LULU

LULU
Berbeda


__ADS_3

"Besok kita ke pantai ya!" ajak Randi.


Lulu menggeleng. Bukan tidak mau, tapi ia yakin tidak akan diizinkan oleh orang tuanya.


"Kamu tidak mau main denganku?" tanya Randi.


Lulu hanya diam. Ini ajakan Randi yang ketiga kalinya. Selama dua tahun pacaran, mereka tidak pernah main layaknya orang pacaran. Mereka hanya bertemu di sekolah saja. Sesekali mereka bertemu saat ada kerja kelompok.


Resiko pacaran dengan kutu buku. Begitu yang Randi akui setiap kali melihat temannya berjalan ke sana ke sini dengan pacarnya. Randi sendiri bukan anak yang pintar. Tapi Randi berasal dari keluarga berada. Berbeda dengan Lulu yang berasal dari keluarga sederhana.


"Ya sudah ayo aku antar pulang." Randi cemberut karena kecewa dengan penolakan Lulu.


"Maaf ya," ucap Lulu.


"Jangan dibahas," ucap Randi.


Mereka boncengan ke rumah Lulu. Di sana sudah ada kedua orang tua lulu yang menunggunya di depan rumah. Wajah khawatir keduanya berganti senyuman saat melihat Lulu menghampiri dan mencium tangan keduanya bergantian.


"Kalian dari mana dulu?" tanya Pak Budi.


"Ada kerja kelompok dulu Pak," jawab Randi dengan sopan.


"Lain kali kalau ada kerja kelompok, kabari dulu ya, Nak. Biar ibu tidak khawatir," ucap Bu Sari.


"Iya Bu. Tadi kerja kelompoknya dadakan," jawab Randi.


Lulu tersenyum miris saat mendengar ucapan Randi. Entah kebohongan yang keberapa kali yang diterima kedua orang tuanya. Pak Budi dan Bu Sari hanya mengangguk tersenyum. Meskipun Lulu tidak yakin jika kedua orang tuanya percaya seratus persen, atas alasan kerja kelompok yang sering diucapkan Randi.


"Masuk dulu, Nak!" ucap Bu Sari.


"Terima kasih Bu. Tapi aku harus segera pulang. Nanti Mama dan Papa juga khawatir," ucap Randi.


"Oh ya hati-hati di jalan," ucap Bu Sari.


"Iya Bu," ucap Randi.


Randi pamit dan pergi semakin jauh. Setelah Randi benar-benar tidak terlihat, Pak Budi merangkul bahu Lulu. Langkahnya dituntun untuk masuk ke dalam rumah. Kursi maroon yang berada tepat di ruangan paling depan menjadi tujuan Pak Budi saat itu.


Lulu menghela napas dengan dalam. Ia yakin jika bahasan tentang hal yang sama akan terjadi saat ini. Dan semua memang benar terjadi. Pak Budi kembali mengingatkan Lulu untuk belajar dengan tekun.


"Kita bukan orang kaya, Lu. Bapak kerja banting tulang buat sekolah kamu. Bapak mau kamu bisa mewujudkan cita-citamu," ucap Pak Budi mengawali bahasan sore itu.


"Iya Pak. Lulu tahu," ucap Lulu.


Lulu sudah paham maksud ucapan Pak Budi. Memang tidak pernah langsung terucap untuk menyudahi hubungannya dengan Randi, tapi Lulu tahu maksudnya ke sana. Selama ini Lulu bertahan dengan Randi karena ia mencintainya. Lulu hanya membuktikan bahwa kehadiran Randi tidak akan mengganggu prestasinya sama sekali.


Sampai saat ini, Lulu bisa membuktikan ucapannya. Meskipun hubungannya bertahan dengan Randi, tapi prestasinya juga tetap bertahan. Ketakutan terbesar orang tua Lulu adalah saat beasiswanya terhenti.


"Kamu masih mau jadi dokter kan?" tanya Pak Budi.


"Iya Pak. Bapak jangan khawatir, Lulu pasti menyelesikan sekolah Lulu. Lulu janji," ucap Lulu.


"Sudah ya Pak. Lulu biar mandi dulu. Lulu juga belum makan," ucap Bu Sari sambil mengusap punggung Lulu.

__ADS_1


"Ya sudah, mandi dulu. Nanti Bapak tunggu di ruang makan. Kita makan bareng-bareng ya!" ucap Pak Budi.


"Iya Pak," ucap Lulu sambil mengangguk.


Lulu pergi ke kamarnya untuk menyimpan tas dan mengambil handuk. Tidak lama ia keluar untuk mandi. Kamar mandi terletak di dapur. Harus melewati kedua orang tuanya yang sudah menunggu di ruang makan.


"Bu, Pak," ucap Lulu saat melewati keduanya.


Lulu mandi dengan cepat karena tidak mau kedua orang tuanya menunggu terlalu lama. Selesai mandi, ia pun ikut bergabung. Handuk masih melilit rambutnya yang masih basah. Tangannya sudah menyentuh piring.


"Keringkan dulu rambutnya. Handuk masih di kepala kok sudah mau makan," ucap Bu Sari.


"Ibu nunggu lagi kalau aku keringkan rambut dulu," ucap Lulu.


"Sudah sana rapikan dulu rambutnya," ucap Bu Sari.


"Boleh Pak?" tanya Lulu.


"Boleh," jawab Pak Budi dengan senyum ramah.


Lulu pergi ke kamar untuk merapikan rambutnya lalu segera kembali saat sudah selesai. Pak Budi dan Bu Sari masih setia menunggu di ruang makan.


"Ayo makan, Nak." Bu Sari mengambil secentong nasi untuk Lulu.


"Jangan banyak-banyak bu," ucap Lulu.


"Makan yang banyak. Biar kamu sehat," ucap Pak Budi.


"Iya Pak," ucap Lulu.


Beberapa minggu terakhir Lulu memang kurang nafsu makan. Ia memikirkan banyak hal yang membuat selera makannya hilang. Banyaknya tugas dan permintaan Randi yang selalu mengajaknya main, membuat Lulu memikirkan alasan untuk berbohong.


"Akhir-akhir ini kamu sering pulang sore. Banyak tugas ya?" tanya Pak Budi.


Lulu yang baru saja selesai makan tersentak dengan pertanyaan Pak Budi. Haruskah ia berbohong lagi?


"Maafkan Bapak ya karena tidak bisa memberi uang jajan lebih," ucap Pak Budi lagi.


"Besok biar Ibu buatkan bekal ya biar uang jajannya cukup," ucap Bu Sari.


Lulu berusaha keras menahan air mata yang siap mengalir. Sakit rasanya saat mendengar ucapan kedua orang tuanya. Padahal selama ini Lulu sering berbohong. Tapi kedua orang tuanya justru memikirkan uang bekalnya. Ia merasa sangat bersalah.


"Kamu pasti malu ya sama teman-temanmu?" tanya Pak Budi.


"Tidak Pak," jawab Lulu sambil menggelengkan kepalanya.


"Bapak merasa bersalah karena tidk bisa membahagiakanmu. Tidak seperti teman-temanmu yang setiap hari bisa bahagia dengan segala kecukupannya" ucap Pak Budi.


"Pak, jangan begitu. Bekal Lulu juga cukup. Bapak jangan selalu merasa bersalah begitu. Lulu sedih dengarnya," ucap Lulu sambil mengusap sudut matanya.


"Lu, Bapak boleh minta sesuatu?" tanya Pak Budi.


"Iya Pak. Apa?" Lulu menatap lekat wajah Pak Budi.

__ADS_1


"Apa tidak sebaiknya kamu menjauhi Randi?" tanya Pak Budi.


"Randi baik kok Pak," bela Lulu.


"Bapak tahu itu. Tapi kamu juga tahu sendiri kan kalau keluarga Randi itu orang berada. Kita tidak selevel dengan keluarga mereka," ucap Pak Budi.


"Bukankah Bapak yang bilang kalau di hadapan Tuhan semuanya sama? Kenapa sekarang Bapak membandingkan Randi dengan kita hanya dengan urusan uang?" tanya Lulu.


"Bapak tidak mau kalau nanti kamu sedih karena tidak diterima di keluarga Randi. Tidak semua keluarga memiliki prinsip yang sama dengan kita," jawab Pak Budi.


"Pak, sudahlah. Lulu juga masih kelas sebelas. Masih jauh kalau bahas soal jodoh. Dia kan masih mau kuliah jadi dokter. Ya kita berdoa saja biar Lulu dapat beasiswa kuliah," ucap Bu Sari.


"Iya Pak. Lulu janji akan menyelesaikan sekolah Lulu dan mencari beasiswa biar bisa kuliah gratis," ucap Lulu.


Pak Budi Diam. Tidak baik terlalu menekan Lulu. Saat ini anaknya sedang jatuh cinta. Sulit mengungkapkan kekhawatiran yang dirasakannya pada Lulu. Ia hanya bisa berharap jika Lulu bisa menjaga diri dan selalu bahagia.


"Oh ya besok libur. Adikmu baru pulang kemah. Kamu mau jemput dia tidak?" tanya Bu Sari.


"Boleh Bu. Besok biar Lulu yang jemput Lita," ucap Lulu.


Lita adalah anak kedua dari Pak Budi dan Bu Sari. Lita masih duduk di bangku SMP. Sedangkan adik bungsunya yang bernama Lani masih kelas empat SD sedang menginap di rumah bibinya.


"Oh ya Lu, Lani rangkingnya sempat turun. Kalau ada waktu ajarkan matematika ya. Dia lemah di pelajaran hitungan," ucap Bu Sari.


"Iya Bu nanti Lulu ajarkan ya!" ucap Lulu.


Keterbatasan ekonomi keluarganya, tidak membuat mereka acuh dalam urusan pendidikan. Mereka selalu saling memotivasi agar mendapat nilai yang memuaskan.


Dari ketiganya, Lulu adalah anak yang paling pintar. Sedangkan Lita anak yang paling aktif. beberapa kegiatan organisasi Lita ikuti. Meskipun kadang kegiatan itu membuat nilai akademiknya menurun. Sementara Lani adalah anak yang tidak aktif dan tidak terlalu pintar. Hanya saja Lani lebih menonjol di bidang seni.


Dengan keadaan yang berbeda satu sama lain, baik Pak Budi ataupun Bu Sari tidak pernah membandingkan satu dengan yang lainnya. Bagi Pak Budi dan Bu Sari ketiganya memiliki kelebihannya masing-masing. Mereka senang dengan bidang yang mereka tekuni.


Sudah waktunya tidur, Lulu segera masuk ke kamar setelah membereskan ruang makan. Hal pertama yang ia cari adalah ponselnya. Ia melihat banyak sekali panggilan dari Randi. Tidak ingin Randi marah, Lulu menghubungi Randi kembali.


"Kamu dari mana? Ini malam minggu loh Jangan buat aku berpikiran macam-macam," ucap Randi.


"Ya kamu kan tahu kalau aku selalu kumpul sama keluarga setiap malam," ucap Lulu.


"Memangnya tidak bisa ya kalau minta izin ke kamar. Aku tidak memaksamu untuk main ke luar kok. Tapi aku minta waktumu tiap malam minggunya. Hanya lewat ponsel saja," ucap Randi.


"Iya nanti aku usahakan. Malam ini hanya ada aku yang menemani Bapak dan Ibu. Kedua adikku sedang tidak di rumah," ucap Lulu.


"Mereka saja bisa satu malam tidak di rumah. Kenapa kamu tidak bisa izin sehari saja untuk main denganku? Aku tidak akan mengajakmu menginap kok," ucap Randi.


"Ran, aku kan anak pertama. Aku harus memberi contoh untuk kedua adikku," ucap Lulu.


"Meskipun kedua adikmu tidak pernah mencontohmu?" tanya Randi dengan nada mengejek.


Lulu ingin sekali marah saat mendengar ucapan Randi. Tapi apa yang disampaikan Randi memang benar. Keduanya tidak pernah mencontoh dirinya. Lita dan Lani tetap bersikap seperti apa yang mereka inginkan.


"Paling tidak akan aku sudah memberi contoh," ucap Lulu.


Di balik Randi yang sering mengolok-olok Lulu, ia menyimpan kecemburuan saat melihat kehangatan keluarga Lulu. Ketiganya terlihat akur dan sangat akrab meskipun sangat sederhana. Sedangkan dirinya?

__ADS_1


Randi memang keluarga yang berada. Namun ayahnya sibuk dengan pekerjaannya. Jarang sekali mereka bisa mengobrol hangat dan saling bercerita satu sama lain. Bahkan kakaknya yang bernama Rayhan jarang sekali ada di rumah. Ia yang sudah kuliah menjadikan alasan kesibukannya dengan tugas hingga bisa bebas pulang dan pergi kapanpun.


Aku dan kamu memang berbeda Lu. Kita berbanding terbalik.


__ADS_2