dengan air mata itu semakin membuat Kevin merasa bersalah, mengapa ia bisa kecolongan dan membuat istrinya salah paham dengannya.


"Sayang, aku bisa jelasin," ucap Kevin namun tak dihiraukan oleh Puput.


Puput langsung berlari tanpa menghiraukan perkataan Kevin.


"Awas kamu !" ucap Kevin dengan suara tegasnya seraya menunjuk Cica dan langsung berlari mengejar Puput.


"Ck awas apaan, sediakan aja pemakaman untuk istrimu itu," ucapnya dengan senyum liciknya setelah Kevin sudah tak terlihat lagi.


Sementara Puput kini sudah berada di depan kantor, ia berlari ingin mencari taksi.

__ADS_1


"Nona," panggil sang supir ketika melihat nona mudanya itu berlari dengan berurai air mata.


Puput tak menghiraukan panggilan supirnya, ia terus berlari untuk mencari taksi, ia ingin pergi jauh dari Kevin.


Braaaakkk


Tiba-tiba sebuah mobil melaju dengan begitu cepat dan langsung menabrak Puput dengan begitu kencang, sehingga membuat Puput terlempar jauh ke belakang dan terjatuh di aspal dengan darah yang sudah bercucuran.


"Nonaaaaaa," teriak supirnya dan langsung berlari ke arah nonanya.


"Ada apa ini ?" tanya Kevin setelah berada di depan kantor dan melihat karyawannya berkerumun.


"Ada yang ketabrak mobil bos," ucap salah satu karyawannya.


Kevin langsung menerobos kerumunan itu untuk melihat orang yang sedang dikerumuni, ia takut jangan sampai itu istrinya dan setelah sampai di tengah, alangkah terkejutnya Kevin melihat orang yang dicintainya sedang tergeletak bersimbah darah...


"Sayaaaaaaaaaaang," teriaknya dan langsung berlari membawa kepala istrinya di pangkuannya, ia sudah tak kuasa melihat keadaan istrinya.


"Sayang, bangun, Sayaaang," lirihnya dengan berderai air mata.


Sementara semua karyawannya yang berada di sana terkejut mendengar bos mereka memanggil seseorang dengan kata sayang.


"Cepat ambil mobil bodoh, kau ingin melihat istriku mati di sini !!!" teriak Kevin pada supirnya.


Lagi-lagi para karyawan tersebut dibuat semakin terkejut mendengar kata istri dari mulut bosnya.


"I..ya, Bos."


Sementara di sisi lain seorang wanita tengah menatap mereka dengan tersenyum penuh kemenangan.


"Mati lo sana hahaha," ucapnya dengan ketawa jahatnya.


"Good job, Bro," ucapnya pada seseorang di seberang telfon.


"......"


"Perempuan itu begitu parah dan sepertinya ia sudah tak bisa diselamatkan," ucapnya masih dengan ekspresi bahagianya.


🌸🌸🌸


Di perjalanan menuju rumah sakit, Kevin terus menangis dengan memeluk istrinya yang berada di pangkuannya.


"Bangun, Sayang. Ku mohon jangan tinggalkan aku," lirihnya di sela tangisnya.


"Hei, cepat sedikit !" bentaknya lagi pada supirnya untuk kesekian kalinya.


"I..ya, Bos," hanya kata itu yang terus diucapkan oleh sang supir, ia sudah mengemudi dengan cepat, tapi karena Kevin sangat mengkhawatirkan istrinya, maka ia begitu tidak sabaran.


Setelah sampai di rumah sakit, Kevin langsung menggendong Puput dan berlari membawanya ke dalam.


Beberapa perawat berlari dengan membawa brangkar.

__ADS_1


"Tidak usah pakai itu, cepat tunjukkan ruangannya bodoh," Kevin kembali membentak para perawat itu.


"Ke arah sini, Tuan," jawab salah satu perawat dengan ketakutan.


Bagaimana tidak takut, semua perawat itu tahu mereka sedang berhadapan dengan siapa dan sangat tau betul resiko jika membuat orang itu marah.


Kevin terus berlari dengan mengikuti arahan perawat itu, sesampainya di ruangan ICU (Intensif Care Unit), Kevin langsung membaringkan istrinya agar segera ditangani.


"Selamatkan istriku !" ucapnya dengan penuh penekanan.


"Ba..ik, Tuan," ucap dokter itu dengan ketakutan.


"Si..lahkan ke..luar, Tu..an," ucap perawat tak kalah ketakutannya.


Kevin pun langsung keluar agar istrinya segera ditangani.


Kevin berjalan mondar mandir di depan ruang ICU dengan begitu khawatir serta air mata yang tak hentinya keluar. Kevin merasa sangat bersalah karena dirinyalah, istrinya jadi seperti ini. Ia juga merasa sangat ketakutan, jangan sampai Puput meninggalkannya.


Jujur saja, Kevin tak sanggup jika harus kehilangan Puput karena sejak mengenal Puput ia sudah sangat bergantung padanya. Serasa Puput adalah oksigennya.


Sopirnya pun tak kalah khawatirnya. Ia bersandar di dinding yang tak jauh dari Kevin dengan sesekali mengusap air matanya.


"Vin."


Kevin berbalik ke sumber suara dan ia melihat kedua mertuanya yang datang bersama Wira.


"Maafin Kevin, Mah, Pah," ucapnya dan langsung bersimpuh di hadapan kedua mertuanya.


"Bangun, Nak," ucap Bu Amrah sembari memegang kedua bahu menantunya.


Kevin bangun dan langsung memeluk ibu mertuanya.


"Maafin Kevin, Mah. Ini semua karena Kevin," lirihnya dengan penuh rasa bersalah.


"Iya, Sayang. Kami yang sabar ya, Nak. Kita harus berdoa untuk kesembuhan Ais," ucap Bu Amrah berusaha tegar di hadapan menantunya.


Ceklek


Pintu ruangan operasi terbuka dan keluarlah seorang dokter.


"Bagaimana keadaan anak saya, Dok ?"


"Bagaimana kondisi istri saya, Dokter ?"


tanya Pak Dana dan Kevin bersamaan kepada dokter.


🌸🌸🌸


jangan lupa LIKE, KOMEN, dan VOTE πŸ€—πŸ™


dukungan kalian sangat membantu author πŸ™πŸ™πŸ˜Š

__ADS_1


__ADS_2