
Malam harinya, Kevin masih setia duduk di samping ranjang di mana Puput terbaring koma. Kevin masih setia menemani sang istri dengan keadaan yang sama. Bahkan Kevin sang pengusaha nomor 1 itu kini tampak lesu dan sangat berantakan.
"Sayang aku tau kau mendengarkanku, aku mohon maafkan aku, Sayang. Bangunlah, Put kau bebas menghukumku tapi kumohon bangunlah, Sayang. Cukup dia yang meninggalkan kita, kamu jangan ya, Sayang. Aku sangat mencintaimu, Sayang," lirih Eza yang terus menangis.
Kenyataan pahit yang ia dengar tadi sore seakan semakin menambah kesedihan dan kemarahannya. Kesedihan atas apa yang terjadi pada keluarga kecilnya dan kemarahan pada dalang dibalik semua ini.
Flashback on
Pak Dana, Bu Amrah dan Kevin kini berada di dalam ruangan VVIP tempat Puput yang kini sedang dirawat karena memang tadi beberapa jam setelah operasi dan transfusi darah berlangsung, Puput sudah boleh dipindahkan dan Kevin memilih ruang VVIP untuk sang istri.
Tok....Tok... Tok...
"Sebentar," sahut Pak Dana dan berjalan untuk membuka pintu.
"Loh, Dokter. Silahkan masuk," ucap Pak Dana mempersilahkan orang yang berada di depan pintu ruangan anaknya masuk.
"Ada apa yah, Dok ?" Tanya Bu Amrah bingung karena melihat dokter yang tadi menangani putrinya datang bersama dokter lain dan juga perawat.
"Mohon maaf sebelumnya, Nyonya Wardh, Tuan Wardh, dan Tuan Kevin perkenalkan dia adalah dokter Kinara, dokter spesialis kandungan," ucap Dokter itu memperkenalkan dokter yang datang bersamanya.
"Maksud, Dokter ?" tanya Kevin, Pak Dana, dan Bu Amrah bersamaan.
"Begini, Tuan, Nyonya, tadi waktu saya menangani nona Puput, saya merasa ada yang janggal. Jadi untuk memastikannya saya membawa dokter yang spesialis di bidangnya," ucap dokter itu menjelaskan maksud kedatangannya.
__ADS_1
"Lalu kenapa kau baru membawanya sekarang, bukan dari tadi haaa ?" ucap Kevin pelan dengan penuh penekanan.
"Ma..af, Tuan tadi Dokter Kinara sedang berada di luar, dia baru datang dan saya hanya ingin mempercayakannya pada dokter spesialis kandungan dengan kemampuan seperti Dokter Kinara," jelas dokter itu dengan was-was.
"Sayaaang," ucap Bu Amrah pada menantunya itu. Mengerti maksud ibu mertuanya, Kevin pun diam.
"Permisi, Tuan Ward dan Nyonya, Tuan Kevin saya ingin memeriksa nona Puput terlebih dahulu," izin Dokter Kinara.
"Silahkan, Dok," ucap Bu Amrah dan berpindah dari tempatnya yang sebelumnya berdiri di samping ranjang anaknya.
Sedangkan Kevin, ia masih setia duduk di kursi samping Puput dan memegang tangan Puput, ia tidak ingin pindah dari sisi istrinya. Dokter Kinara pun tak mempermasalahkan itu.
Dokter Kinara mulai memeriksa Puput dengan begitu teliti.
"2 minggu yang lalu, Dok," jawab Kevin.
"Apa akhir-akhir ini terjadi sesuatu yang berbeda pada nona, Tuan, muntah-muntah misalnya ?"
"Muntah-muntah sih engga, Dok cuma porsi makannya yang meningkat, berbeda dari biasanya," jawab Kevin mengingat hal-hal yang aneh yang terjadi pada istrinya akhir-akhir ini.
"Tuan Kevin, Tuan Wardh dan Nyonya, ada baiknya nona Puput melakukan rontgen dulu untuk lebih memastikannya."
"Lakukan yang terbaik untuk istri saya, Dok."
__ADS_1
"Baik, Tuan."
Puput pun dibawa ke sebuah ruangan khusus di rumah sakit untuk melakukan proses rontgen untuk memastikan sesuatu yang terjadi padanya.
"Bagaimana hasilnya, Dok ?" Tanya Pak Dana yang mewakili istri dan menantunya setelah mereka sudah kembali di ruangan Puput bersama kedua dokter dan perawat tadi, dengan Dokter Kinara yang membawa hasil rontgen tadi.
"Ada baiknya kita berbicara di luar, Tuan, Nyonya," ucap Dokter Kinara karena walaupun Puput terbaring koma, tapi ia masih bisa mendengarkan apa yang orang sekitarnya bicarakan. Olehnya itu Dokter Kinara mengajak mereka menjauh karena takut terjadi sesuatu pada Puput jika ia mendengarnya.
"Berdasarkan hasil rontgennya, di sini terlihat ada bekas tempat sesuatu yang kecil yang diperkirakan adalah janin nona Puput. Namun karena masih terlalu muda dan terjadi benturan yang keras, jadi janin itu tidak bisa bertahan, Tuan," jelas Dokter Kinara saat mereka sudah berada di luar ruangan Puput.
"Ya Allah, Sayaaang," lirih Bu Amrah dan hampir jatuh jika saja Pak Dana tidak menahannya.
Kevin terdiam mencerna ucapan Dokter Kinara, tak lama ia mengusap wajahnya dengan kasar.
"Arrggghhhh," frustasinya dengan menjambak rambutnya sendiri.
Kevin begitu sedih karena melihat istrinya yang masih terbaring lemah dengan luka di mana-mana, ditambah lagi ia mendengar sebuah kenyataan yang membuatnya semakin sedih, yakni harus kehilangan calon anaknya yang baru berumur beberapa hari.
Kevin tak tau lagi apa yang harus ia jelaskan pada Puput jika Puput sadar nanti. Ia bersumpah tak akan mengampuni orang yang berada di balik semua ini.
Flasback off
πΈπΈπΈ
__ADS_1
jangan lupa LIKE, KOMEN, dan VOTE π€ππ