LULU

LULU
Maaf


__ADS_3

Hari ini Lulu pergi ke sekolah dengan perasaan kacau. Wajahnya sangat kusut dan tidak ada semangat sama sekali. Berkali-kali Lulu menghela napasnya dalam-dalam agar ia merasa lebih tenang. Lulu menatap dalam bangunan sekolahnya yang sangat mewah, sebelum ia masuk.


Sampai kapan aku akan di sini? Akankah aku selesai di tempat ini?


"Hey," panggil salah seorang teman Lulu sambil menepuk bahunya.


Lulu yang terperanjat langsung tersenyum dan berusaha menyembunyikan kegelisahannya. Lulu menjadi sangat pendiam. Ia tidak terlihat bicara dengan teman-temannya meskipun sudah jam istirahat.


"Kamu sakit, Lu?" tanya salah seorang temannya.


"Tidak. Aku hanya kurang tidur," jawab Lulu sambil bersandar dan memejamkan matanya ke tembok kelas.


Tanpa Lulu sadari, Pak Arya melihat sikap Lulu yang berbeda dari biasanya. Setelah jam pulang sekolah, Pak Arya memanggil Lulu. Pikiran Lulu tidak lebih karena kemarin ia bolos. Wajar jika Pak Arya memanggilnya ke ruang guru.


"Kamu ada masalah apa?" tanya Pak Arya.


Pertanyaan yang membuat Lulu membuka matanya lebar-lebar. Ada hal yang tidak biasa masuk ke telinganya. Lulu merasa sangat tidak nyaman dengan perhatian Pak Arya.


Tiba-tiba Lulu ingat kekhawatiran Randi saat itu. Tuduhan Randi tentang perasaan Pak Arya padanya sepertinya sudah bisa dirasakan oleh Lulu. Dengan sangat tegas Lulu menolak sikap Pak Arya yang berlebihan untuknya.


Hampir saja Lulu dibuat stres saat menghadapi hari-harinya. Tekanan dari ibunya dan sikap Pak Arya yang membuatnya tidak nyaman menjadikan Lulu sangat berubah. Ia jauh lebih pendiam dan banyak melamun.


Beberapa kali Lulu berpapasan dengan Bu Sari, namun ibunya tidak sedikitpun memberikan respon yang menyenangkan. Lulu ingin sekali protes, namun ia tidak berhak. Semua terjadi karena kesalahannya sendiri.


"Bu," panggil Lulu.


Sebagai seorang anak, Lulu tidak mau hubungannya dengan ibunya sendiri sedingin ini. Tapi ia tidak bisa berbuat banyak. Ia hanya berusaha meskipun tidak tahu hasilnya akan seperti apa.


Harapannya untuk berdamai dengan ibunya sendiri ternyata pupus setelah ibunya tidak merespon sama sekali panggilannya. Bu Sari hanya menatapnya sebentar dengan tatapan tajam lalu membuang muka.

__ADS_1


Air mata Lulu berhamburan tanpa dikomando. Andai saja di rumah itu hanya ada dirinya dan Bu Sari, ia pasti akan menangis sejadi-jadinya di kaki Bu Sari. Namun ia tidak mau Lita dan Lani tahu masalah yang tidak seharusnya mereka tahu.


Lulu segera menumpahkan sesak di dadanya dalam kamar. Bantal guling menjadi saksi betapa sakitnya hati Lulu. Ia memukul dan mencakar bantal guling untuk meluapkan emosinya.


Bukan, bukan emosi pada ibunya. Ia kesal pada dirinya sendiri. Ia tidak habis pikir dengan kebodohannya yang dengan mudah menyerahkan semuanya pada Randi.


"Ran, aku harus gimana?" gumam Lulu di sela isak tangisnya.


Randi memang selalu datang di saat yang tepat. Seperti saat ini, saat hati Lulu sedang sangat kacau Randi meneleponnya. Randi selalu punya cara untuk menenangkan Lulu. Bahkan seketika Lulu merasa Randi adalah pahlawan yang sudah menyelamatkan kedepresiannya.


Setelah merasa tidak nyaman selama berhari-hari, akhirnya Randi sudah kembali. Bahkan di hari pertamanya sekolah, yang Randi lakukan adalah menemui Lulu. Tentu semua itu menjadi penilaian tersendiri dari Lulu untuk Randi.


"Aku merindukanmu," bisik Randi.


Lulu menelan salivanya. Rasa takut dan kecewa atas kebodohannya seketika sirna. Saat hembusan napas Randi memburut darah Lulu berdesir. Angannya melayang membayangkan apa yang tidak seharusnya ia bayangkan.


"Lu," panggil Randi sambil mengguncang pelan bahu Lulu yang tengah mematung.


Lulu segera mengatur dirinya agar tidak panik. Ia malu sendiri dengan apa yang terjadi. Bisa-bisanya ia terbuai hanya dengan hembusan napas Randi. Apalagi di tempat umum seperti itu.


"Kamu sakit?" tanya Randi memastikan.


Lulu menggelengkan kepalanya. Ia tidak sakit. Bahkan sakit hati yang ia rasakan pun hilang seketika saat mereka bertemu. Saat ini Randi memang yang terbaik di mata Lulu.


"Nanti pulang sekolah, aku ke rumah kamu ya!" ucap Randi sambil menggenggam tangan Lulu.


Lulu menelan salivanya dengan susah payah. Matanya menatap Randi dengan lekat. Ucapan Randi mengingatkannya pada beban hidup yang tengah dihadapinya. Namun ia tidak merasa takut karena Randi begitu siap menghadapi semuanya.


"Apa kamu tidak takut?" tanya Lulu pelan.

__ADS_1


"Saat ini yang aku takutkan hanya kehilanganmu. Tetaplah di sisiku apapun yang terjadi. Aku ingin selalu seperti ini," ucap Randi.


Lulu tersenyum senang. Kini hatinya tidak ragu lagi. Ia yakin jika Randi adalah pria terbaik yang dipilihnya. Meskipun Lulu sadar jika dirinya sudah terjebak dalam kesalahan, namun Randi meyakinkannya jika mereka bisa melewati semuanya bersama.


Siang ini Lulu pulang dengan sangat senang. Setelah sekian lama, akhirnya ia bisa pulang bareng dengan Randi. Hal yang sudah sangat lama ia rindukan. Sebenarnya mereka beberapa kali berboncengan seperti ini, namun biasanya tidak terbuka seperti hari ini.


"Bu," sapa Randi saat motor sudah terparkir di depan rumah Lulu.


Bu Sari hanya membuang muka. Wajahnya jelas menunjukkan sikap tidak sukanya pada Randi. Betapa sakit hatinya melihat anaknya yang sangat ia percaya dan pintar ternyata telah mengkhianatinya. Lulu membohonginya dan sudah sangat bodoh hanya karena rayuan dari Randi.


"Bu, Randi sudah ke sini. Dia memenuhi permintaan ibu," ucap Lulu.


"Masuk," ucap Bu Sari dengan ketus.


Setelah melihat Bu Sari melenggang masuk tanpa menoleh sedikitpun, Lulu menggenggam tangan Randi. Ia meminta maaf dan tidak menyerah dengan apapun yang akan terjadi nanti. Randi tersenyum dan begitu yakin dengan segala konsekuensi yang akan diterimanya.


"Kenapa kalian jahat sekali?" tanya Bu Sari sambil terisak.


Tangis Bu Sari pecah tanpa menunggu aba-aba. Kemarahannya ia luapkan dengan tangis yang begitu hebat. Bahkan dada Bu Sari terasa sesak. Seingatnya, ini adalah rasa tersakit yang pernah ia alami sepanjang hidupnya.


"Bu, saya minta maaf. Saya berjanji akan bertanggung jawab atas semua kesalahan saya. Saya akan menikahi Lulu," ucap Randi.


Lulu terlihat begitu terkesima dengan kedewasaan dan keberanian Randi. Ia tidak menyangka jika pria itu akan terlihat sangat tenang. Lagi-lagi Lulu kagum dengan semua yang dimiliki Randi. Namun berbeda dengan Lulu, Bu Sari justru tertawa. Bukan senang, Bu Sari terkesan mengejek. Ia tidak yakin jika Randi bisa mewujudkan angan-angannya itu.


Tentu keseriusan Randi itu dianggap angan-angan oleh Bu Sari. Pria yang masih duduk di bangku SMK itu tidak tahu apa yang dimaksud dengan menikah. Apa yang akan mereka lalui dalam proses menikah. Namun Randi dengan begitu percaya diri meyakinkan Bu sari.


Alih-alih merasa yakin, Bu Sari justru meminta Randi untuk segera pergi dari rumahnya. Randi yang diusir sama sekali tidak terlihat marah. Pria berusia belasan tahun itu hanya pergi dengan tenang dan meyakinkan Lulu jika ia tidak akan meninggalkan Lulu apapun yang terjadi.


Setelah melihat Randi pamit, Lulu hanya mengangguk dan mengantar Randi hingga ke depan rumah. Pemandangan yang romantis mungkin bagi sebagian orang. Namun, sangat menyakitkan bagi Bu Sari.

__ADS_1


Bahkan kalian sudah sangat terang-terangan seperti itu.


Bu Sari menggerutu dengan sangat kesal. Tangannya sudah mengepal di samping tubuhnya. Menahan agar kemarahannya tidak memuncak kembali.


__ADS_2