LULU

LULU
Rayhan pergi


__ADS_3

Selesai jam pelajaran Randi menunggu Lulu di tempat biasa. Tempat yang menjadi tempat paling indah selama Randi bersekolah. Apalagi saat perjanjian yang sangat menguntungkan untuknya itu dibuat. Namun sudah sepuluh menit dari jam pulang, Lulu tak kunjung datang.


"Lulu kemana sih?" gerutu Randi.


Randi masih sabar menunggu sampai akhirnya sudah lima belas menit ia melewatkan waktunya sia-sia. Sudah habis kesabaran Randi, akhirnya ia menemui Lulu di kelasnya. Namun ia tercengang saat melihat kelas Lulu sudah kosong.


Tidak satu pun siswa yang tersisa di ruangan itu. Randi menghela napas panjang. Ia tidak menyangka jika Lulu akan melupakan tempat itu begitu saja. Dengan rasa kecewa, ia memutuskan untuk pergi tanpa mencoba menghubungi Lulu.


Baru saja sampai di rumah, ia sudah disambut dengan pertengkaran ayah dan Kakaknya. Alasannya tidak lain karena Rayhan tidak mengikuti perkuliahan. Hal yang selalu terulang dan tidak asing di telinga Randi.


"Aku pulang," ucap Randi pelan lalu segera masuk ke kamarnya.


Rasa penatnya bertambah saat dengan keras Bu Desi berteriak mengungkapkan kekesalannya. Rayhan yang tidak terima dengan teguran ayah dan ibunya akhirnya berontak. Terdengar nyaring di telinga Randi saat sebuah gelas yang hancur berkeping menghantam lantai.


"Mama," ucap Randi.


Dengan cepat Randi segera keluar dari kamar dan menyaksikan Rayhan berontak. Anak yang selalu dibela dan dilindungi oleh kedua orang tuanya, kini sudah berani melawan. Ada apa ini? Benarkah hanya karena bolos kuliah?


"Bang, ini Mama. Kenapa abang sekasar ini di depan Mama?" tanya Randi sambil memeluk Bu Desi yang sedang menangis.


"Mama selalu saja menuntutku untuk ini dan itu. Aku cape Ran. Hidupku banyak aturan," ucap Rayhan.


"Bang, selama ini Mama dan Papa begitu bangga sama abang. Tolong jangan begini," ucap Randi.


"Aku cape Ran. Kamu tidak tahu rasanya jadi aku," ucap Rayhan.


"Cukup Ray. Kalau kamu cape, berhenti. Lakukan apa yang kamu mau. Apapun. Tapi jangan pernah menginjakkan kaki lagi di rumah ini," ucap Pak Halim tegas.


"Ok. Aku akan pergi. Mulai detik ini juga jangan pernah mencariku lagi. Apapun alasannya," ucap Rayhan dengan nada berapi-api.


Rayhan segera pergi dengan napas yang memburu. Amarahnya tengah menguasai kesadarannya. Ia sama sekali tidak memikirkan apapun kecuali kekesalannya.


"Rayhan, berhenti. Kembali," teriak Bu Desi.


"Biarkan dia pergi Ma. Anak itu sudah keterlaluan," ucap Pak Halim.


Saat Bu Desi berdebat dengan Pak Halim, Randi segera pergi menyusul Rayhan. Sebanyak apapun masalahnya dengan Rayhan, ia tidak mau kehilangan Rayhan. Ia menginginkan Rayhan tetap ada di rumah itu.


"Bang, bang." Randi berteriak menyusul Rayhan yang bersiap pergi entah kemana.


Rayhan yang menjinjing sebuah tas berisi beberapa setel pakaian pun menoleh. Ia hanya menatap Randi sebentar lalu kembali membuka mobilnya.


"Bang, tunggu." Randi menarik tangan Rayhan.


"Apa lagi sih? Bukannya kamu senang kalau aku tidak di rumah? Artinya hanya kamu satu-satunya anak mereka. Kebanggaan mereka," ucap Rayhan sambil mendengus kesal.

__ADS_1


"Aku sama sekali tidak menginginkan hal itu. Selama ini aku memang selalu dianggap nomor dua. Tapi aku aku tidak mau jika aku dianggap nomor satu hanya karena kepergian abang," ucap Randi.


"Kamu tidak dengar apa yang Papa katakan tadi hah?" ucap Rayhan sambil menarik kerah seragam Randi.


"Semua bisa kita bicarakan Bang," ucap Randi.


"Basi," ucap Rayhan kesal.


Rayhan melepaskan kerah baju Randi dan segera masuk ke dalam mobil. Randi terus berteriak bertanya kemana dia akan pergi. Namun ia bungkam seribu kata. Bukan hanya sedang tidak ingin bicara, tapi ia sendiri bingung dengan apa jawaban yang harus ia keluarkan. Bahkan ia sendiri tidak tahu harus pergi kemana.


Randi memegang kepalanya saat melihat mobil Rayhan semakin menjauh. Ia kesal dengan dirinya sendiri yang tidak bisa berbuat apa-apa. Ia benar-benar merasa tidak berguna. Apalagi sampai akhirnya Bu Desy harus dilarikan ke rumah sakit.


"Randi, jaga Mama sebentar. Papa akan keluar dulu. Ada urusan pekerjaan," ucap Pak Halim.


"Iya Pak," jawab Randi.


Ia duduk di tepi ranjang. Mengamati ibunya yang masih terbaring dengan lemah. Bu Desi memang sudah sadar, namun saat ini ia tertidur karena sempat diberi obat penenang karena sempat tidak bisa mengendalikan diri.


"Ma, sehat ya. Ada aku di sini. Aku yakin bang Rayhan akan pulang," ucap Randi pelan sambil mengusap tangan ibunya.


Randi segera mengeluarkan ponsel. Ia mencoba menghubungi Rayhan. Namun sayangnya nomor itu sudah tidak aktif lagi. Entah memang sengaja di nonaktifkan, atau justru Randi sendiri yang tidak tahu kalau nomor Rayhan sudah diganti.


Mereka memang tinggal satu rumah, tapi tidak saling berkomunikasi. Semenjak kuliah Rayhan memang berubah. Perubahannya kian hari kian memburuk. Hal itu yang membuat perseteruan semakin menegang.


Randi segera menutup mulutnya. Ibunya memang sedang tertidur. Tapi ia tidak mau kalau tiba-tiba ibunya bangun dan mendengar apa yang mereka bicarakan. Akhirnya Randi memilih untuk keluar dan menjawab panggilan itu dari balik pintu ruangan ibunya di rawat.


"Kamu kenapa tadi tidak ke tempat biasa?" tanya Randi saat panggilan tidak terhubung.


"Kamu dimana sih? Kenapa ngomongnya bisik-bisik?" tanya Lulu.


Saat tahu jika Bu Desi sedang masuk rumah sakit, Lulu sangat terkejut. Bahkan ia menawarkan diri untuk menemani Randi di rumah sakit. Namun Randi melarangnya. Ia tidak mau kondisi ibunya semakin drop karena kehadiran Lulu di sana. Seperti yang Randi tahu kalau ibunya tidak setuju dengan hubungan mereka berdua.


Lulu juga meminta maaf karena ia langsung pulang tanpa memberi kabar pada Randi Tadi ayahnya menjemput Lulu lebih awal karena kebetulan lewat sekolah setelah ada urusan.


"Aku pikir kenapa. Oh ya Lu, sepertinya besok aku izin tidak masuk sekolah. Tolong buatkan surat ya!" ucap Randi.


"Ekhem," dehaman Pak Halim membuat jantung Randi hampir copot.


Beruntung Randi bisa menguasai ketegangannya. Ia hanya melirik sebentar ke arah Pak Halim dan melanjutkan obrolannya dengan Lulu.


"Lu, sudah dulu ya! Nanti aku telepon lagi," ucap Randi mengakhiri panggilannya.


Di balik telepon, Lulu menatap layar ponselnya dengan wajah bingung. Ia tidak mengerti kenapa Randi mengakhiri teleponnya begitu saja. Namun ia yakin ada hal yang terjadi di sana.


Sebuah pesan Lulu kirimkan untuk menjawab pertanyaannya. Namun sayangnya Randi tidak membalasnya. Randi sendiri bukan tidak ingin membalas pesan Lulu. Namun ayahnya sedang berada di dekatnya. Mengintrogasi perihal sebutan "Lu" saat sedang menelepon.

__ADS_1


"Itu Luki Pah. Tadi aku memintanya untuk membuatkan surat. Besok aku tidak masuk sekolah. Aku mau menemani Mama di sini," ucap Randi tenang.


"Masa ngobrol sama Luki sampai lembut begitu?" tanya Pak Halim.


"Masa minta tolong harus sambil marah-marah sih Pah? Lagi pula aku tidak punya tenaga buat marah-marah. Rasanya aku lemas sekali melihat keadaan Mama," ucap Randi.


Ucapan Randi berhasil mengalihkan bahasan tentang Luki. Pak Halim segera mengajak Randi untuk melihat keadaan Bu Desy saat ini. Mereka masih melihat wanita itu tertidur pulas di bawah pengaruh obat.


"Pah, sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Randi.


"Ah sudahlah. Dia itu memang tidak tahu diri. Dikuliahkan di tempat bagus tapi selalu saja bolos," jawab Pak Halim.


"Hanya karena bolos Mama sampai pingsan begini?" tanya Randi.


"Kamu ini kalau dikasih tahu kok tidak percaya? Kalau kamu tidak percaya, tanya sana sama abangmu yang kurang ajar itu," ucap Pak Halim kesal.


Dengan jawaban Pak Halim, Randi semakin yakin jika sebenarnya ada masalah lain selain bolos ke kampus. Tidak mungkin masalahnya sampai seberat ini kalau hanya soal bolos. Tapi apa yang sebenarnya terjadi? Randi begitu penasaran namun sayangnya ia tidak tahu harus mencari informasi kemana.


Mungkin nanti setelah ibunya sembuh Randi akan mencari tahu ke kampus tempat Rayhan kuliah. Ia berniat untuk membuat Rayhan kembali ke rumah. Berkumpul bersama lagi dengan ayah dan ibunya.


"Rayhan, rayhan," panggil Bu Desi dengan suara parau.


Randi spontan menatap Pak Halim yang justru tertunduk saat mendengar istrinya memanggil nama Rayhan. Salah satu anaknya yang sudah membuat mereka kecewa. Anak yang selalu mereka banggakan namun akhirnya memberikan rasa sakit luar biasa.


"Ma, Bang Ray nanti pulang. Mama cepat sembuh ya!" ucap Randi sambil mengusap tangan Bu Desi.


Nama Rayhan terus dipanggil oleh Bu Desi. Matanya terpejam namun bibirnya terus memanggil nama Rayhan. Di satu sisi ia merasa ada sakit saat kehadirannya tidak dianggap sama sekali. Tapi ia harus mengesampingkan perasaannya. Ada hal yang jauh lebih penting dibanding memikirkan perasaannya.


"Ran, jangan menyebut nama anak itu lagi. Mama harus berusaha untuk melupakan dia," ucap Pak Halim.


Melupakan? Bagaimana mungkin seorang ibu dengan begitu mudahnya bisa melupakan anaknya. Anak yang sudah puluhan tahun ia rawat dengan penuh kasih sayang. Namun Randi memilih bungkam. Percuma ia menjelaskan abc dalam kondisi seperti ini.


"Lebih baik Papa tidur. Istirahat duluan. Nanti gantian jaga," ucap Randi.


Pak Halim mengikuti apa yang Randi ucapkan. Ia memang sudah sangat lelah. Amarahnya membuat tubunnya jauh lebih lelah dibanding dengan biasanya. ia segera merebahkan tubuhnya di atas sebuah sofa. Sedangkan Randi masih tetap duduk di samping ranjang ibunya.


Tangannya dengan lincah menghubungi Lulu. Mengabarinya alasan telepon itu ia akhiri begitu saja. Malam ini tidak ada telepon seperti biasanya. Hanya chattingan karena Randi tidak mau ayahnya curiga.


"Ran, belum tidur?" tanya Bu Desi.


Randi yang tengah tersenyum dengan ponselnya segera mengangkat wajahnya. Ia segera memeluk Bu Desy dengan penuh kasih sayang.


"Maafkan aku ya Ma. Aku janji akan membahagiakan Mama," ucap Randi.


Tidak ada jawaban. Hanya ada isak tangis yang terdengar. Penyesalan Bu Desi karena sudah memperlakukan Rayhan dan Randi berbeda membuatnya merasa malu. Sakit rasanya saat anak yang ia banggakan ternyata membuatnya berbaring di rumah sakit. Justru Randi yang kini menemaninya. Mencoba menghilangkan rasa sakit atas sikap Rayhan padanya.

__ADS_1


__ADS_2