
Saat Randi pulang, ia melihat Bu Desi dan Pak Halim sedang bercumbu di ruang depan. Kedatangan Randi tentu membuat keduanya menjadi salah tingkah. Keduanya pergi ke kamar tanpa menyapanya sepatah katapun.
"Aku sangat menyesal pulang ke rumah. Tuhaaan, kenapa malam ini otakku jadi benar-benar sangat kotor?" gerutu Randi saat di dalam kamar.
Ponselnya yang sepi membuatnya semakin kesal. Lulu sama sekali tidak menghubunginya. Matanya memang terpejam tapi kepalanya masih bangun dan terus memikirkan apa yang terjadi di kosan Wisnu.
Sampai akhirnya jam tiga pagi hari Randi mendengar suara orang yang masuk ke dalam rumah. Ia melihat Rayhan pulang dengan kliyengan. Meskipun Randi tidak pernah meminum alkohol, tapi ia yakin kalau Rayhan sedang dalam pengaruh alkohol.
Tidak ingin terkena imbasnya, Randi hanya mencari tahu siapa orang itu lalu kembali ke kamarnya. Tidak ada niatan untuk membantu Rayhan sama sekali. Randi memang terkenal nakal namun ia tidak senakal Rayhan. Mungkin belum. Ia bisa saja mengikuti jejak Rayhan jika kehidupannya begini terus.
Karena semalam tidak bisa tidur, Randi bangun lebih siang. Jam sepuluh ia baru bangun. Saat mentari sudah menyinari kamarnya dari sela-sela gorden. Ia menggeliat saat mendengar ponselnya berdering.
Melihat nama Luki di layar ponselnya, Randi sangat senang. Ia segera menjawab panggilan Lulu. Sayangnya Lulu tidak lama karena ia masih di rumah saudaranya. Randi kembali tidur setelah Lulu mengakhiri panggilannya.
Menunggu hari senin itu sangat menyiksanya. Ini adalah hari minggu yang sangat tidak diharapkan sepanjang hidupnya. Sampai akhirnya Bu Desy mengetuk pintu kamarnya. Dengan kepala yang masih pusing, Randi membuka pintu kamarnya.
"Apa sih Ma?" tanya Randi.
"Jam berapa ini? Tumben kamu belum bangun," ucap Bu Desi.
"Ma, semalam aku tidak bisa tidur," ucap Randi.
Mendengar kata semalam, membuat Bu Desi jadi salah tingkah. Ia menyadari kalau semalam Randi sempat memergokinya di ruang depan.
"Mama dan Papa ada undangan teman Papa. Kamu tolong urus abangmu ya!" ucap Bu Desi.
Mengurus abangmu? Artinya orang tuanya tahu kalau Rayhan sedang tidak baik-baik saja. Lalu kenapa Rayhan tidak dimarahi sedangkan ia yang harus mengurus Rayhan.
"Iya," jawab Randi malas.
Kadang Randi selalu merasa disisihkan. Kasih sayang orang tuanya kadang tidak adil. Ia tidak senakal Rayhan tapi ia selalu yang kena omel. Bahkan ia sendiri sering mendapat ejekan dari Rayhan atas sikap orang tua mereka.
Setelah Bu Desi pergi, Randi tidak ke kamar Rayhan. Ia memilih untuk tidur lagi dan mengabaikan perintah ibunya. Ia berpikir jika Rayhan akan bangun dan mengurus dirinya sendiri.
Randi sama sekali tidak pergi melihat keadaan Rayhan. Ia justru tidur kembali di atas ranjangnya. Menghabiskan hari yang sangat menyebalkan baginya. Setelah bangun pun, Randi tidak tertarik untuk melihat Rayhan di kamarnya. Ia justru asyik dengan game online di ponselnya.
"Randiiii," teriak Bu Desi.
Randi yang sudah terbiasa mendengar teriakan ibunya hanya menatap pintu kamarnya yang sudah terbuka. Tangannya masih memegang ponsel. Ia sedang asyik memainkan game kesukaannya.
"Apa sih Ma? Baru pulang sudah teriak-teriak," ucap Randi.
"Jam berapa ini hah?" tanya Bu Desi.
Randi menatap jam dinding.
"Jam empat," jawab Randi dengan polosnya.
"Dan kamu membiarkan abang kamu masih tidur? Apa kamu tidak memberinya makan?" tanya Bu Desi.
"Dia tidur Ma. Mana ada orang tidur diberi makan," ucap Randi.
"Lalu kenapa kamu tidak membangunkannya?" tanya Bu Desi.
"Dia masih ngantuk. Pulang pagi kan dia? Nanti juga bangun sendiri," jawab Randi.
Randi mengatakan kalau Rayhan pulang pagi dengan tujuan untuk mengadu. Berharap jika ibunya akan menegur Rayhan dan berhenti memanjakannya. Namun sayangnya harapan Randi tidak terwujud. Bu Desi tetap marah padanya.
"Kamu benar-benar tidak bisa diandalkan," ucap Bu Desi sambil membanting pintu kamar Randi.
Randi mengerutkan dahinya dan menggelengkan kepalanya. Ia tidak mengerti sikap ibunya yang tidak masuk akal.
__ADS_1
"Jelas-jelas dia yang salah. Masih saja aku yang harus kena omel. Aku curiga apa jangan-jangan aku anak pungut kali ya," gerutu Randi.
Hari senin menjadi hari yang penuh semangat bagi Randi. Hari dimana ia akan bertemu dengan Lulu. Wanita yang paling ia cintai dalam hidupnya. Orang yang bisa membuatnya melupakan masalah dalam keluarganya.
"Aku berangkat," teriak Randi.
Tidak tahu ada yang mendengar teriakannya ataupun tidak. Ah bahkan dia tidak peduli lagi. Dengan cepat ia menyambar kunci motor dan pergi ke sekolah. Seperti biasa, siapa yang paling dulu datang mereka yang punya tugas untuk menunggu yang lainnya di gerbang.
Pagi ini ternyata sudah ada Lulu di gerbang. Randi sudah disambut dengan senyum Lulu yang merekah. Hal yang seketika membuat Randi lupa semua masalah yang kemarin terjadi.
"Sarapan kan?" tanya Lulu saat melihat Randi membuka mulutnya.
"Sudah hapal bener ya ucapan calon suaminya," ucap Randi.
"Calon suami. Masih lama kali," ucap Lulu.
"Ya mau sepuluh tahun lagi juga tetap calon suami kan?" ucap Randi.
"Iya, iya, calon suami." Lulu tersipu malu sendiri dengan ucapannya.
"Coba ulang lagi," ucap Randi.
"Apaan ah," ucap Lulu.
Lulu jalan lebih cepat karena Randi sudah mulai bertingkah. Ia memang senang saat Randi dekat dengannya. Namun apa yang Randi lakukan padanya selalu jadi pusat perhatian. Dan Lulu tidak suka itu.
Hari senin berlalu seperti biasanya. Tentu yang paling dinanti oleh Randi adalah jam pulang sekolah. Dimana ia akan mendapat jatah yang membuatnya tersenyum seharian.
Semakin lama perjanjian itu berjalan, kecupan Lulu menjadi candu untuk Randi. Setiap hari berganti minggu membuat Randi menuntut lebih. Namun sampai saat ini Lulu masih bisa menahan Randi agar tetap sadar saat mereka sedang berdua.
Sampai suatu saat, Lulu sedang berulang tahun. Sebuah kado spesial diberikan oleh Randi. Sayangnya Randi tidak bisa merayakan ulang tahun Lulu seperti pasangan lainnya yang bisa makan dan jalan berdua layaknya anak muda.
"Ran, terima kasih ya!" ucap Lulu.
CUP
Sebuah kecupan sudah mendarat di pipi Randi. Baru saja Lulu melepaskan bibirnya dari pipi Randi, tangan Randi sudah lebih cepat menahan tubuh Lulu dalam dekapannya.
"Sekali saja ya," ucap Randi sambil menatap mata Lulu dengan tajam.
"Ran, ini di sekolah. Kamu mau beasiswaku dicabut ya?" tanya Lulu.
"Kalau di luar sekolah bisa ya? Pulang sekolah kota ke kosan Wisnu ya!" ajak Randi.
Lulu gemetar. Randi menatapnya penuh hasrat dan membuat Lulu takut jika tidak bisa mengendalikan diri. Ia menolak berkali-kali. Tapi ajakan Randi akhirnya membuat Lulu pasrah.
Lulu berani pulang terlambat karena hari ini Pak Budi sedang di luar kota. Sebagai kuli bangunan, Pak Budi biasanya bekerja ke luar kota kalau ada proyek. Lagi pula sudah hampir satu bulan Lulu tidak pernah pulang terlambat.
Randi sudah meminta izin pada Wisnu untuk ikut merayakan ulang tahun Lulu di kosannya. Ya cara mereka merayakannya seperti apa tentu Wisnu sudah mengerti. Ia yang sudah sangat paham bahkan siap menjadi satpam saat Lulu dan Randi di kosan.
"Duluan ya! Ditunggu di kosan," ucap Wisnu sambil tersenyum penuh arti.
Lulu merasa senyuman dan tatapan mata Wisnu seolah merendahkannya. Tapi apa boleh buat, rasa cintanya pada Randi membuat ia tidak bisa menolak apa yang Randi inginkan. Lagi pula Randi sudah janji tidak akan lebih dari apa yang sudah mereka bahas sebelumnya.
"Apa nanti Wisnu tidak mengadu ke BP?" tanya Lulu saat di jalan.
Randi menatap wajah cemas Lulu dari spionnya.
"Hey Lu, kamu tahu kan Wisnu itu siapa. Dia tidak mungkin berani macam-macam," ucap Randi.
Motor Randi sudah terparkir di depan kosan Wisnu, tapi yang punya kosan tidak terlihat.
__ADS_1
"Nu," panggil Randi.
"Masuk aja Ran," teriak Wisnu dari dalam kosannya.
"Ayo," ajak Randi sambil menarik tangan Lulu.
Debaran jantung Lulu membuat wajahnya terlihat panik. Apalagi saat Wisnu mempersilahkan mereka masuk ke dalam kamar yang katanya sengaja disiapkan untuk mereka.
"Ran," ucap Lulu sambil menggelengkan kepalanya.
Lulu berusaha memberi isyarat agar mereka segera pergi dari kosan itu. Namun Randi berusaha menahannya. Ia menenangkan Lulu jika Wisnu tidak seserius yang dibayangkannya. Mendengar kata kamar saja membuat Lulu gemetar.
Dalam kepala Lulu, kamar digunakan untuk hal yang privasi. Lalu apa yang akan mereka lakukan di dalam kamar berdua? Lulu sudah takut dan ingin segera pulang.
"Aku tunggu di luar ya!" ucap Wisnu.
"Jangan," ucap Lulu.
"Kenapa?" tanya Wisnu.
Ucapan Lulu membuat Randi mengerutkan dahinya. Sempat salah paham saat Lulu seolah berharap Wisnu ada di sana bersama mereka.
"Nanti orang mikir yang tidak-tidak. Kamu di sini aja," ucap Lulu sambil memegang celana bagian bawah milik Wisnu.
"Lu," ucap Randi sambil menarik tangan Lulu agar tidak memegang celana Wisnu.
Wisnu yang sudah sangat paham situasi segera mengambil alih tugasnya.
"Aku di luar. Tidak kemana-mana. Kalau sampai Randi macam-macam, katakan padaku. Biar ku sikat dia," ucap Wisnu.
Wisnu bahkan berjanji akan menyalakan musik di ponselnya agar Lulu yakin jika ia tidak kemana-mana.
BLUBB
Wisnu menutup pintu kosan.
"Jangan ditutup pintunya," ucap Lulu.
"Biar debunya tidak masuk. Aku sudah cape nyapu dan ngepel," ucap Wisnu sambil membuka pintu kosannya.
"Iya sudah tutup lagi," ucap Randi.
"Oke ndan siap lapan anam," ucap Wisnu.
Seringai Wisnu membuat Randi mendelik kesal. Apalagi saat Lulu terus merengek pada Wisnu. Tiba-tiba ia merasa cemburu dengan apa yang dilakukan oleh Lulu.
"Ran, sini." Lulu mendekat dan mengecup bibir Randi.
Randi tersentak saat melihat Lulu bersikap agresif. Matanya sampai membulat sempurna.
"Ayo pulang," ajak Lulu sambil mengelap bibirnya.
Randi yang masih merasakan hangatnya bibir Lulu masih memegang bibirnya dengan dada yang berdebar.
"Ayo pulang Ran," ucap Lulu.
"Kok pulang?" tanya Randi.
"Kan tadi sudah," jawab Lulu.
"Sudah?" tanya Randi.
__ADS_1
"Terus kamu mau apa lagi?" tanya Lulu sambil menutup dadanya dengan menyilangkan kedua tangannya.
"Lu, ini hari spesial. Kamu jangan buru-buru pulang dong. Jangan takut begitu sama aku," ucap Randi sambil menarik tangan Lulu agar tidak menutupi dadanya lagi.