
Saat tiba di danau, Lulu menghirup udara segar sebanyak-banyaknya. Berharap semua beban yang ada dalam dirinya tersingkirkan. Memang tidak menghilang, namun sedikit berkurang. Perlahan bayangan tentang kesalahannya itu memudar seiring dengan berjalannya keseruan di danau.
Kelima orang itu saling menghibur satu sama lain. Tertawa bebas tanpa beban. Jajan kenyang makanan yang murah. Bukan tidak mau jajanan mahal. Tapi apa daya dengan kondisi keuangan yang memang tidak bisa digunakan seenaknya.
Bu Sari memang hanya lulusan SMA. Tidak kuliah. Namun dalam rumah tangga, Bu Sari adalah orang akuntansi yang sangat pandai mengelola keuangan dan membuat laporannya.
Berapapun keuangan yang masuk, tentu akan digunakan sebaik mungkin. Dan semua itu cukup. Hal itu yang membuat Pak Budi selalu jatuh cinta pada Bu Sari. Bahkan di tempat liburanpun, Lulu bisa membaca betapa besarnya kasih sayang Pak Budi untuk Bu Sari.
"Aku ingin suamiku seperti Papa," gumam Lulu sambil menatap kedua orangtuanya yang sedang mengobrol.
Tangan Pak Budi yang sesekali menggandeng Bu Sari membuat Lulu tersenyum tipis. Sangat terlihat bagaimana ayahnya sangat menjaga ibunya. Rumah tangga seperti ini yang Lulu harapkan nantinya. Tapi perlahan harapannya pupus. Randi tidak sebaik Pak Budi. Pria yang ia cintai itu tidak menjaganya. Ah, Lulu mulai merasa gelisah lagi.
"Lu, kamu kenapa?" tanya Pak Budi.
"Tidak, Lulu tidak apa-apa Pak," jawab Lulu.
Lulu kembali membuang kegelisahannya itu. Ia tidak mau jika pikiran itu mengganggu kebersamaannya dengan keluarganya. Apalagi dengan Pak Budi. Sebentar lagi dia akan pergi jauh dan lama tidak akan bertemu.
"Sudah sore. Ayo pulang!" ajak Pak Budi.
Lulu melihat jam yang melingkar di tangannya. Sudah jam empat. Tidak terasa ternyata mereka sudah menghabiskan waktu seharian di danau. Lulu merasa waktu terlalu cepat saat mereka sedang bersama.
"Pak, sebentar lagi ya!" rengek Lani.
Lani merasa ia masih ingin bermain saat melihat teman-temannya mulai berdatangan. Namun mereka sudah ke sana sejak pagi. Pak Budi juga harus berkemas karena besok akan berangkat ke luar pulau.
"Nanti kita main lagi ke sini ya!" bujuk Pak Budi.
"Kapan?" tanya Lani sambil merengek.
"Ya kapan-kapan," jawab Pak Budi sambil tertawa.
"Bapaaaak," ucap Lani yang mulai menangis.
"Lan, mereka baru datang. Sementara kita sudah dari pagi. Mereka bisa pulang malam karena bawa kendaraan sendiri. Kita kan harus naik angkot lagi. Kalau nanti kemalaman, tidak ada angkot. Pulang yuk!" ajak Bu Sari dengan gaya keibuannya.
__ADS_1
"Makanya Ibu beli mobil dong biar kita bisa pulang malam," ucap Lani dengan polosnya.
Pak Budi merasa dadanya bergetar saat mendengar ucapan anak bungsunya. Ia merasa gagal menjadi seorang ayah. Jangankan untuk membelikan mobil, motor pun hanya punya satu dan sudah butut.
"Lan, nanti kalau kita punya uang jangan beli mobil. Kita beli pesawat aja. Biar beda dari yang lain," ucap Lulu sambil menarik tangan Lani agar segera pulang.
"Ih Kak Lulu. Pelan-pelan!" ucap Lani.
"Kamu yang terlalu lambat,"ucap Lulu.
"Lu, pelan-pelan ah. Jangan buru-buru begitu. Kasihan Lani," ucap Bu Sari.
"Tenang Bu, Lani kan harus belahar gesit. Jangan sampai seperti Lita. Katanya anak pramuka tapi lambat," ucap Lulu.
"Enak saja," ucap Lita yang sudah ngos-ngosan karena mengimbangi langkah Lulu.
Sampailah mereka ke pinggir jalan raya. Tidak lama ada angkot yang masih kosong dan mereka segera naik. Sampai mereka turun, tidak ada penumpang lain yang ikut naik ke angkot itu.
"Tuh kan Lan, kalau kamu sabar Tuhan pasti akan berikan apa yang kamu mau. Makanya sabar," ucap Lulu saat sudah sampai ke gang rumahnya.
"Tadi kan kamu bilang mau beli mobil. Barusan Tuhan kasih loh. Kita dari danau ke sini hanya berlima. Tidak ada penumpang lain. Anggap saja itu mobil yang Tuhan kirim plus sopirnya. Makanya banyak-banyak bersyukur," jawab Lulu.
Lani memang membenarkan ucapan Lulu. Saat mereka pulang, mereka sama sekali tidak berdesakan dengan penumpang yang lain. Tidak seperti saat mereka berangkat. Mereka harus berdesakan karena banyak sekali penumpang yang satu arah dengan mereka.
Setelah sampai ke rumah, mereka masuk ke kamar masing-masing. Termasuk Lulu. Ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Membayangkan betapa bahagianya hari ini. Hari yang mungkin hanya akan bisa terulang kembali tahun depan.
Tidak ingin berlarut dalam kesedihannya, Lulu mengambil ponselnya yang ia simpan di dalam lemari. Maksud Lulu adalah untuk membuka aplikasi sosial media untuk melihat beberapa informasi terkini. Nyatanya tidak seperti itu, karena baru saja Lulu memegang ponsel tiba-tiba ponselnya bergetar.
"Randi," ucap Lulu pelan.
Lulu tidak langsung menjawab panggilan itu. Ia memejamkan mata sebentar dan berpikir apakah ia harus menjawab panggilan itu atau tidak. Namun tiba-tiba Lulu berpikir jika ia tidak menjawab panggilan itu, Randi bisa saja menyusulnya ke rumah. Dan itu bukan hal yang baik untuk hubungan mereka dan hubungannya dengan keluarganya. Karena keluarganya sudah tahu jika Lulu dan Randi sudah tidak ada hubungan lagi.
"Halo," ucap Lulu saat panggilan itu sudah terhubung.
Lulu segera menjawab panggilan itu sebelum benar-benar berakhir. Namun saat panggilan itu mulai terhubung, keduanya justru bertengkar. Randi marah karena teleponnya diabaikan sejak tadi pagi. Sementara penjelasan Lulu tentang alasannya karena pergi ke danau tidak diterima oleh Randi.
__ADS_1
"Ya kan bisa ke danau bawa ponsel. Aku juga tidak akan meneleponmu kalau seandainya kamu sama keluargamu. Tapi setidaknya kabari aku dulu," ucap Randi.
Lulu sudah tidak bisa berbohong lagi. Ia hanya diam dan mendengarkan ocehan Randi yang terus memojokkannya. Rasanya lelah mendengarkan semua tuduhan Randi. Lulu yang saat ini ingin dipedulikan oleh Randi, namun malah dituduh yang tidak-tidak.
Ide cemerlang muncul. Lulu mematikan ponselnya. Semalaman ia tidur nyenyak tanpa beban apapun dari Randi. Walaupun saat jam lima pagi ia harus menangis tersedu-sedu saat ayahnya sudah berangkat membawa tas besar berisi kebutuhannya selama di tempat kerja yang baru.
"Lu, Bapak titip ibu dan adik-adik kamu ya! Bapak juga minta maaf karena tidak bisa menemanimu saat olimpiade nanti. Tapi kamu harus tahu kalau doa Bapak tidak akan berhenti untukmu," ucap Pak Budi.
Lulu tidak bisa berkata apapun selain menangis dalam pelukan Pak Budi. Apalagi saat Pak Budi mengusap-usap kepala Lulu. Jelas terasa kehangatan kasih sayang seorang ayah yang begitu tulus.
Sampai akhirnya Lulu melambaikan tangan sebagai tanda perpisahan dan sosok ayahnya semakin menjauh, bahkan lenyap dari pandangannya. Bu Sari yang juga merasakan kesedihan yang mendalam, namun berusaha tegar di depan ketiga anak perempuannya. Menyembunyikan semua luka yang tercipta karena rencana untuk masa depan keluarganya.
"Ayo siap-siap sekolah. Nanti kesiangan," ucap Bu Sari mengingatkan.
Hari ini Bu Sari tidak memasak. Tubuhnya sangat lemas, pikirannya kacau. Ia hanya menyiapkan telur dadar untuk sarapan. Setelah itu kembali ke kamar. Air matanya mulai mengalir saat melihat lemari pakaian. Masih ada beberapa pakaian suaminya yang menggantung di sana.
"Pak, semoga semua menjadi berkah ya untuk keluarga kita. Sehat-sehat di sana," ucap Bu Sari pelan.
Ketukan pintu kamar dan panggilan dari Lani membuat Bu Sari segera mengusap air matanya. Ia segera mengeluarkan uang lima ribu rupiah untuk Lani.
"Bu, nanti kalau kita sudah kaya uang jajannya ditambah ya!" pinta Lani.
"Husssst, jangan selalu bilang seperti itu. Kita jadi orang yang sederhana juga asal sehat," ucap Bu Sari.
"Ya kan Bapak kerja. Cari uang yang banyak buat kita," ucap Lani.
Bu Sari menyerah. Percuma ia jelaskan panjang lebar karena Lani tidak akan mengerti. Lani masih terlalu polos untuk diajak bicara tentang hal ini. Akhirnya Bu Sari hanya meminta Lani untuk berangkat sekolah agar tidak kesiangan.
Tidak lama Lulu dan Lita pun pamit ke sekolah. Lulu membawa motor yang biasa dipakai oleh Pak Budi. Ia mengantar Lita ke SMP, baru berangkat ke sekolahnya. Sedangkan Lani cukup berjalan kaki karena letak sekolah yang tidak terlalu jauh dari rumah.
"Kak, nanti pulang sekolah aku dijemput tidak?" tanya Lita.
"Kakak ada bimbingan buat olimpiade dulu. Kamu pulang duluan saja ya!" jawab Lulu.
Lita mengangguk dan segera masuk ke sekolah. Sementara Lulu pergi meninggalkan Lita menuju ke sekolahnya. Ini pertama kalinya Lulu ke sekolah membawa motor sendiri. Biasanya kalau tidak naik angkot ya diantar Pak Budi. Karena sudah sangat lama ia tidak diantar jemput oleh Randi.
__ADS_1