LULU

LULU
Hah? Jadi?


__ADS_3

Hari-hari yang Lulu lewati masih sama seperti biasa. Tidak ada yang istimewa. Mungkin karena Pak Budi masih bekerja di luar kota, Lulu sedikit longgar. Dalam seminggu biasanya Lulu menyempatkan waktu luang bersama Randi.


Kebohongan demi kebohongan terus menumpuk hingga tanpa ia sadari semua hanya akan menjadi bom waktu. Ia tidak bisa memprediksi akan sampai kapan bom itu bertahan. Apalagi saat ia mulai menikmati bahkan sampai kecanduan dengan perjanjian yang mereka buat.


Ah, kini perjanjian itu sudah berubah. Tidak hanya mengecup kening dan pipi setiap pulang sekolah. Lulu yang mulai terbuai dengan ucapan dan sentuhan Randi membuatnya tidak merasa keberatan sama sekali. Rasa takut itu perlahan sirna. Ia berkali-kali menggunakan tempat khusus untuk memadu kasih.


Kesucian Lulu memang masih sangat terjaga. Randi yang masih merasa takut, hanya berani untuk menjelajahi bagian atas saja. Hanya saja, semakin lama semua semakin meningkat. Dari mulai waktu dan cara yang mereka lakukan.


Kini Lulu sudah tidak malu lagi saat kancing demi kancing dibuka oleh Randi. Ia juga hanya bisa menggigit bibirnya saat Randi mulai menyentuhnya. Ingin sekali ia menunjukkan ekspresinya saat menikmati semua itu. Namun ia menutup rapat-rapat mulutnya, serapat ia menyembunyikan semua ini pada orang tuanya.


"Lu, akhir-akhir ini kamu mulai sering kerja kelompok lagi. Sudah mulai banyak tugas lagi?" selidik Bu Sari.


Lulu yang baru pulang saat jam lima sore merasa bahwa pertanyaan itu adalah sebuah introgasi. Ia mengiyakan dan bersikap tenang agar Bu Sari tidak curiga padanya.


"Memangnya kalau kerja kelompok di rumah siapa sih?" tanya Bu Sari.


"Di rumah teman Bu. Gangtian lah," jawab Lulu.


"Di rumah Randi pernah?" tanya Bu Sari.


Randi? Mendengar nama Randi, Lulu merasa tubuhnya gemetar. Ia merasa kalau Bu Sari curiga dengan kebohongannya. Namun sekali lagi Lulu bersikap sangat tenang. Menjawab setiap pertanyaan ibunya dengan senyuman yang terukir di bibirnya.


"Ya tidak Bu. Aku sama Randi kan beda jurusan," jawab Lulu.


"Kapan-kapan kerja kelompoknya di sini saja. Ibu mau masak bolu pisang," ucap Bu Sari.


Lulu menahan ketegangannya. Bagaimana bisa ia mengajak teman-temannya untuk kerja kelompok, sementara selama ini mereka tidak pernah kerja kelompok secara bergantian. Kalaupun ada kerja kelompok, mereka selalu memilih perpustakaan atau lab sekolah untuk tempatnya. Kadang teman yang lain nongkrong di cafe, sementara dirinya akan mengerjakan semua tugas itu sendiri.


Walaupun keadaannya begitu, Lulu tidak dirugikan. Karena mereka semua akan bayar uang iuran. Jadi Lulu tidak perlu mengeluarkan uang. Kadang justru Lulu mendapat keuntungan dari sisa uang iuran yang mereka berikan. Sebenarnya hal itu Lulu lakukan untuk meringankan beban orang tuanya juga.


Kalau seandainya Lulu mengajak mereka kerja kelompok, pasti mereka akan dihujani pertanyaan dari Bu Sari. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana jika teman-temannya sampai tahu semua kebohongan yang sudah dirangkainya bertahun-tahun.


"Iya Bu. Nanti Lulu ajak ke sini deh gantian," ucap Lulu.


"Ibu tunggu ya! Soalnya ibu juga belum pernah lihat kamu bawa teman ke rumah," ucap Bu Sari.


Ucapan Bu Sari tentu membuat Lulu mengadu pada Randi. Ia merasa kalau sudah ada kecurigaan padanya. Maka Lulu meminta untuk tidak ada jalan setelah pulang sekolah.


"Lu, masa kamu tidak bisa menyempatkan seminggu sekali sih?" tanya Randi.


"Dari pada ketahuan? Ayo mending mana?" ucap Lulu.


Randi berdecak kesal dengan jawaban Lulu.


"Ran, mengertilah. Bapakku juga minggu ini pulang. Aku takut kalau Ibu ngadu sama Bapak. Kalau masalahnya sudah sampai ke Bapak sih jadi lebih repot," ucap Lulu sambil memegang tangan Randi.


Sentuhan adalah salah satu cara yang bisa digunakan oleh Lulu agar Randi bisa luluh. Begitulah biasanya. Lulu sudah pandai memanfaatkan dirinya untuk bisa membuat Randi berhenti merengek lagi.


"Sudah ya?" ucap Lulu sambil mendorong tubuh Randi.

__ADS_1


Lulu berusaha menutup kembali kancing bajunya namun Randi selalu menahannya. Ia tidak mau berhenti menciptakan kenikmatan yang membuatnya ketagihan.


"Ran," ucap Lulu.


Semakin Lulu menolak, semakin Randi membenamkan wajahnya di sana. Bermain sepuasnya di sana. Membuat Lulu harus meremas kepala Randi karena tidak bisa mengendalikan dirinya.


Lagi-lagi kosan Wisnu menjadi saksi. Sejumlah tisu terkumpul di pojok kamar. Menyisakan kedua orang yang berbaring dengan pakaian berantakan. Keduanya tengah mengatur napas agar semua kembali normal lagi.


Keringat mengucur di pelipis Randi. Tanda jika ia memang sudah membakar kalori dengan caranya sendiri. Menikmati tanpa merusak bagian inti. Hal yang Randi lakukan demi hasrat tanpa menodai wanitanya.


Tanpa menodai? Ah sebenarnya Randi memang sudah membuat Lulu ternoda. Jejak merah sering ia tinggalkan di bagian dada Lulu. Tidak banyak memang, namun sering. Alasannya hanya sebagai tanda agar Lulu selalu mengingat Randi dan kebersamaan mereka.


Nyatanya semua hanya pemuasan hasrat berkedok gombal. Randi memang selalu berhasil membuat Lulu menuruti kemauannya. Mungkin karena rasa cinta Lulu yang sangat besar. Walaupun selalu ada waktu bagi Lulu untuk duduk sendiri dan menyesali semuanya.


Sayangnya penyesalan itu hanya beberapa saat. Karena setelah bertemu dengan Randi semua akan kembali terulang. Begitulah kisah cinta mereka. Semakin lama semua semakin memburuk. Rasa cinta perlahan berubah menjadi hasrat yang membara.


Lulu berusaha keluar dari zona itu. Namun akhirnya ia menyerah. Lingkar itu terlalu kuat dan mengekang. Berbagai cara mereka lakukan hanya karena ingin bersama.


"Ran, minggu ini tidak ada jalan setelah pulang sekolah ya!" ucap Lulu.


"Kenapa?" tanya Randi.


"Bapak pulang. Katanya seminggu ini tidak ke kota dulu," jawab Lulu.


"Terus gimana dong?" tanya Randi.


"Apanya yang gimana?" Lulu balik bertanya.


"Ya terus gimana? Kamu mau kita ketahuan?" ucap Lulu menakut-nakuti Randi.


"Kita bisa izin pas lagi jam pelajaran," ucap Randi.


Lulu mengerlingkan matanya saat mendengar ide Randi yang menurutnya gila. Ia juga menggelengkan kepalanya sebagai tanda adanya penolakan. Tapi bukan Randi namanya kalau tidak bisa membujuk Lulu.


Akhirnya Lulu pura-pura ada kepentingan keluarga dan pulang setelah jam istirahat. Hanya selang beberapa menit, Randi juga izin karena merasa kurang enak badan. Alasan keduanya sudah didiskusikan agar tidak ada yang curiga.


"Ayo!" ajak Randi.


Mereka bertemu satu meter dari sekolah. Keduanya berangkat menuju kosan Wisnu. Randi yang sudah memegang kunci kosan sahabat Wisnu bisa dengan bebas mengunjungi kosannya.


"Ya ampun berantakan banget," ucap Lulu saat sampai ke kosan Wisnu.


Tiba-tiba Randi membungkam mulut Lulu dengan serangan yang mendadak.


"Ran," ucap Lulu sambil mendorong tubuh Randi.


"Kenapa sih Lu?" tanya Randi.


"Baru juga sampai," jawab Lulu.

__ADS_1


"Terus kamu mau apa? Mau istirahat dulu? Nontin tv dulu? Nunggu Wisnu pulang dulu?" tanya Randi kesal.


Randi menjelaskan bahwa waktu mereka sangat berharga. Ia tidak mau kesempatan itu terbuang sia-sia. Lulu melihat ke sekelilingnya. Banyak barang berserakan di sana. Randi menyingkirkan semua yang ada di sekitarnya.


Setelah itu Randi merentangkan tangannya. Lulu segera masuk ke dalam pelukannya. Merasa Lulu sudah siap, Randi memulai dengan sangat baik. Perlahan tapi penuh makna. Membuat Lulu memejamkan matanya beberapa saat.


Ekspresi yang Randi dapatkan saat itu tidak hanya dari wajah Lulu, tapi suara Lulu. Ah, Randi dibuat semakin tidak bisa menahan diri. Lulu yang memeluk erat Randi terus bersuara di dekat telinganya. Bahkan hembusan napas yang mengiringi suara itu membuatnya kehilangan kendali.


"Kemana?" tanya Lulu.


"Di kamar," jawab Randi.


Lulu kesal saat Randi harus menjeda semuanya padahal ia sedang benar-benar menikmati waktu yang mereka jalani.


"Berantakan," ucap Lulu saat masuk kedalam kamar.


"Percuma dibereskan dulu. Nanti juga berantakan lagi," ucap Randi.


Serangan Randi dimulai lagi. Kancing yang sudah terbuka sebelum masuk kamar membuat Randi menginginkan lebih. Terlebih saat Lulu sudah tidak bisa mengontrol suaranya. Mungkin hal ini karena Lulu merasa bebas. Hanya ada mereka berdua di sana.


"Ran, jangan." Lulu menolak saat Randi mencoba memasuki pertahanan pusatnya.


Randi terus memaksa sampai akhirnya Lulu hanya bisa menelan salivanya. Randi seperti sudah tahu bagian mana saja yang bisa membuat Lulu tidak berkutik.


Lidah Randi dengan lincah mengobrak-abrik beberapa saat. Sampai akhirnya ia tidak tahan saat suara Lulu semakin mengganggu telinganya. Perlahan pusat pertahanan itu mulai tidak bisa dipertahankan.


Biasanya mereka selesai dengan pakaian yang berantakan. Tapi kali ini mereka selesai tanpa pakaian apapun. Randi menunduk lesu saat sudah menuntaskan hasratnya.


"Ran, kok perih?" tanya Lulu sambil memegang pertahanan pusatnya.


"Maaf," ucap Randi pelan.


"Hah? Jadi?" tanya Lulu yang tidak mampu melanjutkan pertanyaannya.


Lulu meraba bagian yang perih itu dan meringis. Ia mencoba untuk bangun namun badannya terasa remuk. Randi membantunya untuk bangun dan mereka duduk bersama. Lulu melihat ada sedikit bercak darah.


"Ran," ucap Lulu sambil menangis.


"Kenapa? Jangan nangis dong. Tapi belum semua kok. Kamu tidak benar-benar kehilangan itu," ucap Randi sambil memeluk Lulu.


Randi memang belum sempat menaklukan pertahanan pusat. Sulit dan Randi tidak cukup kuat. Mungkin nyaris tuntas namun Randi sudah tidak tahan lagi. Ini pertama bagi Randi hingga merasa belum kuat dengan sensasi baru yang ia rasakan.


Beruntung Randi masih sadar hingga ceceran ketuntasannya hanya membasahi perut Lulu. Tapi apapun itu, Lulu sudah benar-benar ternoda. Kesuciannya sudah terenggut meskipun belum sepenuhnya.


Penyesalan hanyalah sebuah penyesalan. Yang Lulu lakukan saat ini hanyalah mengenakan kembali pakaiannya meskipun perutnya terasa masih lengket.


"Lu, aku akan bertanggung jawab. Pegang ucapanku. Apapun yang terjadi aku akan tetap menikahimu. Aku mencintaimu," ucap Randi.


Raga Lulu memang di sana, tapi pikirannya melayang pada kedua orang tua dan kedua adiknya. Terbayang bagaimana kecewanya mereka jika suatu saat ini akan terbongkar.

__ADS_1


"Aku takut. Gimana beasiswaku kalau sampai aku hamil?" tanya Lulu.


"Lu, kamu tidak akan hamil. Aku. jamin itu," jawab Randi menenangkan Lulu.


__ADS_2