
Hari libur ini Lulu habiskan dengan membereskan rumah dan membantu ibunya memasak. Sudah jam sebelas siang tapi ia belum membuka ponselnya. Ia memanfaatkan waktunya bersama kedua orang tuanya.
"Lu, ponsel kamu berisik sekali tuh. Si Lita bukan sih yang telepon?" ucap Pak Budi yang baru saja masuk ke dapur.
"Sebentar ya Pak. Lulu lihat dulu," ucap Lulu.
Lulu segera mencuci tangan dan mengelapnya. Ia harus mengecek ponselnya karena khawatir jika yang menelepon itu adalah Lita. Pasalnya ia sudah janji untuk menjemputnya kalau acara kemah sudah selesai.
"Randi?" ucap Lulu.
Lulu melihat ke luar kamar. Saat Bapak dan ibunya tidak terlihat, ia segera menutup pintu kamarnya untuk menelepon balik Randi.
"Ada apa?" tanya Lulu dengan suara pelan.
"Kamu dimana sih? Kenapa bisik-bisik begitu?" tanya Randi.
"Di kamar. Kamu kenapa telepon?" tanya Lulu.
"Ya ampun Lu, kamu itu pacarku. Masa tidak boleh sih aku meneleponmu?" ucap Randi kesal.
"Aku kan sudah bilang kalau hari libur, aku biasa menghabiskan waktu dengan ibu dan bapakku," ucap Lulu.
Randi berdecak kesal saat Lulu kembali mengingatkan hal yang tidak ingin ia dengar. Ia merasa dunia tidak adil. Kenapa Lulu bisa menghabiskan waktu dengan keluarganya sedangkan ia tidak bisa? Ia hanya bisa menikmati kesendiriannya di setiap akhir pekan.
"Sama akunya kapan?" tanya Randi.
"Kita kan senin sampai sabtu bertemu setiap hari. Apa itu kurang?" tanya Lulu.
"Itu kan sekolah. Kita cuma bertemu jam istirahat sama pulang aja. Waktunya terbatas," jawab Randi.
"Terus kamu maunya kita bertemu dimana?" tanya Lulu.
"Ya aku mau seperti yang lain. Hubungan yang normal bisa menghabiskan waktu bersama saat akhir pekan," jawab Randi.
"Nanti aku cari waktu yang tepat ya!" ucap Lulu.
"Nanti, nanti, nanti terus. Tapi tidak pernah ada waktu yang pasti," ucap Randi kesal.
Mendengar kekesalan Randi, Lulu segera meminta maaf dan berusaha mencairkan suasana. Ia tidak mau jika Randi semakin marah. Walaupun sebenarnya ia juga kesal dengan sikap Randi yang berubah akhir-akhir ini.
"Semua gara-gara Wisnu," gerutu Lulu saat panggilan telepon sudah berakhir.
Ya, semua gara-gara Wisnu, sahabat dekat Randi. Sejak Wisnu memiliki pacar, Randi sering menuntutnya untuk ini dan itu. Padahal dulu Randi tidak pernah protes dan sangat menerima kebiasaan Lulu.
"Lu," panggil Pak Budi.
"Iya Pak," jawab Lulu.
"Si Lita bukan?" tanya Pak Budi.
"Bukan Pak," jawab Lulu sambil membuka pintu.
"Dari pacarmu itu ya?" tanya Pak Budi dengan tatapan tajam.
Lulu menunduk, ia tidak bisa bersitatap dengan sorot mata tajam Pak Budi.
"Teman Pak," jawab Lulu.
"Iya, dia kan?" tanya Pak Budi.
Lulu mengangguk. Hatinya sudah pasrah jika memang ayahnya akan membahas tentang Randi lagi. Namun Lulu beruntung karena Lita meneleponnya.
"Lita Pak," ucap Lulu.
"Sini biar Bapak yang bicara," ucap Pak Budi meminta ponsel Lulu.
__ADS_1
"Iya," ucap Lulu.
Lulu segera memberikan ponselnya pada Pak Budi. Nada bicara Pak Budi pada Lita terasa berbeda di telinga Lulu. Ia merasa Pak Budi sedang kecewa padanya. Tapi ia juga tidak bisa meninggalkan Randi.
Dua tahun bersama Randi membuat Lulu merasa pria itu adalah pelengkap hidupnya. Ia pasti akan merasa ada yang kurang saat tidak bersama dengan Randi lagi. Itu yang membuat Lulu bertahan sampai saat ini.
"Nih ponselmu. Bapak mau jemput Lita dulu ya!" ucap Pak Budi.
"Biar Lulu saja Pak," ucap Lulu.
"Sudah, kamu temani ibu saja. Lita biar Bapak yang jemput," ucap Pak Budi.
Lulu mengangguk dan merasa perih saat melihat Pak Budi pergi semakin jauh dari rumah. Ada bulir air mata yang sempat menetes saat ingat kapan terakhir ia dibonceng oleh Pak Budi.
"Lu," panggil Bu Sari.
"Iya Bu," jawab Lulu setelah mengusap pipinya.
"Bapak mau kemana?" tanya Bu Sari.
"Bapak mau jemput Lita Bu," jawab Lulu.
"Bukannya kamu yang mau jemput Lita? Kok jadi Bapak?" tanya Bu sari.
Pertanyaan yang membuat hati Lulu semakin sakit. Namun ia hanya bisa menggeleng saat menanggapi pertanyaan ibunya.
"Bu," teriak Lani saat masuk ke dalam rumah.
"Lan, pelan-pelan ya!" ucap Bu Sari mengingatkan Lani.
Lani memang biasa bicara dengan nada tinggi. Seisi rumah sering mengingatkan Lani namun begitulah Lani. Ia masih tetap dengan kebiasaannya.
"Kak Lita mana Bu?" tanya Lani.
"Kenapa cari Kak Lita?" tanya Lulu.
"Aku mau minta oleh-oleh," jawab Lani.
"Kamu pikir Kakakmu sudah piknik apa. Kok minta oleh-oleh," ucap Bu Sari sambil menggelengkan kepalanya.
Lani segera masuk ke kamar dan tiduran. Ia bernyanyi kecil sambil membereskan kamarnya. Saat mendengar suara motor ayahnya, ia segera keluar dan memburu Lita.
"Kak Litaaaa," panggil Lani.
"Lan, pelankan suaramu. Telinga Kakak serasa mendengar suara RX king lewat," ucap Lita sambil mengusap telinganya.
Lani tidak menggubris ucapan Lita. Ia malah menengadahkan tangannya dan meminta oleh-oleh.
"Nih, bawa semua." Lita menyerahkan kantong plastik hitam dengan ukuran besar pada Lani.
"Apa ini?" tanya Lani.
"Buka sendiri saja," jawab Lita sambil pergi ke kamarnya.
Lani dengan antusias membuka kantong plastik itu. Namun akhirnya senyumnya hilang dan berteriak saat melihat bahwa isinya hanya cucian.
"Kak Litaaaa," teriak Lani sambil menggedor pintu kamar Lita yang dikunci.
"Apa lagi?" tanya Lani tanpa membuka kunci kamarnya.
"Itu kan cucian," ucap Lani kesal.
"Ya kamu pikir aku bawa apa kalau bukan cucian. Kamu pikir aku habis jalan-jalan? Aku kan baru pulang kemah. Ya oleh-olehnya cuma itu," jawab Lita.
Lani menggedor kamar Lita sambil menangis. Sementara Lita hanya tertawa mendengar Lani yang menangis semakin kencang. Ia sama sekali tidak berniat membuka pintu kamarnya walaupun mendengar Lani menangis.
__ADS_1
Pintu kamar Lita terbuka saat suara di sekitar sudah sepi. Perlahan ia mengamati keadaan sekitar lalu masuk lagi ke kamar saat tidak ada siapapun yang menengurnya.
Rasa lelah setelah berkemah membuat Lita tidur meskipun ia belum sempat mandi. Ia baru bangun saat sore hari. Itu pun dibangunkan oleh Lulu.
"Ta, bangun dulu. Kamu belum mandi," ucap Lulu.
Lita hanya menggeliat dan kembali tidur. Lulu terus membangunkan Lita sampai akhirnya Lita bangun dengan marah-marah. Lulu hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Lita yang seperti anak kecil.
Tiiid.. Tiiid
Suara klakson motor terdengar nyaring ke dalam kamar Lita. Lulu segera keluar dan melihat siapa tamu yang datang sore ini.
"Permisi Pak, Bu, Lulunya ada?" tanya Randi.
Mendengar suara Randi membuat dada Lulu berdegup lebih kencang. Ia tidak menyangka jika Randi akan menemuinya sore ini.
"Ada, sebentar ya!" jawab Bu Sari.
Lulu merasa lemas saat Bu Sari memanggil namanya. Ia sampai harus menarik napas dengan dalam sebelum akhirnya keluar dan bertemu dengan Randi.
"Hai Lu, ini aku bawa ini. Tadi aku lewat depan sini," ucap Randi sambil menyerahkan kantong plastik berisi gorengan hangat.
"Terima kasih. Mampir dulu Ran," ucap Lulu.
"Lain kali saja. Aku pulang dulu ya!" ucap Randi.
"Oh iya. Sekali lagi terima kasih ya!" ucap Lulu.
"Sama-sama. Mari Pak, Bu," pamit Randi.
Lulu bisa bernapas lega setelah Randi pergi. Meskipun ia sendiri tidak tahu apa yang akan Randi bahas besok. Mungkin akan ada masalah baru yang harus ia selesaikan. Ah sudahlah. Yang penting sekarang Randi sudah pulang dan tidak membuat kedua orang tuanya kembali membahas hubungan mereka.
Lita yang baru datang menatap kantong plastik di tangan Lulu. Sayangnya Lani yang lebih cepat mengambilnya. Keduanya sempat saling rebutan dan membuat Lulu tertawa. Akhirnya gorengan itu diserbu Lani dan Lita sampai habis.
"Kak, Kak Randi sering-sering dong main ke sini." Lita membuat kedua orang tuanya menatap dengan kerutan di dahinya.
"Soalnya kan Kak Randi pasti bawa makanan ke sini. Kita jadi ikut senang ya gak?" ucap Lani dengan wajah polosnya.
"Lulu mau cuci piring dulu ya!" ucap Lulu sambil pergi.
Lulu tidak ingin bahasan tentang Randi jadi melebar. Ia memilih untuk menghindar agar tidak banyak kebohongan lagi yang ia ucapkan untuk menutupi semuanya.
"Kamu sama Randi semakin akrab ya?" tanya Pak Budi saat Lulu sedang mencuci piring.
"Dia kan teman sekolah Lulu Pak," ucap Lulu.
"Masa temanmu hanya dia? Tidak ada teman lain yang main ke sini," ucap Pak Budi.
"Nanti Lulu kasih tahu biar tidak ke sini lagi Pak," ucap Lulu.
"Maaf ya Lu. Tapi Bapak malu sama tetangga. Belum lagi Bapak khawatir sama kamu. Bapak percaya kamu bisa jaga diri. Tapi Bapak tidak yakin kalau kesempatan akan membuat anak itu tidak macam-macam padamu," ucap Pak Budi.
Lulu mengangguk. Ia masih mencuci piring meskipun pikirannya sudah sangat kacau. Hal itu membuat Bu Sari tidak sanggup melihat kesedihan Lulu. Bu Sari berhasil mengajak Pak Budi untuk pergi dan membiarkan Lulu tenang.
"Pak, ya jangan terlalu memaksakan begitu. Kita percaya saja sama Lulu. Ibu yakin Lulu bisa jaga diri," ucap Bu Sari.
"Bu, Lulu bisa jaga diri. Tapi laki-laki itu bisa saja memanfaatkan kesempatan. Makanya Bapak tidak mau memberikan kesempatan apapun pada mereka," ucap Pak Budi.
Bu Sari diam karena sebenarnya ia juga setuju dengan sikap suaminya. Akhir-akhir ini banyak beredar kabar tentang anak-anak yang putus sekolah karena hamil di luar nikah. Hal itu tentu menjadi ketakutan tersendiri untuk Pak Budi dan Bu Sari. Namun sejujurnya Bu Sari tidak setuju dengan sikap Pak Budi yang terlalu menekan Lulu seperti itu.
Malam ini Lulu tidak sengaja mendengar percakapan kedua orang tuanya tentang kekhawatiran itu. Ia berpikir bagaimana caranya agar bisa mempertankan hubungannya tanpa membuat orang tuanya khawatir.
Ah, aku akan berpura-pura putus saja dengan Randi. Bapak dan Ibu tidak perlu khawatir lagi. Aku sama Randi juga masih bisa bertemu di sekolah.
Lulu tersenyum saat ide cemerlang itu tiba-tiba muncul di kepalanya.
__ADS_1