
Beberapa hari setelah kepulangannya dari rumah sakit, luka Puput pun berangsur sembuh, kepalanya yang dulunya diperban kini perbannya sudah dilepas, luka lecek yang ditubuhnya pun hanya tinggal bekas. Hanya saja ingatannya yang belum kembali sempurna, ia masih melupakan semua tentang suaminya.
"Pagi, Pa, Ma, Kak," sapa Puput pada orang-orang yang sudah menunggunya di meja makan.
Yah, Ken memang menepati janjinya pada Puput untuk tinggal bersama mereka, mengganti momen-momen yang terlewatkan.
"Pagi, Sayang," jawab ketiganya serempat.
"Princessnya kakak sepertinya semangat banget nih," ucap Ken ketika Puput sudah duduk di sampingnya.
"Iya dong, Kak. Aku tuh semangat karena aku sudah rindu dengan suasana kampus dan sahabat-sahabatku yang cerewet itu," jawab Puput dengan bersemangat dan dibalas Ken dengan mengacak rambutnya.
"Aduh, Kak jangan kan berantakan lagi," ucap Puput cemberut.
Pak Dana dan Bu Siska hanya tersenyum melihat tingkah kedua anak mereka. Mereka memang sudah menganggap Ken sebagai putra mereka sejak dulu karena bagi mereka peristiwa di masa lalu itu bukanlah kesalahan Ken dan lagi orang yang bersalah juga sudah tiada.
"Udah, Sayang kalian makan gih. Nanti telat."
"Iya, Ma," jawab keduanya. Lalu mereka pun mulai menikmati sarapan pagi mereka.
πΈπΈ
"Kakak beneran mau antar aku?" tanya Puput ketika mereka selesai sarapan.
"Iya, Sayang."
"Tapi kan beda arah, Kak."
"Ya gapapa, nanti setelah antar kamu kakak langsung putar lagi ke kantor."
"Tapi itukan buang-buang tenaga, Kak."
"Udahlah, Sayang. Hitung-hitung ini sebagai bayaran atas kesalahan kakak yang udah ninggalin, Princessnya kakak yang cantik ini," jawab Ken lalu merangkul Puput.
"Tapi..."
"Udah gak pakai tapi, ayo pamit sama mama, papa," potong Ken yang tak ingin dibantah. Dan dengan terpaksa Puput pun menuruti keinginan kakaknya itu.
__ADS_1
"Pa, Ma, Ais berangkat yah," pamit Puput pada kedua orang tuanya.
"Iya, Sayang. Kalian hati-hati yah," jawab Bu Amrah.
"Iya, assalamualaikum."
"Waalaikumsalam warahmatullah."
"Mama seneng deh, Pa. Ken menjaga dan menyayangi Ais layaknya adik kandungnya sendiri," ucap Bu Amrah pada suaminya setelah Puput dan Ken pun berlalu menuju kampus.
"Iya, Ma papa juga seneng melihat mereka berdua saling menyayangi."
"Tapi mama kasihan sama Kevin, Pa," sedih Bu Amrah mengingat menantunya.
"Mama ga usah terlalu memikirkan Kevin, papa tau dia pria kuat dan akan memperjuangkan putri kita. Kita harus percaya sama menantu kita, Ma," ucap Pak Dana menenangkan istrinya.
"Iya, Pa."
"Ya udah, ayo kita berangkat," ucap Pak Dana karena memang hari ini Bu Amrah ingin ikut pada suaminya ke kantor sekaligus untuk bertemu besannya itu yang rencananya akan berkunjung ke kantor suaminya.
πΈπΈ
"Makasih ya, Kak," ucap Puput sebelum keluar dari mobil.
"Iya, Sayang. Belajar yang bener dan nanti kalau kuliahnya sudah selesai telfon kakak yah, nanti kakak jemput."
"Siap, Kakakku yang tampan dan paling baik tapi sayangnya masih jomblo, hahaha," ucap Puput setelah mencium tangan Ken dan langsung buru-buru keluar dari mobil setelah mengejek sang kakak.
"Dasar kamu yah," ucap Ken mendengar godaan adiknya.
"Hati-hati, Kak. Bye!" ucap Puput melambaikan tangannya.
"Iya, bye!" ucap Ken lalu melajukan mobilnya ke perusahaan Pak Dana karena memang selama dia di sini, dia akan menggabungkan perusahaannya dan perusahaan omnya.
"Puput, ya ampun kangen banget gue," ucap Fani lalu menyambut sahabatnya itu dengan pelukan.
"Gue juga kangen banget sama kalian," jawab Puput.
__ADS_1
"Gue gak dipeluk nih, katanya kangen," goda Eza.
"Bukan muhrim, Za," jawab Puput dan disambut tawa oleh Fani.
"Ais, lo mah tega ama gue, Put," ucap Eza pura-pura cemburut.
"Jijik gue, Za. Ga cocok tau ga muka lo digituin, udah ah ayo masuk bentar lagi kelas mulai nih."
"Tumben bener lu, Fa."
"Lo nya aja yang baru ngeh, Put. Udah ah ayo," ucap Fani lalu menarik Puput untuk mengikutinya karena memang kelas akan segera dimulai dan Eza hanya mengekor di belakang kedua cewe most wanted itu.
"Ada apa nih, tumben ngumpul?" tanya Fani setelah mereka sampai di kelas dan melihat teman sekelasnya pada berkumpul.
"Ini, Fa katanya ada dosen baru dan ganteng banget lagi," jawab salah satu dari mereka.
"Serius lo?" tanya Fani.
"Iya."
"Si...."
"Gaes, dosen barunya dateng," percakapan mereka terhenti ketika salah satu temennya berlari masuk kelas dan mengatakan dosennya sudah datang, mereka langsung duduk dengan rapi, takut-takut jika dosennya killer.
"Assalamualaikum," salam seorang laki-laki tampan yang baru saja memasuki ruangan dengan gaya cool disertai suara baritonnya.
"Waalaikumsalam," jawab semua mahasiswa. Para mahasiswi terpanah akan ketampanan dosen baru mereka, sedangkan para mahasiswa merasa minder melihat tampang sang dosen yang di atas rata-rata itu.
Tapi tidak semua mahasiswa dan mahasiswi yang bereaksi seperti itu, ada tiga orang yang melototkan matanya karena kaget melihat laki-laki itu yang notabennya dosen baru mereka.
(yang seneng banget bisa ketemu sahabatnya lagi π)
πΈπΈπΈ
Maaf yah baru sempat up, soalnya akhir-akhir ini memang sibuk banget dan juga aku lagi pusing mikirin judul π₯Ίπ₯Ί (biasa, mahasiswa akhir π€)
__ADS_1
Ja**ngan lupa LIKE, KOMEN, dan VOTE π€π**