LULU

LULU
Takut hamil


__ADS_3

"Ran," ucap Lulu.


"Hemm," jawab Randi.


Mendengar suara Randi, hati Lulu merasa tenang. Apalagi pria itu sedang bersamanya. Dengan penuh rasa Lulu memeluk Randi yang sedang mengendarai sepeda motornya. Selama perjalanan, Lulu tidak pernah melepaskan pelukannya.


Randi yang senang diperlakukan seperti itu oleh Lulu, segera memegang tangan Lulu yang melingkar di perutnya.


"Kamu jangan khawatir. Ingat ya! Aku selalu ada untukmu," ucap Randi meyakinkan.


Lulu tidak menjawab. Ia hanya mengangguk dengan kepala yang bersandar di punggung Randi. Pelukan Lulu terlepas saat jarak ke sekolah sudah sangat dekat. Bukan karena malu jika teman-temannya tahu, tapi Lulu takut ada yang melaporkannya ke guru BP.


"Nanti peluk lagi ya!" ucap Randi saat Lulu melepaskan pelukannya.


"Iiih," ucap Lulu sambil memukul punggung Randi.


Randi hanya terkekeh. Ia tersenyum lebar saat Lulu sudah kembali seperti semula. Melihat wajah Lulu yang cantik, ada rasa rindu untuk melakukan rutinitas yang biasa mereka lakukan seperti dulu. Bertemu di jam terakhir, saling memberi bukti tanda sayang dan rindu versi mereka.


Untuk saat ini, Randi tidak memintanya. Ia tahu posisi Lulu sedang tidak baik. Ada beban dan ketakutan dalam hatinya. Jika Randi memaksakan diri untuk meminta Lulu melakukan apa yang ia inginkan, Randi takut Lulu marah dan menganggapnya pria jahat.


"Sarapan dulu?" tanya Randi.


"Ini sudah siang. Ketemu nanti saja ya jam istirahat," ucap Lulu.


Randi dan Lulu pun berpisah di parkiran. Letak kelas yang berjauhan membuat mereka harus berjalan sendiri-sendiri sampai akhirnya mereka duduk di kelas masing-masing. Raga mereka memang berpisah tapi hati dan pikiran mereka tetap bersama, terlebih Lulu.


Lulu selalu tersenyum tipis saat bayangan Randi dengan manisnya berkelebatan di pelupuk matanya. Sungguh semua yang ada pada Randi selalu membuat Lulu jatuh cinta. Apalagi keberanian Randi yang siap bertanggung jawab untuk menikahinya. Semua itu terdengar sangat manis dan selalu terngiang di kepala Lulu.


"Cieee, yang udah di charger sama si ganteng Randi." Salah satu teman Lulu menggodanya.


"Akhirnya setelah seminggu gak ketemu. Udah lowbat, eh chargernya datang. Full dong langsung," timpal salah satu teman yang lain.

__ADS_1


Lulu hanya menggelengkan kepalanya. Ia tidak berani meresponnya. Hanya saja ia menyadari perubahan sikapnya yang membuat mereka bersikap seperti itu. Perasaan Lulu yang pada akhirnya membuat dirinya kembali menjadi Lulu yang dulu.


"Eh mau kemana?" tanya Lulu saat jam istirahat.


"Ke kantin," jawab salah satu temannya.


"Aku gak diajak?" tanya Lulu.


"Mana berani ngajak ratunya si Randi. Kamu sudah pasti milih dia lah," jawab teman yang lainnya.


"Ayo!" sambung salah satu temannya.


Lulu hanya mematung. Ia sedang mencerna setiap kalimat yang terlontar dari mulut teman-temannya. Apakah benar begitu? Setelah lama ia berpikir, akhirnya ia tahu memang kenyataannya seperti itu. Ia hanya bersama mereka saat Randi tidak masuk selama seminggu ini.


"Lu," panggil Randi.


Lulu tersadar dari lamunannya. Ia pun segera menemui Randi. Pergi ke tempat yang biasa. Dan tentunya melakukan apa yang biasa mereka lakukan.


"Aku bukan power ranger," jawab Randi sambil mengecup punggung tangan Lulu.


"Aku serius," ucap Lulu.


"Aku selalu serius sama kamu. Kita nikah ya nanti," ucap Randi.


Randi selalu berhasil membuat Lulu merasa tidak berdaya. Semua ucapan Randi membuat Lulu terbuai. Bahkan rencananya, nanti siang mereka akan bertemu lagi di kosan Wisnu.


"Sampai ketemu nanti," ucap Lulu.


Tidak ada rasa takut. Lulu justru senang saat Randi mengajaknya bertemu di kosan Wisnu. Bahkan sudah tidak ada lagi rasa takut sama sekali. Lulu sudah merasa Randi adalah bagian dari hidupnya. Hanya menunggu waktu, mereka akan bisa hidup bahagia bersama.


Randi menguji Lulu yang terkesan mulai mendekatinya. Dan benar dugaan Randi, Lulu sudah ketergantungan dengannya. Hal ini yang Randi harapkan sejak awal. Setelah berhasil mendapatkan apa yang Randi inginkan, akhirnya ia bisa tersenyum lebar.

__ADS_1


"Kamu jangan takut. Aku akan selalu ada untukmu," ucap Randi.


Selalu, kalimat itu yang diulang Randi untuk meyakinkan Lulu. Seperti apa yang diharapkan, Lulu memang berhasil masuk dalam rencana Randi. Sebenarnya Randi tidak jahat. Hanya saja caranya yang salah.


Bagaimanapun, saat Randi mengambil kesucian Lulu maka dia sudah sangat bersalah. Masa depan Lulu hancur. Namun apa yang Randi lakukan hanyalah caranya mempertahankan Lulu agar tetap di sampingnya.


Jiwa mudanya selalu bergejolak saat Wisnu selalu menantangnya. Namun seperti yang sudah dikatakannya pada Lulu bahwa ia akan bertanggung jawab dengan apa yang sudah dilakukannya.


"Boleh ya?" tanya Randi saat Lulu sudah mulai terbuai.


Lulu menggeleng, namun Randi menangkap sinyal yang baik. Tanpa persetujuan, Randi pun melancarkan aksinya. Perlahan tapi pasti, namun akhirnya Randi kembali merasa memiliki Lulu sepenuhnya. Lulu yang sudah tidak bisa mengendalikan diri hanya bisa menikmatinya.


Merasa tidak ada penolakan sama sekali dari Lulu, Randi tidak bisa mengontrol akalnya. Tanpa sengaja pelepasan itu terjadi begitu saja. Bahkan Lulu pun tidak menyadari hal itu.


"Sudah di lap?" tanya Lulu saat melihat Randi sudah menggunakan kembali pakaiannya.


Randi gelagapan. Ia pun jujur kalau tanpa sengaja melakukan semua itu. Lulu menatap Randi tidak percaya. Matanya mulai berlinang dan menangis.


"Jangan menangis. Aku akan bertanggung jawab. Kamu percaya kan?" tanya Randi sambil memeluk Lulu.


Lulu masih belum berhenti menangis. Bukan ia tidak percaya pada Randi, tapi tidak mungkin kalau sampai harus berhenti sekolah. Mimpinya terlalu besar kalau harus dipatahkan oleh kebodohannya sendiri.


Lulu tidak banyak bicara. Hatinya memang kesal. Namun ia pun tidak memungkiri jika semua dilakukan tanpa paksaan sedikit pun. Yang membuatnya malu adalah saat menikmati semuanya tanpa berpikir panjang.


Rasa percayanya pada Randi ternyata justru membuatnya merasa bodoh. Tidak ada kata yang keluar dari mulut Lulu sejak kejadian itu. Randi berkali-kali mengajaknya bicara namun Lulu masih membisu.


Randi hanya mengantarnya sampai gang. Lulu ingat betul pesan ibunya tadi pagi. Apalagi saat ini ia sedang memikirkan beban yang berat di kepalanya. Namun setelah melihat wajah ibunya, ia mulai mengatur emosinya.


Kali ini, ia tidak mau ibunya tahu. Terbayang bagaimana marah dan kecewanya ibunya saat tahu apa yang terjadi padanya. Satu-satunya cara adalah bersikap tenang. Walaupun pada akhirnya kebohongannya akan terbongkar juga.


Tidak! Untuk saat ini Lulu tidak mau berpikir terlalu jauh. Ia hanya ingin mendapat pelukan ibunya seperti dulu. Sebelum nanti ia tidak akan sanggup menahan kebencian Bu Sari padanya.

__ADS_1


Maafkan Lulu, Bu. Lulu memang bodoh. Sangat bodoh.


__ADS_2