
Selesai makan, Wisnu datang. Ia tersenyum melihat Randi yang sudah terlihat lebih tenang. Ia tahu betul jika kedatangan Lulu memang sudah menyelesaikan semua kegelisahan Randi saat ini. Meskipun ia juga yakin kegelisahan itu akan dimulai kembali saat ia sudah pulang.
"Apa senyum-senyum?" tanya Randi sambil memalingkan wajahnya.
"Cieee, yang sudah kenyang lahir batin. Enak ya," goda Wisnu.
"Sialan," ucap Randi sambil melemar bungkus nasi padang.
Wisnu hanya tertawa melihat Randi yang salah tingkah. Walaupun kadang mereka berbeda pendapat, namun keduanya selalu menjadi teman yang tepat untuk bercerita. Bahkan ia menjadi orang pertama yang tahu setiap kali Randi memiliki masalah di rumahnya.
"Nu, si Lulu kamu yang suruh ke sini ya?" tanya Randi setelah selesai mencuci tangan.
"Iya. Mana bonusnya," pinta Wisnu sambil menengadahkan tangannya.
Randi memasukkan tangannya ke dalam saku celana kiri dan kanan bergantian. Wisnu sudah mengolok-olok Randi karena biasanya hanya berusaha membuat Wisnu senang saja.
"Nih," ucap Randi.
Selembar uang seratus ribu berada di tangan Wisnu. Mata Wisnu membulat sempurna. Uang seratus ribu di tanggal tua bagaikan mutiara yang nampak berkilau.
"Serius ini?" tanya Wisnu.
"Hemm," jawab Randi.
Wisnu memutar uang yang Randi berikan berkali-kali. Ia mengamati uang yang ada di tangannya. Tidak biasanya Randi seperti ini. Karena selama mengenal Randi, Wisnu tidak pernah menerima uang apapun dari sahabatnya itu. Setiap kali ia butuh sesuatu, Randi biasanya membelikan barang itu. Bukan memberinya dalam bentuk uang.
"Ini asli kan? Bukan uang mainan kan?" tanya Wisnu sambil menatap Randi penuh curiga.
"Sini kalau tidak mau," ucap Randi.
Randi berniat mengambil uang itu dari tangan Wisnu, namun dengan cepat Wisnu segera mengamankan uang itu. Ia tertawa melihat wajah Wisnu yang begitu bahagia dengan uang yang ia berikan.
Setelah kejadian Itu, Randi yakin jika ia tidak di rumah maka kebahagiaan itu selalu bersama dengannya. Namun saat di rumah, ada saja masalah yang membuatnya kesal. Sejak ada Rayhan rumah menjadi tempat yang tidak ia sukai. Apalagi saat Rayhan sudah pergi dari rumah itu. Ternyata ada dan tidak ada Rayhan tetap membuat rumah itu tidak nyaman.
"Seandainya bisa, aku juga mau jadi anak kost sepertimu. Enak ya tidak ada beban," ucap Randi.
"Ah, tidak ada beban apanya. Nih tanggal segini belum ada kiriman berarti beban hidupku lebih berat dari semua masalahmu Ran," ucap Wisnu.
__ADS_1
Randi sering mengeluh tentang keluarganya. Tentang banyaknya masalah yang ada dalam hidupnya yang sering membuatnya kesal sendiri. Sementara ia tidak pernah melihat Wisnu seperti dirinya. Wisnu selalu terlihat baik-baik saja di matanya.
"Sebenarnya aku tidak selalu baik-baik saja. Tapi aku punya kamu sama pacarku. Dua orang sudah cukuplah buat menghilangkan beban hidupku. Apalagi kalau sama pacarku. Duh bahagia lahir batin deh." Wisnu tertawa sendiri dengan ucapannya.
Randi menggelengkan kepalanya. Namun dalam hatinya, Randi juga mengiyakan apa yang Wisnu ucapkan. Karena bersama Lulu, ia pun merasakan hal yang sama. Ia merasa Lulu adalah satu-satunya manusia yang ada di bumi ini yang bisa mengerti keadaannya. Seandainya bisa, ia ingin memutar waktu agar bergerak lebih cepat.
Keinginannya untuk menikahi Lulu semakin besar saat ia sudah merasakan kenikmatan yang diberikan Lulu. Rasanya semua itu menjadi candu yang tidak bisa dielakkan lagi. Namun sayangnya, Lulu berbeda dengan pacarnya Wisnu. Lulu tidak bisa memberikan sepenuhnya apa yang ia mau.
Saat Randi sedang menceritakan masalahnya, ia mendengar ponselnya berdering. Namun saat melihat nama ayahnya yang terpampang di layar ponselnya, ia mengabaikannya. Ia memilih untuk menelungkupkan ponselnya dan berharap panggilan itu segera usai.
"Siapa? Bapakmu?" tanya Wisnu.
Randi hanya mengangguk malas. Wisnu memberi saran agar Randi segera menjawab panggilannya. Namun ia menolak. Sudah cukup masalah itu saat ia di rumah. Saat ia sedang di luar, ia menginginkan kebebasan. Ia juga ingin bahagia seperti Rayhan. Bebas melakukan apapun yang membuatnya bahagia.
"Kalau ada apa-apa sama ibumu gimana?" tanya Wisnu yang mencoba membujuk Randi.
"Kan dia suaminya. Harusnya dia lah yang bertanggung jawab," jawab Randi.
Wisnu mengerutkan dahinya. Sekesal-kesalnya Randi, belum pernah ia melihat sikapnya yang seperti ini. Apa yang terjadi dengan Randi sebenarnya? Sebagai seorang sahabat, Wisnu juga tidak bisa memaksa Randi untuk melakukan apa yang disarankannya. Ia hanya berusaha mengerti posisi Randi saat ini.
Saat hari mulai gelap, Wisnu meminta Randi untuk pulang. Sempat salah paham saat Randi merasa Wisnu sudah mengusirnya. Namun akhirnya Wisnu berhasil menjelaskan apa yang membuatnya meminta Randi untuk pulang. Sekesal apapun Randi saat ini, ia harus tetap ingat kalau ibunya pasti sedang sangat membutuhkannya.
"Jangan begitu. Mereka adalah orang tuamu. Mengertilah kalau mereka pasti punya alasan tersendiri untuk semua itu," ucap Wisnu.
Padahal sebenarnya ia sendiri tidak tahu apa yang membuat orang tua Randi begitu pilih kasih. Kadang ia juga merasa kesal saat mendengar cerita Randi. Namun saat seperti ini, ia tidak bisa menjadi kompor yang membuat kekesalannya semakin membesar.
"Aku antar mau?" tanya Wisnu.
"Kamu pikir aku anak kecil. Aku bisa pulang sendiri," jawab Randi ketus.
"Ran, aku tidak akan memintamu untuk pulang kalau ibumu tidak sakit. Tapi aku tidak bisa membiarkanmu di sini sementara ibumu sakit di sana." Wisnu mencoba memberikan penjelasan pada Randi.
"Iya, iya. Kamu lama-lama seperti emak tiri ya. Bawel," ucap Randi.
Wisnu hanya tertawa dan mengantar Randi sampai ke depan kosannya. Ia memastikan Randi memang pulang saat ini juga. Tidak hanya itu, Wisnu juga mengirimkan sebuah pesan pada Randi. Ia harus memastikan jika Randi memang pulang ke rumah.
Lama pesannya tidak di balas. Wisnu khawatir. Ia mencoba menelepon Randi namun panggilannya diabaikan. Hatinya mendadak tidak enak. Ia benar-benar khawatir dengan keadaan Randi.
__ADS_1
"Aku harus cari dia ke rumahnya," gumam Wisnu.
Dengan cepat ia pergi ke rumah Randi. Namun sayangnya rumah berukuran besar itu tampak sepi. Berkali-kali ia memencet bel namun tidak ada respon. Ia bahkan sampai berteriak memanggil Randi namun tidak ada jawaban sama sekali.
"Bu Desi sedang ke rumah sakit Dek. Randi pasti di menemani Bu Desi," ucap salah satu warga yang lewat di depan rumah Randi.
"Oh ya terima kasih banyak Pak," ucap Wisnu.
Randi segera menuju rumah sakit yang paling dekat dengan rumah Randi. Ia tidak tahu di ruangan mana Bu Desi di rawat. Setelah bertanya ke bagian informasi, akhirnya ia bisa menemukan ruangan itu.
Sebelum masuk ke dalam ruangan, Wisnu menahan langkahnya. Ia melihat Randi tengah menangis di pelukan Bu Desi. Ia tidak menyangka jika Randi bisa secengeng itu.
"Lebih baik aku menunggu di sini saja," gumam Wisnu.
Wisnu duduk di kursi tunggu. Ia menunggu beberapa saat untuk masuk dan menemui Randi. Tapi tiba-tiba Randi keluar dengan wajah yang kesal.
"Ran," panggil Wisnu sambil menahan tangan Randi.
"Wisnu? Kenapa di sini?" tanya Randi.
"Kamu mau kemana?" Wisnu balik bertanya.
"Aku mau cari abangku," jawab Randi.
"Terus ibumu?" tanya Wisnu.
"Kamu tolong temani Mama. Sebentar saja. Aku pergi ya," jawab Randi.
"Eh, Ran, Ran, tunggu dulu." Wisnu berusaha menahan Randi namun Randi sama sekali tidak menghiraukannya.
Wisnu sedikit membuka pintu ruangan itu. Ia melihat Bu Desi tengah menangis sendirian. Kebingungannya semakin menjadi saat semakin lama tangisan Bu Desi semakin kencang. Akhirnya Wisnu memberanikan diri untuk masuk ke ruangan itu.
"Bu, Bu, ini saya Wisnu. Teman Randi. Ibu yang tenang ya," ucap Wisnu.
"Cari suami saya. Akan saya hajar dia," ucap Bu Desi dengan suara bergetar.
"Ma-maaf Bu. Tapi sebaiknya ibu istirahat. Yang tenang ya Bu. Randi sedang mencari Bapak," ucap Wisnu gugup.
__ADS_1
Kepalanya pusing memikirkan apa yang terjadi pada keluarga Randi. Ibunya meminta mencarikan suaminya. Sedangkan Randi keluar justru untuk mencari abangnya. Bagiamana ini? Wisnu hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal.