
Lulu terperanjat dengan panggilan ibunya. Ia segera masuk saat melihat tangan ibunya terbuka lebar dan bersiap untuk memeluknya. Lulu pun segera mendekap ibunya dengan penuh kehangatan. Dalam pelukan itu Lulu merasa rasa bersalahnya semakin besar.
"Ayo makan!" ajak Bu Sari.
Lulu sedikit tidak mengerti saat tidak ada pertanyaan tentang kenapa ia baru pulang. Justru kedatangannya disambut baik dan seolah tidak ada masalah sedikitpun atas keterlambatannya sampai ke rumah.
"Bu, ya suruh ganti baju dulu dong." Pak Budi mengingatkan.
"Oh iya Ibu sampai lupa," ucap Bu Sari.
Lulu pun ke kamar dan berniat mengganti pakaian. Meskipun kepalanya sedang pusing dengan ulahnya sendiri, namun ia harus tetap terlihat tenang dan baik-baik saja.
"Lu, kamu kok jalannya begitu. Pakai pampers ya?" tanya Pak Budi sambik tertawa.
"Hussst, Bapak ini ada-ada saja. Ayo makan ah!" ucap Bu Sari.
"Memangnya kenapa Kak Lulu pakai pampers?" tanya Lani yang masih polos.
"Nanti kalau kamu sudah besar kamu juga akan tahu kok," ucap Bu Sari.
Lalu mata Bu Sari menatap Pak Budi. Jelas terlihat jika Bu Sari tidak suka dengan cara becanda suaminya. Ia pun memang menyadari cara jalan Lulu yang berbeda dari biasanya. Sedikit mengangkang dan aneh. Namun ia akan bahas ini nanti setelah hanya ada mereka berdua saja. Bu Sari hanya berpikir jika Lulu sedang haid dan menggunakan pembalut.
"Ayo makan!" ucap Bu Sari.
Lulu merasa jantungnya berhenti memompa. Ia nyaris tidak punya tenaga bahkan untuk mengangkat sendok. Beruntung ibunya membantu menyelamatkannya dari pertanyaan ayahnya. Meskipun ia tidak tahu apakah ibunya akan menyadari semua ini atau tidak.
"Kak, ada PR matematika nih. Susah banget. Nanti bantuin ya," ucap Lita.
"Ta, besok kan libur. Ya besok saja kerjakannya. Kakakmu ini baru pulang sekolah. Dia bimbingan buat olimpiade sampai sesore ini. Biarkan dia istirahat dulu," ucap Bu Sari.
Lulu menatap wajah Bu Sari dengan penuh rasa bersalah. Ia tidak menyangka jika ibunya berpikir ia pulang telat karena bimbingan untuk olimpiade di sekolah. Seandainya Bu Sari tahu apa yang sudah membuat Lulu pulang terlambat, tidak bisa dibayangkan sekecewa apa Bu Sari padanya.
"Oh ya gimana persiapan olimpiadenya?" tanya Pak Budi.
Hampir saja Lulu tersedak mendengar pertanyaan Pak Budi. Ternyata kepulangannya karena terlambat sama sekali tidak dipermasalahkan karena mereka berpikir jika Lulu sedang bimbingan olimpiade.
"Ya begitulah Pak. Doakan saja agar semuanya berjalan lancar," jawab Lulu.
"Pasti Bapak doakan. Terima kasih ya Lu. Kamu memang sangat membanggakan. Adik-adikmu pasti termotivasi dengan kegigihanmu," ucap Pak Budi.
Terlalu sulit rasanya menelan makanan yang masih ada dalam mulutnya. Ia meneguk air untuk membantu makanan itu agar terdorong masuk ke dalam perutnya. Mengisi kekosongan di lambungnya karena tidak makan sejak siang tadi.
__ADS_1
Sampai akhirnya makan bersama itu selesai, Bu Sari menghampiri Lulu. Ini tentang ucapan Pak Budi yang hanya sebatas lelucon saat di ruang makan. Namun menjadi pertanyaan tersendiri bagi Bu Sari.
"Boleh Ibu masuk?" tanya Bu Sari saat melihat pintu kamar Lulu terbuka.
Lulu yang sedang merapikan rambutnya segera mempersilahkan ibunya masuk. Mereka berdua duduk di tepi ranjang. Sorot mata Bu Sari yang menatap Lulu tajam membuat Lulu harus berusaha sebisa mungkin agar tetap terlihat tenang.
"Kamu baik-baik saja kan?" tanya Bu Sari.
"Baik. Memangnya kenapa Bu?" Lulu balik bertanya dengan tenang.
"Kenapa Ibu lihat cara berjalanmu berbeda. Apa yang terjadi?" tanya Bu Sari.
Perasaan seorang ibu memang terlalu peka untuk anaknya. Bahkan sebisa mungkin Lulu berjalan seperti biasa, namun tetap saja membuat ibunya curiga. Padahal Lulu sempat senang saat ibunya membela Lulu saat pertanyaan yang sama dilontarkan oleh Pak Budi.
"Aku pikir ibu benar-benar sudah tahu jawabannya," ucap Lulu.
"Kamu benar-benar menggunakan pembalut karena sedang datang bulan?" tanya Bu Sari meyakinkan.
"Iya," jawab Lulu.
"Tapi biasanya juga datang bulan secara rutin. Ini bukan kali pertama kamu datang bulan, Lu. Tapi ibu baru melihat kamu seperti ini," ucap Bu Sari.
Sedetil itu Bu Sari memperhatikan semua gerak gerik dan kebiasaannya. Hati Lulu hancur saat sudah mengecewakan Ibunya. Apalagi saat ini tengah membohongi Bu Sari demi menutupi kesalahannya.
"Ya ampun Lu. Pantas saja jalanmu ngangkang begitu. Cepat ganti. Tidak baik pakai pembalut ditumpuk begitu," ucap Bu Sari.
Begitu besar rasa percaya Bu Sari pada Lulu. Hingga dengan jawaban seperti itu saja dia sudah percaya tanpa menunjukkan kecurigaan berlanjut. Setelah tenang dengan penjelasan Lulu, Bu Sari segera keluar dan membiarkan Lulu beristiraht.
Lulu mengusap dadanya setelah Bu Sari keluar dari kamarnya. Akhirnya ia terbebas dari kecurigaan itu. Namun perasaan bersalah begitu menyelimutinya. Bayangan apa yang sudah ia lakukan bersama Randi siang tadi membuat kepala Lulu merasa sakit hingga akhirnya pingsan.
"Buuuu, Kak Lulu kenapa ini?" teriak Lita.
Lita yang tidak sengaja melihat Lulu tergeletak di atas lantai, berteriak panik. Apalagi saat Lita memegang tangan Lulu yang terasa dingin. Layaknya anak pramuka yang sudah berpengalaman, Lita melakukan pertolongan pertama saat Pak Budi sudah mengangkat Lulu ke atas ranjangnya.
"Emm," ucap Lulu saat mulai sadar karena mencium minyak kayu putih yang dioleskan Lita.
"Kamu kenapa Lu?" tanya Bu Sari.
"Tidak apa-apa Bu. Aku hanya sedikit pusing saja," jawab Lulu.
"Ayo kita berobat, Lu!" ajak Pak Budi.
__ADS_1
Mendengar kata berobat, Lulu panik sendiri. Ia tidak mau jika nanti dokter mengungkapkan bahwa kesuciannya sudah tidak ada. Ah, mau disimpan dimana mukanya.
"Tidak perlu Pak. Aku baik-baik saja. Hanya sedikit pusing saja," ucap lulu.
"Kalau hanya pusing sedikit tidak akan pingsan begini," ucap Pak Budi.
"Pak, mungkin Lulu masih pusing. Jadi susah juga kalau pergi ke puskesmas. Lebih baik Bapak telepon mantri Irwan saja. Biar Lulu diperiksa di sini," ucap Bu Sari.
"Ya sudah kalau begitu," ucap Pak Budi.
Lulu menahan tangan Pak Budi saat beranjak dari tepi ranjang.
"Jangan Pak. Lulu tidak apa-apa. Ini karena Lulu sedang datang bulan hari pertama. Sedang deras-derasnya. Jadi pusing. Lulu juga lelah setelah belajar lebih ekstra," ucap Lulu.
"Tapi kamu harus mimum obat. Bapak tidak mau kamu sakit begini," ucap Pak Budi.
"Lulu hanya perlu istirahat saja. Nanti juga sehat kok Pak," ucap Lulu.
Akhirnya semua keluar dari kamar setelah Lulu meyakinkan jika dirinya sudah jauh lebih baik. Sementara Lulu hanya menatap pintu kamarnya yang sudah tertutup. Tangisnya pecah saat mulai menyesali kejadian siang tadi.
Ponselnya terus bergetar. Panggilan dari Randi tidak ada yang ia jawab satu pun. Saat ini ia memang sedang ingin sendiri. Merenungi kesalahannya dan berjanji untuk tidak mengulangi hal bodoh itu lagi. Meskipun mungkin semua itu sudah terlambat.
Kini ia sudah bukan anak SMK yang normal. Ia sudah menjalani kehidupan dewasa meskipun masih berseragam sebagai anak sekolah. Dadanya sesak saat mengingat setiap kesalahan demi kesalahannya. Tangisnya semakin deras dan membuat mata Lulu bengkak saat bangun pagi.
"Lu, kamu kenapa?" tanya Bu Sari saat melihat keadaan Lulu pagi ini.
"Semalam Lulu menangis Bu. Kepala rasanya sakit banget," jawab Lulu.
Jawaban itu terdengar lancar karena sudah disiapkan sejak Lulu bangun tidur. Menyadari matanya yang bengkak, Lulu sudah tahu jika pertanyaan itu akan keluar dari mulut ayah dan ibunya.
"Ya ampun Lu. Kenapa kamu tidak bangunkan Ibu atau Bapak?" tanya Bu Sari sambil memeluk Lulu.
"Ibu dan Bapak sedang tidur nyenyak. Aku tidak tega membangunkan kalian," jawab Lulu.
"Jangan sungkan. Kami ini orang tuamu. Kami harus tahu keadaan kamu," ucap Bu Sari.
"Kenapa? Masih pusing kepalanya Lu?" tanya Pak Budi.
Bu Sari melepaskan pelukannya dari Lulu. Ia mengusap kepala Lulu dan merapikan rambutnya yang masih berantakan.
"Semalam Lulu pusing lagi Pak. Tapi dia tidak membangunkam kita. Katanya takut mengganggu," ucap Bu Sari dengan suara gemetar karena menahan tangis karena merasa bersalah.
__ADS_1
Lulu jadi merasa bersalah karena kebohongannya lagi-lagi membuat Bu Sari bersedih. Ia semakin sakit saat tahu betapa sayangnya Bu Sari padanya.