LULU

LULU
Ke Danau


__ADS_3

"Bu, maaf ya Lulu sudah membuat ibu sedih. Lulu salah," ucap Lulu sambil menggenggam tangan Bu Sari.


Tangisan Bu Sari pecah. Ia masih merasa sangat bersalah karena membiarkan Lulu merasakan sakit sendirian. Mata Lulu yang bengkak dan kebohongannya sudah berhasil menipu semua anggota keluarga di sana.


"Nanti malam biar aku yang temani Kakak ya," ucap Lita sambil mengusap tangan Lulu.


Lulu ikut menangis saat Lita yang biasanya terkesan cuek ternyata begitu menyayanginya. Bayangan kesalahan itu membuat dadanya semakin sesak.


"Sudah, ini kan masih pagi. Tidak baik menangis dan bersedih begini. Pagi hari itu harus dimulai dengan senyuman dan keceriaan. Ayo sarapan. Nanti lauknya jadi asin kalau kena air mata," ucap Pak Budi.


Bukan tidak sedih. Sebenarnya Pak Budi juga merasakan kesedihan itu. Namun sebagai satu-satunya pria di rumah itu ia harus tetap. tegar dan menghibur anggota keluarganya yang lain.


"Bapak ini bisa saja. Pakai upil juga asin Pak," ucap Lani sambil tertawa.


"Hust, lagi makan kok bahas upil. Jijik," ucap Pak Budi.


"Iya. Lagian kamu tahu dari mana kalau upil itu asin? Udah coba?" tanya Lita.


"Belum. Mau coba gak?" tanya Lani sambil mengupil.


"Diiih, jorooook. Hoeeek," ucap Lita.


Akhirnya Lulu tertawa melihat Lita yang lari ke kamar mandi karena merasa jijik dengan ulah Lani. Sementara Lani sedang tertawa puas melihat Lita. Pak Budi dan Bu Sari pun ikut senang saat melihat Lulu sudah tertawa lagi.


"Lita, cepat kembali. Lanjutkan makannya," ucap Pak Budi.


"Sudah kenyang Pak," teriak Lita dari kamar mandi.


Sarapan dilanjutkan tanpa ada Lita di sana. Diantara anggota yang lain, Lita adalah anak yang paling jijik'an. Padahal ia adalah anak yang aktif di organisasi sekolah. Kadang mereka tidak bisa membayangkan bagaimana Lita menahan rasa jijiknya saat sedang dalam acara sekolah.


Setelah selesai sarapan, Pak Budi mengajak Bu Sari dan ketiga anaknya untuk duduk santai di teras rumah. Rutinitas yang biasa mereka jalanu setiap libur. Namun kali ini Pak Budi terlihat berbeda. Begitu serius namun tersirat wajah bimbang.


"Bapak mau bicara," ucap Pak Budi setelah meneguk air mineral yang dibawanya.


"Ada apa Pak? Kok serius sekali," ucap Bu Sari.


"Ada tawaran kerja Bu. Proyekan besar, namun di luar pulau. Katanya upahnya lebih besar dibanding upah biasanya," ucap Pak Budi.


"Ya syukur alhamdulilah dong Pak. Kenapa Bapak sepertinya tidak bahagia?" tanya Bu Sari.

__ADS_1


"Iya Pak. Nanti kan aku bisa beli skincare mahal biar wajahku bening," ucap Lita.


"Aku juga mau sepatu baru yang bagus itu ya Pak. Yang kemarin aku tunjukkan ke Bapak. Mahal juga mampu beli ya Pak. Kan Bapak nanti banyak uang," ucap Lani.


Hanya Lulu yang tidak menjawab. Lulu terlalu mengerti gurat kesedihan dan kebingungan Pak Budi. Ia hanya diam karena tidak mau jauh dari ayahnya. Biarlah hidup sederhana asal bisa berkumpul seperti ini.


"Tapi Bapak tidak bisa pulang sesering biasanya. Karena kalau diperhitungkan ongkos tiketnya juga mahal. Paling Bapak pulang setahun sekali," ucap Pak Budi.


Semuanya diam. Hal yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Mereka tidak pernah berpisah selama ini. Paling lama mereka berpisah hanya tiga bulan. Itu pun sudah membuat mereka sangat merindukan sosok ayahnya.


"Pak, kan kerjaan di sini juga ada. Katanya Pak Harun tetangga RT sebelah. juga mau bangun rumah anaknya. Bapak ikut kerja di sana saja," ucap Bu Sari.


"Iya Bu. Tapi kalau di Pak Harun kan belum tentu lama waktunya. Upahnya juga sudah ketahuan segitu. Belum lagi nanti Bapak harus nganggur lagi nunggu kerjaan lain," ucap Pak Budi.


Bu Sari diam. Ia menatap wajah ketiga anaknya. Mereka memang masih sangat butuh biaya besar. Tapi kalau sampai setahun tidak pulang, rasanya Bu Sari tidak bisa mengizinkan suaminya pergi.


"Lu, tanggapan kamu gimana? Kamu dukung Bapak kan?" tanya Pak Budi.


Lulu diam. Hatinya campur aduk. Di satu sisi ia memang membutuhkan uang untuk biaya sekolahnya. Meskipun sekolahnya grastis, tapi ada biaya lain yang tidak dicover oleh beasiswa.


"Lulu tidak mau jauh sama Bapak. Apalagi sampai setahun," ucap Lulu.


"Tapi kan biar kita jadi orang kaya," ucap Lani dengan wajah polosnya.


"Gimana Bu?" tanya Pak Budi.


"Tidak tahu Pak," jawab Bu Sari.


Suasana hening. Mereka semua bergelut dengan pikirannya masing-masing. Mungkin hanya Lani yang masih polos dan hanya berpikir untuk menjadi orang kaya.


"Biar nanti malam kita bahas lagi ya! Sekarang Papa mau kita jalan-jalan. Kita liburan," ucap Pak Budi.


"Ayo Pak!" ucap Lani dengan sangat bersemangat.


Mendengar ajakan Pak Budi, Lulu sedikit meyakini jika keputusan ayahnya adalah mengambil pekerjaan itu. Ia segera memeluk Pak Budi sebelum mereka benar-benar berangkat untuk liburan.


"Kamu kenapa?" tanya Pak Budi sambil mengusap kepala Lulu.


"Lulu sayang sama Bapak. Lulu janji, nanti setelah Lulu sukses Bapak tidak akan cape lagi. Lulu akan bekerja buat Bapak," ucap Lulu.

__ADS_1


"Ini tanggung jawab seorang ayah untuk istri dan anaknya. Kamu jangan pernah berpikir untuk balas jasa. Bapak tidak pernah menghitung ini semua sebagai hutang. Bapak tulus memberikan ini sebagai tugas Bapak. Walaupun ini sangat kurang untuk kalian," ucap Pak Budi.


"Tidak Pak. Apa yang Bapak berikan dan lakukan untuk kami, itu sangat berharga. Maaf kalau Lulu membebani Bapak," ucap Lulu.


Tangisan Lulu tidak bisa dibendung lagi. Rasa sakit di dadanya membuat Lulu tidak mau melepaskan pelukannya dari Pak Budi. Pria yang mengajarkannya banyak hal di dunia ini. Cinta pertamanya yang kadang tergeser karena kehadiran Randi.


Rasa sakitnya semakin menjadi saat kesalahannya bersama Randi teringat lagi. Kini ia sadar bahwa Randi bukan pria yang seharusnya ia pertahankan.


Sejak dulu, Lulu selalu berharap jika ia bersuami kelak maka suaminya harus seperti ayahnya. Sangat hangat dan pekerja keras. Bukan hanya itu, Pak Budi juga sangat menjaga keluarganya, orang-orang yang dicintainya.


Lalu Randi? Randi memang sangat hangat. Namun ia masih sekolah, apa yang bisa diberikan Randi jika nanti mereka menikah? Randi juga tidak menjaganya. Randi justru merenggut kesuciannya saat usianya masih belasan tahun.


"Bodohnya aku," gumam Lulu.


Kini Lulu sadar kenapa orang tuanya begitu melarang Lulu untuk berhubungan dengan Randi. Selain keadaan ekonomi mereka yang tidak sepadan, sepertinya orang tua Lulu juga sudah bisa membaca sifat asli Randi yang tidak disadari oleh Lulu.


"Kenapa nangis? Kita kan mau liburan Kak," ucap Lani yang sudah menggendong tas besar di punggungnya.


"Astaga. Kamu mau kemana?" tanya Pak Budi.


"Kita mau liburan kan Pak?" Lani balik bertanya.


"Iya. Tapi ini bawa apa?" tanya Pak Budi sambil membuka isi tas Lani.


Betapa terkejutnya Pak Budi saat di dalam tas itu terdapat beberapa cemilan dan pakaian ganti. Pak Budi memberikan pengertian bahwa liburan yang dimaksud hanya pergi keluar dan beberapa jam saja. Tidak perlu membawa perbekalan sebanyak itu.


"Kak Lita yang suruh aku bawa bekal begini, Pak." Lani menunjuk Lita yang keluar dari dalam kamarnya.


Lita tertawa puas sampai mengguling-guling di lantai. Bu Sari segera memeluk Lani dan menenangkannya. Sebagai seorang ibu, Bu Sari tidak mau saat akan pergi anak bungsunya menangis karena keisengan kakaknya sendiri.


"Bawa cemilan saja ya. Baju gantinya di simpan lagi. Kita mau ke danau. Menemani Bapak mancing sambil main di sana," ucap Bu Sari.


"Iya Bu," ucap Lani dengan penuh kekecewaan.


Saat Lani ke kamarnya untuk menyimpan kembali pakaiannya, Bu Sari mengingatkan Lita agar tidak membuat adiknya menangis. Lita hanya meminta maaf tanpa mengiyakan ucapan Bu Sari. Karena nantinya Lita pasti akan melakukan hal yang sama pada Lani.


Membuat Lani menangis adalah kepuasan tersendiri baginya. Entah siapa yang memberinya contoh karena Lulu tidak pernah membuat Lani menangis seperti itu. Dulu Lulu selalu menjaga Lita dengan penuh kasih sayang. Meskipun Lita selalu membuatnya dihukum oleh Bu Sari karena menangis yang bukan karena perbuatannya.


"Ayo berangkat!" ajak Pak Budi saat semuanya sudah siap.

__ADS_1


Mereka yang hanya mempunyai satu sepeda motor, harus naik angkot agar bisa sampai di danau secara bersamaan. Meskipun liburannya sangat sederhana, namun semua anggota keluarga Pak Budi sangat menikmatinya.


Bahkan Lulu tidak membawa ponselnya. Sengaja karena ia ingin melupakan tentang Randi sejenak. Ia ingin menghabiskan waktunya hanya dengan keluarganya. Untuk foto dan video, ia menggunakan ponsel Lita dan nanti akan di share di grup keluarga.


__ADS_2