
"Ke kosan Wisnu yu!" bisik Randi.
Pelukan Randi yang semakin merapat membuat Lulu resah. Ia tahu apa yang Randi inginkan saat ini. Mungkin jauh dalam hati Lulu yang paling dalam, ia juga menginginkan hal yang sama. Namun ia tidak mau jika kejadian itu terulang lagi.
"Aku ada pembinaan untuk olimpiade nanti siang," ucap Lulu.
Randi mendecak kesal dan segera melepas pelukannya. Bahkan ia duduk menjauh dan memalingkan wajahnya dari Lulu. Kekecewaannya bukan hanya karena Lulu yang menolak ajakannya. Tapi alasan Lulu menolak ajakannya menjadi salah satu hal yang membuat Randi kesal.
"Kenapa? Kamu cemburu sama Pak Arya?" tanya Lulu.
"Tidak," jawab Randi sambil acuh.
"Ran, aku kan harus fokus olimpiade. Aku berharap bisa membawa nama baik sekolah ini," ucap Lulu.
"Kamu bisa menolak olimpiade ini tidak?" tanya Randi.
"Maksudnya?" tanya Lulu sambil duduk mendekat di samping Randi.
"Ya sekolah bisa kok memilih siswa lain. Yang beasiswa juga bukan cuma kamu," ucap Randi.
"Tapi sekolah mempercayaiku Ran. Lagi pula kalau aku juara, aku akan dapat hadiah." Lulu berusaha meyakinkan Randi.
"Aku bisa memberimu hadiah coklat, bunga. Atau apa saja yang kamu inginkan," ucap Randi.
"Aku tahu kamu bisa memberiku banyak hal. Tapi ku mohon, kali ini izinkan aku dan support ya. Katanya ada hadiah dua juta buat yang juara. Selain itu nanti akan dapat rekomendasi beasiswa ke beberapa universitas," ucap Lulu.
"Plus jadi pacar Pak Arya juga kan?" tanya Randi dengan senyum sinisnya.
"Kok jadi ke Pak Arya sih? Pak Arya itu hanya pembimbing saja. Aku sama Pak Arya hanya belajar. Tidak lebih. Kamu aneh, masa cemburu sama Pak Arya. Dia itu guru aku Ran," ucap Lulu.
"Tapi dia juga laki-laki normal dan belum menikah. Bukan tidak mungkin kalau dia memanfaatkan momen ini untuk menggodamu," ucap Randi.
Berkali-kali Lulu meyakinkan Randi bahwa tidak akan terjadi apa-apa antara dirinya dengan Pak Arya. Namun semakin Lulu meyakinkan Randi, semakin menjadi-jadi tuduhan yang diberikan untuknya. Lelah sebenarnya meyakinkan orang seperti Randi. Keras kepala dan selalu menang sendiri.
__ADS_1
"Kamu mau aku keluar dari sekolah ini? Kamu mau beasiswaku dicabut?" tanya Lulu.
Itu adalah pertanyaan yang selalu Lulu gunakan untuk mengancam Randi. Dan memang hanya itu yang berhasil membuat Randi mengalah. Namun dengan syarat yang membuat Lulu harus menggelengkan kepalanya.
"Gila kamu Ran," ucap Lulu.
"Kenapa? Tidak mau? Karena kamu juga berharap Pak Arya memang benar-benar menggodamu. Begitu?" ucap Randi.
"Sampai sejauh itu pikiranmu Ran. Buang jauh-jauh cemburumu yang berlebihan itu," ucap Lulu.
Randi bersedia mendukung Lulu dengan sepenuh hati namun dengan syarat jika Lulu mau menghabiskan satu malam dengannya. Ia ingin meyakinkan dirinya jika Lulu memang hanya miliknya. Dengan begitu ia tidak perlu khawatir pada Pak Arya lagi.
Lulu jelas menolak karena ia takut. Ia memang mencintai Randi. Tapi tidak seperti itu seharusnya. Ia hanya berusaha menjaga dirinya agar saat menikah nanti ada yang benar-benar mereka nantikan. Meskipun pada saat itu Randi sempat menghancurkan setengah pertahanan miliknya.
Paling tidak Lulu tidak sepenuhnya sudah ternoda. Ia masih berharap jika sisa pertahanannya bisa ia pertahankan sampai menjelang pernikahannya nanti.
"Ayolah Lu. Jangan membuatku ragu sama perasaanmu. Seharusnya kalau kamu yakin padaku, kamu tidak perlu ragu. Aku sudah pasti akan menikahimu. Tidak ada yang perlu kamu khawatirkan," ucap Randi.
Lulu terus berusaha meyakinkan Randi bahwa penolakannya bukan karena tidak percaya akan cinta dan kesetiaan Randi, namun Lulu hanya ingin menjalani hubungan normal seperti pasangan yang lain. Begitulah Randi, selalu saja bisa membuat Lulu luluh. Akhirnya Lulu mengiyakan apa yang Randi katakan.
"Aku takut. Nanti saja. Aku harus konsentrasi dulu ke olimpiadenya," ucap Lulu.
"Biar aku yakin dan tenang saat kamu bimbingan dengan Pak Arya," bujuk Randi.
Lagi-lagi Lulu berusaha bernegosiasi. Namun lagi-lagi Randi yang selalu menang setiap kali adu argumen. Lulu terlalu takut kehilangan Randi. Apalagi setelah setengah dari benteng pertahannya sudah direnggut Randi.
"Aku janji tidak akan membuatmu hamil Lu. Aku janji. Kamu percaya sama aku kan?" tanya Randi.
Lama lulu diam. Bel masuk kelas sudah berbunyi sebelum Lulu menjawab pertanyaan Randi. Akhirnya Randi meminta jawaban itu nanti pulang sekolah.
Di kelas, Lulu berusaha sefokus mungkin dengan materi yang tengah dipelajarinya. Namun sayangnya, Lulu masih terbayang dengan semua ucapan Randi. Benarkah ia yakin kalau kesuciannya direnggut Randi sebelum waktunya? Tapi sejujurnya ia pun sangat merindukan sentuhan-sentuhan Randi di tubuhnya.
Bayangan kelihaian tangan Randi bermain di tempat yang diinginkannya membuatnya seketika yakin. Hasratnya sudah menbuatnya buta dan tidak berpikir jauh tentang masa depannya. Yang ia yakini adalah ucapan Randi. Ia tidak mungkin hamil sebelum menikah.
__ADS_1
"Lagi pula ibu dan bapak tidak akan tahu kalau aku dan Randi sudah melakukan semua itu. Wisnu dan pacarnya juga sampai saat ini masih aman," gumam Lulu.
Beberapa kali Lulu berpikir ulang tentang apa yang sudah bahas dengan Randi, sebanyak itu pula hatinya mengiyakan. Sampai akhirnya saat jam pulang tiba, Lulu segera menemui Randi di tempat yang sudah mereka sepakati.
"Aku penuhi permintaanmu tapi tidak bisa secepat itu. Aku harus mencari cara agar bisa menginap di luar. Dan itu sulit," ucap Lulu.
"Ayolah. Bilang saja di rumah teman," ucap Randi.
"Mana bisa? Ibu sama Bapak tahu kalau aku tidak punya teman yang begitu dekat. Kalau tiba-tiba aku menginap, bisa curiga mereka. Nanti pasti ibu sama bapak akan mencari tahu teman yang mana, dimana rumahnya dan akan mengecek keberadaanku di sana. Bahaya," ucap Lulu.
Setelah lama mencari ide dan tidak kunjung usai, akhirnya Randi memberikan ide. Kosan Wisnu adalah solusi atas semua hal yang membuat perdebatan mereka berakhir. Keduanya setuju jika hal kotor itu akan mereka lakukan di kosan Wisnu.
"Siang hari akan membuat permainan kita semakin panas," ucap Randi sambil tersenyum nakal.
Lulu memukul Randi saat melihat matanya menatap nakal kepada Lulu. Ia juga segera pamit untuk melakukan bimbingan olimpiade. Randi mengiyakan tanpa mempersulit Lulu. Padahal ia tahu, saat ini guru pembimbingnya adalah Pak Arya.
Bukan tidak cemburu, tapi karena ia harus meredakan kekesalannya demi apa yang ia inginkan. Kalau ia terus protes, maka Lulu bisa saja berubah pikiran. Dan tentu semua itu akan membuatnya sangat rugi.
Susah payah sudah membujuk Lulu dengan segala rayuannya. Ia tidak mungkin membiarkan Lulu membatalkan janjinya. Biarlah saat ini ia yang mengalah menahan rasa cemburunya. Karena nanti, ia akan meyakinkan Lulu jika tidak ada lagi pria yang harus dicari dan dicintai selain dirinya.
Kebahagiannya harus ia tunda dan bersiap menghadapi masalah keluarganya. Setelah pulang sekolah, Randi tidak langsung pulang ke rumah. Namun ia pergi ke rumah sakit. Menemui ibunya yang sedang di rawat.
"Ma," panggil Randi.
Randi terkejut saat masuk, ruangan itu sudah kosong. Ibunya sudah tidak ada di sana. Ia mengedarkan pandangan ke setiap sudut ruangan. Memastikan jika tidak ada barang ibunya yang masih di sana, artinya ibunya memang sudah pulang.
Dengan cepat Randi menuju rumahnya. Ia harus melihat ibunya sudah membaik. Walaupun sebenarnya ia malas untuk pulang ke rumah. Keadaan keluarganya selalu membuatnya tidak nyaman saat ada di rumah. Namun hal yang tidak disangka terjadi hari ini.
"Papa harap kita semua memperbaiki diri lagi. Jangan sampai kejadian ini terulang. Kita terlalu berharga untuk berpisah dan saling meninggalkan," ucap Pak Halim.
"Iya Pah. Aku juga minta maaf atas semua kesalahanku. Aku janji akan memperbaiki kuliahku dan hubunganku dengan pacarku," ucap Rayhan.
"Mama senang kalian berdua berubah. Mama sangat menyayangi kalian. Tetaplah bersama dan saling menguatkan satu sama lain. Kita harus ingat kalau kita memang satu. Jangan saling menyakiti lagi ya," ucap Bu Desi dengan air mata yang membanjiri pipinya.
__ADS_1
Dari kejauhan Randi melihat kejadian itu. Sangat manis dan seolah tidak pernah terjadi apapun diantara mereka. Padahal menurutnya apa yang sudah dilakukan ayah dan kakaknya bukan hanya sebuah kesalahan yang kecil. Tapi semua membaik dengan mudah.
Randi menghela napas yang dalam. Ia harus tetap tenang. Apapun yang terjadi, Randi harus ikut senang dengan kebahagiaan keluarganya. Terlebih kebahagiaan ibunya.