LULU

LULU
Mati lampu


__ADS_3

"Mau sampai kapan hubungan kita begini terus Lu?" gumam Randi saat sampai di kamarnya.


Bayangan Lulu dan apa yang sudah mereka lakukan saat pulang sekolah membuatnya tersenyum. Hangatnya bibir dan tubuh Lulu masih terasa hingga saat ini. Randi beberapa lali menyentuh bibirnya.


"Ah, aku mau setiap hari adalah hari sabtu. Hari yang penuh bonus," ucap Randi sambil tersenyum.


"Bonus apa?" tanya Bu Desi saat masuk ke kamar Randi.


"Apa sih Ma?" tanya Randi.


"Kamu kok ngomong sendiri sih? Mama kan jadi khawatir," ucap Bu Desi.


"Mama tidak perlu kepo," ucap Randi.


"Atau jangan-jangan kamu sudah punya pacar baru ya?" ucap Bu Desi.


Semenjak tahu kalau Randi sudah putus dengan Lulu, Bu Desi memang sering masuk ke kamar Randi. Ia jauh lebih hangat dibanding saat Lulu masih menjadi pacar Randi.


Kadang ada rasa kesal di hati Randi saat melihat raut bahagia Bu Desi, jika membahas tentang putusnya hubungan mereka. Randi tidak habis pikir kenapa Bu Desi sebegitu bencinya pada Lulu. Padahal Lulu adalah anak yang baik dan berprestasi.


Malam minggu menjadi malam kelabu bagi Randi. Jadwal chatingan dan teleponan mereka malam ini ditiadakan. Semua karena Lulu dan keluarganya sedang piknik ke rumah saudaranya.


Kejenuhan Randi ditambah dengan Rayhan yang terus mengomporinya. Ia yang datang membawa seorang wanita membuat Randi harus mengerlingkan matanya.


"Aku kan sudah mahasiswa Ma. Jadi boleh kan aku kenalkan pacarku ke Mama?" ucap Rayhan sembari menyindir Randi.


"Boleh sayang. Halo cantik, siapa namamu?" tanya Bu Desi begitu hangat saat menyambut pacar Rayhan.


"Sheni, tante." Sheni mencium tangan Bu Desi penuh hormat.


"Ayahmu kerja dimana?" tanya Bu Desi.


Pertanyaan yang tidak wajar menurut Randi. Apalagi saat mendengar kalau ayah Sheni adalah orang penting di sebuah perkebunan besar. Sikap Bu Desi sangat tidak wajar menurut Randi.


"Jangan panggil Tante. Panggil Mama saja ya! Oh ya kalian mau kemana malam minggu ini?" tanya Bu Desi.


"Kita mau main ke luar Ma. Paling ke cafe. Boleh kan Ma?" tanya Rayhan.


"Boleh sayang. Hati-hati ya!" ucap Bu Desi.


"Ran, jaga rumah ya! Bocil sih jangan keluar malam. Apalagi jomblo. Ngeri," ejek Rayhan.


"Sialan," ucap Randi sambil melempar kulit kacang pada Rayhan.


Rayhan hanya tertawa puas sambil melambaikan tangannya. Tidak lama Randi mengambil jaket dan mencari kunci motornya.


"Kamu cari ini? Mau jemput Lulu?" tanya Bu Desi dengan tatapan tajam.


"Aku cuma mau main ke kosan Wisnu Ma. Lagian Mama masih bahas soal Lulu aja. Kita kan udah putus," ucap Randi.


"Jangan pernah membohongi Mama, Randi. Mana ponselmu!" pinta Bu Desi.


"Ya ampun Mama. Sejak kapan sih aku bohongin Mama?" ucap Randi sambil memberikan ponselnya.


Tidak ada beban sama sekali. Karena Randi yang kesal karena malam minggunya tidak bisa menelepon Lulu, sudah menghapus semua chattingaannya. Ia kesal karena Lulu tidak punya waktu sedikitpun untuknya malam ini.


"Siapa nama Lulu di ponsel kamu?" tanya Bu Desi setelah memeriksa ponsel Randi beberapa saat.


"Tidak ada Ma. Aku bahkan sudah tidak menyimpan nomornya. Kita kan sudah putus," ucap Randi.

__ADS_1


"Benarkah?" tanya Bu Desi dengan tatapan senang.


"Iya," jawab Randi.


"Ah, Mama senang mendengar kabar bahagia ini. Kamu mau ke kosan Wisnu sekarang? Nih, kunci motornya. Ini buat bensin sama jajannya. Jangan pulang terlalu malam ya. Kalau ada apa-apa jangan lupa kabari Mama," ucap Bu Desi sambil memberikan kunci motor dan sejumlah uang.


Randi hanya menatap ibunya dengan tatapan bingung. Ia bahkan mendapat pelukan dan kecupan di pipinya setelah sekian lama hubungannya dengan Bu Desi sempat dingin.


"Ayo katanya mau pergi. Kok malah bengong? Tapi jangan ganggu abang kamu ya!" ucap Bu Desi sambil menepuk tangan Randi.


"Iya Ma. Aku berangkat ya!" ucap Randi.


Masih dengan pikirannya yang bingung atas sikap ibunya, Randi mengendarai motor tanpa tahu tujuan. Ini sudah gelap dan ia tidak yakin jika Wisnu ada di kosannya. Malam minggu seperti ini pasti Wisnu gunakan untuk jalan-jalan dengan pacarnya.


Randi menepi di sebuah warung kecil. Ia membeli minum dan duduk sebentar. Mencoba menghubungi Wisnu untuk sekedar meminjam kosannya.


"Boleh, ke sini aja. Aku di kosan kok," ucap Wisnu.


Randi lega saat tahu jika Wisnu ada di kosannya. Akhirnya ia tidak merasa sendiri. Namun perasaan itu hanya sementara. Karena saat sampai ke kosan Wisnu, ia melihat ada sendal wanita di sana.


Mencoba masuk dengan pikiran yang sudah tidak baik. Ia melihat Wisnu sedang duduk sedangkan pacarnya di atas pangkuannya. Pemandangan yang membuat Randi geram. Ingin sekali ia pergi dari sana sekarang juga.


Tapi saat ini tidak ada pilihan lain. Ia harus tetap di sana karena malas pulang ke rumah. Ada ibunya yang terus membahas tentang keburukan Lulu. Apalagi setelah mengenal pacar Rayhan. Sudah pasti Lulu akan dibanding-bandingkan.


"Sorry, sorry." Randi kikuk saat membuka pintu kosan.


"Eh santai saja. Ayo masuk," ucap Wisnu.


Randi melihat wanita itu turun dari pangkuan Wisnu dan masuk ke dalam kamar. Kosan Wisnu memang terdiri dari kamar dan tengah rumah. Serta sebuah WC kecil di samping kamar.


"Kalian berdua saja?" tanya Randi sambil berbisik.


"Bukannya gitu. Aku kan tidak enak. Jadi ganggu gitu," ucap Randi.


"Kan ada kamar. Jadi aku sama dia tidak terganggu sama sekali. Santai aja," ucap Wisnu.


"Kamar? Kalian mau ke kamar berdua?" tanya Randi.


"Ya masa bertiga sih Ran? Mau ikut juga?" tanya Wisnu.


"Ah kalau tahu begini aku mending pulang saja," ucap Rian.


"Yaaah, pulang. Udah di sini aja. Nanti kita mabar. Abis ini, dia dianter pulang kok. Sebentar," ucap Wisnu.


"Abis ini? Ini apaan?" tanya Randi.


"Itu yang aku ceritain kemarin," ucap Wisnu.


Randi mengerutkan dahinya saat pikirannya semakin kotor.


"Iya, yang itu. Tunggu ya! Paling sejam kok, gak lama. Tuh pakai headset. Takut bocor suara kita," ucap Wisnu sambil melemparkan sebuah headset pada Randi.


Randi menangkap headset itu. Ia sendiri tidak yakin dengan pikiran kotornya. Mungkin maksudnya agar suara dari ponselnya tidak menggangu Wisnu yang sedang bermesraan.


Setelah pintu kamar tertutup, Randi mulai menatap kamar itu. Pikirannya semakin kotor. Ia bahkan sampai ke kamar mandi dan mencuci muka. Berharap jika kepalanya tidak lagi memikirkan hal yang kotor.


Randi berniat untuk main game. Ia melihat ponselnya hanya tiga puluh persen lagi. Matanya mengedar mencari charger. Namun baru saja dua menit Randi main, ternyata mati lampu.


"Ah sial," ucap Randi.

__ADS_1


Randi menyudahi permainannya karena ponselnya akan mati jika tidak sambil dicas. Ia. membuka headset dan menyalakan flashlight di ponselnya.


Penerangan yang cukup untuk sekedar mencari gelas dan menuangkan air. Ia merasa haus. Namun letak galon yang dekat dengan kamar Wisnu, membuat Randi mengurungkan niatnya.


Dadanya berdebar saat mendengar suara aneh yang keluar dari dalam kamar Wisnu. ******* seorang wanita yang terdengar mengerang bergantian dengan napas berat, serta suara benturan kulit yang lembab membuat Randi lemas. Ia menelan salivanya dengan susah payah.


"Astaga, apa yang terjadi di dalam sana?" gumam Randi.


Dadanya berdebar tidak karuan. Pikiran kotornya sudah tidak bisa dikendalikan lagi. Sampai akhirnya lampu sudah menyala kembali. Randi segera keluar dari rumah dan duduk di teras kosan. Telinganya sudah tidak sanggup mendengar suara yang seketika membangunkan hasratnya.


Selang tiga puluh menit, keduanya tampak keluar dari kamar. Pintu kosan yang tidak ditutup bisa membuat Randi melihat jelas bagaimana wajah lelah keduanya.


"Ran, kok di luar?" tanya Wisnu.


"Iya. Biar ada angin," jawab Randi.


Randi tidak habis pikir jika Wisnu benar-benar melakukan semua itu. Apa yang disarankan padanya ternyata bukan hanya sebuah saran. Semua itu adalah cerita nyata tentang apa yang terjadi pada mereka.


"Tunggu ya, aku mau antar dia pulang dulu." Wisnu menepuk bahu Randi.


"Oke," ucap Randi sambil mengangkat jempol tangannya.


Melihat motor Wisnu sudah menjauh, Randi segera masuk. Ia mengecek kamar yang sudah digunakan keduanya. Matanya nampak terbelalak. Kamarnya begitu berantakan. Ada ceceran cairan yang sangat ia kenali di tumpukan tisu yang disimpan di pojok pintu.


Randi segera keluar dari kamar itu dan muntah di kamar mandi. Ia jijik melihat kamar Wisnu dan ceceran jejak yang ditinggalkannya. Ia segera mencuci muka setelah merasa lebih baik.


"Benar-benar gila si Wisnu," gerutu Randi.


Randi memakai kembali jaketnya. Ia bersiap untuk pulang. Hanya menunggu Wisnu untuk sekedar pamit saja. Namun saat Wisnu datang, ia justru ditahan. Wisnu memintanya untuk main game. Randi yang sudah tidak mood untuk main game dengan tegas menolak dan tetap akan pulang.


"Apa jangan-jangan kamu mau cari Lulu ya?" tanya Wisnu.


"Aku mau pulang," jawab Randi.


"Pulang ke rumah Lulu?" tanya Wisnu.


"Ya pulang ke rumah lah. Masa ke rumah Lulu. Ada-ada aja," jawab Randi sambil menggelengkan kepalanya.


"Masih drama putus kan? Gimana kalau ternyata Lulu dijodohkan sama bapaknya?" ucap Wisnu.


"Jangan ngomporin. Aku sama Lulu baik-baik saja. Tidak ada perjodohan-perjodohan," ucap Randi.


"Makanya gas kasih tanda. Dijamin deh Lulu akan jadi milikmu," ucap Wisnu.


"Aku tidak bisa segila itu Nu," ucap Randi.


"Ayolah! Kamu harus rasakan sensasinya. Aku yakin Lulu juga mau kok," ucap Wisnu.


"Aku tidak mungkin membiarkan beasiswa Lulu dicabut hanya gara-gara keegoisanku," ucap Randi.


"Main aman dong. Tidak ada yang tahu selain kalian berdua. Sama aku deh satu lagi. Aku kasih kosan ini khusus buat kalian berdua," ucap Wisnu.


"Kalau mau juga aku ke hotel," ucap Randi.


"Kalau ke hotel nanti ada yang tahu. Beritanya bisa cepat menyebar. Kalau di sini dijamin aman," ucap Wisnu.


"Ah sudahlah. Aku mau pulang. Jangan bawa pengaruh buruk di kepalaku," ucap Randi.


"Terserah. Tapi kalau sampai kamu butuh tempat, kosan ini siap menjadi saksi." Wisnu tertawa.

__ADS_1


Randi hanya berdecak kesal dan segera pergi. Jujur saja ia menyesal sudah datang ke kosan Wisnu. Seandainya ia tahu akan seperti ini jadinya, ia memilih untuk tetap di rumah. Menghabiskan malam minggu ini dalam kesendirian tanpa harus ada penyesalan.


__ADS_2