LULU

LULU
Bohong lagi


__ADS_3

"Sampai sini aja. Nanti aku naik angkot," ucap Lulu.


"Ini sudah sore Lu. Biar aku antar sampai rumah," ucap Randi.


"Kamu lupa drama kita ya?" tanya Lulu.


"Sampai gang depan rumah ya," ucap Randi.


Lulu tetap menolak. Ia takut kalau ibunya sampai mendapat kabar tentang Randi yang mengantrnya pulang. Ia tidak bisa membayangkan ibunya yang pasti akan sangat kecewa.


"Ya sudah. Jangan lupa kabari aku kalau sudah sampai rumah ya," ucap Randi mengalah.


Lulu mengangguk dan segera pulang.


"Baru pulang ya neng?" tanya seorang penumpang.


Lulu melihat pakaian olah raga yang ia kenakan. Di sana terlihat jelas nama sekolah tempat ia menimba ilmu. Tapi pertanyaan itu? Lulu tahu ini sudah terlalu sore untuk jadwal pulang seorang anak sekolah.


"Iya Bu. Ada kerja kelompok dulu," jawab Lulu dengan bohong.


Kerja kelompok adalah salah satu alasan yang sering menyelamatkan Lulu dari keterlambatan pulang.


"Wah, anak rajin. Orang tuamu pasti bangga," ucap penumpang itu.


Lulu hanya tersenyum. Ia tersipu malu saat tahu ibu itu menatapnya begitu percaya. Padahal dalam hatinya ia menyimpan rasa bersalah yang sangat luar biasa.


"Sore Bu," ucap Lulu.


Bu Sari dan kedua adik Lulu tengah duduk santai di depan rumah. Mereka memang tidak menunggu Lulu tapi kedatangan Lulu membuat mereka lega.


"Akhirnya Kak Lulu pulang juga," ucap Lita.


"Aku pikir diculik," ucap Lani.


"Mana ada yang mau culik. Paling juga diculik pacarnya," ucap Lita.


"Kan Kak Lulu jomblo. Jadi aman ya tidak akan ada yang nyulik," ucap Lani sambil tertawa.


"Anak SD ikut-ikutan aja nih," ucap Lita sambil mengacak rambut Lani.


"Hussst, kalau ngomong jangan sembarangan ah. Biarkan Kakak kalian mandi dan makan dulu," ucap Bu Sari.


"Aku mandi dulu ya Bu," ucap Lulu.


"Nanti jangan lupa makan ya. Jaga kesehatan, jangan terlalu cape." Bu Sari mengusap kepala Lulu.


Jaga kesehatan? Jangan terlalu cape? Sepercaya itu Bu Desi pada Lulu. Ia merasa sangat bersalah saat harus berbohong. Apalagi saat menggunakan nama tugas sekolah. Ah, Lulu tidak bisa melanjutkan bayangan rasa bersalahnya.


Lulu segera mandi. Ia mengguyur seluruh tubuhnya. Berusaha menghilangkan rasa kotor akan dirinya.


Wanita macam apa aku ini?


Lulu memandang tubuhnya dan merasa jijik sendiri dengan apa yang sudah dilakukannya hari ini. Ia menutup wajahnya saat membayangkan betapa bodohnya ia, sampai menikmati semua yang membuat dirinya terlihat kotor.


Guyuran demi guyuran membuat Riri tiba-tiba membayangkan setiap hal yang ia lalui hari ini. Bahkan pertemuannya dengan seorang penumpang pun tidak luput dari rekamannya saat ini.


'Orang tuamu pasti bangga.'


Sebuah kalimat yang diucapkan penumpang itu terus terngiang sampai Lulu sudah ke kamarnya. Ia merasa semua orang memandangnya baik, bahkan sangat baik. Padahal mereka tidak tahu seburuk apa dirinya.


"Lu," panggil Bu Desi.


"Iya Bu," jawab Lulu yang baru saja tersadar dari lamunannya.

__ADS_1


Lulu segera membuka pintu kamarnya dan melihat Bu Desi tengah menatapnya.


"Kenapa Bu?" tanya Lulu salah tingkah.


"Kamu sakit?" tanya Bu Desi.


"Ah tidak. Aku baik-baik saja," jawab Lulu.


Lulu semakin salah tingkah saat Bu Desi menempelkan punggung tangannya di dahi Lulu. Terlihat sangat jelas kekhawatiran seorang ibu pada anaknya. Lulu juga sempat berpikir apa jangan-jangan ibunya curiga?


Ah Lulu segera membuang pikiran buruknya. Ia tidak mau pikiran buruk itu selalu menghantuinya. Berusaha terlihat baik-baik saja padahal sedang sangat buruk, sepertinya Lulu berhasil mmenutupi semuanya.


"Makan dulu," ucap Bu Sari.


"Iya Bu," ucap Lulu.


Bu Sari menemani Lulu yang sedang makan. Pandangannya tidak pernah lepas dari wajah Lulu. Hal itu membuat Lulu semakin tidak nyaman.


"Ibu tidak makan?" tanya Lulu.


"Ibu sudah makan sama Lita dan Lani tadi. Makan yang banyak ya! Kamu pasti cape," ucap Bu Sari.


Lulu mengangguk dan melanjutkan makannya. Perutnya yang memang sudah lapar membuatnya makan dengan lahap. Kebersamaannya dengan Randi membuatnya lupa untuk makan. Mereka terlalu asyik dengan kisah buruk yang diukir hari itu.


Hari sudah mulai gelap. Lulu melihat ibu dan kedua adiknya sudah tidur. Rasa ngantuk belum juga menghampirinya. Ia baru ingat kalau ia belum sempat mengabari Randi.


Merasa keadaan rumah sudah sepi, Lulu segera menghubungi Randi. Yang mereka bahas tidak lepas dari kejadian siang tadi. Lulu yang sudah menyesali kejadian tadi, berbanding terbalik dengan Randi yang justru menginginkan kejadian itu terulang lagi.


"Pokoknya ini yang terakhir ya Ran," ucap Lulu.


"Jangan begitu dong," ucap Randi.


"Ran, aku mohon. Jangan coba mengulangi lagi hal itu. Aku takut," ucap Lulu.


"Astaga. Aku lupa," jawab Lulu.


"Ya sudah besok saja. Ini kan sudah malam," ucap Randi.


Lulu melihat jam di dinding kamarnya. Ini memang sudah terlalu malam untuk mencuci baju. Jam sudah menunjukkan pukul sembilan lebih dua puluh menit.


Lulu melanjutkan obrolannya sampai akhirnya mereka menyudahinya setelah jam sepuluh malam. Setelah panggilan itu berakhir, Lulu merasa belum mengantuk. Ia menyiapkan buku pelajaran untuk hari besok.


"Emmm, bau." Lulu segera menjauh dari tasnya.


Lulu berpikir bagaimana cara membersihkan pakaiannya agar tidak dicurigai ibunya. Akhirnya ia memutuskan untuk mencuci seragam sekolahnya saat ini juga. Karena biasanya pagi-pagi ibunya selalu bangun paling awal. Letak dapur dan WC yang berdekatan membuat Lulu khawatir jika baunya akan tercium oleh ibunya.


"Lebih baik sekarang saja," ucap Lulu.


Lulu segera membawa seragamnya ke kamar mandi. Ia mulai mencuci meskipun malam sudah semakin larut. Rasa takut ketahuan ibunya lebih besar dibanding rasa takut oleh hantu dan yang lainnya.


"Lu, kamu nyuci baju?" tanya Bu Sari.


Lulu terkejut saat mendapati pertanyaan ibunya. Ia tidak menyangka jika kebetulan ibunya bangun untuk ke kamar mandi.


"Ini bu seragam sekolah," jawab Lulu.


"Kenapa harus malam-malam begini? Kan bisa besok," ucap Bu Sari.


"Em ini bu. Anu, euhh ada bekas kecap. Jadi kalau nunggu besok takut nodanya semakin nempel," ucap Lulu gugup.


"Mana? Coba sini biar ibu cuci," ucap Bu Sari


Lulu menahan Bu Sari agar tidak masuk. Tangannya dengan cepat menambah sabun ke dalam air rendaman agar bau itu tidak sampai tercium oleh ibunya.

__ADS_1


"Biar Lulu aja Bu. Lulu bisa kok. Ibu istirahat aja," ucap Lulu.


"Ya sudah cepat selesaikan. Lain kali jangan cuci baju malam-malam ya. Tidak baik buat kesehatan," ucap Bu Sari.


"Iya Bu. Tadi Lulu lupa," ucap Lulu.


"Ya sudah ayo cepat biar ibu temani sampai kamu selesai," ucap Bu Sari.


"Tidak usah Bu. Ibu tidur saja. Lulu berani kok," ucap Lulu.


"Ayo cepat selesaikan. Ibu juga sudah tidak ngantuk," ucap Bu Sari.


Lulu mengangguk dan segera menyelesaikan cuciannya. Ia mengajak Bu Sari untuk segera tidur setelah menjemur seragam sekolahnya.


"Bu terima kasih ya sudah menemani Lulu. Lulu juga minta maaf karena Lulu, tidur ibu jadi terganggu. Lain kali Lulu akan lebih tertib lagi," ucap Lulu.


"Ya sudah tidak perlu meminta maaf. Ayo kamu tidur!" ucap Bu Sari.


Keduanya masuk ke kamarnya masing-masing. Berbeda dengan Bu Sari yang langsung tidur, Lulu justru tidak bisa tidur. Ia kembali merasa bersalah karena sudah membohongi ibunya.


"Ternyata benar, untuk menutupi suatu kebohongan pasti akan ada kebohongan yang lain. Maafkan aku Bu," gumam Lulu.


Setelah jam sebelas Lulu baru bisa tidur. Ia mendekatkan ponselnya yang sudah diatur alarm jam lima pagi. Lulu yang jarang tidur larut malam jadi khawatir bangun kesiangan.


Alarm berdering tepat jam lima. Tangannya meraba mencari sumber suara yang membangunkan tidurnya. Perlahan matanya dibuka dan menggeliat. Rasa ngantuk sudah pasti ia rasakan. Namun ia harus memaksakan diri.


Seperti biasa, Bu Sari bangun lebih awal dan mengerjakan beberapa pekerjaan sejak ia bangun. Lulu segera membantu ibunya setelah cuci muka.


"Lu, kamu masih ngantuk ya?" tanya Bu Sari saat melihat Lulu masih mengantuk.


"Tidak," jawab Lulu.


"Apa jangan-jangan kamu begadang?" tebak Bu Sari.


"Tidak," jawab Lulu.


Lagi-lagi kebohongan itu mulai keluar dengan mudah dari mulut Lulu. Ia menyerah akan sampai kapan kebohongan itu selesai. Yang pasti ia tidak mau mengecewakan orang tuanya.


"Lu, Lita sama Lani tolong dipanggil. Sarapan dulu. Nanti kesiangan," ucap Bu Sari setelah seleai menyiapkan sarapan.


"Iya Bu," jawab Lulu.


Tidak lama Lita dan Lani datang memburu nasi goreng yang sudah tersaji di atas meja makan.


"Bu, Bapak masih lama ya kerjanya?" tanya Lani.


Lani yang selalu dimanjakan oleh Pak Budi memang merasa sangat kehilangan setelah Pak Budi bekerja di luar kota.


"Tidak lama kok, paling satu atau dua bulan aja," jawab Bu Sari.


"Kenapa sih Bapak tidak kerja di sini aja?" tanya Lita.


"Di sini Bapak tidak punya kerjaan tiap hari. Sedangkan kebutuhan kita banyak. Makanya kalian belajar yang rajin ya! Tuh lihat Kak Lulu, dapat beasiswa. Jadi uang dari Bapak bisa dipakai jajan dan nabung," ucap Bu Sari.


Lulu menelan salivanya. Betapa bangganya seorang ibu pada dirinya. Sementara apa yang dilakukannya sudah pasti akan sangat mengecewakan. Kalau saja Bu Sari dan Pak Budi tahu kalau selama ini Lulu membohonginya, tentu kebanggaan itu akan jadi kekecewaan yang mendalam.


"Lu, kok melamun sih? Ayo makan. Ini sudah siang," ucap Bu Sari.


"Ini Bu, Lulu masih mengingat-ingat materi yang dibaca semalam. Hari ini ada ulangan lisan," jawab Lulu.


Suatu jawaban yang Lulu pikir akan menyelamatkannya, ternyata semakin membuatnya merasa bersalah. Bu Sari kembali membanggakan Lulu yang belajar dengan maksimal.


"Sudah dong Bu. Lita sama Lani juga rajin kok. Anak ibu sama bapak kan produk unggulan semua. Tidak ada yang gagal," ucap Lulu yang menirukan gaya ayahnya.

__ADS_1


Lulu berhasil mengalihkan pembicaraan. Kerinduan mereka pada sosok ayahnya membuat mereka tertawa riang dengan tingkah Lulu.


__ADS_2