LULU

LULU
Tidak pulang


__ADS_3

Hari ini Wisnu tidak sekolah. Ia gelisah karena tidak mendapat jatah seperti biasanya. Apalagi saat mendengar Lulu masih di sekolah. Kepalanya benar-benar tidak bisa diajak kompromi. Pikirannya selalu membayangkan hal yang tidak ia inginkan.


"Apa jangan-jangan Lulu janjian ya?" gumamnya.


Berkali-kali Randi jalan dari ujung tembok ke ujung tembok yang lain. Namun sayangnya gelisah itu tak kunjung usai. Karena sampai saat ini Lulu masih belum menghubunginya. Sampai akhirnya Pak Halim datang dan memanggilnya.


"Ran," panggil Pak Halim.


"Iya Pah," jawab Randi.


Tanpa menunggu lama, Randi segera keluar dari kamar. Ia melihat ayahnya sedang duduk di kursi dengan tangannya yang lincah memainkan ponsel.


"Duduk di sini," ucap Pak Halim saat melihat Randi mendekat padanya.


Randi duduk di tempat yang ditunjukkan oleh Pak Halim. Ia tidak tahu apa yang akan dibahas oleh ayahnya. Apakah soal Rayhan lagi? Ah entahlah, ia juga bingung dengan hari-hari yang akan ia lewati nanti.


"Terima kasih karena kamu sudah mengurus Mama sampai pulang ke rumah. Setelah Rayhan mengecewakan Mama, kini kamu adalah harapannya. Tolong jaga Mama," ucap Pak Halim.


Randi hanya mengangguk. Sebenarnya ia tidak suka dengan ucapan Pak Halim. Saat ini ia merasa dirinya dibebankan banyak hal. Namun apa boleh buat, ia tidak bisa menolak. Sekarang hanya ia yang ada di rumah itu.


"Papa keluar dulu ya. Ada proyek baru yang harus dikontrol. Papa titip Mama," ucap Randi.


"Papa kan baru pulang. Kenapa sudah berangkat lagi? Mama menunggu Papa," ucap Randi.


"Papa kerja. Tolong mengerti. Tadi Papa sudah ke kamar tapi Mama sedang tidur. Tidak enak kalau dibangunkan. Bilang saja sama Mama kalau Papa sudah pulang dan sangat mengkhawatirkan Mama," ucap Pak Halim.


Tanpa ingin mendengar alasan lain dari Randi, Pak Halim hanya menepuk bahu Randi dan menyambar jaket yang tergantung tidak jauh dari tempat duduknya. Setelah itu pergi.


Randi menghirup napas dalam. Ia merasa kini dunianya sudah berubah. Ia harus melakukan ini dan itu. Hal yang sebelumnya tidak pernah ia lakukan. Yang ada di kepalanya sekarang adalah Lulu. Hubungannya dengan Lulu akan semakin memburuk jika keadaannya seperti ini.


"Ran," panggil Bu Desi.


Randi segera menemui ibunya. Hatinya sakit melihat Bu Desi yang tengah menangis sambil memegang foto Rayhan. Sebegitu sayangnya pada Rayhan sampai ia masih begitu kehilangan Rayhan setelah apa yang terjadi? Sementara dirinya yang harus bertanggung jawab atas semua ulah Rayhan.


"Mama rindu Bang Rayhan?" tanya Randi sambil memijat kaki Bu Desi.


"Dia sudah makan belum ya? Dia dimana?" tanya Bu Desi.


Randi menelan salivanya dengan susah payah. Ia saja belum makan sejak pagi tapi ibunya tidak sekhawatir itu padanya. Ada rasa cemburu saat melihat ibunya yang pilih kasih. Tapi ini bukan waktunya. Ia masih harus memasang senyum di depan ibunya meski hatinya begitu perih.


"Abang pasti baik-baik saja Ma. Mama tidak usah banyak pikiran ya," ucap Randi.


"Papa mana? Belum pulang?" tanya Bu Desi.


"Tadi sudah pulang. Tapi Mama masih tidur. Papa tadi berangkat lagi," jawab Randi.


Bu Desi hanya diam dan menatap langit-langit kamarnya dan meminta Randi untuk keluar dari kamarnya. Sebenarnya Randi tidak mau meninggalkan Bu Desi sendirian di saat seperti ini. Tapi mungkin Bu Desi memang butuh waktu untuk sendiri.

__ADS_1


"Aku keluar Ma. Kalau ada apa-apa panggil aku ya," ucap Randi.


"Iya," jawab Randi singkat.


Randi segera keluar dan duduk di kursi yang tidak jauh dari kamar ibunya. Ia membuka ponselnya dan melihat sudah jam lima sore. Tapi tidak satupun pesan dari Lulu yang masuk.


"Lulu kemana sih?" gumamnya.


Randi mencoba menghubungi Lulu. Sayangnya panggilannya diabaikan. Ia semakin kesal karena satu dan dua hal yang terjadi padanya hari ini. Ia masuk ke kamar dan menjatuhkan tubuhnya di ranjang.


Rasa lelah membuat Randi tidur dengan nyenyak. Ia bahkan tidak menyadari jika Lulu menghubunginya sampai tiga kali. Ponselnya yang hanya menggunakan getar membuat panggilan itu tidak mengganggu tidurnya. Apalagi letak ponsel yang jauh darinya. Ia bangun saat jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam.


"Hoaaam," Randi menguap dengan lebar dan menggeliat.


Perlahan ia membuat tubuhnya senyaman mungkin dan menatap dinding kamarnya. Randi mengerutkan dahinya saat melihat jarum jam sudah menunjuk angka sembilan.


"Hah? Apa jamnya tidak rusak?" ucap Randi sambil mengucek matanya.


Randi segera mengambil ponselnya yang sedang dicharger. Ia memastikan waktu yang ditunjukkan oleh jam dinding memang sama dengan waktu yang tertera di ponselnya. Saat ponsel sudah di tangannya, fokusnya sudah bukan jam lagi. Ia melihat panggilan dari Lulu yang sudah diabaikannya.


"Halo Lu," ucap Randi saat menghubungi Lulu.


"Kamu dari mana?" tanya Lulu dengan nada kesal.


Yang awalnya Randi kesal dengan Lulu, akhirnya ia yang harus meminta maaf karena sudah mengabaikan panggilan Lulu. Ia juga bercerita tentang masalah keluarganya. Ia mencurahkan semua kegelisahan, kekecewaan, kekhawatiran dan rasa sakitnya pada Lulu.


Sebagai pasangan, Lulu memang pendengar yang baik. Ia mendengar semua cerita Randi dari awal hingga akhir. Tidak hanya itu, ia juga menenangkan Randi. Ia meyakinkan Randi jika semua ini pasti bisa dilaluinya.


"Sama-sama. Kita kan sudah janji untuk saling menemani dan melengkapi," ucap Lulu.


Randi tersenyum. Ingat janji yang sudah mereka ukir berdua. Saat ini Lulu adalah satu-satunya wanita yang ia cintai. Belum dan mungkin tidak akan tergantikan. Hubungan yang sudah terjalin hampir dua tahun itu sama sekali tidak membuatnya bosan.


Lulu selalu saja memiliki cara agar hubungannya terasa segar. Ada hal-hal yang Randi dapatkan hanya dari Lulu. Mungkin itu alasan Randi bertahan dengan wanita itu. Wanita yang tidak terlalu cantik kata orang lain dan berasal dari keluarga sederhana. Banyak orang yang bilang kalau mereka tidak cocok.


Banyaknya perbedaan antara Lulu dan Randi membuat Lulu sering merasa minder. Namun Randi selalu meyakinkan jika ia sama sekali tidak mendengar komentar orang lain tentang hubungan mereka.


"Aku hanya yakin akan perasaanku Lu. Aku sangat mencintaimu dan tidak mau kehilanganmu," ucap Randi.


Selalu kalimat seperti itu yang Randi ucapkan untuk meluluhkan hati Lulu. Dan sampai saat ini Lulu sangat mempercayai ucapan Randi. Sebagai bukti, Randi juga tidak pernah mengecewakan Lulu dengan menduakannya.


Setelah bicara ke sana ke sini, akhirnya Randi ingat kalau ada hal yang belum Lulu jelaskan. Ya, apalagi kalau bukan alasan Lulu tidak pulang di waktu yang seharusnya. Randi pun mengerti jika alasan Lulu karena dipanggil oleh wali kelas.


"Lombanya kapan?" tanya Randi.


Lulu adalah siswa yang berprestasi. Masuk ke sekolah itu pun dengan jalur prestasi. Maka saat ada olimpiade seperti ini, Lulu adalah siswa yang dipilih untuk peserta olimpiade yang mewakili sekolah itu.


"Masih satu bulan lagi. Hanya saja seminggu dua kali aku ada privat sama Pak Arya," jawab Lulu.

__ADS_1


"Hah? Pak Arya?" tanya Randi kesal.


"Iya. Memangnya kenapa?" tanya Lulu.


"Ya tidak apa-apa. Tapi kan Pak Arya itu belum menikah," jawab Randi.


"Memangnya kalau belum menikah kenapa?" tanya Lulu.


Randi tidak punya masalah pribadi dengan Pak Arya. Hanya saja yang ia tahu Pak Arya adalah guru fisika yang masih belum menikah. Pak Arya adalah guru bujangan yang memiliki paras tampan dan cara mengajarnya yang menarik. Hal itu membuat banyak siswa suka padanya. Entah sebatas suka sebagai guru, atau justru suka dengan pribadinya.


"Tidak apa-apa," jawab Randi ketus.


Tahu jika Randi sedang marah padanya, Lulu menjelaskan tentang hubungannya dengan Pak Arya. Keduanya hanya terlibat pembelajaran saja. Tidak ada kekaguman yang lebih sebatas siswa yang mengagumi gurunya.


"Awas saja kalau sampai naksir sama Pak Arya," ancam Randi.


"Iya kamu tenang saja. Aku tidak macam-macam kok. Aku setia," ucap Lulu.


"Harus dong. Kalau sampai selingkuh sih minta dihajar ya," ucap Randi.


Sesaat saat ia menelepon Lulu, beban di hatinya hilang. Ia merasa Lulu sudah menyembuhkan semua beban yang ada di hidupnya. Namun tidak saat panggilan dengan Lulu sudah berakhir. Ia harus melihat Bu Desi kembali menangis karena kerinduannya pada Rayhan.


"Mama jangan khawatir. Besok pulang sekolah aku cari Bang Rayhan. Aku akan meminta Abang untuk pulang dan menemui Mama," ucap Randi.


"Kamu serius Ran? Kamu tidak bohong kan?" tanya Bu Desi.


"Iya," jawab Randi.


Randi berusaha tersenyum meskipun menahan rasa sakit yang menghujam hatinya. Ia juga harus berusaha tenang meskipun gelisah karena sudah jam sepuluh malam namun ayahnya belum juga pulang.


"Mama tidur ya. Ini sudah malam," ucap Randi.


"Papa kenapa belum pulang? Mama telepon tapi nomornya tidak aktif," ucap Bu Desi.


"Papa sibuk Ma. Mama jangan banyak pikiran. Sekarang Mama tidur ya. Nanti juga Papa pulang," ucap Randi.


Sebelum ibunya tidur, Randi masih duduk di tepi ranjang. Meyakinkan Bu Desi jika ia akan menemani ibunya sampai tidur. Baru jam sebelas malam ia bisa kembali ke kamarnya. Sementara Pak Halim masih belum pulang juga.


Pagi hari Randi terbangun saat Lulu membangunkannya. Alarm yang berbunyi sama sekali tidak membuat Randi terbangun. Ia hanya membuka mata dan menghentikan dering alarm yang mengganggu tidurnya. Namun saat Lulu meneleponnya, ia segera bangun dengan sangat semangat.


Seperti rutinitas biasanya, ia bangun dan mandi. Bersiap ke sekolah dengan bibir yang mengembang. Bagaimana tidak, di sana ia akan bertemu dengan Lulu. Hal yang selalu ia nantikan setiap harinya.


"Ma," panggil Randi dengan bingung.


Bu Desi sudah bangun lebih pagi dan bersiap. Ia sudah terlihat rapi dengan pakaian dan make up yang menghiasi wajahnya.


"Kamu mau sekolah?" tanya Bu Desi.

__ADS_1


"Iya. Mama mau kemana?" Randi balik bertanya.


"Sebelum ke sekolah antarkan Mama ke tempat kerja Papa ya. Malam ini Papa tidak pulang dan tidak ada kabar sama sekali," ucap Bu Desi.


__ADS_2