LULU

LULU
Minta bonus


__ADS_3

Sebuah kayu penyangga pohon jatuh menghantam pintu WC. Randi yang baru saja melepaskan Lulu dibuat terkejut. Ia memegang dadanya yang terasa bergetar.


"Ah, aku pikir apaan. Ayo pulang!" ajak Randi sambil memegang tangan Lulu.


Lulu tidak menjawab. Ia hanya mengikuti langkah kaki Randi. Sementara tangan kirinya memegang dadanya yang berdegup kencang.


"Astaga, kalian sedang apa di sini?" tanya Wisnu.


Randi dan Lulu yang masih terkejut dengan suara kayu jatuh itu dibuat semakin pucat dengan kedatangan Wisnu. Mereka tidak bisa mengelak. Ini sudah jam pulang. Sedangkan Randi dan Lulu baru keluar dari tempat sepi.


"Apa? Awas aku dan Lulu mau pulang," ucap Randi.


Wisnu terpental di dorong oleh Randi. Namun ia tidak marah. Justru ia merasa lucu dengan sikap keduanya yang terlihat gugup.


"Kalau kalian butuh tempat, mampir ke kosanku aja," ucap Wisnu.


Mendengar ucapan Wisnu, Lulu merasa tidak muka. Ia malu dan tidak mau bertemu lagi dengan Wisnu. Sedangkan Randi justru berbalik dan mendekati Wisnu.


"Jangan samakan aku dan kamu. Kita berbeda," ucap Randi.


Setelah puas memaki Wisnu, Randi segera mengajak Lulu untuk pergi. Lagi-lagi Wisnu tidak marah dengan sikap Randi. Bagi Wisnu sikap Randi adalah caranya untuk melindungi nama baik Lulu. Dan ia harus tepuk tangan dengan sikap Randi.


"Randi, Randi. Kata siapa kita berbeda? Kita itu sama. Bedanya, aku dan Rani punya tempat sedangkan kalian tidak. Makanya kalian harus berduaan di tempat begini," ucap Wisnu sambil menggelengkan kepalanya dan tersenyum tipis.


Wisnu masih mengikuti Randi dari kejauhan. Ia bisa melihat jelas keduanya gugup. Namun ada yang menarik. Wisnu tertawa saat melihat Randi membiarkan Lulu naik angkot setelah pulang sekolah.


Melihat Lulu sudah pergi, Wisnu segera mendekati Randi. Ia menepuk bahu Randi yang terlihat sedang melamun.


"Tenang saja. Rahasiamu aman di tanganku. Guru BP sih lewat," ucap Wisnu.


"Nu tolong jangan bahas itu lagi. Sakit kepala tahu," ucap Randi.


Wisnu hanya tertawa dan membisikkan sesuatu yang membuat Randi tercengang.


"Gila kamu," ucap Randi.


"Loh, kenapa? Aku hanya berusaha menyelamatkan hubunganmu. Aku lihat kamu sudah tidak antar jemput dia lagi," ucap Wisnu.


Tidak terima disebut hubungannya memburuk, Randi menceritakan jika semuanya baik-baik saja. Semua ia lakukan agar keluarga mereka juga tetap baik dan tidak mempermasalahkan lagi hubungan mereka.


"Makanya, di kosanku aja. Aman," ucap Wisnu.


"Apaan sih? Lulu itu bukan perempuan murahan. Aku tidak bisa melakukan itu sama Lulu. Aku mau dia yang akan jadi istriku," ucap Randi.


"Makanya kalau kamu mau dia seutuhnya, ya kasih tanda dong. Biar dia yakin tidak pindah ke laki-laki manapun," ucap Wisnu.


"Nu, jangan kasih ide gila deh. Aku yakin Lulu tidak akan pindah ke lain hati. Lulu itu akan tetap mencintaiku," ucap Randi.


"Apa jaminannya? Kalau kamu kasih tanda, maka dia sudah pasti tidak akan meninggalkanmu," ucap Wisnu.


"Ah sudahlah. Aku mau pulang," ucap Randi.


"Ya sudah hati-hati ya! Tapi nanti di rumah kamu pikir-pikir lagi. Kalau butuh tempat, kosanku siap jadi saksi. Aman deh pokoknya," ucap Wisnu.


"Dasar gila," ucap Randi.


Tidak mau otaknya diracuni lebih kotor oleh Wisnu, Randi segera pulang. Ia harus segera mandi dan menuntaskan hasratnya. Apa yang ia lakukan tadi dengan Lulu sangat menyiksa hasratnya. Belum lagi Wisnu yang terus membuat otaknya berpikir macam-macam.

__ADS_1


"Wisnu kampret," gerutu Randi saat sampai ke kamarnya.


Dengan cepat ia melemparkan tas dan membuka bajunya. Pikiran kotor itu harus segera ia tuntaskan di kamar mandi agar semuanya terhenti.


"Ahhhh lega," ucap Randi.


Randi keluar sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. Ia merasa sudah sangat segar. Keringat di tubuhnya sudah hilang. Begitupun dengan pikirannya yang kotor.


Sekarang Randi bisa hidup tenang dengan ponsel di tangannya. Sebuah game ia mainkan sambil menunggu waktu yang disepakati untuk saling chat dengan Lulu. Sayangnya Wisnu mengirim sebuah link yang membuat Randi terjebak.


"Wah, semakin gila nih si Wisnu." Randi segera menghapus link yang sudah diterimanya.


Sebuah pesan dari Wisnu membuat Randi ingin menghajarnya. Ia memanas-manasi Randi agar bisa memiliki Lulu seutuhnya. Randi memang mencintai Lulu. Ia juga tidak mau jika Lulu sampai meninggalkannya. Tapi untuk melakukan itu pada Lulu, rasanya tidak mungkin.


"Lulu adalah wanita yang baik. Aku tidak mau mengecewakannya. Yang ada nanti keluarga aku dan Lulu justru akan semakin saling membenci," gumam Randi.


Setelah kejadian itu, Lulu lebih menjaga jarak dengan Randi. Ia tidak mau kejadian itu terulang lagi. Semua membuat Lulu harus lebih hati-hati lagi. Apalagi ia yakin jika Wisnu akan mempengaruhi Randi yang tidak-tidak.


"Lu, kamu jangan berubah gini dong. Aku minta maaf ya," ucap Randi.


"Iya Ran. Tapi jangan begitu lagi ya. Aku takut masuk BP. Nanti beasiswaku gimana?" ucap Lulu ketakutan.


"Iya aku janji. Aku janji tidak akan meminta lebih. Tapi perjanjian kita tetap berlaku ya," ucap Randi.


Randi memang sudah berniat untuk tidak melakukan hal itu lagi. Namun ia tidak mau perjanjiannya dengan Lulu batal begitu saja. Lulu sudah membuat jarak diantara hubungan mereka. Randi rasa kebiasaan cium pipi dan kening setiap hari cukup untuk jadi imbalannya.


"Tidak bisa dibatalkan?" tanya Lulu penuh harap.


"Mau dibatalkan?" tanya Randi.


"Kalau begitu aku akan tetap mengantar jemput kamu ke sekolah. Deal?" tanya Randi sambil mengulurkan tangannya.


"Ah, sama saja bohong." Lulu menepis uluran tangan Randi dari hadapannya.


"Ya sudah. Itu artinya perjanjian kita tetap berlaku," ucap Randi.


Lulu yang tidak mau putus dengan Randi akhirnya pasrah. Meskipun sebenarnya ia takut kejadian yang sama terulang kembali.


Saat pulang sekolah menjadi waktu yang sangat berat bagi Lulu. Jantungnya berdebar tidak karuan setiap kali ia harus melakukan perjanjian yang sudah ia sepakati sebelumnya.


"Sudah ya," ucap Lulu setelah mengecup pipi dan dahi Randi.


"Iya," ucap Randi sambil memegang pipinya.


Randi sibuk menahan rasa di dadanya. Semenjak kejadian kemarin dan Wisnu yang selalu mengomporinya menuntut melakukan hal yang lebih pada Lulu. Ingin rasanya ia menarik tangan Lulu dan meminta lebih sesuai dengan yang Wisnu sarankan padanya.


Beruntung kali ini Randi berhasil menahan hasrat dan pikiran kotornya. Ia membiarkan Lulu pulang naik angkot sedangkan ia sendiri pulang ke rumah.


Orang tua Randi menyambutnya dengan senyum ceria. Nampaknya mereka senang. melihat Randi yang sudah tidak lagi berhubungan dengan Lulu. Menurut mereka, Lulu adalah penyebab Randi selalu pulang terlambat. Tanpa mereka tahu, justru Randi yang selalu mengajak Lulu pergi.


"Nah begitu dong. Mama senang akhirnya kamu sudah tidak dipengaruhi anak itu lagi," ucap Bu Desy.


Randi menatap ibunya dengan dingin. Bisa-bisanya ibunya mengatakan hal seperti itu ada wanita yang sangat ia cintai. Seandainya bisa, ia ingin berdebat dengan ibunya dan membela Lulu mati-matian. Namun Randi tidak ingin masalah menjadi panjang.


"Aku ke kamar dulu," ucap Randi.


Terdengar Rayhan terus-terusan mempengaruhi ibunya dan menjelek-jelekan Lulu. Selalu membandingkan Lulu dengan pacarnya yang memang berasal dari keluarga kaya. Bahkan lebih kaya dari mereka. Ya, baru-baru ini Rayhan mengenalkan perempuan yang diakuinya sebagai kekasih.

__ADS_1


Semakin hari, Randi semakin bosan dengan bahasan itu. Ia sudah bersikap masa bodo dengan setiap omongan miring tentang dirinya. Ia hanya menginginkan Lulu. Tidak peduli dengan apapun dan siapapun yang menghalangi hubungannya.


"Aku sangat merindukan Lulu," gumam Randi.


Randi meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia akan menjadikan Lulu satu-satunya yang akan ia nikahi. Wanita yang akan melahirkan keturunannya nanti. Bersama Lulu ia akan bahagia.


Seberat apapun masalah yang dihadapinya, itu tidak akan membuat Randi menyerah. Lulu akan selalu ia perjuangkan. Meskipun saat ini ia hanya bisa berbohong tentang hubungannya dengan Lulu.


Dering ponsel membuat Randi tersadar dari lamunannya. Ia tersenyum saat melihat nama Luki terpampang di layar ponselnya.


"Halo Luki," sapa Randi saat sambungan telepon sudah terhubung.


"Halo Rara," ucap Lulu.


Keduanya tertawa. Merasa geli sendiri dengan tingkahnya. Dalam kesempatan yang tidak lama itu Randi dan Lulu mencurahkan kerinduannya. Tiga puluh menit sudah berlalu. Keduanya pamit dan tidur. Bersiap karena besok mereka akan bertemu dan kembali menuai benih cinta yang selalu tumbuh dan berbunga.


Setiap pagi menjadi hari yang paling bersemangat untuk Lulu dan Randi. Mereka akan semangat untuk pergi ke sekolah. Bukan hanya untuk belajar, tapi untuk saling menyirami taman bunga yang tertanam di hati mereka.


"Sarapan yu!" ajak Randi yang sudah menunggunya di gerbang sekolah.


Lulu selalu mengiyakan dan menemani Randi sarapan. Karena di sana mereka akan menghabiskan waktu berdua, sebelum bel masuk kelas memisahkan keduanya.


Jam istirahat juga akan menjadi waktu yang menyenangkan untuk mereka. Dan satu lagi, jam pulang sekolah. Meskipun waktunya hanya sebentar, tapi Randi akan merasakan kecupan hangat dari Lulu.


Oleh-oleh yang selalu membuat Randi tidak bisa jauh dari Lulu. Apalagi saat tahu kalau besok adalah hari libur. Randi menahan Lulu walaupun kecupan itu sudah ia dapatkan.


"Apa lagi sih? Aku mau pulang," ucap Lulu.


"Besok libur," ucap Randi.


"Terus?" tanya Lulu.


"Jatahnya double ya," ucap Randi sambil menunjuk pipinya.


Tanpa menunggu lama, Lulu segera mengecup kembali pipi dan dahi Randi. Namun setelah selesai, Randi masih menahannya.


"Apa lagi Ran? Jangan sampai kita masuk BP ya!" ucap Lulu mengingatkan.


"Ini," ucap Randi sambil menyentuh bibirnya.


Lulu menggelengkan kepalanya.


"Bonus. Kan besok kita tidak bertemu," ucap Randi.


Lulu mengecup singkat bibir Randi. Terasa hangat dan membuat dadanya berdebar. Randi menarik tangan Lulu dan kembali mengecup bibir Lulu. Kali ini Randi menahan Lulu agar tidak melepaskan bibirnya. Pelukan Randi mengunci tubuh Lulu hingga keduanya masih menyatu beberapa waktu.


Akhirnya dering ponsel lah yang berhasil memisahkan keduanya. Lulu sangat terkejut saat melihat ayahnya meneleponnya.


"Bapak," ucap Lulu panik.


"Tenang. Kamu harus tenang. Terus angkat teleponnya," ucap Randi.


Lulu menarik napas dalam dan mengeluarkannya perlahan. Berkali-kali sampai ia benar-benar tenang. Bahkan panggilan dari Pak Budi sudah berakhir. Ia menelepon Pak Budi dan segera pulang karena ternyata ayahnya sudah menunggu di depan gerbang.


Karena takut dicurigai, terpaksa Randi pulang lebih telat agar tidak bertemu dengan Pak Budi. Masalahnya bisa panjang lagi kalau sampai ketahuan.


Biarlah sekarang aku yang mengalah. Sabar!

__ADS_1


__ADS_2