LULU

LULU
Nasi padang


__ADS_3

Mengantar ke tempat kerja Papa?


Randi bahkan tidak tahu pasti dimana tempat yang dimaksud Bu Desi. Selama ini Pak Halim adalah pemborong yang akan berpindah-pindah tempat kerjanya. Sementara saat ini ia tidak tahu dimana proyek yang sedang dikerjakan ayahnya.


"Ma, nanti juga Papa pulang kok. Mama tunggu di rumah saja. Mama istirahat saja," ucap Randi.


"Kamu tidak bisa mengantar Mama?" tanya Bu Desy dengan wajah yang kecewa.


Randi menghela napas panjang. Ia tidak mungkin mengatakan tidak. Tapi seharusnya hari ini ia sekolah. Ah sudahlah, tidak ada pilihan lain selain mengiyakan kemauan ibunya.


"Sebentar ya Ma. Aku telepon temanku dulu untuk membuatkan surat keterangan," ucap Randi.


"Surat keterangan? Kamu mau bolos hari ini?" tanya Bu Desi.


Randi menatap ibunya dengan sangat lelah. Haruskah ia menjelaskan jika mengantar ibunya akan membuatnya terlambat ke sekolah?


"Aku takut terlambat Ma," jawab Randi.


"Mama tidak lama kok," ucap Bu Desi.


"Iya Ma. Aku tahu. Tapi aku tidak bisa membawa motor terlalu cepat. Dari pada alfa, lebih baik aku dibuatkan surat dulu. Biar aman," ucap Randi.


"Oh ya sudah," ucap Bu Desi.


Bu Desi menunggu Randi menelepon temannya. Sebenarnya bukan temannya, karena Randi menelepon Lulu. Dengan sangat berat hati, Randi meminta Lulu untuk dibuatkan surat lagi. Padahal Randi sudah ingin bertemu dengan Lulu.


"Nanti kalau aku sudah sekolah, jatahnya dikalkulasikan ya. Biar aku tidak rugi," ucap Randi sambil tertawa.


"Iya, iya. Sudah sekarang antar Mamamu dulu ya," ucap Lulu.


"Iya. Aku siap mengantar mama mertuamu," ucap Randi.


Lulu kembali berbunga saat bayangan pernikahan yang begitu romantis terlintas di benaknya. Ia segera menyudahi panggilannya karena tidak mau bayangan itu semakin membuatnya terbuai. Lagi pula ayahnya sudah siap mengantarkannya ke sekolah.


Randi mulai pergi meninggalkan rumah. Ia mengitari jalanan yang ditunjukkan oleh ibunya. Bahkan sudah hampir satu jam ia belum menemukan ayahnya. Ia mulai khawatir dengan keadaan ibunya.


Ingin rasanya Randi menyerah dan meminta ibunya untuk kembali ke rumah. Namun melihat semangat ibunya, membuat Randi mengurungkan niatnya. Ia terus menyusuri jalanan yang entah akan berujung dimana. Mencari ayahnya yang ia sendiri tidak tahu keberadaannya.


Papa dimana? Please jangan membuatku khawatir. Sudah cukup Mama sakit karena kepergian Bang Ray.


Randi terus berharap jika ia bisa menemukan Pak Halim. Namun setelah dua jam, ia merasa benar-benar lelah. Ia menepi dan berhenti.


"Kenapa? Mogok?" tanya Bu Desi.

__ADS_1


"Tidak Ma," jawab Randi sambil menggeleng.


"Kenapa? Habis bensin? Ini isi ya," ucap Bu Desi sambil memberikan selembar uang seratus ribu rupiah.


"Tidak Ma," ucap Randi sambil menggelengkan kepalanya lagi.


"Terus kenapa?" tanya Bu Desi.


"Ma, sudah dua jam kita berputar ke sana ke sini. Ini sudah jam berapa? Lebih baik Mama pulang dan istirahat ya," ucap Randi.


"Kamu cape? Mencari ayahmu saja kamu cape?" tanya Bu Desi.


Astaga. Mama benar-benar membuatku cape. Kenapa Mama jadi seperti ini?


"Mama maunya apa? Mencari Papa sampai ketemu? Sampai kapan? Bukankah Mama ingin aku sekolah? Kalau jam segini aku masih di sini, kapan aku ke sekolah?" ucap Randi.


Bu Desi melihat pergelangan tangannya. Jam berwarna navy yang melingkar di lengan putihnya itu memang sudah menunjukkan pukul sembilan. Mentari sudah mulai membuat tubuhnya hangat.


"Ya sudah ayo pulang," ucap Bu Desi.


Randi mulai menarik gas motornya dan kembali ke rumah. Perjalanan yang jauh membuatnya sampai di rumah hampir jam sepuluh. Ternyata hal mengejutkan terjadi. Pak Halim sudah ada di rumah dan sedang tidur.


Bu Desi terlihat senang saat tahu jika Pak Halim sudah ada di rumahnya. Namun berbeda dengan Randi. Ia justru kesal saat melihat ayahnya terlihat begitu santai dan tidak merasa bersalah sama sekali.


Tanpa pamit, Randi keluar dari rumah. Kosan Wisnu adalah tujuannya. Tidak lupa ia memberi kabar agar Wisnu tidak ke kosan membawa pacarnya. Hari ini ia sedang ingin sendiri. Mengistirahatkan hati dan kepalanya yang sedang sangat lelah.


Lalu Lulu? Sepertinya saat ini ia memilih untuk menghindar dari Lulu. Ia tidak mau Lulu tahu masalah keluarganya yang menurutnya sangat rumit. Sebenarnya Randi ingin sekolah. Di sana ia bisa merasakan sejenak kebebasan dan kesenangan. Tapi ia tahu kalau ini sudah terlalu siang. Tidak mungkin ia ke sekolah.


Randi tertidur di kosan Wisnu. Semalam ia kurang tidur. Tadi pagi juga ia sudah berkeliling menggunakan motornya. Sekarang badannya merasa tidak enak. Sepertinya Randi masuk angin.


Jam pulang sekolah Wisnu menemui Lulu di kelasnya. Ia memberi tahu kalau Randi ada di kosannya. Ia juga meminta Lulu untuk datang ke kosannya dan menemani Randi.


"Saat ini Randi butuh kamu," ucap Wisnu.


Lulu sebenarnya khawatir. Tapi untuk ke kosan Wisnu ia masih sedikit trauma. Apalagi saat Wisnu memberinya waktu untuk berdua dengan Randi. Ia takut jika kejadian itu terulang lagi.


"Aku harus pulang. Ibu dan Bapak bisa marah kalau aku pulang terlambat. Apalagi kemarin aku pulang sore. Besok aku juga pulang sore untuk pembekalan olimpiade," ucap Lulu.


"Cuma sebentar Lu. Kasihan tahu si Randi. Dia stres," ucap Wisnu.


Sebagai seorang teman yang sangat dekat Randi, Wisnu terus membujuk Lulu agar bisa datang ke kosannya. Ia tahu saat ini hanya Lulu yang bisa membuat Randi sembuh. Karena bukan hanya fisik, tapi hati dan kepala Randi juga sedang tidak baik-baik saja.


Akhirnya Lulu kalah. Wisnu berhasil membujuk Lulu. Ia sengaja tidak mengabari Randi untuk memberinya kejutan dengan menghadirkan Lulu di waktu yang tepat.

__ADS_1


"Ran," panggil Lulu saat sampai ke kosan Wisnu.


Tahu jika di dalam ada Randi, Lulu langsung membuka pintu kosan Wisnu dan mencari Randi. Ternyata Randi sedang tidur di kamar. Lulu duduk di dekat Randi dan mengusap kepala Randi. Tidak panas, hanya berkeringat. Mungkin karena cuaca yang sedang terik.


Merasa ada sentuhan di dahinya, Randi segera membuka mata. Tangannya dengan spontan menggenggam tangan Lulu. Dengan mata yang belum terbuka sempurna, Randi menatap sosok yang sudah membangunkannya itu.


Saat menyadari jika orang itu adalah Lulu, Randi segera menarik tangan itu hingga tubuhnya sangat berdekatan. Aroma khas tubuh Lulu membuat Randi tergoda. Kini bukan hanya matanya yang terbangun, tapi kedatangan Riri juga berhasil membangunkan hasratnya.


"Jangan Ran. Aku mohon," ucap Lulu.


Randi tidak menghiraukan penolakan Lulu. Ia melahap dengan rakus bibir yang terus memintanya berhenti itu. Perlahan apa yang Randi lakukan memang menghipnotis Lulu.


Penolakan itu lama-lama terhenti dengan sendirinya. Lulu bahkan semakin menikmati kelihaian tangan Randi yang bertamasya di tubuhnya. Namun saat Randi akan melanjutkan perjalannya yang belum tuntas bebebapa waktu lalu, Lulu dengan cepat menahannya.


"Jangan," ucap Lulu tegas.


Lulu memang sudah tidak bisa menolak apa yang diinginkan Randi. Tapi untuk yang satu itu, ia selalu berusha menjaganya kewarasannya. Ia tidak boleh lengah dan melakukan kesalahan yang sama.


"Kenapa?" tanya Randi.


"Aku tidak mau hamil," jawab Lulu.


"Aku tidak akan membuatmu hamil. Aku janji," ucap Randi.


Randi masih terus membujuk Lulu. Ia meyakinkan Lulu jika apa yang dilakukannya tidak akan seperti yang Lulu takutkan. Hampir saja Lulu terbuai. Beruntung ponselnya berdering.


Saat melihat nama ayahnya terpampang di layar ponselnya ia segera memberi kode agar Randi tidak bersuara. Lulu tidak mau ayahnya tahu jika saat ini mereka sedang berduaan di kosan Wisnu.


"Iya Pak. Sebentar lagi aku pulang ya. Ini masih di perpustakaan umum," ucap Lulu sambil berbisik.


Randi hanya menahan tawa saat melihat Lulu berbohong. Namun ia senang karena bisa melihat jelas bagaimana perjuangan Lulu hanya untuk menemaninya hari ini.


"Aku harus pulang sekarang. Itu ada nasi padang. Kamu makan ya," ucap Lulu sambil merapikan rambutnya.


"Iya. Hati-hati ya," ucap Randi sambil mengancingkan seragam Lulu yang terbuka.


"Iya. Aku pulang," ucap Lulu.


Randi tidak menawarkan untuk mengantarkan Lulu karena sudah pasti akan ditolak. Ia tahu kalau saat ini harus menjaga jarak dengan Lulu. Tidak boleh membuat keluarga mereka curiga dengan drama yang mereka buat.


Setelah Lulu pulang, Randi meraih kantong kresek yang berisi bungkusan nasi padang. Bibirnya tersenyum saat melihat bungkusan itu. Betapa perhatiannya Lulu hingga ia sempat membelikan nasi padang untuknya. Apalagi ia tahu jika Lulu pasti menggunakan uang jajannya untuk membeli nasi padang itu.


Apa yang Lulu berikan sebenarnya tidak seberapa dengan yang pernah diterimanya dari Randi. Hampir setiap kali ada kegiatan sekolah yang harus mengeluarkan iuran, Randi selalu membayarnya. Bahkan Lulu bisa jajan bebas dengan uang bekal milik Randi.

__ADS_1


"Terima kasih Lu. Kamu tahu saja kalau aku belum makan," ucap Randi sebelum makan.


__ADS_2