
Randi terus mendekat sedangkan Lulu terus menjauh. Rasa takut menyelimuti hati Lulu saat Randi semakin menatapnya dengan tajam. Lulu tidak bisa bergerak lagi saat punggungnya beradu dengan tembok.
"Ran," ucap Lulu mencoba mengingatkan Randi.
Randi membungkam mulut Lulu dengan bibirnya. Tangannya mengunci tangan Lulu yang berusaha mendorong tubuhnya. Semakin Lulu berontak, ia semakin merasa tertantang.
Deru napas Lulu yang semakin cepat membuat Randi memiliki sensasi tersendiri. Ia menutup matanya dan melahap Lulu dengan rakus. Sampai akhirnya Lulu benar-benar mendorong Randi dan mengambil napas yang terengah-engah.
"Ran," ucap Lulu sambil mengelap bibirnya.
Randi melihat mata Lulu yang mulai berlinang. Usia pacaran mereka sudah nyaris dua tahun. Tapi apa yang mereka lakukan saat ini adalah yang pertama kalinya. Lulu merasa pria yang ada di hadapannya bukan lagi Randi.
Dulu hubungan mereka berjalan sehat dan baik-baik saja. Tidak ada hal yang membuat Lulu khawatir setiap kali jalan berdua dengan Randi. Namun akhir-akhir ini setelah adanya perjanjian konyol itu, Randi semakin menuntut lebih.
Ada pengaruh Wisnu sebenarnya. Bagaimanapun, ucapan dan apa yang terjadi di kosan Wisnu mengubah pikiran Randi. Kini Randi berpikir jika Lulu tidak mau melakukan itu dengannya, artinya Lulu tidak benar-benar mencintainya.
Secepat dan sebesar itu perubahan cara berpikir Randi. Lagi-lagi semua ada hubungannya dengan Wisnu. Semenjak Wisnu pacaran dengan wanita itu, Wisnu selalu membawa pengaruh yang membuat Randi berubah.
"Kamu marah?" tanya Randi.
"Aku kecewa," jawab Lulu.
"Kenapa? Apa kamu tidak mencintaiku?" tanya Randi.
"Memangnya bukti cinta harus dengan cara seperti ini?" Lulu balik bertanya.
"Jangan begitu Lu. Kamu menyudutkanku seakan aku benar-benar bersalah," ucap Randi.
"Jadi kamu tidak merasa bersalah?" tanya Lulu yang mulai menangis.
"Lu, maaf." Randi mengusap air mata yang mengalir di pipi Lulu.
Tidak sengaja tangan Randi menekan bagian dada Lulu. Terasa hangat dan kenyal. Dada Lulu memang tidak besar, namun terlihat menantang di mata Randi. Lagi-lagi hasratnya kembali mampir mengotori otaknya.
Randi mengadukan dahinya dengan dahi Lulu. Tangan yang awalnya mengusap pipi Lulu kini menyentuh bagian leher. Kini bibir Randi tidak menyerang bibir Lulu. Targetnya adalah leher Lulu yang begitu lembut dan wangi.
Saat lehernya tersentuh bibir Randi, Lulu merasa tubuhnya melayang. Napas Randi menyibak rambut yang menempel di lehernya membuat Lulu secara tidak sadar memegang erat punggung Randi.
Merasa tidak ada penolakan, Randi melakukan itu lebih baik lagi. Ia membuat Lulu benar-benar nyaman. Ia membawa Lulu untuk berjalan ke kamar yang sudah disiapkan oleh Wisnu.
"Jangan Ran," ucap Lulu dengan napas tersenggal.
"Sebentar saja," bisik Randi di telinga Lulu.
"Jangan," ucap Lulu.
Kata jangan yang keluar dari mulut Lulu tidak serta menahan langkahnya. Nyatanya Lulu justru ikut melangkah kemana Randi pergi. Sampai akhirnya ia masuk ke kamar dan Randi menutup pintu kamarnya.
Suara bantingan pintu membuat Lulu tersadar dan segera melepaskan pelukan Randi. Namun sayangnya tubuh Randi menghalangi pintu kamar yang membuat Lulu kesulitan untuk keluar.
"Ran, jangan begini. Aku takut hamil," ucap Lulu.
__ADS_1
Randi menatap Lulu dengan penuh hasrat.
"Aku akan bertanggung jawab," jawab Randi.
"Jangan Ran," ucap Lulu.
Rasa cinta yang membara terhadap Randi membuat sentuhan Randi lagi-lagi membuat akal sehat Lulu ikut hancur. Ia mulai terbawa suasana. Penolakan itu perlahan berubah menjadi sebuah kepasrahan.
Tangan Randi perlahan meraba dada Lulu. Darah Lulu seakan mengalir lebih cepat. Napas Lulu yang semakin memburu dapat dirasakan dengan jelas oleh Randi. Dalam waktu bersamaan semua tangan dan bibir Randi bergerak semakin aktif. Lulu dibuat gila. Bahkan saat Randi mulai merebahkan tubuh Lulu di atas kasur yang tergeletak di kamar, hanya ada kepasrahan.
Hal itu tentu membuat Randi bisa dengan mudah menguasai Lulu. Setiap sentuhannya berhasil membuat wanita yang sangat ia cintai itu semakin gila.
Randi dengan perlahan dan teliti membuka kancing baju Lulu. Wanita itu hanya memegang tangannya dan berusaha menjauhkannya. Tidak memaksa, Randi kembali memainkan tangannya tanpa membuka kancing bajunya.
Lama semakin lama, Randi mencoba berusaha kembali membuka kancing baju Lulu. Satu kancing berhasil terbuka namun Lulu menarik tangannya. Randi bermain sangat lembut. Tidak memaksa namun membuat Lulu menikmati setiap gerakannya.
Setiap kali Randi melihat Lulu mulai lengah, ia membuka kembali satu kancing dan begitu seterusnya. Sampai akhirnya si mocca yang melindungi dada Lulu nampak jelas di depan matanya.
Sebelum Lulu memberikan penolakan, Randi dengan cepat membenamkan wajahnya di sana. Menghirup dalam-dalam wangi tubuh Lulu yang selalu ia rindukan. Lulu terlihat gelisah dengan sentuhan Randi.
Randi berusaha membuka si mocca. Memperlihatkan gumpalan daging yang sangat memikat hatinya. Awalnya ia menyentuh bagian itu hingga benar-benar puas. Lalu setelah itu ia melahap rakus gumpalan daging yang masih keras dan menantang itu.
"Ran," ucap Lulu dengan suara serak.
Tangan Lulu menjambak rambut Randi yang sedang asyik di sana. Jambakan dan suara serak Lulu membuat sesuatu memberontak. Randi sudah tidak kuat lagi. Ia mulai menekankan si pemberontak itu pada kaki Lulu. Perlahan tangan Randi mulai menyibak si penghalang yang melindungi bagian pusat.
Si merah nampak melindungi pusat pertahanan Lulu dengan sangat apik. Belum sempat Randi menyingkirkan si merah, tiba-tiba si pemberontak semakin tidak bisa dikendalikan.
Gairah remaja Randi semakin menjadi saat Lulu terbaring pasrah dengan wajah yang merona. Si merah pelindung pusat penyerangan dengan lembut mulai turun dan menampakkan pusat penyerangan yang siap bertempur.
Jejaknya menyembur ke sekitar dan sedikit mengenai pakaian Lulu yang tergeletak di dekat mereka. Tiba-tiba Randi mengatur napasnya sambil berbaring di samping Lulu.
"Terima kasih Lu," ucap Randi.
Ucapan terima kasih Randi baru menyadarkan Lulu. Ia terbelalak saat menyadari bagian dadanya terbuka. Lulu segera menutup dadanya. Matanya mulai berlinang. Apalagi saat melihat semuanya sudah terbuka. Bahkan si merah sudah turun dari tempatnya semula.
"Ran, apa ini?" tanya Lulu sambil menangis saat tangannya menyentuh cairan lengket yang mengotori pakiannya.
"Astaga," ucap Randi.
Dengan lutut yang masih gemetar, Randi meraih tisu dan mengelap cairan itu dari tubuh Lulu. Cairan lengket itu memang sudah tidak ada. Tapi aroma khasnya masih tersisa dengan jelas dan nyata.
"Randi, kamu jahat." Lulu memukul tubuh Randi dengan tangisannya.
"Lu, maafkan aku. Tapi semua tidak seperti yang kamu bayangkan. Kamu masih utuh," ucap Randi.
"Apanya yang utuh? Ini apa?" tanya Lulu sambil menunjuk jejak dari sisa-sisa pertempuran.
"Ya aku tahu itu punyaku. Tapi aku tidak memasuki kawasan terlarang itu," ucap Randi meyakinkan.
"Tapi semua terbuka. Aku bukan anak kecil Ran," ucap Lulu.
__ADS_1
Wajah penuh penyesalan membuat Lulu tidak berhenti menangis. Ia memukul tubuh Randi berkali-kali. Randi berusaha memeluknya dan menenangkannya.
"Aku belum sempat merusak benteng pertahananmu. Sumpah!" bisik Randi dengan sangat meyakinkan.
Lulu menatap wajah Randi. Ia menuntut penjelasan atas apa yang sudah Randi ucapkan. Benarkah Randi tidak mengambil kesuciannya setelah semua jejak tersisa dengan nyata.
"Dia sudah menyerah sebelum berperang. Aku berani cek ke dokter," ucap Randi.
Lulu menelan salivanya. Benarkah? Ia segera berdiri dan mencoba melangkah. Yang ia tahu jika kesuciannya terenggut maka akan terasa sakit di daerah pusat. Namun saat Lulu berjalan, ia memang tidak merasakan sakit apapun.
"Kamu percaya kan?" tanya Randi.
Lulu tersenyum dan mengangguk.
"Tapi ini gimana? Aku tidak bisa pulang dengan baju bernoda seperti ini," ucap Lulu.
Randi diam sejenak. Ia memutar kepalanya untuk mencari solusi. Matanya tertuju pada lemari yang terletak di sudut kamar. Ia membuka lemari itu dan menemukan apa yang ia cari.
"Pakai ini saja. Aku yakin orang tuamu tidak akan curiga," ucap Randi.
Baju olah raga milik Wisnu jadi solusi. Pakaian yang terkena jejak itu Lulu bungkus rapi dan dimasukkan ke dalam tas. Ia segera mengajak Randi pulang.
"Ayo!" ajak Lulu.
"Nanti dulu," ucap Randi.
Randi mencari kantong plastik dan merapikan tisu yang berserakan. Ia tidak mau ada jejak yang ditemukan oleh Wisnu. Sudah cukup pakaian olah raga Wisnu yang digunakan oleh Lulu menjadi bahan cemoohan Wisnu.
"Loh, kok ganti kostum?" tanya Wisnu saat Randi dan Lulu keluar dari kosan.
"Hussst," ucap Randi sambil membulatkan bola matanya.
"Makanya kalau main itu yang rapi dong. Bikin malu aja. Kalau tahu begini, aku kan bisa ajarin kamu dulu." Wisnu berbisik di telinga Randi.
Meskipun Lulu tidak tahu apa yang Randi dan Wisnu bicarakan, tapi ia yakin jika mereka sedang membahas apa yang sudah terjadi tadi.
"Ayo!" ajak Lulu.
Randi segera pergi meninggalkan Wisnu. Dari kejauhan Wisnu mengamati Lulu. Dari cara berjalannya ia tidak melihat ada perubahan yang terjadi.
"Kok Lulu biasa aja ya?" gumam Wisnu.
Wisnu yang sudah berpengalaman tahu dengan jelas dengan perubahan yang terjadi jika wanita sudah terenggut kesuciannya. Namun dari cara berjalan Lulu, sama sekali tidak menunjukkan apa yang ia pikirkan.
"Masa iya si Lulu udah lost duluan? Dia kan perempuan lugu. Aku harus cari tahu jawabannya besok," gumam Wisnu.
Lulu yang menyadari jika Wisnu mengamatinya, nampak cemberut. Ia malu sendiri saat melakukan hal yang seharusnya jadi rahasia berdua justru malah diketahui Wisnu. Aibnya benar-benar sudah ia umbar sendiri.
"Ran, aku tidak mau bertemu lagi dengan Wisnu. Aku sudah tidak punya muka," ucap Lulu.
"Ya ampun Lu. Santai saja. Anggap saja tidak terjadi apa-apa. Aku jamin Wisnu akan jaga rahasia kita. Aman pokoknya," ucap Randi.
__ADS_1
"Kalau sampai aku masuk BP atau sampai beasiswaku dicabut, aku marah sih sumpah. Aku marah," ucap Lulu.
"Iya Lu, iya. Aku jamin semuanya aman," ucap Randi.