
Setelah beberapa hari sempat tidak mood saat berangkat ke sekolah, hari ini Lulu terlihat berbeda. Bahkan Bu sari sampai menyadari perubahan itu. Raut wajah Lulu yang tampak ceria mengundang tanya Bu Sari yang sedang mencuci piring.
"Girang bener anak Ibu. Ada apa? Kok tidak bagi-bagi kebahagiaan sih sama ibu?" ucap Bu Sari tanpa menghentikan kegiatan mencuci piringnya.
Lulu yang sudah memegang gelas berisi air menunda untuk meneguknya. Ia menyimpan gelas itu di atas meja lalu mendekat ke arah Bu Sari. Tanpa diduga, Lulu memeluk ibunya dari belakang dengan penuh kasih sayang. Bu Sari tertegun saat mendapatkan kejutan ini di pagi hari.
"Tidak ada alasan untuk tidak bahagia saat Lulu melihat malaikat tak bersayap cantik ini dalam keadaan sehat. Maafkan Lulu ya Bu," ucap Lulu.
"Lu, kamu baik-baik saja kan?" tanya Bu Sari
Bu Sari berbalik dan menatap wajah Lulu. Ia bahkan menyentuh dahi Lulu dengan punggung tangannya setelah memastikan tangannya kering.
"Ibu kenapa sih? Lulu baik-baik saja. Memangnya salah ya kalau Lulu mengungkapkan rasa syukur Lulu karena memiliki ibu?" ucap Lulu.
"Bukannya seperti itu Lu. Tapi ini aneh. Tidak seperti biasanya kamu begitu romantis," ucap Bu Sari.
Belum selesai perdebatan keduanya, Pak Budi sudah menatap mereka berdua dengan kerutan di dahinya. Ia ikut heran dengan sikap keduanya pagi ini. Namun kedatangan Lita dan Lani membuyarkan kejadian di dapur.
"Kalian ini kenapa sih? Pagi-pagi sudah rame," ucap Bu Sari menengahi keduanya.
"Tuh Lani mengambil lagi buku aku bu," ucap Lita yang mengadu pada Bu Sari.
"Ampun, turunan mana sih Kak? Pelit banget," ucap Lani yang nada suaranya tak kalah tinggi.
"Hey, sudah. Berisik. Ini masih pagi. Malu sama tetangga," ucap Lulu.
"Kak Lulu kan tidak merasakan apa yang aku rasakan. Mana pernah si Lani nyolong buku Kakak?" ucap Lita kesal.
"Astaga, aku tidak nyolong. Aku cuma minta satu. Pelitnya amit-amit deh," ucap Lani.
"Minta itu kalau izin dulu. Dan kamu ngambil bukan cuma satu. Kamu sudah mengambil tiga ya," ucap Lita sambil mengangkat tiga jari tangannya untuk menegaskan ucapannya.
"Baru tiga. Belum selusin," ucap Lani santai.
"Euh ya kamu," ucap Lita sambil menarik baju Lani.
"Eh, Lita sudah. Biar nanti bukumu Kakak yang ganti ya!" ucap Lulu.
"Tuh, jadi Kakak harus begitu. Baik sama adiknya. Orang itu kalau mau kaya yang dipelihara ayam, kambing. Ini pelit di pelihara," ucap Lani.
"Lani cukup," ucap Pak Budi.
Ucapan singkat Pak Budi dengan nada tegas menyudahi semuanya. Hening, semua diam termangu di tempatnya masing-masing. Mereka diam mendengarkan ceramah pagi ini tentang tema cinta keluarga.
"Mengerti?" tanya Pak Budi dengan gaya khasnya.
"Iya Pak," jawab ketiganya bersamaan.
Setelah itu mereka saling meminta maaf dan berpelukan. Sesuai janji, Lulu pun mengganti tiga buku milik Lita yang dipakai oleh Lani. Mereka berangkat setelah selesai sarapan dengan suasana menegangkan.
__ADS_1
"Ran," teriak Lulu.
Randi yang sudah rindu dengan teriakan ceria itu langsung menoleh ke arah sumber suara. Bibirnya tersenyum namun kepalanya memikirkan hal yang tidak bisa ia temukan jawabannya.
"Lu," sapa Randi.
"Mau sarapan kan?" tanya Lulu sambil menggandengan tangan Randi.
"Iya. Kamu mau sarapan juga?" tanya Randi kaku.
Maklum, sudah beberapa hari ia sarapan sendiri tanpa ditemani Lulu. Sikap Lulu yang dingin dan selalu menghindar membuatnya semakin menjauh dari Lulu. Saat Lulu kembali seperti dulu, ia merasa ada sesuatu yang harus ia biasakan kembali.
"Apaan sih kaku banget. Aku kan biasanya hanya jadi penonton kalau kamu sarapan. Masa kamu sudah lupa?" ucap Lulu.
"Ya bukannya begitu. Kali aja kamu tidak sarapan pagi ini," ucap Randi.
Lulu hanya menggeleng sambil terasenyum. Karena menurutnya ucapan Randi adalah suatu kemustahilan. Selama ibunya sehat, ia pasti akan selalu sarapan. Apapun alasannya.
"Oh ya nanti pulang sekolah kita ketemu di tempat biasa ya," ucap Lulu.
"Ok, ok," ucap Randi sambil menganggukkan kepalanya.
Randi senang dengan kembalinya sikap Lulu seperti biasa. Namun ia masih bingung dengan alasan perubahan Lulu yang begitu cepat. Apakah karena bahasan tentang calon istri? Ah sudahlah, yang penting Lulu sudah menjadi Lulu yang dulu. Itu sudah cukup untuk Randi.
Waktu yang dinanti sudah tiba, Randi dan Lulu bergegas menuju tempat yang sudah disepakati. Keduanya saling melepas rindu. Bercerita satu sama lain sampai akhirnya Lulu mengecup pipi Randi tanpa diminta.
Dengan spontan, Randi memegang pipinya yang masih terasa hangat karena kecupan Lulu. Pikiran buruknya mulai beraksi. Apalagi saat melihat Lulu tersipu malu. Bayangan seluruh lekuk tubuh Lulu tergambar jelas saat matanya mengamati sosok di depannya.
"Ah tidak. Maafkan aku. Aku hanya bahagia. Akhirnya kamu sudah menjadi Lulu yang aku kenal. Aku rindu," ucap Randi sambil memeluk Lulu.
Keduanya terhanyut dalam pelukan yang membuat dada mereka berdebar tidak menentu. Hembusan napas keduanya mengisyaratkan rasa yang menggebu. Sentuhan tangan Randi di punggung Lulu yang semakin mengerat membuat tubuh keduanya semakin erat dan tak berjarak.
"Ekhem," deham Wisnu.
Keduanya segera melepas pelukan itu dengan kasar. Lulu yang begitu tegang memegang dadanya dan tengah mengatur napasnya. Ia benar-benar tidak sadar jika sudah kembali terlibat urusan hasrat. Apa yang ia hindari ternyata membuatnya semakin meminta.
"Aku pulang duluan," ucap Lulu.
Rasa malu dan malas saat bertemu dengan Wisnu membuat Lulu memilih untuk menghindar. Ia tidak mau perasaannya pada Randi terganggu hanya karena kehadiran Wisnu. Sementara Randi yang berniat mengikuti Lulu ditahan oleh sahabatnya itu.
"Hey, tunggu dulu." Wisnu menahan dada Randi dengan tangannya.
"Apa sih Nu," ucap Randi malas.
Berbeda dengan Lulu yang merasa malu dan malas bertemu dengan Wisnu, Randi justru kesal dengan kehadiran sahabatnya itu. Menurutnya Randi adalah pengacau, perusak suasana. Ia yang tengah menikmati waktu berdua dengan Lulu harus terhenti saat kedatangan Wisnu.
"Aku sudah beberapa kali peringatkan kalian. Jangan di sini. Kosanku lebih aman," ucap Wisnu.
"Terima kasih. Tapi sepertinya Lulu sudah tidak mau ke sana," ucap Randi.
__ADS_1
"Kamu sudah berhasil itu?" tanya Wisnu dengan wajah penasaran.
Penggunaan kata 'itu' membuat Randi langsung paham apa yang dimaksud oleh Wisnu. Ia segera memukul Wisnu dan mengelak. Selain karena ia belum benar-benar memiliki Lulu sepenuhnya, menurutnya itu adalah sebuah aib. Kalaupun nanti ia berhasil memiliki Lulu sepenuhnya, ia rasa Wisnu tidak perlu tahu hal itu.
"Hey Ran, tunggu." Wisnu mengejar Randi yang meninggalkannya di tempat itu.
Keduanya pergi dari tempat itu. Namun pikiran Wisnu masih tidak bisa lepas dari ucapan Randi. Pertanyaan Wisnu tentang alasan Randi yang tidak mau datang lagi ke kosannya membuat ia butuh penjelasan.
"Udah ya Ran?" tanya Wisnu saat di parkiran.
Mata Randi membulat sempurna saat mendapat pertanyaan itu. Wisnu mengalah dan memilih untuk berkutat sendiri dengan pertanyaan itu. Sampai akhirnya pelajaran sudah selesai.
"Mau apa? Nanya itu lagi?" tanya Randi sambil mengangkat kepalan tangannya.
"Ih, siapa yang mau nanya itu. Aku cuma mau memastikan, kamu sudah tidak mau pakai kosanku lagi kan?" ucap Wisnu.
"Memangnya kenapa?" tanya Randi.
"Ya jadi aku bisa bebas kapan saja berduaan sama pacarku. Kalau kemarinkan aku harus atur jadwal. Takut barengan konsernya," jawab Wisnu.
"Sialan," ucap Randi.
Wisnu tertawa sambil berlari. Ia segera menemui pacarnya dan membawa ke kosannya. Melakukan apa yang biasa mereka lakukan. Bersikap sangat profesional hingga tidak ada jejak yang tertinggal. Selama ini mereka terlihat aman meski kerap melakukan hal yang tidak sepatutnya mereka lakukan.
Suara khas pacarnya menjadi candu bagi Wisnu. Kepuasannya selama ini atas pelayanan pacarnya menjadi kebahagiaan tersendiri baginya. Setiap tetes keringat yang menyatu dari tubuh keduanya menjadi saksi betapa indah setiap waktu yang mereka lewati bersama.
Sayangnya Wisnu terlalu menganggap Randi sahabat. Ia selalu menceritakan kepuasan demi kepuasan yang ia dapatkan dari pacarnya. Hal itu tentu menyiksa Randi. Randi yang hampir merasakan apa yang Wisnu rasakan membuat kepalanya serasa mau pecah. Bayangan Lulu tidak bisa ia hindari di kepalanya.
"Gila Ran, dia semakin hari semakin ganas. Tidak tahu belajar dimana, tapi selalu saja ada idenya. Keteteran aku Ran," ucap Wisnu dengan wajah ceria.
"Ini di sekolah," ucap Randi.
"Tahu, yang penting kan kita tidak begitu di sekolah. Kita sih aman," ucap Wisnu.
"Sudah ah, sudah waktunya pulang juga." Randi berusaha menyudahi apa yang dibahas Wisnu pagi ini.
Setiap hari Wisnu selalu berusaha mengajak Randi bercerita tentang hal seperti itu. Ketidakhadiran guru di jam pertama membuat Wisnu dengan bebas berbagi cerita dengan Randi. Ia terus menceritakan tentang pengalamannya yang sudah semakin hebat. Setiap gaya sudah pernah mereka coba tidak luput mengotori kepala Randi. Sampai akhirnya Randi merasa Wisnu lebih beruntung darinya.
"Kalau hamil gimana?" bisik Randi.
Berharap Wisnu takut dan berhenti membahas tentang hal itu, ternyata Randi harus menelan kekecewaan. Dengan begitu santai Wisnu meyakinkan Randi kalau semua tidak akan terjadi. Bermain aman adalah solusi dari ketakutan yang Randi bayangkan.
"Tapi kalaupun kejadian, masih banyak dukun beranak. Semuanya bisa diselesaikan," ucap Wisnu.
Sontak jawbaban Wisnu membuat Randi menatapnya dengan mata yang membulat sempurna. Ia pun bergidik dan memalingkan wajahnya. Tidak disangka jika selama ini ia berteman dengan orang yang sangat jahat.
"Loh, aku tidak jahat dong. Kita hanya tidak mau kalau seandainya menghadirkan generasi yang seharusnya belum ada," ucap Wisnu membela diri.
"Nah itu tahu seharusnya memang belum ada. Makanya jangan aneh-aneh," ucap Randi mengingatkan.
__ADS_1
"Maka dari itu kita mainnya aman," ucap Wisnu.
Randi tidak berkomentar lagi. Tapi selama ini Wisnu memang tidak pernah ketahuan. Bahkan untuk dipanggil BP saja belum pernah. Apa yang Wisnu lakukan mungkin akan sangat aman karena gambaran seorang Wisnu di sekolah sangat berbeda dengan Wisnu yang ia kenal.