LULU

LULU
Pagiiii


__ADS_3

Randi sengaja bersembunyi. Berharap jika ia tidak ada di sana dan tidak perlu menjadi saksi atas hal yang menurutnya sangat tidak menyenangkan. Namun sayangnya sepasang mata menangkap keberadaannya.


"Ran, sini!" ajak Rayhan sambil melambaikan tangannya.


Sesak rasanya dada Randi saat melihat tubuh Rayhan ada dalam pelukan ibunya. Sementara ia yang merasa tidak pernah mengecewakan tidak pernah diperlakukan semanis itu. Bukan tidak pernah dipeluk, tapi karena perlakuan Bu Desi yang berbeda antara dirinya dengan Rayhan.


"Iya Ran. Ayo sini!" ajak Pak Halim yang ikut melambaikan tangannya.


Randi tersenyum saat melihat ketiganya menatap dirinya. Ia yang masih mengenakan seragam sekolah mendekat. Membuka tas dan menyimpannya di kursi lalu mendekat pada mereka.


"Terima kasih sudah menjaga Mama ya!" ucap Rayhan.


Terima kasih? Bukankah seharusnya Abang pun melakukan hal yang sama? Abang kemana aja selama ini hah?


"Kamu juga sama anak kebanggaan Papa. Tetap semangat sekolah ya. Biar kamu bisa masuk ke universitas bagus seperti abangmu," ucap Pak Halim.


Tuh kan. Sudah kuduga. Ujung-ujungnya pasti hanya ingin memuji Bang Ray. Sudah bisa kutebak Pah.


"Kalau kamu bisa seperti abangmu, Mama pasti akan sangat bangga. Mama akan menjadi ibu yang sangat beruntung karena memiliki dua anak yang sangat hebat," ucap Bu Desi.


Seperti abangmu? Apakah aku harus terciduk mesum dan bolos kuliah agar bisa membanggakan Mama? Mama pikir aku tidak tahu apa yang terjadi sama Bang Ray? Oh Tuhaaaan, kenapa aku bisa dilahirkan di keluarga ini?


Randi hanya tersenyum saat mendengar setiap orang yang bicara padanya. Padahal dalam hatinya ia mengoceh dengan hebat. Ingin rasanya ia keluarkan kalimat-kalimat yang sudah memenuhi hatinya itu. Tapi ia memilih diam karena tidak mau membuat masalah baru di keluarganya. Ia hanya ingin tenang meskipun tidak senang sama sekali saat berada di rumah.


"Kamu ganti baju dulu. Kita makan siang bareng ya," ucap Bu Desi sambil mengusap kepala Randi.


"Iya Ma," ucap Randi.


Randi segera mengambil tasnya dan masuk ke kamar. Ia mengambil kaos abu tua yang dibelikan Lulu. Di depan cermin Randi menatap dirinya dengan baju hadiah dari wanita pujaan hatinya. Hal itu ia lakukan untuk membangun mood karena harus tetap tersenyum di depan keluarganya.


Sebenarnya Randi tidak mau berkumpul dengan dalih makan bersama. Ujung-ujungnya ia akan tersudutkan dan membuat selera makannya hilang. Sesedih inikah keadaannya saat di rumah? Bahkan untuk tersenyum saat berkumpul saja ia harus mempersiapkan diri dari kamar.


"Sudah dimulai makannya?" tanya Randi saat melihat ketiga anggota keluarga yang lain sudah sibuk dengan piring dan sendoknya masing-masing.


"Ayo, ayo. Kamu lama sekali. Mama sudah lapar. Ayo makan," ajak Bu desy sambil menepuk kursi yang masih kosong di sampingnya.


Sudah lapar? Bahkan Mama sampai kambuh penyakit asam lambung hanya karena telat makan. Dan itu semua karena menunggu Bang Ray pulang dari kampus. Luar biasa keadaan di rumah ini. Semakin hari semakin menyesakkan dadaku saja.

__ADS_1


Lagi-lagi Randi harus bersabar. Tidak apa-apa. Semua berproses. Namun ia sudah tidak berharap proses yang lebih baik untuknya. Ia hanya akan berusaha berproses agar semakin terbiasa dengan kehidupan yang tidak normal di rumah itu.


"Iya Ma," ucap Randi.


Randi duduk di samping Bu Desi. Mengambil nasi dan beberapa lauk yang tersaji di meja makan. Sesekali matanya melihat ke arah mereka bertiga bergantian. Nampak tidak ada beban sama sekali. Berbeda dengan batinnya yang menyembunyikan ribuan luka setiap kali berkumpul seperti ini.


"Oh ya Ran, bagaimana sekolahmu? Semua baik-baik saja kan?" tanya Bu Desi saat selesai makan.


"Baik Ma," jawab Randi singkat.


"Sudah punya pacar baru belum? Kok Mama tidak tahu ya?" tanya Bu Desi.


Bagaimana Mama bisa tahu, bahkan perhatian Mama semua tumpah buat Bang Ray.


"Hey, ditanya Mama tuh. Jangan pura-pura tidak mendengar ya," ejek Rayhan.


"Aku masih jomblo Ma," jawab Randi.


"Mau Papa kenalkan sama anak teman Papa? Dia baru masuk SMA. Anaknya cantik," ucap Pak Halim.


"Atau sama temanku Ran? Ya beda dua tahun sih tidak masalah harusnya. Gimana?" tanya Rayhan.


"Ah sudahlah. Katanya aku harus fokus sekolah. Tapi disuruh punya pacar," ucap Randi.


"Kalau punya pacar bisa bikin lebih semangat belajar tidak masalah dong," ucap Rayhan.


Saat belum selesai mengobrol, tiba-tiba Lulu menelepon. Semua mata tertuju pada Randi yang tengah memegang ponselnya. Ia tahu ini akan menjadi perhatian mereka. Maka dengan sebisa mungkin ia pasang wajah santainya.


"Halo, apa sih Nu? Nanti aku telepon lagi ya. Ini lagi kumpul," ucap Randi saat menjawab panggilan teleponnya.


Randi segera mematikan ponselnya agar tidak membuat keluarganya curiga. Ia sebenarnya ingin sekali membawa Lulu masuk ke keluarganya. Tapi sayangnya kehadiran Lulu ditolak hanya karena status ekonomi saja.


"Aku ke kamar ya!" ucap Randi setelah tiga puluh menit Lulu meneleponnya.


"Kerjakan PRnya. Jangan sampai Mama dipanggil sama wali kelas karena kamu tidak mengerjakan PR ya," ucap Bu Desi.


Randi mengangguk. Dalam hati ia mengumpat dan menggerutu. Ia kesal saat merasa kalimat itu sebenarnya lebih pantas untuk Rayhan. Namun Rayhan justru terlihat santai. Rayhan malah tampak mengejek dirinya yang sedang diingatkan ibunya.

__ADS_1


Randi segera mengunci pintu dan menelepon Lulu. Ia meminta maaf karena sudah bersikap seperti itu. Ia juga menceritakan apa yang ia alami hari ini. Lulu tidak marah, justru menyemangati dan sangat mengerti keadaannya. Selalu seperti ini. Lulu akan menjadi orang yang Randi cari saat keadaan sedang tidak baik.


"Kamu sudah pulang?" tanya Randi.


"Belum. Masih nunggu Bapak jemput," jawab Lulu.


"Aku jemput ya!" ucap Randi.


Randi sudah terbiasa dengan penolakan. Ia tahu kalau tawarannya akan ditolak oleh Lulu. Susah tidak aneh. Namun ada yang membuatnya senang. Lulu mengatakan jika Pak Arya sempat menawarkan diri untuk mengantarnya pulang. Namun ditolak karena berusaha menjaga perasaan Randi.


Hati Randi tentu sangat berbunga. Seketika ia lupa masalah yang terjadi di rumahnya. Ia tidak mengingat betapa sakitnya hari ini. Yang ia rasakan saat ini adalah bahagia saat mendengar suara Lulu.


"Iya Pak, ayo!" ucap Lulu.


Randi yang tengah terbuai tiba-tiba mengerutkan dahinya saat mendengar ucapan Lulu. Tiba-tiba panggilannya berakhir begitu saja. Namun Randi tidak marah. Ia tahu keadaannya darurat. Drama putus diantara mereka berdua memang membuat keduanya seperti kucing-kucingan. Sementara ini hanya kosan Wisnu lah yang paling aman untuk mereka.


Seperti rutinitas biasanya, Randi dan Lulu akan saling berkomunikasi sebelum mereka tidur. Dari mulai menelepon sampai mengirim beberapa foto. Namun malam ini Randi meminta foto Lulu yang berbeda.


"Atas saja Lu. Tidak semua," ucap Randi.


"Tidak mau," tolak Lulu.


"Ya ampun Lu pelit," ucap Randi.


Randi memang sudah melihat bagian atas tubuh Lulu. Ah sebenarnya tidak hanya bagian atas saja. Randi bahkan sudah melihat semua tanpa terkecuali. Namun ia ingin menyimpan fotonya. Agar ia bisa memandanginya kapanpun ia mau.


Malam ini Randi tidur dengan menyimpan rasa kecewanya. Harapannya mendapat foto itu tidak dikabulkan oleh Lulu. Tidak apa, Lulu boleh menolak permintaannya. Ia pastikan jika besok bukan hanya dapat melihatnya, tapi bisa menyentuh dan merasakannya.


Pagi ini Randi bersiap untuk ke sekolah. Semangatnya begitu membara. Bukan untuk belajar, tapi untuk bertemu dengan Lulu. Untuk menagih semua yang sudah mereka bahas sebelumnya. Ia melihat orang tua dan kakaknya menuju ruang makan. Namun ia tidak.


"Aku berangkat duluan ya. Ada PR yang belum beres. Mau nyontek," ucap Randi sambil berlari.


Ah, alasan klasik yang tiba-tiba muncul di kepalanya. Sebenarnya itu hanya alasan Randi agar bisa terhindar dari acara sarapan bersama. Laparnya hilang setiap kali mereka bicara asyik sementara dirinya hanya menjadi pendengar saja.


"Pagiiii," sapa Randi saat melihat kedatangan Lulu.


Sebuah cokelat Randi berikan untuk mengawali pagi Lulu. Apa yang Randi lakukan tentu menjadi pusat perhatian siswa yang lain. Tidak nyaman dengan tatapan beberapa pasang mata yang mengarah padanya, Lulu segera menarik tangan Randi. Lulu menyeret Randi ke kantin sekolah.

__ADS_1


__ADS_2