
"Jam berapa ini?" tanya Lulu sambil mengusap sudut matanya.
"Lu, jangan nangis dong." Randi memeluk Lulu.
"Aku tanya jam berapa," ucap Lulu lagi sambil melepaskan pelukan Randi.
"Jam sebelas lebih dua puluh," jawab Randi.
"Aku harus pulang," ucap Lulu.
"Ayo!" ajak Randi.
Lulu meminta Randi merapikan kamar kosan Wisnu. Ia tidak mau ada satu jejak pun yang ditinggalkan mereka. Aibnya harus ia simpan dengan baik. Jangan sampai ada yang tahu kebusukannya.
"Ayo!" ajak Randi sambil menggandeng tangan Lulu.
Lulu menepis tangan Randi tanpa mengeluarkan sspatah katapun. Hal ini tentu membuat Randi merasa sangat bersalah. Namun semua sudah terjadi. Waktu tidak bisa diulang.
Jika dikatakan menyesal, mungkin ada penyesalan saat dirinya tidak bisa mengontrol diri. Tapi semua juga karena Lulu sangat menggoda dan Randi merasa tidak ada penolakan.
Randi memperhatikan cara berjalan Lulu yang sedikit berbeda dari biasanya. Kasihan namun ia menyimpan rasa bangga karena ia menjadi orang pertama yang menjelajahi tubuh Lulu.
"Lu, sakit ya?" tanya Randi.
Lulu tidak menjawab. Ia hanya melihat Randi dengan tatapan yang tidak menyenangkan. Tidak ingin semua menjadi panjang dan rumit, Randi menghentikan mulutnya agar tidak mengucapkan kalimat apapun lagi.
Lulu pulang naik angkot dengan kepala yang terus memikirkan kebodohannya. Sampai-sampai ia terlewat cukup jauh hingga harus berjalan kaki lagi. Tapi semua ada hikmahnya. Hingga Lulu pulang ke rumah tepat seperti jam pulang sekolah.
"Lu, kamu kenapa?" tanya Bu Sari yang melihat wajah pucat Lulu.
"Tidak Bu. Lulu hanya sedikit pusing," jawab Lulu.
"Ya ampun kamu sakit? Ayo sayang Ibu antar ke kamar. Istirahat ya!" ucap Bu Sari.
Sakit hati Lulu saat mendapat perlakuan yang begitu istimewa dari ibunya. Andai saja semua ini diketahui ibunya, ia pasti akan semakin sakit saat melihat kekecewaan ibunya.
Dalam kamar yang tidak terlalu luas, Lulu terbaring menatap langit-langit kamarnya. Ia begitu pucat. Bukan karena sakit. Tapi karena ketakutannya. Ia sangat takut jika seandainya kekhawatiran keluarganya memang benar-benar terjadi.
Kejadian itu sudah berhari-hari namun apa yang terjadi tetap membayangi kepala Lulu. Ia terus-terusan merasa dibayangi rasa takut dan bersalah. Sampai akhirnya Pak Budi memanggil Lulu. Ia berusaha mengubah sikapnya karena takut dicurigai.
"Bapak," panggil Lulu.
Seperti Lita dan Lani, Lulu juga ikut berkumpul untuk melepas rindu pada Pak Budi setelah kurang lebih satu bulan bekerja di kota.
"Anak-anak Bapak," ucap Pak Budi sambil memeluk dan mencium ketiga anaknya bergantian.
Lulu memang sudah SMK. Tapi ia masih tetap jadi Lulu anak Pak Budi yang manja. Ia tetap diperlakukan seperti layaknya Lita dan Lani. Pak Budi adalah sosok ayah terbaik bagi mereka. Cinta pertama mereka yang begitu mencintainya dengan tulus.
"Akhirnya suasana seperti ini bisa kita rasakan lagi ya," ucap Lulu.
"Iya. Bersyukur kita masih diberi nikmat umur," jawab Pak Budi dengan senyum lebarnya.
Mereka semua berkumpul dan saling bercerita satu sama lain. Sampai akhirnya Bu Sari membuat Lulu hampir sesak napas.
"Kemarin-kemarin Lulu sedih loh Pak. Dia murung, melamun terus, katanya pusing. Sakit dia. Datang Bapak langsung sembuh," ucap Bu Sari.
"Oh ya? Lulu kenapa?" tanya Pak Budi.
__ADS_1
"Karena Lulu sudah rindu Bapak," jawab Lulu.
"Ah masa?" goda Pak Budi.
"Iya," jawab Lulu.
"Bukan karena rindu si dia?" tanya Pak Budi dengan tatapan mengolok-olok.
"Dih, si dia siapa? Aku kan jomblo," jawab Lulu.
"Jomblo apa jomblo?" tanya Pak Budi.
Pak Budi memang selalu bisa mencairkan suasana di rumah. Hal itu yang membuat Lulu sejenak melupakan masalah yang dihadapinya. Namun saat ia harus pergi ke sekolah, menjadi hal yang membuatnya kembali merasa masalah itu hadir kembali.
Rasanya enggan Lulu kembali sekolah. Malas bertemu dengan Randi. Marah, kecewa, malu, semua bercampur dalam hati Lulu. Namun tidak ke sekolah pun hanya akan membuat suasana semakin rumit. Akhirnya Lulu memutuskan untuk pergi sekolah.
"Lu, Lu," panggil Randi.
Lulu hanya menoleh sebentar lalu kembali berlalu melanjutkan langkahnya. Randi menatap kesal Lulu yang semakin menjauh. Sudah dua hari Lulu bersikap dingin seperti itu. Tidak seperti biasanya yang selalu menemani Randi sarapan.
Sikap Lulu membuat Randi sangat tidak nyaman. Lulu semakin menghindar saat Randi mendekatinya. Jangankan kecupan seperti dalam perjanjiannya saat itu, Randi sudah sulit untuk menemui Lulu. Selalu ada saja alasan Lulu untuk menghindar darinya.
"Lu, aku mau bicara." Randi masuk ke kelas Lulu.
Hal langka yang terjadi di sekolah. Karena biasanya Lulu akan menemui Randi di luar kelas. Itu semua karena Lulu yang tidak mau teman-teman sekelasnya membully kedekatan mereka. Namun karena sikap Lulu pula, akhirnya Randi terpaksa mencari Lulu di kelas.
"Ikut aku!" ucap Lulu.
Lulu segera menarik tangan Randi agar keluar dari kelas. Ia membawa Randi bertemu di tempat biasa. Namun sayangnya tempat itu tidak seindah biasanya. Kini hanya ada pertengkaran dan perdebatan diantara keduanya.
"Cape? Kamu pikir aku tidak? Hubungan yang tidak sehat," ucap Lulu.
Randi menghela napas panjang saat mendengar ucapan Lulu. Hubungan yang tidak sehat? Lalu bagaimana dengan Wisnu dan kekasihnya yang sering melakukan hal itu. Mereka berdua terlihat biasa saja. Tidak ada drama seperti yang Lulu lakukan.
"Lalu menurutmu Wisnu dan pacarnya menjalani hubungan macam apa?" tanya Randi.
"Ran, dari awal aku selalu bilang. Stop membandingkan hubungan kita dengan yang lain. Dulu sejak Wisnu tidak punya pacar, kamu tidak pernah menuntutku untuk aneh-aneh," jawab Lulu.
"Ya karena kamu yang sulit untuk aku temui," ucap Randi.
Lulu diam. Jika ia tarik cerita dari jauh sebelum kejadian ini, memang ia yang pertama membatasi pertemuan dengan Randi. Lalu akhirnya terbentuk perjanjian yang menuntut mereka semakin jauh.
"Tapi kalau saja Wisnu tidak terus mempengaruhimu, semua akan baik-baik saja," ucap Lulu.
"Lu sudah dong. Jangan selalu menyalahkan orang lain dalam hubungan kita," ucap Randi.
"Kenapa? Karena memang Wisnu yang salah. Lalu kita mau menyalahkan siapa?" tanya Lulu.
"Orang tuamu," jawab Randi.
Lulu menatap Randi dengan tatapan tidak suka. Jawaban Randi benar-benar membuatnya semakin kesal. Seandainya ini bukan di sekolah, ia ingin berteriak memaki Randi. Menjelaskan bahwa semua yang dilakukan orang tuanya hanya karena kekhawatiran terhadap anaknya. Dan ternyata kekhawatiran itu benar-benar terjadi.
"Setelah apa yang kamu lakukan padaku, bisa-bisanya kamu menyalahkan orang tuaku? Terima kasih," ucap Lulu sambil memukul dada Randi.
"Iya makanya jangan cari-cari kesalahan orang lain," ucap Randi.
"Kamu sudah berjanji akan menikahiku. Itu artinya mereka akan menjadi mertuamu. Orang tuamu juga," ucap Lulu.
__ADS_1
Lulu pergi tanpa pamit. Ia menahan air mata yang sudah mendesak untuk berhamburan. Rasa sakitnya semakin menjadi saat Randi tidak mengejarnya sama sekali. Randi benar-benar mengabaikannya.
Jam pelajaran sudah selesai. Pak Budi yang kebetulan sedang ada di sekitar sekolah Lulu sudah menunggunya di depan gerbang. Senyum Pak Budi menyambut kedatangan Lulu. Hati Lulu teriris saat melihat wajah begitu tulus itu menunggunya dengan motor beat warna hitam.
"Sudah lama Pak?" tanya Lulu setelah mencium tangan Pak Budi.
"Belum, baru saja sampai." Pak Budi terpaksa berbohong karena tidak mau Lulu merasa tidak enak.
Lulu segera naik ke motor yang dikemudikan ayahnya. Sementara matanya sempat menyapu keberadaan Randi di dekat gerbang. Ia menatapnya dengan sedih namun tidak menemuinya. Terlihat seperti pasrah begitu saja.
Saat sampai rumah, pikiran Lulu benar-benar terbagi. Ia yang harus terlihat ceria di depan keluarganga, namun kepalanya masih saja memikirkan rasa sakit dengan ucapan Randi.
Beberapa kali Lulu melihat ponselnya mendapat panggilan masuk dari Randi. Namun ia mengabaikannya karena tidak mau keluarganya curiga.
"Kak Lulu itu teleponnya tidak diangkat?" tanya Lani dengan polosnya.
"Ah, biarkan saja." Lulu membalikkan ponselnya agar Lani tidak melihat nama si penelepon.
"Kak Lulu marahan ya sama Kak Rara?" tanya Lani.
"Tidak," jawab Lulu.
"Kak Rara siapa?" tanya Lita.
Lani menggelengkan kepalanya. Karena ia hanya tahu nama itu dari kontak di ponsel Lulu.
"Dia temanku," jawab Lulu.
"Kenapa tidak diangkat? Siapa tahu penting," ucap Bu Sari saat meletakkan piring berisi gorengan di atas meja.
"Paling juga mau nyontek PR Bu. Males," ucap Lulu sambil menyambar gorengan.
"Memangnya masih musim ya nyontek?" tanya Lita sambil Menyindir Lani.
Lani yang tahu kalau sindiran itu untuknya hanya bisa mendelik kesal sambil mengunyah gorengan buatan ibunya. Sementara Lulu menggelengkan kepalanya pada Lani. Ia memberi kode untuk tidak bersikap seperti itu.
Saat ada Pak Budi, sudah menjadi kegiatan rutin untuk berkumpul sebelum tidur. Menceritakan banyak hal tentang apa yang ia lewati hari itu. Mereka akan ke kamar masing-masing setelah jam sembilan malam. Di waktu itu pula Lulu menghubungi Randi.
Obrolan pun dimulai dengan permintaan maaf dari Randi. Ia mengakui setiap kesalahannya. Tadi siang ia benar-benar diselimuti dengan rasa kesal atas sikap dingin Lulu.
"Kita bisa memulai semua seperti dulu," ucap Randi.
"Aku mau kamu jangan terlalu dekat dengan Wisnu. Aku tidak suka kamu dipengaruhi Wisnu seperti itu," ucap Lulu.
Meskipun Randi tidak mungkin menjauhi Wisnu, namun ia hanya bisa mengiyakan. Menurut Randi, saat ini ia hanya perlu mengikuti kemauan Lulu. Membiarkan mood Lulu kembali seperti semula.
Rasa sayangnya pada Lulu membuat Randi mengikuti semua yang wanitanya inginkan. Tapi tidak untuk yang satu ini. Wisnu adalah satu-satunya sahabat yang menurutnya sangat mengerti keadaannya.
"Kalau seandainya kamu harus memilih aku sama Wisnu, kamu pilih siapa?" tanya Lulu.
"Ya kamu dong. Kamu itu kan calon istriku. Masa aku memilih Wisnu? Kamu dan Wisnu itu dua orang yang tidak bisa dibandingkan," ucap Randi.
Mendengar kata calon istri membuat Lulu tidak bisa melepaskan senyum dari bibirnya. Ia yang awalnya sama sekali tidak kepikiran dengan menikah, tiba-tiba membayangkan bisa menjadi pasangan suami istri yang bahagia dengan Randi.
Entah kenapa Lulu kembali luluh dengan gombalan Randi yang membuatnya terbang melayang. Mungkin karena rasa cintanya pada Randi. Apalagi saat ini Randi sudah mengambil kesuciannya. Lulu tidak mungkin melepaskan Randi begitu saja.
Ada hal yang harus Lulu tuntut dari Randi yaitu sebuah tanggung jawab. Tidak mungkin Lulu kehilangan Randi setelah apa yang dilakukan mereka saat itu.
__ADS_1