LULU

LULU
Tiga jahitan


__ADS_3

"Kamu baru pulang? Ada kegiatan apa lagi di sekolah?" tanya Bu Sari.


"Ada bimbingan dulu Bu," jawab Lulu.


Ya, lagi-lagi Lulu berbohong. Kini Lulu semakin lihai untuk melakukan hal itu. Berpura-pura belajar padahal hanya menghabiskan waktu dengan Randi. Meskipun saat ini pikirannya sedang kacau, namun Lulu tetap terlihat tenang.


Bu Sari memang masih marah pada Lulu. Namun sebagai seorang ibu, ia masih tetap khawatir. Di mata seorang ibu, ada kecewa yang begitu dalam. Namun baginya Lulu tetap anaknya yang harus ia lindungi.


"Jangan lupa makan dan istirahat," ucap Bu Sari.


Terdengar ketus dan dingin. Namun bagi Lulu hal itu sangat manis dan menyenangkan. Setelah beberapa hari Bu Sari tidak peduli padanya, kini Lulu sudah merasakan kembali kehangatan itu. Meskipun hanya sedikit, sangat sedikit.


Sekecil apapun perhatian Bu Sari tentu sangat berpengaruh pada keadaan hati Lulu. Saat ini ia sedang kacau. Hidupnya carut marut namun ia dituntut untuk baik-baik saja oleh keadaan. Betapa berat beban Lulu saat ini.


Setelah mandi dan mengganti pakaian, Lulu segera duduk di meja makan. Tidak ada Lita dan Lani. Hanya ada Bu Sari yang mengurung diri di kamar. Tak mengapa, Lulu tetap berusaha kuat.


Suapan demi suapan nasi yang masuk ke dalam perutnya sama sekali tidak merasakan kenikmatan. Semuanya hambar. Hanya sedikit rasa asin dari air mata yang mulai mengalir di pipinya. Saat mendengar langkah kaki, Lulu segera mengusap pipinya.


Sebentar Lulu mengangkat wajahnya. Menatap ibunya yang hanya berlalu tanpa menatapnya sama sekali. Ah, sakit. Sangat sakit. Kehangatan yang ia butuhkan saat ini sudah hilang. Sama seperti hilangnya harga diri Lulu di mata ibunya.


"Bu, Lita kemana?" tanya Lulu saat Bu Sari kembali melewatinya.


"Main," jawab Bu Sari.


Tak lama Bu Sari kembali ke kamarnya. Hati Lulu begitu terluka. Ia segera mencuci tangan dan piring bekas makan sorenya. Setelah itu ke kamar dan menangis. Tangannya meremas kencang perutnya. Memukul-mukulnya dengan keras. Menangis dalam dekapan bantal agar suaranya tak ada yang mendengar.


Bayangan kehamilan benar-benar menghantui Lulu. Beasiswanya? Harapannya menjadi dokter? Ah semua sia-sia. Lulu semakin frustasi hingga menarik-narik rambutnya sendiri. Rasa lelah atas semua pikiran dan sikapnya membuat Lulu terlelap.


"Kak Lulu," panggil Lani.


Pintu kamar yang tidak dikunci membuat Lani bisa masuk saat Lulu sedang tidur. Melihat rambut Lulu begitu acak-acakan, membuat Lani tertawa keras.


"Apa sih Lan?" tanya Lulu dengan suara serak.

__ADS_1


"Kayak singa ngamuk. Rambutnya berantakan," jawab Lani sambil kembali tertawa.


Lulu memegang rambutnya. Dengan mata merah, Lulu bangun dan melihat wajahnya di cermin. Ia benar-benar berantakan. Hal itu sangat membuatnya terluka. Seperti inikah dirinya saat ini?


"Sholat Kak, sholat. Magrib ini. Makanya jangan tidur sore-sore. Takut kena penyakit gila," ucap Lani.


Gila? Ah ya dirinya hampir gila. Lulu merasa dirinya dibuat gila oleh Randi. Semua gara-gara Randi. Lulu benar-benar menyesal telah melakukan hal itu dengan Randi. Ia menyesal karena sudah terbuai dan percaya dengan ucapan Randi. Padahal sebelumnya Randi sudah berjanji tidak akan menghamilinya.


Lani keluar setelah berhasil membangunkan Lulu. Ia kembali tidur di pangkuan ibunya. Membuat Lulu iri, sangat iri. Sikap manis dan hangat ibunya pada Lani begitu membuat Lulu sakit hati.


Sabar Lu, sabar. Semua salah kamu kok. Jangan menyalahkan siapapun. Sekarang waktunya intropeksi diri.


Sholat? Ya, Lulu sholat. Lulu tidak pernah meninggalkan sholat, meskipun jutaan kesalahan sudah diperbuatnya. Kehinaan sudah dilakukannya namun ia tetap bersujud.


Di atas sajadahnya, Lulu menangis. Ia menyesali kebodohanya. Ia menyesal sedalam-dalamnya. Namun Lulu hanya manusia biasa. Setiap kali bertemu dengan Randi, semua penyesalan itu akan lenyap dari kepalanya.


Lulu selalu hilang kendali saat bersama dengan Randi. Ia selalu merasa Randi adalah segalanya. Ia lupa dengan dosa dan masa depan. Seperti saat ini, setelah kejadian itu Lulu kembali tersenyum saat Randi merayunya.


Randi tidak mengajak Lulu untuk melakukan h itu lagi. Sebagai laki-laki, Randi tahu betul kelemahan Lulu. Hadiah coklat dan surat berisi kata-kata romantis diberikannya pagi ini. Seketika menjadi obat atas keresahannya sejak kemarin siang.


"Jangan lupa makan ya!" ucap Randi.


Randi dengan sengaja tidak mengantarkan Laila, karena Lulu membawa motor sendiri. Tidak juga mengajaknya ke kosan Wisnu. Ia membiarkan Lulu tenang dan senang.


"Mau coklat gak?" tanya Lulu saat menjemput Lita di sekolahnya.


"Mau dong. Mana sini minta!" ucap Lita.


Lulu menepi dan menghentikan motornya. Mengeluarkan sebatang coklat untuk Lita. Maya Lita terlihat berbinar saat melihat coklat dari tangan Lulu. Dengan segera Lulu mengambil coklat itu dan melahapnya.


"Astaga, buat Lani mana? Lupa," ucap Lita saat satu batang coklat itu habis dilahapnya.


"Sudah habis baru ingat sama Lani," ucap Lulu sambil menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Enak. Jangan bilang-bilang sama Lani ya Kak," ucap Lita.


Lulu tersenyum. Ternyata Lulu sudah menyimpan satu batang coklat lagi untuk Lani. Lita mengusap dada karena merasa lega. Namun ada sedikit rasa iri karena coklat untuk Lani masih utuh.


"Jangan minta lagi. Kasihan Lani," ucap Lulu.


"Iya," jawab Lita malas.


Lulu kembali membawa motornya hingga terparkir di depan rumah. Ia heran saat tidak mendapati ibunya. Sampai akhirnya ada tetangganya yang mengatakan jika Bu Sari membawa Lani ke puskesmas.


"Ayo Ta kita ke puskesmas!" ajak Lulu dengan panik.


"Ganti baju dulu Kak," jawab Lita.


"Lama. Ayo berangkat sekarang!" ajak Lulu.


Mereka segera pergi menyusul Bu Sari ke puskesmas untuk mengecek keadaan Lani. Ternyata tidak ada luka dalam. Hanya saja ada luka luar yang harus di jahit. Ada tiga jahitan di kepalanya. Lani jatuh saat sedang bermain di sekolah.


"Tolong jagain Lani dulu, ibu mau urus administrasinya." Bu Sari bangun dari duduknya.


"Ibu duduk saja, istirahat. Biar Lulu yang urus semuanya," ucap Lulu.


Lulu segera pergi. Ia melihat jelas bagaimana wajah lelah Bu Sari. Kurang tidur dan panik. Pucat sekali. Terlalu banyak beban dalam hidup Bu Sari. Jauh dari suami, Lulu yang sudah mengecewakannya, serta kecelakaan Lani yang berhasil membuatnya khawatir.


"Bu, kata dokternya Lani bisa dibawa pulang kalau sudah diperiksa. Jam periksanya katanya satu jam lagi. Ibu mau Lulu antar pulang dulu?" tanya Lulu.


"Mana mungkin ibu bisa pulang sementara anak ibu di sini?" ucap Bu Sari dengan nada yang cukup tinggi.


Lulu tersentak dan menelan salivanya dengan susah payah. Sakit rasanya saat mendengar Bu Sari bicara seperti itu padanya. Padahal niat Lulu baik, ia hanya ingin melihat Bu Sari istirahat. Namun kenyataannya, Bu Sari menerimanya dengan respon yang kurang baik.


"Bu, maksud Kak Lulu kan baik. Biar ibu.." ucapan Lita terhenti saat Bu Sari memotongnya.


"Tidak perlu memikirkan ibu. Urus saja diri kalian sebaik mungkin," ucap Bu Sari.

__ADS_1


Lulu menahan rasa sesak di dadanya. Namun lagi-lagi Lulu harus terlihat begitu tegar di hadapan semuanya. Ia hanya duduk menunggu dokter yang akan melakukan pemeriksaan lanjutan.


Lukanya memang tidak terlalu besar, namun karena di kepala jadi dokter harus memastikan jika semuanya baik-baik saja. Meyakinkan jika tidak ada efek lanjutan atas luka di kepalanya.


__ADS_2