
Saat mendengar kata putus, kedua keluarga itu memiliki perasaan yang sama. Namun respon keduanya berbeda. Keluarga Lulu berusaha menyembunyikan perasaan bahagianya. Mereka mencoba menghibur Lulu dengan berkumpul dan saling bercerita. Bahkan Pak Budi mengajak Lulu untuk berlibur minggu ini.
Lulu tersenyum dengan perubahan sikap kedua orang tuanya, terutama Pak Budi. Ia kembali merasakan kehangatan keluarganya yang sempat hilang beberapa saat. Kini Lulu merasa kasih sayang Pak Budi yang sama dengan kedua adiknya.
Sementara Randi, ia tengah menggelengkan kepalanya saat ibunya justru memeluk dengan tawa yang riang. Ibunya sangat bahagia saat mendengar kata putus keluar dari mulut Randi.
"Kenapa tidak dari dulu sih? Sekarang kamu tahu kan kenapa Mama tidak suka sama perempuan miskin itu?" ucap Bu Desi.
"Ma, jangan pernah membedakan orang lain hanya karena hartanya. Kan kita juga pernah hidup susah," ucap Randi mengingatkan.
"Ran, sesusah-susahnya kita tapi tidak semelarat keluarganya Lulu. Dia itu anak tidak tahu diri. Sudah tahu Bapaknya cuma kuli bangunan kok mau sekolah di tempat elit," ucap Bu Desi.
"Ma, Lulu sekolah di sana karena beasiswa. Dia pintar, jadi tidak memaksa orang tuanya. Jadi jangan menuduh Lulu yang tidak-tidak," ucap Randi.
"Kamu ini kenapa sih? Katanya sudah putus, tapi kok belain dia sampai mati-matian begitu. Jangan bilang kalau kamu masih suka sama dia," ucap Bu Desi.
"Terserah Mama," ucap Randi.
Randi segera masuk ke kamarnya karena tidak mau kebohongannya terbongkar. Ia yang hanya pura-pura putus tentu tidak bisa mendengar wanita yang ia cintai di jelek-jelekkan. Meskipun oleh ibunya sendiri.
Di dalam kamar, Randi melempar tasnya dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Ia mengambil ponsel dan menghubungi Lulu. Rasa rindunya sudah tidak bisa ditahan lagi. Padahal baru beberapa jam saja mereka berpisah.
"Ih, maksudnya apaan sih? Kok direject?" ucap Randi kesal.
Randi mencoba menelepon Lulu sekali lagi tapi masih sama. Panggilannya direject tanpa ada penjelasan sama sekali. Randi bangun dan berdiri di depan jendela kamarnya. Mengepalkan tangannya dan memghantam dinding kamarnya. Memar ditangannya tidak terasa sakit saat Lulu meneleponnya.
"Dari mana kamu?" tanya Randi kesal.
"Nama kamu belum aku ganti diponselku," jawab Lulu sambil berbisik.
"Kamu dimana sih? Kok bisik-bisik begini?" tanya Randi.
Lulu menepuk dahinya. Randi bukan anak yang terlalu bodoh. Tapi mengapa urusan begini saja Randi tidak mengerti dan harus dijelaskan dengan rinci. Akhirnya Lulu menjelaskan jika nama Randi akan diganti menjadi Rara untuk menghindari kecurigaan keluarganya.
"Astaga Lulu, kamu gila. Namaku diganti Rara. Lalu harus aku ganti apa namamu? Luki?" tanya Randi.
"Boleh tuh Ran. Yang penting aman lah," jawab Lulu dengan polosnya.
"Aman sih aman. Tapi aku geli sendiri. Kenapa sih kita harus begini?" tanya Randi.
"Ih, lucu tahu. Rara dan Luki. Nanti kalau kita menikah nama itu bisa dipakai buat anak kita nanti," jawab Lulu.
Jawaban Lulu tidak lucu sama sekali di telinga Randi. Namun bahasan tentang menikah dan anak membuat kekesalan Randi hilang seketika. Meskipun Randi tidak tahu menikah itu seperti apa, yang ia tahu hidup bersama dengan Lulu akan membuatnya bahagia. Dan itu cukup bagi Randi.
Setelah sepakat untuk penggantian nama Rara dan Luki di ponsel mereka, keduanya mengatur jadwal telepon. Randi sempat protes karena tidak mau terlalu dibatasi begitu. Namun apa boleh buat, Lulu terus menyudutkannya. Randi tidak punya pilihan lain selain mengikuti semua rencana Lulu yang menurutnya sangat gila.
Malam ini Randi lewati dengan penuh kekesalan. Ia yang tidak bisa menghubungi Lulu sebelum jam sembilan malam, merasa kesal saat Wisnu memamerkan kebersamaanya dengan pacarnya.
"Lulu kenapa kamu berbeda sih? Kenapa aku tidak bisa seperti Wisnu? Kenapa?" tanya Randi pada dirinya sendiri.
Setelah jam sembilan malam, ia segera menelepon Lulu. Dan yang paling ia benci adalah saat Lulu harus berbisik saat bicara dengannya. Ia merasa jadi buronan saat mengubungi Lulu. Padahal status mereka masih berpacaran.
__ADS_1
Satu malam mereka lalui dengan penuh drama. Banyak hal yang mereka perdebatkan. Semua hal yang sudah mereka sepakati siang tadi mendadak dibahas kembali karena Randi tidak menerima kenyataan seperti ini. Jangankan untuk keluar bersama, bahkan hanya sekedar telepon saja ada aturannya.
"Ya sudah besok kita bahas lagi di sekolah," ucap Lulu.
Randi mengiyakan. Semalaman ia menulis beberapa point perjanjian yang harus disepakati bersama. Ia tidak mau semua perjanjian itu hanya aturan dari Lulu saja.
Pagi ini Randi datang ke sekolah lebih pagi. Ia sudah menunggu Lulu di gerbang sekolah. Randi sengaja tidak menyewakan angkot untuk wanita pujaannya karena Lulu akan diantar oleh Pak Budi.
Tidak mau jadi masalah baru, Randi menunggu agak jauh dari gerbang. Tapi ia masih bisa melihat dengan jelas jika Lulu sudah sampai di depan gerbang.
"Lulu sekolah dulu ya Pak," ucap Lulu sambil mencium punggung tangan Pak Budi.
Sikap Pak Budi yang hangat membuat Randi iri. Terlebih saat Pak Budi mengusap kepala Lulu dan melambaikan tangan saat pergi dari sekolah. Hal yang tidak pernah ia dapatkan dari Pak Halim, ayahnya.
Melihat situasi sudah aman, Randi segera menarik tangan Lulu dan mengajaknya ke kantin. Lulu hanya pasrah dan mengikuti langkah Randi. Mereka duduk saling berhadapan dan terlihat tegang.
"Lulu, lihat aku!" ucap Randi.
Perlahan Lulu mengangkat kepalanya dan menatap Randi. Sebuah kertas dikeluarkan dari dalam tas Randi.
"Tanda tangan," pinta Randi sambil memberikan kertas itu pada Lulu.
"Apa ini?" tanya Lulu bingung.
"Buka dan baca," jawab Randi.
Lulu mulai membaca kertas yang diberikan oleh Randi. Matanya menyapu semua tulisa yang ada di kertas Itu. Kepalanya mencoba mencari maksud atas apa yang ia baca di sana. Ada beberapa point aturan yang dirasa janggal menurut Lulu.
"Mana?" tanya Randi.
"Ini. Point sembilan," jawab Lulu.
Rian menarik kertas itu dan membaca point yang dimaksud oleh Lulu.
"Jadi kamu keberatan untuk menciumku setiap hari? Aku hanya minta pipi dan dahi saja. Tidak yang macam-macam kok. Aku rasa itu wajar," ucap Randi.
"Wajar? Apa iya?" tanya Lulu.
Lulu menilai itu tidak wajar. Tapi ia takut kehilangan Randi. Ia tidak mau jika Randi benar-benar meninggalkannya.
"Anak SMP aja pacarannya lebih dari itu. Kemarin Wisnu apdate foto pelukan malah," ucap Randi.
Lulu ragu. Tapi sekali lagi ia takut kehilangan Randi. Akhirnya ia menyetujui dan menandatangani surat perjanjian itu. Surat itu dibuat dua rangkap. Masing-masing punya satu arsip.
Kegiatan mereka di sekolah tidak berubah. Lulu tetap menemani Randi sarapan setiap pagi. Istirahat mereka harus selalu bertemu seperti isi dalam surat perjanjian yang sudah disepakati keduanya.
Perbedaannya hanya Randi yang tidak bisa mengantar jemput Lulu seperti biasanya. Ia juga tidak bisa menyewa angkot untuk Lulu dengan alasan takut semuanya terbongkar.
"Aku pulang dulu ya!" ucap Lulu saat jam sekolah sudah selesai.
"Iya, hati-hati." Randi menunjuk pipinya sebagai tanda jangan sampai Lulu melupakan perjanjian itu.
__ADS_1
Lulu melihat ke sekitar. Membaca situasi agar tidak ada yang melihat apa yang akan ia lakukan pada Randi.
CUP
CUP
CUP
Tiga kecupan untuk pipi kanan, pipi kiri dan dahi Randi. Lulu segera pergi karena takut ada yang curiga. Randi tersenyum sambil memegang pipinya.
Sesampainya di rumah, Bu Desi sudah menyambutnya. Ia sudah menyiapkan minuman segar untuk menyambut kedatangan Randi. Ia pikir Randi akan cemberut seperti kemarin. Nyatanya hari ini Randi pulang dengan senyum lebar yang menghiasi wajahnya.
"Kamu bahagia sekali hari ini. Katanya baru putus," ucap Bu desi.
"Aku dapat gebetan baru Ma," jawab Randi dengan semangat.
"Gebetan-gebetan, masih sekolah juga. Inget, tuh baju masih anak SMK. Masih bocah juga," ucap Rayhan yang tiba-tiba ikut nimbrung.
"Apaan sih bang ikut-ikutan aja. Tumbenan juga hari gini ada di rumah. Biasanya abang kan jarang pulang," ucap Randi.
"Dipikir bang toyib kali ah jarang pulang," ucap Rayhan sambil berlalu pergi.
"Abang kamu benar tuh Ran. Kamu ini masih kecil. Masih anak SMK. Rayhan saja belum pacaran," ucap Bu Desi.
"Ma, Bang Rayhan belum pacaran bukan karena tidak mau. Tapi memang karena tidak ada yang mau. Abang tidak laku Ma," bisik Randi sambil menahan tawa.
"Jangan jadi adik durhaka," ucap Bu desi sambil memukul Randi.
Randi malah tertawa dan berlari ke kamarnya. Ia mengunci pintu kamarnya. Saat ini ia butuh waktu sendiri. Ia mengamati wajahnya pada pantulan cermin. Ia mengusap pipi kiri dan kanannya lalu dahinya. Matanya terpejam membayangkan bagaimana kecupan Lulu mendarat di wajahnya.
Hangatnya masih sangat terasa. Randi ingin segera melewati hari ini. Ia ingin waktu terus berjalan dengan cepat. Ada hal yang ia nanti setiap harinya. Kecupan Lulu menjadi candu untuk Randi.
"Rasanya, ah mantap." Randi tersenyum sendiri setiap kali bayangan itu menghiasi kepalanya.
Hari demi hari mereka lalui sesuai dengan kesepakatan itu. Tidak ada lagi rasa kesal karena Randi sudah mendapatkan imbalan atas keputusan yang Lulu ambil.
Lama-lama apa yang dilakukan keduanya menuntut lebih. Seperti hari ini, saat Lulu sudah mengecup kedua pipi Randi dan dahinya tapi ia tidak dilepaskan.
"Apa lagi Ran? Aku sudah melakukan tugasku dan sekarang aku harus pulang. Aku tidak mau pulang terlambat," ucap Lulu.
Randi tidak menjawab. Ia hanya mendekatkan tubuhnya pada Lulu hingga tidak ada jarak antara keduanya. Randi memeluk erat Lulu dan menekan tubuhnya agar lebih erat.
"Ran, lepaskan aku." Lulu mulai gemetar.
Hembusan napas Randi di telinganya membuat darahnya berdesir dengan cepat. Lulu berusaha melepaskan tubuhnya dari Randi. Namun semakin keras usahanya, semakin erat pelukan Randi.
"Ran, nanti kalau ketahuan aku bisa dikeluarkan dari sekolah. Tolong jangan begini," ucap Lulu yang berusaha agar tetap mengontrol dirinya.
GUBRAK
Suara benda jatuh membuat Randi melepaskan pelukannya. Wajah mereka berdua telihat pucat.
__ADS_1