
"Lu, kenapa sih buru-buru?" tanya Randi.
"Kamu jangan begitu di depan anak-anak. Kalau mau ngasih cokelat kan bisa pas istirahat, di tempat biasa. Aku kan malu," jawab Lulu cemberut.
"Kan biar romantis. Orang lain mau loh punya pacar romantis begini," ucap Randi.
"Terus kamu bangga disukai banyak perempuan?" tanya Lulu dengan tatapan sinis.
"Ampuuuun, cemburunya pacar aku kok gemes banget sih." Randi mencubit pipi Lulu.
"Ran," ucap Lulu sambil menepis tangan Randi.
Selesai menemani Randi sarapan, Lulu masuk ke kelas. Randi sempat menarik tangan Lulu sebelum masuk ke kelasnya.
"Nanti pulang sekolah ke kosan Wisnu ya," bisik Randi.
Lulu cemberut sambil menggeleng. Ia segera masuk ke kelas karena tidak mau berdebat lagi dengan Randi. Menghabiskan jam pertama, kedua, hingga jam istirahat tiba.
Meskipun ia takut saat Randi membahas tentang apa yang sudah mereka rencanakan, namun tidak membuat Lulu untuk mangkir bertemu dengan kekasihnya itu. Di sana sudah ada Randi yang nampak sedang memainkan ponselnya. Lulu menatap pria itu dari kejauhan. Terlihat begitu tampan dan selalu membuatnya jatuh cinta.
Tidak hanya itu, Randi juga baik dan selalu membuatnya nyaman. Mungkin hal itu juga yang membuatnya bertahan meskipun orang tuanya sudah melarang hubungan itu. Pacaran seperti kucing-kucingan pun rela Lulu jalani agar tidak kehilangan Randi. Ia bahkan berani membohongi keluarganya dengan mengatakan jika hubungan keduanya sudah putus. Nyatanya?
Keduanya semakin hari semakin dekat. Bahkan rencana kotor pun sudah mereka susun. Semua hanya karena alasan takut kehilangan. Padahal keduanya hanya berusaha untuk memenuhi hasratnya saja.
"Hey, sini!" ajak Randi saat melihat keberadaan Lulu.
Lulu terperanjat dan segera mendekat. Randi dengan cepat memeluk Lulu. Membenamkan kepala di leher Lulu yang masih sangat wangi sabun meskipun sudah sedikit berkeringat. Bibir dan lidah nakalnya berusaha menggoda Lulu.
"Awas ah," ucap Lulu sambil mendorong tubuh Randi.
Wajah Lulu memang terlihat biasa-biasa saja. Tapi saat Randi melihat pori-pori Lulu, jelas membuktikan bahwa Lulu menikmati sentuhan itu. Randi berusaha untuk terus menggodanya sampai akhirnya Lulu kehilangan kendalinya.
Saat Lulu berharap dan bersiap untuk mendapat perlakuan lebih, di sana Randi mundur. Membiarkan Lulu tersiksa dengan keinginannya. Sampai akhirnya Randi memastikan jika Lulu akan memberikan apa yang ia mau hari ini.
"Kamu tidak ada jadwal bimbingan kan?" tanya Randi.
Lulu menggeleng.
"Pulang sekolah kita ke kosan Wisnu ya!" ucap Randi.
"Kamu masih saja dekat dengan Wisnu," ucap Lulu dengan nada kecewa.
__ADS_1
"Memangnya kenapa? Di matamu Wisnu mungkin buruk, tapi asal kamu tahu kalau selama ini Wisnu adalah satu-satunya temanku yang datang dan menemaniku saat Mama di rumah sakit," ucap Randi.
Randi tahu Lulu tidak terlalu suka dengan Wisnu. Lulu menganggap perubahan Randi adalah pengaruh Wisnu. Padahal meskipun begitu, toh keduanya menikmati pengaruh yang diberikan oleh Wisnu.
"Iya, iya," ucap Lulu.
"Jangan cemberut begitu dong," ucap Randi.
"Sudah bel. Ayo masuk kelas," ajak Lulu.
Randi tahu kalau Lulu masih marah. Bahasan tentang Wisnu memang kadang membuat mereka sering berunjung begini. Namun Randi tidak punya pilihan. Selama ini kosan Wisnu adalah tempat yang paling aman.
Pulang sekolah Randi sudah menunggu di parkiran. Wisnu pun sudah tahu kalau kosannya akan dipakai oleh Randi. Wisnu memilih untuk bermain di kosan temannya yang lain. Tidak terlihat keberatan sama sekali saat Randi meminjam kosannya. Bahkan menurutnya, itu adalah salah satu cara agar bisa membuat Randi senang.
"Enjoy ya Bro!" ucap Wisnu saat akan pergi.
"Sory ya kosannya di pinjam dulu," ucap Randi.
"Kita ini teman. Pakai aja. Justru aku yang sory, selama ini kebaikanmu hanya bisa aku balas sama kosan aja," ucap Wisnu.
Belum selesai obrolan mereka, Randi melihat Lulu sudah datang. Ia segera pamit karena wanita pujaan hatinya sudah ada di depan mata.
"Ayo!" ajak Randi.
"Have fun, Bro." gumam Wisnu.
Tidak ingin mengganggu kebersamaan mereka berdua, Wisnu pergi dengan arah yang berlawanan. Membiarkan dua manusia itu menghabiskan harinya dengan penuh kebahagiaan. Yang secara tidak langsung Wisnu sudah memfasilitasi kekotoran itu di kosannya.
Bukan masalah bagi Wisnu, karena sebenarnya ia dan pacarnya juga sudah berkali-kali melakukan hal itu. Bahkan ia senang saat Randi bisa mengikuti jejaknya. Ia yang hanya bermodalkan kosan saja bisa membuat satu wanita tidak lepas darinya. Masa Randi yang sudah memberikan banyak hal untuk Lulu tidak mendapatkan apa-apa. Begitulah cara berpikir Wisnu saat ini.
"Ran, kenapa harus di kosan Wisnu sih?" tanya Lulu saat hampir sampai ke kosan.
Randi seketika menepi dan menghentikan motornya. Ia membuka helm dan melihat ke belakang.
"Kamu mau di sini? Ayo!" ucap Randi sambil membuka kancing seragamnya.
"Eh gila ya kamu," ucap Lulu panik sambil memukul Randi.
"Katanya tidak mau di kosan Wisnu. Ayo di sini saja," ucap Randi.
"Ya bukan berarti harus di sini juga kan?" ucap Lulu.
__ADS_1
"Mau dimana? Di hotel? Ayo! Hotel mana yang kamu mau?" tantang Randi.
"Ya terserah," ucap Lulu.
"Lu, dengar ya!" ucap Randi.
Randi panjang lebar menjelaskan alasannya hanya menggunakan kosan Wisnu. Bukan karena tidak mampu bayar hotel mahal. Tapi karena ia tidak mau namanya menjadi daftar pengisi salah satu hotel.
"Kamu mau kita diciduk? Kamu mau nama kita terpampang jelas? Begitu?" tanya Randi.
Lulu bergidik. Ia ngeri sendiri saat membayangkan saat semua itu benar-benar terjadi. Mungkin ia akan memilih untuk mati saja. Tidak sanggup rasanya jika harus menghadapi semua masalah ini sendirian.
"Ya sudah makanya kita ke kosan Wisnu saja," ucap Randi.
"Tapi kan di kosan Wisnu juga tidak menutup kemungkinan bisa ketahuan," ucap Lulu.
Randi menatap lekat wajah Lulu yang penuh dengan ketakutan. Ah, sebenarnya bukan hanya takut ketahuan, tapi Lulu juga takut saat harus menyerahkan semuanya pada Randi. Ini belum waktunya. Tapi bagaimana cara Lulu menolak? Randi pasti tidak akan menerima penolakan dari Lulu.
"Jadi intinya?" tanya Randi.
Lulu hanya menatap bola mata Randi yang penuh kekecewaan.
"Kamu mau aku mengantarmu pulang?" tanya Randi.
Lulu masih belum menjawab. Randi merasa kesal saat Lulu hanya diam. Padahal ia sudah sangat berharap jika hari ini akan menjadi hari yang paling indah. Saat ia sudah bisa memiliki Lulu sepenuhnya.
"Apa ini semua karena Pak Arya?" tanya Randi.
"Kok bawa-bawa Pak Arya?" ucap Lulu dengan napas berat.
"Lu, kemarin kamu sudah tidak masalah dengan semua ini. Kamu sudah mengiyakan dan hanya menunggu waktu saja. Tapi setelah kamu bimbingan dan bertemu Pak Arya, tiba-tiba kamu berubah. Jadi ragu dan menolak. Dia kan yang sudah mempengaruhimu?" tanya Randi dengan nada cukup tinggi.
Lulu menggeleng. Kini ketakutannya sudah berubah menjadi air mata. Ia benar-benar tidak bisa mengendalikan perasaannya. Randi panik saat melihat Lulu menangis. Mereka sedang berada di pinggir jalan. Dimana banyak sekali orang yang melihat mereka.
"Jangan nangis. Malu, dilihat banyak orang. Nanti mereka pikir aku KDRT lagi," ucap Randi sambil mengusap lutut Lulu.
Sialnya rok Lulu yang terangkat membuat tangan Randi menyentuh lutut yang tidak tertutup itu. Bahkan matanya melihat sebagian paha Lulu yang putih. Kepalanya kembali berimajinasi. Bagaimana jika kulit mereka menyatu siang ini.
Panasnya mentari dari luar akan membuat keringat keduanya semakin deras. Bukti bahwa betapa mereka sangat bersemangat. Saling memuaskan satu sama lain dengan caranya masing-masing. Meskipun sejauh ini Randi merasa Lulu masih kaku dan monoton. Tidak apa, yang penting saat ini Randi sudah disuguhkan dengan keindahan dan kenikmatan yang tiada duanya.
"Kamu mikir jorok ya?" tanya Lulu sambil mengusap wajah Randi.
__ADS_1
Randi yang memang sedang membayangkan apa yang tidak seharusnya ia bayangkan itu terperanjat. Tanpa bertanya siap atau tidak siap, Randi kembali menjalankan sepeda motornya. Ia tidak peduli penolakan seperti apa yang akan Lulu berikan nanti. Yang pasti ia harus segera sampai di kosan Wisnu secepatnya.