
Saat sampai ke sekolah, Lulu segera masuk ke dalam kelas. Ia sengaja tidak mencari Randi. Sementara ini, Lulu sedang tidak ingin bertemu dengan Randi. Ia masih belum siap jika harus terus membayangkan kejadian saat itu. Ada trauma tersendiri yang dialami Lulu.
Pagi ini Lulu menghabiskan waktunya sebagaimana anak yang lain. Ia belajar dan mengerjakan beberapa tugas di kelas. Namun sampai jam istirahat, ia merasa ada yang kurang. Tidak biasanya Randi benar-benar tidak ada di hidupnya. Biasanya Randi selalu menemuinya di kelas saat pagi-pagi tidak sempat bertemu.
"Hey, jajan yuk!" ajak temannya.
Lulu yang sedang melamun tiba-tiba terperanjat. Ia memang jarang sekali jajan ke kantin seperti anak yang lainnya. Selain ia jarang membawa uang bekal, ia juga selalu dibawakan makanan oleh Randi. Namun kali ini ia sengaja ikut ke kantin. Berharap bertemu dengan Randi di sana. Atau sekedar berpapasan di jalan.
Randi kemana ya? Kok aneh. Biasanya dia selalu menemuiku meskipun aku sedang marah.
Di sepanjang jalan menuju kantin, Lulu sama sekali tidak menemukan Randi. Di kantin pun Lulu mengedarkan pandangannya. Mencari keberadaan Randi. Berharap matanya menemukan sosok pria yang sudah merenggut kesuciannya itu. Tapi sayangnya tidak ada. Randi tidak ada di sana.
Sempat terpikir untuk mencari Randi ke kelasnya, namun gengsinya terlalu tinggi. Ia tidak mungkin menemui Randi ke kelasnya. Mau di simpan dimana wajahnya. Pasti akan banyak sekali orang yang menertawakannya. Berpikir jika ia memang mengejar-ngejar Randi sementara Randi tidak menginginkannya.
Pikiran buruk pun mulai menghampirinya. Bayangan Randi yang meninggalkannya menjadi hal yang sangat ia takutkan. Mengapa tiba-tiba ia gelisah dan tidak bisa kehilangan Randi? Ini semua bukan lagi karena cinta. Semua karena Randi sudah merenggut kesuciannya.
Kalau bukan Randi, siapa lagi yang akan bertanggung jawab? Siapa lagi yang bisa menerima keadaannya? Mana mau pria lain menikahi wanita sepertinya. Ah, pikiran Lulu semakin kacau.
Lulu masih bergelut dengan kegelisahan yang menguasai hatinya. Ia bahkan sampai tidak sadar jika bel sudah berbunyi sejak tadi. Beruntung temannya mengajak Lulu untuk kembali ke kelas.
"Lu, kamu sakit ya?" tanya teman sekelasnya.
"Tidak, memangnya kenapa?" Lulu balik bertanya.
"Kamu kelihatan pucat dan banyak bengong," jawab temannya.
Lulu segera memegang wajahnya. Mungkin karena kegelisahan itu membuatnya jadi tidak seceria biasanya. Tidak lama guru sudah masuk. Mereka melupakan wajah Lulu yang pucat dan mulai fokus dengan pembelajaran siang itu.
Sampai jam pelajaran terakhir pun Lulu masih tidak menemukan Randi. Bahkan saat ia pulang, ia juga tidak melihat ada motor Randi di parkiran. Pikirannya semakin buruk dan membuatnya pusing sendiri.
"Lu, mau kemana?" tanya Pak Arya setengah berteriak.
Saat Lulu melihat Pak Arya, ia baru ingat jika hari ini ada bimbingan untuk olimpiade.
"Ini Pak bawa buku dulu," jawab Lulu sambil membuka jok motornya.
Jawaban bohong itu didukung oleh sebuah buku milik Lani. Buku baru yang baru ia beli waktu berangkat sekolah karena buku adik bungsunya itu sudah habis. Lulu segera mengambil buku itu dan menghampiri Pak Arya.
__ADS_1
"Bapak pikir kamu mau pulang," ucap Pak Arya.
"Tidak Pak," jawab Lulu sambil tersenyum.
Senyuman Lulu ternyata membuat guru yang masih setia membujang itu merasa terpikat. Kesederhanaan Lulu membuat Pak Arya merasa ada yang berbeda dibanding dengan yang lain. Lulu nampak istimewa di mata Pak Arya. Hal ini mungkin seperti yang ditakutkan oleh Randi sejak tahu Pak Arya yang akan membimbing Lulu untuk persiapan olimpiade.
"Bapak kenapa?" tanya Lulu saat melihat Pak Arya menatapnya terus.
"Tidak apa-apa. Ayo kita ke kelas!" ajak Pak Arya yang berusaha mengalihkan fokus Lulu.
Siang ini pembelajaran berjalan seperti biasa. Lulu akan sberusaha sefokus mungkin agar tidak mengecewakan sekolahnya. Akhirnya ia berhasil mengalahkan kegelisahannya.
"Saya pupang duluan ya Pak," ucap Lulu saat sudah selesai.
"Mau saya antar pulang?" tanya Pak Arya.
"Saya bawa motor sendiri Pak," jawab Lulu.
"Ah iya saya tahu. Tapi ini sudah sore. Saya khawatir kalau kamu tidak aman pulang sendirian," ucap Pak Arya.
Lulu pun segera pulang saat sudah pamit pada Pak Arya. Meskipun ia merasa Pak Arya berbeda dari biasanya, tapi ia tidak mau berpikir terlalu jauh. Ia sama sekali tidak menyadari rasa yang mulai tumbuh di hati Pak Arya. Karena sampai saat ini ia masih berpikir jika satu-satunya laki-laki yang bisa mencintainya hanya Randi.
Sesampainya di rumah, Lulu melihat ponselnya. Masih sepi. Tidak ada satu pun panggilan dari Randi hari ini. Namun tidak lama, ada sebuah pesan. Bibir Lulu sudah tersenyum lebar saat tahu Randi mengiriminya pesan. Hanya sebentar, tidak lama. Setelah itu wajahnya berubah.
Kesedihan jelas terlihat di wajah Lulu saat Randi mengabarkan jika ia tidak akan masuk sekolah selama satu minggu. Ada urusan keluarga di luar kota.
Hati Lulu hancur. Ketakutannya semakin nyata saat Randi terasa mulai menjauhinya. Ia memejamkan matanya dan mengatur napasnya. Ia sama sekali tidak pernah berpikir jika Randi bisa melakukan semua ini padanya.
"Kak Lulu," panggil Lani sambil masuk ke kamar Lulu.
Lulu segera mengangkat wajahnya. Berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh, karena akan membuat Lani bertanya-tanya. Ia pura-pura menguap agar Lani mengira jika air mata itu karena menguap.
"Ngantuk ya Kak?" tanya Lani.
"Iya," jawab Lulu sambil memgucek matanya.
"Tapi bukunya gak lupa kan?" tanya Lani.
__ADS_1
Lulu tertawa melihat ekspresi Lani saat menanyakan buku itu. Anak itu memang masih terlalu polos. Tidak tahu kalau saat ini kakaknya sedang gelisah, tapi dia tetap fokus ke bukunya yang sudah habis.
"Mana mungkin kakak lupa. Nih," ucap Lulu sambil menyerahkan dua buku baru.
"Kok dua? Kan mintanya tiga," ucap Lani.
"Tadi uang bekalnya tidak cukup. Makanya kakak beli dua dulu. Satu lagi besok ya?" ucap Lulu.
Oh ya sudah kalau begitu. Besok ya? Janji?" ucap Lani sambil mengangkat jari kelingkingnya.
Lulu pun mengangkat jari kelingkingnya dan mengaitkannya. Senyuman Lani menjadi obat untuk sementara waktu ini. Wajah polos yang senyum senang itu membuat Lulu bisa melupakan tentang kekecewaannya pada Randi walau hanya sekejap.
Setelah Lani keluar, Lulu kembali memikirkan sikap Randi yang dingin dan tiba-tiba menghilang. Ia yang tidak tahu urusan keluarga macam apa yang dimaksud Randi. Tentu Lulu jadi berpikir negatif. Apalagi saat Randi tidak berusaha menghubunginya.
Hanya sebuah pesan yang ia terima hari ini. Itu pun siang. Dari mana saja Randi sejak pagi tadi? Ah, pikiran Lulu semakin kacau. Namun ia tersadarkan saat Bu Sari memanggilnya untuk makan.
"Iya Bu," jawab Lulu.
Lulu segera keluar dengan membawa baju ganti. Seragam sekolah masih terpasang di tubuhnya. Tanda bahwa ia belum mandi sore ini.
"Baru mau mandi?" tanya Bu Sari yang sudah duduk di ruang makan.
"Iya Bu. Tadi buka-buka PR dulu. Ibu sama Lita makan duluan saja. Biar nanti aku sama Lani," jawab Lulu.
Lita yang sudah terlihat lapar nampak sangat senang saat mendengar ucapan itu. Biasanya ibunya selalu ingin makan bersama. Tapi kali ini perut Lita sudah keroncongan. Lita sempat kecewa saat melihat Lulu masih memakai seragam sekolah. Tapi kekecewaannya itu runtuh saat Bu Sari mengajaknya makan duluan.
"Bu, ini enak. Besok masak ini lagi ya!" ucap Lita sambil mengangkat balado udang.
"Udangnya dikasih sama Bu RT. Besok kalau ada rejeki kita beli sendiri ya!" ucap Bu Sari.
Keluarga mereka bukan tidak sanggup membeli udang. Tapi perhitungan Bu Sari sangat apik. Ia tidak mau jika keuangannya tidak sesuai dengan target. Apalagi saat ini suaminya baru saja berangkat kerja ke luar pulau. Belum tentu akan mengirim uang untuk bulan depan.
"Waaah. Makan enak nih. Sudah jadi orang kaya ya kita?" ucap Lani saat melihat menu makanan yang berbeda dengan biasanya.
"Huussst, jangan begitu Lan. Tidak baik," ucap Bu Sari mengingatkan Lani.
Lani hanya meminta maaf dan segera membawa nasi dan lauknya. Ia bersiap makan meskipun Lulu belum selesai mandi.
__ADS_1