
"Hey, pelan-pelan!" Lulu merasa panik saat Randi membawa motor dengan kecepatan tinggi.
"Iya, kamu tenang saja. Pegangan yang kencang ya," ucap Randi sambil tersenyum nakal.
Mungkin ini adalah salah satu modus Randi agar Lulu memeluknya. Soalnya Lulu sangat jarang memeluk Randi saat mereka berboncengan. Kadang Randi merasa jadi tukang ojek saat membawa Lulu di belakangnya.
"Ayo turun!" ucap Randi.
Saat motor terparkir di depan kosan Wisnu, hati Lulu berdebar. Ia tidak yakin jika harus melepas kesuciannya hari ini. Benarkah ia bisa sebodoh ini hanya karena cinta? Masih ada kesempatan untuk Lulu menolak. Namun sayangnya tatapan Randi yang penuh harap membuat Lulu mengikuti setiap permintaan kekasihnya itu.
Lulu turun dari motor. Keringat dingin mulai membasahi tangannya. Apalagi saat Randi membuka pintu kosan. Melihat Lulu yang masih diam mematung, Randi menarik tangan Lulu hingga mereka sudah masuk ke dalam.
Hanya ada mereka berdua di sana. Randi mulai membuka tas dan kancing bajunya. Tidak lama Randi berdiri dan mengunci pintu kosan itu. Dada Lulu mulai berdebar tidak karuan.
"Kenapa dikunci?" tanya Lulu panik.
"Biasanya juga dikunci. Jaga-jaga kalau si Wisnu tiba-tiba nyelonong masuk," jawab Randi.
Randi mulai mendekat dan memeluk Lulu. Berada di samping Lulu selalu membuat otak Randi berpikir kotor. Ia yang sudah tahu tubuh Lulu di usia yang tidak seharusnya, membuatnya gelisah setiap kali aroma tubuh Lulu terhirup olehnya.
"Ran," ucap Lulu menahan tubuh Randi yang kian merapat.
"Kenapa?" tanya Randi tanpa melepaskan pelukannya.
"Panas," jawab Lulu.
Randi melepaskan pelukannya dan menarik tangan Lulu. Ia membawanya ke kamar. Dimana di sana fasilitas seperti yang memang sudah disediakan oleh Wisnu.
"Di sini kamu tidak akan kepanasan lagi," bisik Randi yang mulai kembali beraksi.
Lulu beberapa kali bertahan dalam kewarasannya. Ia mengizinkan Randi melakukan apa yang diinginkan kecuali itu.
"Jangan Ran," lagi-lagi Lulu masih menolak.
Tangan Randi yang mengunci tubuh Lulu membuat tubuh kecil itu sulit berontak. Tenaga Randi yang jauh lebih besar membuat Lulu kalah. Pertahanannya berhasil di bobol oleh Randi.
Pegangan tangan Lulu yang begitu erat pada sprei membuat Randi semakin bersemangat. Ada perih yang membuat Lulu sampai meneteskan air mata. Randi menyempatkan mengusap air mata itu tanpa melepaskan penyatuannya.
"Setelah ini tidak akan sakit," ucap Randi.
Bergetar tubuh Randi saat menahan diri agar tidak puas secepat itu. Namun apalah daya saat tubuh Lulu membuatnya tidak bisa menahan diri.
Lulu melihat wajah Randi memerah. Keringat yang membasahi pelipisnya membuat Lulu lemas. Benarkah ia sudah kehilangan kesuciannya? Dalam aksi Randi, Lulu membagi pikirannya. Tidak sepenuhnya Lulu menikmati lagi setiap sentuhan itu, kini kepalanya berpikir tentang kebodohannya.
__ADS_1
"Ran, jangan sampai hamil ya. Please," pinta Lulu penuh harap.
Randi mengangguk. Ia masih mempertimbangkan masa depannya jika sampai Lulu hamil begitu cepat. Saat gerakan Randi semakin cepat dan tidak beraturan, Lulu kembali merasa perih itu semakin nyata. Tangannya semakin erat menggenggam sprei. Semantara mulutnya tidak bisa menahan diri.
Tidak ingin suara Lulu membuatnya semakin gelisah, Randi mengunci dengan bibirnya. Lulu berusaha melepaskan kuncian itu, namun Randi terlalu lincah untuk Lulu taklukan. Sampai akhirnya perutnya terasa hangat. Sementara Randi nampak terbaring di sampingnya dengan napas terengah-engah.
"Apa ini?" tanya Lulu.
Bibirnya meringis saat tangannya meraba cairan kental di atas perutnya. Ia mencium cairan itu untuk memastikan apa yang sudah ia sentuh.
"Hoekk, hoeeek," Lulu merasa sangat mual saat mencium bau cairan itu.
"Husssst," jangan berisik.
Randi berusaha bangun meskipun lututnya masih gemetar. Ia bangun dan membawa tissue. Di lapnya perut rata Lulu yang terlihat sangat menggoda. Setelah membersihkan perutnya, Randi berusaha membersihkan miliknya. Ada sedikit darah di sana.
Bibirnya tersenyum saat melihat itu. Ia benar-benar yakin jika ia adalah orang pertama yang menaklukan Lulu. Sementara Lulu yang masih terbaring lemas, Randi memilih untuk segera mandi. Setelah segar, ia berusaha membantu Lulu agar segera membersihkan tubuhnya.
"Sakit," ucap Lulu.
"Aku tahu itu. Ayo aku bantu!" ucap Randi.
Randi membantu memapah Lulu sampai ke kamar mandi. Sakit di bagian pusatnya membuat Lulu kesulitan untuk berjalan. Bahkan untuk mandi pun Lulu merasa tubuhnya remuk. Sulit sekali, namun ia berusaha untuk membersihkan dirinya. Sangat lambat, hingga akhirnya Randi masuk ke dalam kamar mandi.
"Kamu belum selesai?" tanya Randi.
Randi menahan pintu kamar mandi hingga pintu itu kembali terbuka. Ia ingin membantu Lulu untuk membersihkan tubuhnya. Namun Lulu menolak.
"Aku malu. Kamu keluar," ucap Lulu.
"Kenapa harus malu? Aku bahkan sudah melihat dan menyentuh semua bagian tubuhmu. Tidak ada yang terlewat sedikitpun," ucap Randi.
"Tidak perlu di bahas," ucap Lulu sambil mendorong Randi agar keluar dari kamar mandi.
Randi hanya tertawa dan tidak menghiraukan usiran dari Lulu. Ia justru mengambil gayung dan mengguyur tubuh Lulu. Ia mengambil shampo dan membilas rambut Lulu hingga berbusa. Lalu ia mengambil sabun dan mulai membersihkan tangan Lulu. Randi membersihkan semuanya. Namun saat tangannya menyentuh bagian dada, Randi tiba-tiba menghentikan tangannya.
"Sekali lagi ya," ucap Randi.
"Tidak. Aku bahkan belum selesai mandi Ran," ucap Lulu.
"Sebentar saja. Aku mohon," ucap Randi sambil membuka bajunya dan melempar ke luar kamar mandi.
"Ran, jangan Ran. Besok lagi ya," ucap Lulu.
__ADS_1
Tubuh Lulu yang masih licin oleh sabun membuat Randi semakin berekspektasi. Pikirannya semakin kotor. Pelan namun pasti, Randi melakukan itu untuk kedua kalinya pada Lulu.
"Awas ya Ran. Aku tidak mau kalau sampai hamil," ucap Lulu saat napas Randi terdengar semakin berat.
"Heem," ucap Randi tanpa menghentikan aksinya.
Sampai akhirnya Randi mengeluarkan cairan yang sama di kamar mandi. Randi sampai bersandar pada dinding kamar mandi saat merasa tubuhnya sangat lelah. Rasanya ia tidak bisa menopang tubuhnya karena lututnya begitu gemetar.
"Awas, aku mandi duluan." Lulu segera membersihkan tubuhnya agar segera terbebas dari hal yang tidak diinginkannya.
Meskipun Lulu merasa sakit, namun ia terus mempercepat mandinya karena tidak mau terjadi hal itu untuk yang ketiga kalinya. Rasanya sakit itu kian terasa saat air mengenai bagian pusatnya.
Lulu sampai meringis namun segera menyelesaikannya saat Randi masih menatapnya dengan tajam. Ia segera keluar dan menggunakan kembali pakaiannya. Merapikan penampilannya agar tidak terlihat sudah terjadi hal yang tidak sepantasnya terjadi.
"Lu, terima kasih ya." Randi memeluk Lulu saat Lulu sedang menatap dirinya di depan cermin.
"Ran, lepas. Aku harus pulang," ucap Lulu.
Randi terkekeh tanpa melepaskan pelukannya. Beberapa kecupan di pipi Lulu membuat Lulu ketakutan.
"Tenang, aku sudah lelah. Aku tidak akan memintamu untuk yang ketiga kalinya," ucap Randi.
"Ya sudah aku mau pulang," ucap Lulu sambil mengambil tasnya saat pelukan Randi sudah lepas.
"Aku antar ya!" ucap Randi.
"Tidak mau. Aku tidak mau ada masalah saat aku pulang ke rumah," ucap Lulu.
"Ya sudah tapi kita makan dulu ya!" ucap Randi.
"Ini sudah sore Ran. Aku harus pulang sekarang juga," ucap Lulu.
"Oke, kamu pulang sekarang. Jangan marah ya! Aku mencintaimu," ucap Randi sambil mengecup singkat bibir Lulu.
Lulu hanya menunduk tanpa menjawab ucapan cinta dari Randi. Tidak seperti biasanya, kali ini Lulu hanya diam. Tidak ada respon manja saat Randi mengucapkan kata cinta seperti itu. Ia menyesal dengan kebodohannya.
Apa arti kata cinta jika ternyata Randi sudah merenggut kesuciannya saat ia masih duduk di kelas 2 SMK. Ia benar-benar tidak menyangka jika hidupnya akan seperti ini. Ketakutan terbesarnya adalah kekecewaan orang tuanya jika tahu hal ini sudah terjadi.
"Hey, kok melamun? Masih sakit?" tanya Randi.
"Aku pulang," ucap Lulu.
Tanpa merespon pertanyaan Randi, Lulu segera pulang. Ia sudah tidak mau mendengar apapun dari Randi. Saat ini ia sedang ingin sendiri. Hanya sendiri. Bahkan jika bisa, ia ingin sekali pergi ke suatu tempat dimana hanya ada dirinya saja. Ia ingin menangis, berteriak, marah dan melepaskan semua rasa yang membuat dadanya sesak.
__ADS_1
Kakinya lemas saat jarak ke rumah hanya beberapa langkah lagi. Lulu menghentikan langkahnya saat rumah itu di depan matanya. Rumah yang hangat dan penuh cinta. Dimana kesederhanaan mengajarkannya untuk tetap bertahan.
"Lu, kenapa diam di sana? Ayo masuk!" ucap Bu Sari.