
Ceklek
Pintu ruangan operasi terbuka dan keluarlah seorang dokter.
"Bagaimana keadaan anak saya, Dok ?"
"Bagaimana kondisi istri saya, Dokter ?"
tanya Pak Dana dan Kevin bersamaan kepada dokter.
"Maaf, Tuan pasien mengalami luka yang serius, sedikit saja keterlambatan maka pasien sudah tidak tertolong lagi, dan pasien harus segera dioperasi," jelas dokter itu.
"Lakukan yang terbaik untuk istri saya, Dokter," ucap Kevin.
"Baiklah, Tuan."
Dokter itu kembali masuk ke dalam ruang ICU untuk mengambil tindakan selanjutnya.
Semua orang terkulai lemas karena orang yang sangat mereka sayangi sedang berjuang antara hidup dan mati.
Wira menghampiri Kevin dan langsung memeluk bos sekaligus sahabatnya itu karena ia yakin sekuat apapun Kevin, tapi pasti sekarang ia sedang rapuh.
"Ini semua gara-gara gue, Wir. Gue kecolongan, Wir. Andaikan gue bisa dengan cepat menghindari wanita sialan itu, ini semua tidak akan terjadi," ucap Kevin yang menyalahkan dirinya sendiri.
"Maksud lo, Vin ?" tanya Wira.
"Tadi di kantor si Cica datang, kami duduk di sofa yang berbeda, terus Cica tiba-tiba aja peluk dan cium gue dan pas itu Puput membuka pintu dan salah paham," jelas Kevin.
"Keterlaluan si Cica, gue bakal urus semua dan gue yakin kecelakaan tadi pasti sudah direncanakan."
"Gue juga yakin, Wir pasti ada yang sudah merencanakan ini semua, dan gue kecolongan, Wir. Gue ga akan memaafkan diri gue kalau sampai Puput kenapa-napa," ucap Kevin penuh sesal.
"Yang sabar, Vin. Kamu harus berdoa semoga Puput bisa melewati ini semua, aku yakin Puput itu wanita yang kuat, Bro. Kamu harus kuat demi istrimu," ucap Wira menyemangati.
"Gue akan segera cari tahu dalang di balik semua ini. Lo fokus saja dulu sama Puput, Vin," sambungnya lagi.
"Iya, Wir. Makasih yah," ucap Kevin dan membalas pelukan Wira.
Wira lalu melepaskan pelukannya dan berlalu mengurus pekerjaan Kevin serta mencari tahu dalang dibalik kecelakaan Puput.
Kevin beserta kedua mertuanya sudah berjam-jam duduk di depan ruang operasi dengan perasaan deg-degan, takut terjadi sesuatu yang buruk pada Puput.
Bu Amrah terus menangis dipelukan suaminya, sedangkan Pak Dana terus menenangkan istrinya walaupun dia juga merasakan apa yang istrinya rasakan.
__ADS_1
Kevin sangat gelisah, ia tidak sanggup jika hal buruk terjadi pada istrinya, ia tak sanggup hidup jika istrinya sampai meninggalkannya.
Kevin masih memakai pakaian yang berlumuran darah istrinya, ia tidak ingin mengganti bajunya karena ia tidak ingin meninggalkan istrinya barang sedetik pun.
Tak lama, pintu pun terbuka dan dokter keluar dengan raut wajah yang tak terbaca.
"Bagaimana operasinya, Dok ? tanya Kevin.
"Operasinya berjalan lancar, Tuan. Tapi pasien saat ini kekurangan banyak darah, dan kebetulan stok darah yang sama dengan golongan darah pasien sedang habis, Tuan."
"Rumah sakit macam apa ini, kenapa sampai kalian kehabisan stok haa ?" bentak Kevin pada dokter tersebut.
"Maaf, Tuan tapi golongan darah pasien sangat langka, Tuan."
"Kontrol emosimu, Nak," ucap Bu Amrah pada menantunya.
"Ambil darah saya, Dok. Golongan darah saya sama dengan anak saya," ucap Pak Dana.
"Baiklah, Tuan. Silahkan ikuti perawat ini untuk memeriksa kesehatan, Tuan terlebih dahulu."
"Mari, Tuan," ucap perawat itu mempersilahkan Pak Dana.
***
"Kau ini, Vin. Istrimu itu anak papa juga," ucap Pak Dana menepuk bahu menantunya sedikit keras karena mendengar menantunya itu berterima kasih padanya.
Pak Dana heran, apakah menantunya itu sudah lupa bahwa Puput adalah anaknya sehingga ia harus berterima kasih pada sesuatu yang sudah sepatutnya dilakukan seorang ayah pada putrinya.
Pak Dana menggeleng-gelengkan kepalanya dengan pola pikir menantunya itu.
Ceklek
"Transfusi darahnya sudah selesai, Tuan, Nyonya, dan maaf saya harus mengatakan ini, kondisi pasien sedang koma."
Ketiga orang itu syok mendengar Puput yang koma, tapi mereka juga bersyukur karena Sang Pencipta masih memberikan mereka kesempatan untuk bersama Puput, Puput di dalam sana masih berjuang.
"Tuan, Tuan, dan Nyonya harus sabar dan harus berdoa agar pasien bisa melewati masa komanya dengan segera," ucap dokter itu lagi melihat reaksi ketiga orang di depannya.
"Terima kasih, Dok," ucap Pak Dana dan Bu Amrah bersamaan.
"Apa saya boleh menemui istri saya, Dok ?" tanya Kevin.
"Boleh, Tuan. Kalian boleh menemuinya secara bergantian dan kalian harus selalu mengajaknya berbicara dan terus memberinya dukungan untuk memancing alam bawah sadar pasien," ucap dokter
__ADS_1
"Baik, Dok," ucap ketiganya.
Kevin langsung masuk ke ruangan di mana istrinya sedang berbaring dengan berbagai macam alat yang melekat di badannya.
"Sayang, maafkan aku. Kumohon maafkan aku, gara-gara aku kau jadi begini, cepatlah sadar, Sayang. Aku mencintaimu, hanya kamu, Sayang," lirih Kevin sambil memegang tangan Puput dan sesekali menciumnya.
πΈπΈπΈ
Sementara di sebuah apartemen seorang wanita tengah bersenang-senang karena telah berhasil menjalankan aksinya. Wanita itu tak lain adalah Cica.
Cica adalah teman kuliah Kevin di negara P dulu, dia sangat mencintai Kevin, selain karena tampan ia juga tahu bahwa Kevin adalah anak tunggal dari keluarga yang kaya.
Waktu kuliah dulu, Cica selalu mengejar-ngejar Kevin tapi Kevin selalu menghindar, bahkan Cica pernah mengungkapkan perasaannya secara terang-terangan pada Kevin tapi ditolak mentah-mentah oleh Kevin.
Tapi walaupun sudah ditolak mentah-mentah oleh Kevin ia masih mengejar Kevin, baginya laki-laki seperti Kevin merupakan aset yang berharga yang takkan ia lepas. Cintanya berubah jadi obsesi.
Di negara P ia berprofesi sebagai model yang terkenal, tentu itu bukan karena bakatnya dalam dunia permodelan, melainkan karena bakatnya menggait bos-bos kaya.
Belakangan ini Cica fokus pada kariernya tapi setelah mendapat telfon yang memberikan kabar tentang pernikahan Kevin, ia langsung pulang dan meninggalkan pekerjaannya.
"Hahaha gue yakin perempuan itu tidak akan selamat," ucapnya pada dirinya sendiri.
"Gue tidak akan segan-segan menghancurkan orang yang menghalangi jalanku untuk mendapatkan Kevin."
"Kevin hanya milik gue."
"Kevin hanya pantas untukku, hanya untukku, bukan orang lain, hahahahahhaa."
"Rasakan kau ******, siapa suruh berani merebut milikku, hahahahaha."
"Sediakan pemakaman istrimu, Vin dan kau akan segera menjadi milikku seutuhnya, Sayang," ucapnya lagi lalu meneguk minuman kaleng yang baru saja ia buka.
"Aku sudah lelah menjalani hidupku yang harus melayani laki-laki hidung belang demi membuatmu melirikku, aku pikir dengan menjadi orang terkenal maka kau akan membalas cintaku, tapi aku salah dan saatnya aku mendapatkanmu dengan cara yang tak pernah kau duga, Sayang Hahahahaha."
Cica terus saja berbicara sendiri dan terus tertawa bahagia karena berpikir ia telah berhasil mengalahkan lawannya.
***
(Ini adalah visual Cica)
πΈπΈπΈ
__ADS_1
jangan lupa LIKE, KOMEN, dan VOTE π€ππ