
Pak Halim terbangun saat mendengar Randi dan Bu Desi saling bercerita. Ia tidak langsung menghampiri mereka. Masih dengan posisi tertidur ia mencoba mendengar apa yang dibicarakan oleh keduanya. Matanya boleh terpejam, tapi ia sedang berusaha menajamkan telinganya.
"Aku akan berusaha membahagiakan Mama sebisaku. Aku janji," ucap Randi.
Getaran di dada Pak Halim membuatnya tidak sanggup menahan diri. Ia segera bangun dan menghampiri keduanya. Menepuk bahu Randi dan ikut berbincang di sana. Ia tersenyum senang saat melihat istrinya sudah jauh membaik.
"Papa terganggu ya?" tanya Randi.
"Maafkan Mama ya Pah. Kita ngobrolnya kurang pelan," ucap Bu Desi menambahkan.
"Ah tidak. Papa justru senang melihat Mama sudah membaik," ucap Pak Halim.
Pak Halim meminta Randi untuk membiarkan ibunya beristirahat. Menurutnya, Bu Desi tidak perlu berlarut dulu dalam kesedihan. Harapannya adalah mengembalikan keceriaan istrinya secepat mungkin.
"Ran, bisa tolong keluar sebentar belikan Papa minum. Papa sangat haus," ucap Pak Halim.
"Oh ya boleh Pah," ucap Randi.
Tidak lama Randi keluar kamar untuk membeli minum. Namun selang beberapa detik, Pak Halim meminta izin untuk keluar sebentar. Ada telepon dari perusahaan.
"Tidak bisa diangkat di sini ya Pah?" tanya Bu Desi.
"Sebentar saja Ma. Ini urusan laporan proyek," jawab Pak Halim.
Bu Desy mengangguk meskipun dengan wajah yang kecewa. Jujur saja, hatinya begitu takut. Banyak sekali terdengar kabar bahwa para pemborong proyek menikah lagi. Beristri lebih dari satu tanpa sepengetahuan istri pertamanya.
Tapi ketakutan Bu Desi salah. Pak Halim memang tidak menelepon orang-orang di perusahaan. Ia juga memang bukan membahas tentang pekerjaan. Namun ia menelepon Randi.
"Dimana kamu?" tanya Pak Halim.
"Di kantin. Papa mau pesan apa lagi?" Randi balik bertanya.
Rupanya Pak Halim sengaja meminta Randi untuk keluar dari kamar. Tidak benar-benar meminta anaknya untuk membelikannya minuman, ia hanya mencari waktu agar bisa bicara berdua.
Pak Halim meminta agar Randi tidak lagi membahas tentang Rayhan. Ia tidak mau jika setiap kali mendengar nama Rayhan, rasa kecewa dan sakit hati ibunya muncul kembali. Saat ini ia benar-benar membebankan kebahagiaan Bu Desy pada Randi. Hanya Randi yang bisa diharapkan saat ini.
"Jadi Papa memintaku keluar untuk bicara ini?" tanya Randi.
"Mama tidak boleh tahu kalau Papa memintamu melakukan ini. Kamu bisa kan membantu Papa?" ucap Pak Halim penuh harap.
"Iya Papa tenang saja. Aku tidak akan membuat Mama kembali bersedih," ucap Randi.
Tidak ingin membuat istrinya curiga, Pak Halim segera kembali ke ruangan setelah selesai menelepon dengan Randi. Ia melihat istrinya memalingkan wajahnya saat masuk.
__ADS_1
"Mama kenapa? Marah? Papa cuma sebentar kan?" tanya Pak Halim sambil mengusap kepala Bu Desi.
"Papa selingkuh ya?" tanya Bu Desi tanpa menatap wajah suaminya.
"Hah? Mama ini ada-ada saja. Mana mungkin Papa selingkuh," jawab Pak Halim dengan pasti.
"Kenapa Papa tidak menelepon di depan Mama saja? Serahasia apa sih Pah urusan pekerjaannya?" tanya Bu Desi.
"Astaga Ma, jangan berpikiran buruk. Papa hanya tidak ingin Mama ikut pusing dengan pekerjaan Papa," jawab Pak Halim.
Saat keduanya berdebat, Randi datang membawakan air mineral yang dipesan ayahnya. Ia dengan polosnya segera menghampiri mereka dan memberikan pesanan ayahnya.
"Mama, aku punya sesuatu untuk Mama. Coba Mama tebak mau saku kiri atau kanan?" tanya Randi sambil memasukkan tangannya ke dalam saku.
"Kamu punya apa?" tanya Bu Desi.
"Mama pilih saja," jawab Randi sambil tersenyum.
"Kanan," jawab Bu Desi sambil menunjuk saku kanan Randi.
"Ini buat Mama," ucap Randi sambil memberikan sebungkus cokelat yang biasa diberikan Bu Desi padanya.
"Dari mana kamu punya ini?" tanya Bu Deso sambil mengambil cokelat itu.
Air mata mulai berlinang. Bu Desi kembali pada masa lalunya yang begitu lampau. Saat Randi masih duduk di bangku SD. Cokelat itu selalu ia bawa setiap kali pulang ke rumah. Oleh-oleh untuk kedua anaknya. Tapi sekarang anaknya tinggal satu. Rayhan sudah pergi entah kemana.
"Ma, kok malah nangis?" tanya Randi bingung.
Kebingungannya kian bertambah saat melihat Pak Halim sudah menatapnya tidak suka. Padahal ia baru diingatkan agar tidak mengingatkan ibunya pada Rayhan. Ia tidak menyangka jika maksud hatinya untuk menghibur ternyata disalahartikan.
"Mama tidak apa-apa kok," ucap Bu Desi.
Malam ini Randi menghabiskan malamnya dengan perasaan tidak enak. Beberapa kali ia menangkap sorot mata tajam dari ayahnya. Ingin rasanya ia membela diri dan tidak bermaksud untuk mengingatkan ibunya pada Rayhan. Tapi apa daya, ia tidak bisa bicara berdua dengan ayahnya.
Sampai akhirnya ia tidak tahu kapan ia benar-benar terlelap. Ia baru tersadar pagi hari saat ayahnya membangunkannya. Pak Halim pamit untuk pergi mengontrol beberapa proyek yang berlangsung tidak jauh dari rumah sakit.
"Kamu jaga ibumu. Awas kalau macam-macam," ucap Pak Halim.
"Iya," jawab Randi dengan suara serak.
Belum terkumpul semua kesadarannya, ayahnya sudah mengancamnya. Ah, ini menjadi awal yang buruk di hari ini bagi Randi. Tapi tak apa. Ia akan memperbaiki semuanya. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk mengembalikan keceriaan ibunya.
Hari terus beranjak. Kini mentari sudah menyinari bumi kian terik. Setelah dokter memeriksa keadaan Bu Desi, akhirnya dokter memutuskan bahwa Bu Desi sudah boleh pulang.
__ADS_1
"Terima kasih banyak Dokter," ucap Randi.
Setelah mendapat kabar bahagia itu, Randi mencoba menghubungi ayahnya. Namun nomor ponselnya tidak aktif. Randi mendesah bingung. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Ini pertama kalinya ia harus bertanggung jawab penuh atas keadaan ibunya.
"Aku harus bisa menyelesaikan semua ini sendiri," gumam Randi menyemangati dirinya sendiri.
Bermodal tanya sana dan sini, akhirnya Randi berhasil membawa ibunya kembali ke rumah. Ia pun berbohong tentang ayahnya. Ia mengatakan jika ayahnya sedang ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan. Padahal ia sendiri tidak tahu apa yang sedang ayahnya kerjakan.
"Ran, Papa pulangnya kapan?" tanya Bu Desi.
"Mungkin sore atau malam Ma," jawab Randi asal.
Karena ia sendiri tidak tahu kapan ayahnya akan kembali ke rumah. Ia menemani ibunya sampai jam pulang sekolah tiba. Setelah tahu kalau Lulu sudah pulang, ia meminta izin untuk istirahat di kamarnya. Modus yang ia gunakan untuk bisa menelepon dengan wanita pujaannya itu.
"Lu, dimana?" tanya Randi sambil berbisik.
"Masih di sekolah," jawab Lulu.
"Hah? Kenapa? Nunggu aku? Aku kan tidak sekolah," ucap Randi.
"Eh, percaya dirinya dikurangi tuh." Lulu tertawa sambil menggelengkan kepalanya.
"Lagian jam segini masih di sekolah. Pulang sana. Nanti mertuaku marah," ucap Randi.
"Mertua, mertua. Belum nikah woy," ucap Lulu sambil tersenyum lebar.
Hati Lulu selalu berbunga saat Randi selalu meyakinkannya jika mereka akan menikah dan bahagia suatu saat nanti. Tidak ada yang membuatnya sebahagia ini selain gombalan Randi. Setiap kalimat manis yang terdengar di telinganya selalu berhasil membuat dadanya berdebar.
"Eh sudah dulu ya. Nanti aku telepon lagi," ucap Lulu.
Tanpa disetujui, Lulu segera mengakhiri panggilannya. Meninggalkan Randi yang terpaku menatap ponselnya yang sudah tidak lagi terhubung dengan panggilan Lulu. Randi belum mendapat jawaban atas pertanyaannya. Apa alasan Lulu masih di sekolah sampai saat ini?
"Wisnu. Mungkin dia tahu kenapa Lulu belum pulang," gumamnya.
Dengan cepat ia mencoba menghubungi Wisnu. Namun sayangnya panggilannya ditolak. Randi memukul ponselnya kesal. Ia kembali menghubungi Wisnu. Kali ini panggilannya tidak ditolak, namun Wisnu mengabaikan panggilannya.
"Kemana sih dia?" ucap Randi kesal.
Tiba-tiba sebuah pesan diterima oleh Randi. Wisnu memintanya untuk tidak mengganggu. Kepala Randi langsung berpikir kotor. Ia menduga jika saat ini Wisnu sedang berulah dengan pacarnya.
"Astaga Nu, kamu benar-benar keterlaluan. Sudah semakin berani saja," ucap Randi sambil menggelengkan kepalanya.
Ya, akhir-akhir ini Randi memang sering mendengar jika Wisnu selalu memanfaatkan waktu yang ada dengan pacarnya. Namun ia merasa waktu itu semakin kerap dan membuatnya khawatir. Sempat beberapa kali mengingatkan Wisnu, namun sahabatnya itu tidak menggubrisnya.
__ADS_1