LULU

LULU
Bawa dia ke sini!


__ADS_3

Setelah perdebatan dengan Bu Sari, Lulu sama sekali tidak keluar kamar. Ia hanya memainkan ponselnya. Tidak jelas apa yang ia lakukan karena pikirannya tengah kacau.


Lulu hanya berusaha menghubungi Randi namun sia-sia. Randi sama sekali tidak menjawab panggilannya. Semakin ia mencoba menghubungi Randi, semakin besar ketakutan yang dirasakannya.


"Randi kemana sih?" gerutu Lulu dengan kesal.


Air matanya sudah tidak bisa ia bendung lagi. Tangisnya kembali pecah saat menyadari jika ia memang benar-benar bodoh. Menyerahkan semuanya pada Randi ternyata tidak menjamin Randi selalu ada di sampingnya.


"Kak," panggil Lani.


Lulu segera mengusap air matanya dan berpura-pura tidur. Meskipun ia memejamkan matanya, namun ia tahu jika Lani mendekat dan memastikan apa yang sedang ia lakukan. Beruntung ia bermain peran dengan sangat baik. Lani tidak menyadari jika ia hanya pura-pura tidur, hingga keluar lagi dari kamarnya.


"Kak Lulu sudah tidur Bu," ucap Lani dengan suara cukup keras.


Rumah mereka yang tidak terlalu besar itu membuat suara Lani masih terdengar samar di telinga Lulu. Akhirnya Lulu bisa bernapas lega saat Lani percaya dengan aktingnya. Meskipun dadanya sesak dengan sikap dingin ibunya. Bu Sari hanya diam saat mendengar ucapan Lani. Padahal biasanya Bu Sari akan sangat khawatir saat Lulu tidak makan malam.


Mungkin ibu sudah tidak sayang lagi padaku.


Air mata itu kembali mengalir di pipi Lulu. Ia menangis karena satu dan dua hal lainnya. Membuat dadanya semakin sesak. Sempat terpikir untuk mengakhiri hidupnya saat itu juga. Namun Lulu tidak tahu caranya.


Pikiran itu runtuh saat Randi mengirimnya sebuah pesan. Foto Randi yang sedang berkumpul dengan keluarganya menjadi obat tersendiri di hati Lulu. Kegelisahan dan keputusasaan Lulu hilang seketika saat melihat pesan yang dikirim Randi.


"Aku pikir kamu sudah melupakanku, Ran." Lulu memeluk ponselnya dan sedikit tersenyum.


Malam ini berlalu tidak terlalu buruk. Itu terjadi hanya karena sebuah foto dari Randi. Bahkan seketika Lulu melupakan kemarahan Bu Sari hanya dengan sebuah foto yang dikirim Randi.


Paginya, Lulu bangun lebih pagi. Mimpi buruk membangunkannya jauh lebih pagi dari biasanya. Napasnya nampak terengah-engah. Tangannya memegang dadanya yang berdebar jauh lebih cepat.


"Raaan," ucap Lulu lirih sambil mengelap keringat di dahinya.

__ADS_1


Lulu bangun dan berdiri di depan cermin. Ia memegang perutnya yang masih rata. Ketakutannya datang lagi. Mimpi itu seolah sangat jelas bahwa ia hamil anak Randi namun Randi tidak mau mengakuinya.


"Aku tidak hamil," ucap Lulu sambil menggelengkan kepalanya.


Dari mimpi itu ketakutannya kian membesar. Lulu tidak bisa membayangkan jika semua mimpi itu menjadi kenyataan. Apa jadinya jika ia benar-benar hamil. Kekecewaan ibunya pasti akan lebih besar. Bukan tidak mungkin jika Bu Sari akan mengusirnya dari rumah itu.


Setelah Lulu merasa tenang, ia keluar dari kamarnya. Masih sangat sepi. Bahkan ibunya juga belum bangun. Lulu menarik napas panjang lalu ke kamar mandi.


"Hari ini kamu tidak perlu ke sekolah," ucap Bu Sari.


Lulu yang baru saja keluar dari kamar mandi tersentak mendengar ucapan ibunya. Tapi ia tidak mencoba melawan. Ia hanya mengangguk. Sudah cukup ia mengecewakan ibunya, ia tidak mau kalau ucapannya akan semakin menyakiti ibunya.


"Ada yang bisa Lulu bantu, Bu?" tanya Lulu setelah beberapa saat hening tanpa suara.


"Kamu cukup bantu ibu dengan diam di rumah. Itu sudah membuat ibu tenang," jawab Bu Sari tanpa menoleh sedikit pun.


Lulu semakin tertunduk. Dadanya terasa terhujam sembilu. Sakit sekali melihat ibunya yang biasa sangat ramah dan sangat baik namun kini sangat dingin. Bahkan terkesan membencinya.


"Kakak sedang tidak enak badan. Hari ini tidak masuk sekolah dulu," jawab Lulu.


"Sudah panggil pak mantri belum?" tanya Lani khawatir.


Lulu tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Setidaknya luka dalam hatinya sedikit terobati saat melihat perhatian kedua adiknya. Akhirnya ia tidak merasa sendiri.


"Aku panggilkan pak mantri ya!" ucap Lani sambil memeluk Lulu.


"Tidak usah. Kakak hanya perlu istirahat," ucap Lulu.


Lulu sama sekali tidak mendengar satu kata pun keluar dari mulut Bu Sari. Bahkan setelah Lani dan Lita berangkat ke sekolah, Bu Sari langsung masuk ke dalam kamar. Meninggalkan meja makan yang masih berantakan. Sungguh bukan Bu Sari yang Lulu kenal sebelumnya.

__ADS_1


Tanpa bertanya, Lulu segera mengambil satu persatu piring dan gelas kotor yang ada di meja makan. Ia mencucinya. Setelah selesai, ia mendengar ponselnya berdering. Namun sebelum ia menjawab panggilan itu, Bu Sari sudah keluar dari kamarnya. Panggilan itu ditolak oleh Bu Sari. Lulu segera melanjutkan pekerjaannya.


Hatinya gelisah saat Randi berkali-kali menghubunginya. Namun selalu ditolak oleh Bu Sari. Sampai akhirnya ia selesai dengan pekerjaanya, Bu Sari masih memegang ponselnya.


"Katakan pada pria itu, datang ke rumah. Temui ibu," ucap Bu Sari.


Tanpa menunggu jawaban Lulu, Bu Sari sudah masuk kembali ke dalam kamar. Meninggalkan Lulu yang masih bingung dengan keadaannya saat ini. Lulu mengambil ponselnya dan masuk ke kamar.


Dengan cepat tangannya mengetik pesan untuk menyampaikan ucapan ibunya. Dengan hati yang berdebar, Lulu menunggu balasan dari Randi. Sempat khawatir dengan jawaban Randi, namun akhirnya Lulu tenang saat Randi berjanji akan menemui ibunya setelah pulang nanti.


Sehari tidak berangkat ke sekolah membuat Lulu merasa sangat bosan. Namun ia berusaha membuka buku sekolah agar tidak terlalu ketinggalan materi pelajaran. Ia baru ingat jika hari ini ada bimbingan olimpiade dengan Pak Arya.


Lulu segera menghubungi sahabatnya, memberi tahu kalau hari ini ia tidak bisa mengikuti bimbingan dengan Pak Arya. Sengaja tidak langsung menghubungi Pak Arya, Lulu takut jika Pak Arya tahu kalau ia sedang berbohong. Ya, Lulu memang berpura-pura sakit hari ini.


Malam ini Randi tidak menghubungi Lulu karena memang Lulu yang memintanya untuk tidak menghubunginya dulu. Ia tidak mau hal ini hanya akan membuat suasana di rumah menjadi semakin buruk.


"Kamu tidak siap-siap?" tanya Bu Sari.


"Boleh ke sekolah?" Lulu balik bertanya.


"Ajak pria itu menemui ibu hari ini," ucap Bu Sari.


"Tapi dia sedang tidak masuk sekolah Bu. Ada acara keluarga katanya," ucap Lulu.


"Kapan dia pulang?" tanya Bu Sari.


"Mungkin lusa, Bu." Lulu menggulung ujung bajunya dengan jarinya.


"Ya sudah berangkat sekolah. Bawa dia saat sudah kembali sekolah. Ibu tidak mau ada temanmu yang menjengukmu ke sini," ucap Bu Sari.

__ADS_1


Lagi-lagi Bu Sari bicara tanpa menatap Lulu sama sekali. Ia benar-benar tidak tahu sampai kapan semua ini akan terjadi. Namun Lulu cukup sadar diri akan kesalahannya yang sangat fatal itu.


__ADS_2