LULU

LULU
Begadang


__ADS_3

"Kamu jahat Lu! Kamu jahat," ucap Bu Sari saat Lulu sudah kembali ke dalam rumah.


Lulu menatap Bu Sari yang tengah menangis tersedu. Ia mendekat dan duduk di bawah. Memeluk kaki Bu Sari dan berkali-kali meminta maaf dengan penuh tangis.


"Kenapa kamu jahat sama ibu? Kenapa, Lu?" tanya Bu Sari.


"Maafkan Lulu Bu," ucap Lulu.


Lulu tidak bisa berkata apapun selain meminta maaf. Ia tidak bisa mengelak. Ia memang jahat karena sudah menghancurkan harapan dan kepercayaan ibunya. Tapi Lulu berjanji akan membanggakan ibunya dari sisi yang lain.


"Lulu akan jadi lulusan terbaik, Bu. Lulu akan dapat beasiswa untuk masuk perguruan tinggi terbaik. Lulu janji," ucap Lulu.


"Kamu anak perempuan tertua. Anak yang selalu ibu banggakan. Ibu sangat kecewa, Lu. Apalagi kalau Bapak sampai tahu," ucap Bu Sari.


Lulu mengangkat wajahnya. Ia tidak percaya jika ibunya masih menutupi kesalahan itu dari ayahnya. Rasa sakit itu semakin dalam. Kekecewaannya pada dirinya sendiri semakin besar. Seandainya bisa mengulang waktu, ia memilih untuk tidak pernah mengenal Randi.


Nasi sudah menjadi bubur. Kini Randi sudah menjadi bagian dalam hidupnya. Bagian terpenting, mungkin. Namun sayangnya apa yang ia rasakan berbanding terbalik dengan yang ibunya rasakan.


Tangisan itu terhenti saat Lani dan Lita pulang. Hari ini mereka pulang telat karena ada les matematika. Bu Sari dan Lulu segera mengusap wajah mereka. Berusaha bersikap tenang agar tidak ada yang curiga dengan apa yang terjadi sebenarnya.


"Ayo makan! Aku lapar," ucap Lani.


Lulu segera menarik kursi dan mengambilkan nasi untuk adik bungsunya. Ia memang sudah gagal di mata ibunya. Namun sebisa mungkin agar ia tidak gagal di mata Lani dan Lita. Pupus sudah harapan besar ibunya pada Lulu. Namun ia harus meyakinkan dirinya kalau ia tidak akan gagal menjadi seorang kakak untuk kedua adiknya.


"Kakak sudah makan?" tanya Lani.


"Belum," jawab Lulu sambil menggelengkan kepala.


"Kenapa?" tanya Lani.


"Sengaja. Mau nunggu kamu," jawab Lulu sambil mengusap kepala Lani.


"Kalau begitu Kakak duduk ya. Aku suapin," ucap Lani.

__ADS_1


Meskipun berantakan, Lulu senang saat suapan demi suapan dari tangan Lani masuk ke dalam mulutnya. Air matanya sudah kembali menggenang saat melihat ketulusan seorang adik padanya.


"Lita mana?" tanya Lulu.


"Gak tahu," jawab Lani sambil menggelengkan kepalanya, sementara mulutnya sibuk mengunyah.


Lulu beranjak dari ruang makan dan mencari Lani ke kamarnya. Di sana terlihat Lani yang sedang merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Matanya terpejam namun Lulu yakin jika Lita tidak tidur.


"Ta, makan dulu yuk!" ajak Lulu.


"Masih kenyang Kak," jawab Lita tanpa membuka matanya.


"Makan dimana?" tanya Lulu.


"Tadi ditraktir si Leha. Dijajanin seblak," jawab Lita sambil bangun dan duduk di tepi ranjangnya.


"Lain kali kalau pulangnya telat, bilang sama Kakak ya. Kakak siapkan bekal. Gak baik jajan seblak kalau perut belum isi nasi," ucap Lulu.


"Iya siap Kak. Ini kan gratisan. Rejeki gak boleh ditolak Kak," ucap Lita sambil nyengir.


"Aku mandi dulu ya Kak," ucap Lani.


"Iya," ucap Lulu.


Lulu membereskan meja makan yang berantakan. Lani memang bukan anak kecil lagi. Tapi kadang makannya masih berantakan. Tidak apa, karena bagi Lulu yang penting Lani selalu bersikap manis padanya.


Seharian ini Lulu mondar-mandir ke ruang makan. Ia tidak mendapati ibunya keluar dari kamar. Artinya Bu Sari belum makan. Ingin rasanya Lulu mengajak Bu Sari bicara lagi, namun ia tidak mau Lani dan Lita mengetahui semuanya.


Saat sudah meyakinkan kedua adiknya tidur nyenyak, Lulu segera mengecek ibunya ke kamar. Berkali-kali Lulu mengetuk pintu kamar, namun Bu Sari tidak kunjung membukanya.


"Bu, aku masuk ya!" ucap Lulu pelan.


Lulu membuka pintu kamar Bu Sari yang memang tidak dikunci. Ia melihat ibunya tengah menangis. Dengan cepat tangannya memegang dadanya yang terasa sangat sakit. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Semuanya sudah terlanjur dan tidak bisa dikembalikan lagi. Tapi ia pun sudah berjanji untuk mempertanggung jawabkan semuanya. Bahkan Randi sudah meyakinkan ibunya untuk menikahi Lulu.

__ADS_1


"Bu," panggil Lulu.


"Untuk apa kamu ke sini?" tanya Bu Sari.


"Aku mau bicara," jawab Lulu.


Lulu masuk dan duduk di tepi ranjang. Ia menatap Bu Sari yang masih terlihat menangis. Ia pun kembali meminta maaf walaupun ia tahu permintaan maafnya tidak akan mengubah kekecewaan ibunya. Tapi untuk saat ini hanya itu yang bisa ia lakukan.


"Sudah malam. Lebih baik kamu tidur dan istirahat. Fokus ke sekolahmu," ucap Bu Sari tanpa melihat ke arah Lulu.


"Iya Bu," jawab Lulu.


Lulu segera pergi. Ia tahu kalimat itu digunakan Bu Sari agar Lulu berhenti membahas masalah itu. Padahal ia masih ingin membahas semua itu sampai tuntas.


Semalaman Lulu tidak bisa tidur. Beruntung Randi menemaninya hingga jam dua malam baru Lulu bisa tidur. Hal itu tentu membuat Lulu bangun kesiangan. Sampai Lani yang mengetuk pintu kamar Lulu karena saat Lani dan Lita akan berangkat ke sekolah, kakak sulungnya itu masih belum keluar dari kamar.


Jangan tanya dimana Bu Sari. Meskipun Bu Sari tahu jika Lulu kesiangan, tapi tidak ada niat sedikitpun untuk membangunkan Lulu. Bagi Bu Sari, Lulu pergi ke sekolah atau tidak sudah tidak terlalu penting.


"Astaga, aku kesiangan." Lulu terperanjat saat Lani mengguncang keras tubuh Lulu.


"Kakak begadang ya?" tanya Lani.


Begadang? Ya, semalam ia memang tidak bisa tidur sampai jam dua malam. Namun hari ini ada ulangan di sekolah. Lulu harus bangun dan pergi ke sekolah. Meskipun ia tahu sudah pasti akan kesiangan.


"Katakan pada pria itu jangan pernah menginjakkan kakinya lagi di rumah ini!" ucap Bu Sari.


Lulu yang sudah siap dengan pakaian seragamnya itu tertegun. Benarkah pria yang dimaksud ibunya adalah Randi? Saat ia membuka pintu rumah, nampak Randi sedang duduk di atas motor.


"Kenapa tidak masuk?" tanya Lulu basa basi.


"Sekalian ngaca. Pagi ini aku kelihatan ganteng banget ya," jawab Randi sambil tertawa.


Lulu tertawa mendengar jawaban Randi. Ia merasa geli sendiri saat Randi dengan begitu percaya diri memuji dirinya sendiri. Sementara Randi ikut senang saat melihat Lulu sudah bisa tertawa.

__ADS_1


Seketika Lulu lupa kalau Randi memang sedang berbohong. Pria pujaannya itu tidak masuk ke dalam rumah tentu karena dilarang oleh Bu Sari. Namun Randi tidak mengadu karena hal itu hanya akan membuat Lulu sedih.


__ADS_2