
Pagi ini Lulu dengan semangat berangkat ke sekolah. Orang pertama yang Lulu cari adalah Randi. Saat matanya sudah menemukan sosok pria tampan pujaan hatinya, ia segera bergelayun manja di lengan Randi.
"Sudah sarapan?" tanya Randi.
Lulu mengangguk. Ya, Lulu memang tidak pernah absen untuk sarapan.Karena dalam keluarganya, Lulu selalu sarapan bersama sebelum semua sibuk dengan aktivitas masing-masing.
"Tapi aku belum sarapan. Temani aku mau ya?" ucap Randi.
"Biasanya juga begitu. Ayo sebentar lagi masuk," ucap Lulu sambil menarik tangan Randi.
"Apanya yang masuk? Pagi-pagi kamu sudah bahas soal masuk. Kepalaku jadi travelling kemana-mana. Tanggung jawah loh," bisik Randi.
Darah Lulu berdesir tidak karuan. Hembusan napas Randi yang menerpa lehernya membuat Lulu harus menelan salivanya. Lulu memang anak polos. Tapi ia sudah kelas dua SMA. Tentu sudah mengerti bahasan tentang hal seperti itu.
"Kamu kok ngomongnya begitu sih?" tanya Lulu sambil memegang dadanya yang tengah berdegup kencang.
"Begitu apa?" tanya Randi.
"Itu tadi kamu bahas itu," jawab Lulu.
"Maksudku perutku sudah lapar. Kamu harus bertanggung jawab untuk menemaniku agar makanan bisa masuk ke dalan perutku. Temani aku makan sampai kenyang. Oke?" ucap Randi mencoba mengalihkan bahasan itu.
Lulu tahu itu adalah sebuah alasan saja. Tapi paling tidak, Randi sudah berhenti membahas hal itu lagi. Lulu mengikuti langkah Randi saat tangannya di genggam erat oleh pria tampan yang jadi incaran kaum hawa itu.
"Duduk di sini cantik. Aku mau ke toilet dulu," ucap Randi sambil membantu Lulu untuk duduk di sudut kantin.
Randi menatap tajam semua orang yang tengah memperhatikan keberadaan mereka berdua. Semua yang melihat tatapan tajam Randi segera menunduk. Mereka tahu kalau tatapan itu adalah sebuah ancaman agar kejadian seperti saat itu tidak terulang lagi.
Kebersamaan Randi dan Lulu memang selalu jadi pusat perhatian. Banyak yang iri karena Lulu bisa menjadi pacar Randi sejak mereka masuk SMK. Sempat terjadi baku hantam antara Randi dengan beberapa orang kakak kelasnya dulu saat mereka mengejek Lulu yang dinilai tidak tahu diri.
Sementara para siswi hanya bisa menatap iri melihat bagaimana Randi memperlakukan Lulu bagaikan seorang putri. Randi selalu setia kepada Lulu. Keadaan Randi dengan ekonomi yang tidak perlu diragukan lagi, tidak membuatnya seenaknya menyakiti hati Lulu.
Sudah dua tahun bersama, hanya Lulu yang ada di hati Randi. Meskipun keduanya kerap bertengkar karena banyak hal, Randi selalu meminta maaf dan menyelesaikan semua masalahnya dengan Lulu. Hal itu juga yang membuat Lulu tidak bisa melepaskan Randi dalam hidupnya.
"Kamu tidak diganggu siapapun kan?" tanya Randi saat sudah kembali dari toilet.
"Tidak. Kamu jangan berlebihan begitu Ran. Yang ada aku semakin di bully nanti," ucap Lulu.
"Kalau sampai ada yang berani membullymu, aku pastikan dia akan menyesal seumur hidupnya," ucap Randi.
"Jangan bicara seperti itu. Aku tidak suka," ucap Lulu.
Itu adalah cara Randi membuktikan kalau ia benar-benar mencintai Lulu. Ia tidak akan membiarkan wanita yang sangat ia cintai diganggu oleh siapapun.
Setelah bel sekolah, keduanya segera pergi meninggalkan kantin. Satu sekolah namun mereka berbeda jurusan. Membuat mereka benar-benar memanfaatkan waktu diluar jam sekolah sebaik mungkin.
"Nanti istirahat aku mau bicara sebentar ya!" ucap Lulu saat sudah dekat pintu kelas.
"Apa?" tanya Randi mengehentikan langkahnya.
"Nanti saja pas istirahat ya!" ucap Lulu.
"Eh tunggu dulu!" ucap Randi sambil menarik tangan Lulu.
"Lulu, cepat masuk!" panggil seorang guru dari dalam kelas.
"Iya Bu," ucap Lulu sambil melepaskan tangan Randi.
__ADS_1
Randi segera ke kelas setelah mengantarkan Lulu ke kelasnya. Ia akan memastikan Lulu masuk ke kelas dengan aman dan tidak ada yang mengganggunya.
Apa sih yang mau dia bahas?
Saat pergantian guru pelajaran, Randi berusaha keluar kelas. Baru beberapa langkah ia keluar, panggilan seorang guru sudah menghentikan langkahnya. Randi segera kembali ke kelas.
Jam istirahat membuat Randi terlihat sangat girang. Ia segera keluar kelas dan menemui Lulu. Saat itu Lulu masih di kelas dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Lu, kamu kenapa? Sakit?" tanya Randi yang berusaha melepaskan tangan Lulu dari wajahnya.
"Ran, kamu sudah istirahat juga?" tanya Lulu yang terkejut dengan kedatangan Randi.
"Ya ampun Lu. Kita ini cuma beda kelas. Kamu nanya seperti ke orang yang beda negara saja," ucap Randi.
Lulu hanya tersenyum mendengar ucapan Randi. Ia kembali gelisah saat Randi bertanya tentang hal apa yang akan ia sampaikan.
"Jangan di sini ya!" ucap Lulu.
Randi mengangguk dan membawa Lulu ke tempat dimana mereka biasa bicara berdua. Sesuai dengn idenya, Lulu menyampaikan semua rencananya. Alih-alih didukung, Randi justru menatapnya tajam.
"Ini semua untuk kebaikan kita juga, Ran." Lulu berusaha menjelaskan alasannya pada Randi.
Sayangnya Randi menolak ide Lulu tersebut. Bagi Randi itu hanya sebuah ide gila saja. Ia sama sekali tidak bisa menerima ide Lulu.
"Nanti kalau kamu dijodohkan sama orang lain gimana?" tanya Randi.
"Siapa yang mau menjodohkan? Tidak ada perjodohan Ran," jawab Lulu.
"Belum. Bukan tidak ada, tapi belum." Randi berusaha menahan amarahnya.
"Apa jaminannya kalau kamu tidak akan dijodohkan?" tanya Randi.
"Aku akan menolak kalaupun ada perjodohan itu. Di hatiku hanya ada kamu. Lagi pula kita masih bisa bersama kan?" ucap Lulu.
Lulu menatap wajah Randi dengan penuh ketulusan. Ia berusaha meyakinkan Randi jika semua yang ia lakukan adalah untuk kebaikan bersama. Setelah melewati perdebatan panjang lebar, akhirnya mereka sepakat untuk menjalankan ide Lulu. Meskipun Randi masih kesal dengan adanya ide gila itu.
"Aku masih sangat mencintaimu dan akan selalu seperti itu. Tolong jangan sampai mengecewakanku Lu. Aku tidak bisa kehilanganmu," ucap Randi sambil menggenggam tangan Lulu.
"Apa yang kamu rasakan adalah hal yang aku rasakan juga. Jadi kamu jangan khawatir ya!" ucap Lulu.
Sebuah kecupan singkat mendarat di bibir Lulu. Dengan cepat Lulu mendorong tubuh Randi. Lulu segera mengusap bibirnya dan mengedarkan pandangan ke sekitar.
"Ini di sekolah Ran. Untung tidak ada yang melihat kita," ucap Lulu gugup.
"Jadi aku bisa melakukan itu dimana?" tanya Randi sambil mengusap lembut pipi Lulu.
"Ran, jangan begitu. Aku tidak mau dipanggil BP," ucap Lulu.
"Iya, iya. Tenang saja aku masih bisa tahan kok," ucap Randi.
Bel masuk kelas membuat keduanya bergegas masuk ke kelasnya masing-masing. Ah seperti biasa, Randi mengantar Lulu ke kelas baru ia masuk ke kelasnya sendiri.
Lagi-lagi perlakuan Randi mencuri perhatian teman sekelas Lulu. Tidak ada satupun pandangan yang lepas dari mereka berdua. Sampai akhirnya Lulu masuk ke kelas dan duduk terdiam.
Jujur saja Lulu tidak nyaman dengan keadaan seperti itu. Ia juga ingin berteman dan main bersama teman-teman sekelasnya. Hanya saja mereka semua membatasi diri karena takut Randi akan bersikap seenaknya jika terjadi sesuatu pada Lulu.
Sampai jam pelajaran sudah selesai, Randi sudah menunggunya di luar. Lulu menatap Randi dengan wajah bingung.
__ADS_1
"Ayo aku antar pulang," ajak Randi.
"Aku kan mau bilang kalau kita sudah putus. Masa kamu mau mengantarku pulang?" tanya Lulu.
"Jadi aku tidak boleh mengantarmu pulang?" Randi bertanya.
Lulu menggeleng.
"Tidak sampai rumah kok. Aku antar sampai depan gang ya!" bujuk Randi.
"Ran, nanti kalau ada yang lihat gimana? Semuanya bisa kacau," ucap Lulu.
"Terus kamu pulang sama siapa?" tanya Randi.
"Aku naik angkot," jawab Lulu.
"Angkot?" tanya Randi.
"Iya," jawab Lulu sambil mengangguk.
"Tidak, tidak. Nanti. kamu duduknya dempet-dempetan sama laki-laki. Ayo aku yang antar saja," ucap Randi.
"Ran, aku mau hubunganku sama kamu tetap baik-baik saja. Begitupun aku dan keluargaku," ucap Lulu.
"Jadi kamu mau dempet-dempetan sama laki-laki lain?" tanya Randi.
"Tadi kan kita sudah bicara baik-baik dan kamu juga sudah setuju," ucap Lulu.
Randi menahan kekesalannya. Ia merasa Lulu sudah berubah. Kini banyak aturan yang membuatnya jadi susah untuk bersama. Jangankan main keluar seperti orang pacaran pada umumnya, mengantarkan pulang saja sudah tidak boleh.
"Ya sudah ayo naik angkot," ucap Randi.
Lulu tersenyum mendengar ucapan Randi. Namun hanya sebentar. Karena Randi menyewa satu angkot hanya untuk mengantar Lulu ke rumahnya. Ia tidak mau ada penumpang lain yang ikut. Bukan hanya itu, Randi juga mengikuti angkotnya dan memastikan jika Lulu baik-baik saja sampai turun dari angkotnya.
"Astaga Randi," ucap Lulu sambil menepuk dahinya.
"Itu pacarnya ya Neng? Wah, hebat. Pacar neng keren, seperti di film-film. Romantis sekali. Tapi ngomong-ngomong kenapa neng tidak ikut saja sama pacarnya?" tanya sopir angkot.
Lulu tidak menjawab pertanyaan sopir angkot yang menurutnya sudah terlalu kepo. Melihat tatapan Lulu yang tidak suka dengan pertanyaan itu, sopirnya meminta maaf dan bungkam.
"Terima kasih," ucap Lulu.
Dengan cepat Lulu pergi tanpa mendengar sopit itu menjawab ucapannya. Ia sudah harus segera sampai di rumah sebelum orang tuanya banyak bertanya alasan keterlambatannya.
"Lu," panggil Randi setengah berteriak.
"Huust," ucap Lulu sambil menempelkan telunjuk di bibirnya.
Randi tidak bisa berbuat banyak selain membalas lambaian tangan Lulu sebelum akhirnya ia berlari semakin menjauh. Dengan perasaan kecewa, Randi pulang ke rumah dengan motor mewahnya.
Dalam perjalanan, Randi memikirkan kelanjutan hubungannya dengan Lulu. Ia semakin iri saat berpapasan dengan Wisnu yang tengah mengantar pulang pacarnya. Berbeda dengan Lulu, pacar Wisnu selalu manja dan memeluk mesra saat berboncengan.
"Ah, kenapa kamu berbeda sih Lu? Kurang apa aku sama kamu?" gumam Randi.
Kegelisahannya terbawa sampai ke rumah, hingga kedua orang tuanya bertanya apa alasan wajah Randi ditekuk seperti itu. Seperti Lulu, ia juga menjawab hal yang sama dengan ide yang sudah disepakati dengan Lulu.
"Aku baru putus sama Lulu," jawab Randi.
__ADS_1