
Malam semakin larut namun Randi tak kunjung datang. Sesekali Wisnu melihat Bu Desi yang sudah tertidur pulas karena pengaruh obat. Wisnu beberapa kali menelepon Randi namun hasilnya nol. Randi sama sekali tidak menjawab panggilannya.
Wisnu ingin sekali pulang. Ia tidak nyaman saat harus menunggu Bu Desi sendirian di sana. Namun ia juga tidak tega meninggalkan Bu Desi sendirian. Akhirnya ia menghubungi kekasihnya untuk menemani malam yang membuatnya gelisah.
Saat jam sebelas malam, Wisnu mengakhiri panggilannya dengan wanita yang ia cintai itu. Ia tidak mau pacarnya sampai telat ke sekolah hanya karena bangun kesiangan. Ia mencoba menyimpan ponselnya dan merebahkan tubuhnya di atas sofa.
Berguling ke sana ke sini. Berusaha mencari posisi paling nyaman agar bisa tidur. Namun Wisnu malah pusing sendiri. Sayup-sayup terdengar suara orang yang tengah berdebat. Semakin lama suara itu semakin keras dan nyata. Wisnu melirik pergelangan tangannya. Ia melihat sudah jam dua belas.
"Randi," ucap Wisnu saat mengenali suara orang di luar kamar itu.
"Arrgh, kurang ajar. Ku hajar kau bocah tengil," ucap Rayhan sambil menghantam wajah Randi.
Rayhan yang lebih dulu dipukul oleh Randi merasa kesal karena merasa tidak dihargai oleh adiknya sendiri. Namun saat ini Randi merasa Rayhan sama sekali tidak perlu dihargai. Apa yang sudah ia lakukan sangat melukai ibunya dan membuat keadaan keluarganya menjadi berantakan.
"Eh, sudah, sudah. Ran, tenang. Bang Rayhan tenang ya. Ini rumah sakit," ucap Wisnu menengahi keduanya.
Masih dengan emosinya masing-masing keduanya nampak saling memalingkan wajah dengan tangan yang mengepal. Wisnu memang belum tahu betul masalah yang terjadi di keluarga Randi. Namun yang ia tahu, semua masalah terjadi karena Rayhan yang sering bolos saat kuliah.
Awalnya Randi pun memang hanya tahu hal itu sebagai penyebabnya. Meskipun terdengar janggal, namun Randi berusaha untuk tidak berpikir buruk dan terlalu jauh. Sampai akhirnya pertengkaran Bu Desi dan Pak Halim terjadi begitu hebat. Semua karena Rayhan yang membongkar perselingkuhan Pak Halim dengan seorang janda anak satu.
"Apa maksud Abang mengirimkan hal yang tidak penting itu?" tanya Randi dengan suara bergetar karena menahan amarahnya.
"Tidak penting? Untuk bocah tengil yang tidak tahu apa-apa mungkin hal itu bukan hal yang penting. Tapi kamu harus tahu kalau Papa tidak berhak mengusirku dari rumah," ucap Rayhan.
Randi merasa dadanya sangat sesak saat mendapatkan berita itu. Ternyata Rayhan memang sengaja membuat keluarganya berantakan karena kesal sudah diusir dari rumah.
"Tapi Abang salah karena sudah marah dan melawan Papa. Sudah berkali-kali Papa bilang agar Abang tidak bolos kuliah," ucap Randi.
"Lebih baik hanya bolos kuliah dari pada harus berselingkuh saat istri sedang sakit," ucap Rayhan membela diri.
Randi menarik kerah baju Rayhan dengan penuh emosi. Wisnu menarik tubuh Randi hingga akhirnya Randi melepaskan Rayhan. Meskipun Randi terlihat masih sangat berapi-api. Namun Wisnu bisa melihat Randi menahan kemarahannya pada Rayhan.
Bahkan Randi membiarkan Rayhan masuk untuk menemui ibunya. Dari celah pintu, Randi melihat bagaimana wajah Bu Desi berubah saat melihat kedatangan Rayhan. Begitu berartinya Rayhan di mata ibunya. Padahal ia tahu betul jika Rayhan adalah penyebab semua kekacauan itu.
"Ran, sudahlah. Kamu tenang. Yang penting sekarang semuanya membaik. Ayo ikut aku!" ajak Wisnu sambil menarik tangan Randi.
Tanpa penolakan, Randi mengikuti langkah kaki Wisnu dengan penuh kepasrahan. Ia sama sekali tidak peduli kemana ia akan pergi. Setelah sampai di warung pun Randi tidak berkomentar apapun.
__ADS_1
"Kamu belum makan lagi kan? Kantin rumah sakit sudah tutup. Makan mie instan saja ya," ucap Wisnu.
"Aku tidak lapar," ucap Randi.
"Kamu harus makan. Ibumu sedang sakit. Jangan sampai kamu juga ikutan sakit," ucap Wisnu.
"Ibuku tidak peduli padaku. Yang ada di kepalanya hanya abangku saja. Aku jadi curiga kalau aku ini bukan anaknya," ucap Randi.
"Heh, nyebut Ran. Jangan begitu," ucap Wisnu.
Tidak mau Randi semakin berlarut dengan pikiran buruknya, Wisnu segera mengakhiri obrolan itu dan memesan mie. Padahal dalam hatinya ia juga memikirkan hal yang sama dengan apa yang Randi pikirkan.
Selesai makan, Wisnu mengajak Randi untuk kembali ke rumah sakit. Ia khawatir jika Rayhan pulang meninggalkan Bu Desi sendirian. Dan kenyataannya memang begitu. Ruangan itu sepi. Hanya ada Bu Desi yang tengah tertidur. Tidak ada Rayhan ataupun Pak Halim.
"Benar-benar keterlaluan kamu bang. Bisa-bisanya kamu meninggalkan Mama sendirian saat seperti ini. Dasar manusia tidak punya hati," gerutu Randi.
Rupanya Bu Desi tidak benar-benar tidur. Ia mendengar semua gerutuan Randi dan segera membela Rayhan. Menurut Bu Desi, Rayhan memang sengaja pulang karena harus mengerjakan beberapa tugas kuliahnya. Rayhan sedang belajar keras mengejar materi yang tertinggal.
Wisnu tahu betul kalau Randi ingin marah, namun ia memegang bahunya dengan kuat. Ia meyakinkan Randi jika kemarahannya tidak akan berarti apa-apa. Justru hanya akan membuat masalah semakin kacau.
"Terserah Mama saja. Mama punya hak untuk setiap penilaian Mama sama Bang Ray," ucap Randi dingin.
Bangga? Kebanggaan macam apa yang bisa ia berikan atas sikap seorang kakak seperti Rayhan. Tapi untuk berdebat dengan ibunya, Randi rasa ini tidak akan menyelesaikan apapun. Ia memilih untuk pasrah dan merebahkan tubuhnya di atas sofa.
"Kamu pulang saja Nu. Besok kan sekolah," ucap Randi.
"Aku pulang besok saja. Ini sudah terlalu malam," ucap Wisnu.
Sebenarnya bukan karena terlalu malam, tapi karena Wisnu tidak bisa membiarkan Randi sendirian. Ia tahu saat ini Randi sedang tidak baik-baik saja. Meskipun ia tidak bisa melakukan apapun, tapi setidaknya ia bisa memastikan jika Randi tidak melakukan hal bodoh.
Wisnu hanya tidur selama tiga jam. Saat alarm di ponselnya berdering, ia segera pamit pada Randi. Ia harus sekolah dan akan kembali menemani Randi sepulang sekolah.
"Nanti pulang sekolah aku bawa Lulu ke sini ya," bisik Wisnu.
"Jangan!" ucap Randi.
"Kenapa?" tanya Wisnu.
__ADS_1
Randi menarik tangan Wisnu agar keluar dari ruangan. Ia pun menjelaskan jika sampai saat ini drama putus antara dirinya dengan Lulu masih terjadi. Ia tidak mau kedatangan Lulu akan membuat keadaan semakin memburuk.
"Ya sudah kalau begitu aku pulang ya," ucap Wisnu.
Tidak lama setelah Wisnu pulang, Pak Halim datang. Ia terlihat salah tingkah di depan Randi. Ingin rasanya Randi menghajar pria yang sudah menyakiti ibunya Itu. Seandainya bisa, ia ingin memaki Pak Halim sama seperti ia memaki Rayhan malam tadi.
"Kenapa Papa baru ke sini?" tanya Randi.
"Semalam Papa sudah ke sini. Tapi Papa melihat kamu membawa Rayhan ke sini. Jadi lebih baik Papa pergi dari pada harus ribut di sini," jawab Pak Halim.
"Terus Papa pulang kemana? Ke rumah perempuan itu?" tanya Randi sambil mengepalkan tangannya.
"Ran, sudahlah. Jangan ikut-ikutan seperti abangmu. Dia begitu karena hanya ingin menutupi kesalahannya saja," ucap Pak Halim.
Pak Halim pun membela diri. Jika kedekatannya dengan wanita itu hanya sebatas pembeli dan pedagang. Menurutnya janda beranak satu itu adalah wanita penjual kopi yang berjualan di sekitar proyeknya. Bukan hanya dirinya, tapi hampir semua pekerja proyek juga jajan di sana.
"Tapi beberapa hari ini Papa memang terlalu sibuk. Hal itu membuat aku dan Mama percaya sama Bang Ray," ucap Randi.
"Itu proyek baru dan sangat besar. Papa harus banyak meluangkan waktu untuk mengontrolnya. Kalau sampai proyek ini gagal, nama baik Papa akan hancur. Mengertilah," ucap Pak Halim.
Sejenak Randi mengerti dan berusaha menerima pembelaan diri ayahnya. Namun saat Pak Halim membahas tentang Rayhan, ia menjadi percaya jika apa yang dikatakan ayahnya memang benar.
Pak Halim mengatakan alasan kebenarannya kenapa ia mengusir Rayhan dari rumah. Sebenarnya bukan hanya tentang bolos kuliah. Tapi siang itu Pak Halim dipanggil oleh pihak kampus karena Rayhan kepergok mesum di kampus.
"Anak macam apa dia, memalukan sekali." Pak Halim tampak marah saat mengingat kejadian itu.
Randi hanya tersenyum sinis. Kepalanya berpikir jika keduanya sama saja. Sama-sama ingin terlihat manis di depan Bu Desi padahal menyimpan kebusukannya masing-masing.
"Kamu percaya kan sama Papa?" tanya Pak Halim.
"Aku percaya sama Papa tentang Bang Ray. Tapi aku juga percaya sama Bang Ray tentang Papa. Kalian sama saja. Dan Papa harus tahu, aku bahkan sudah mulai tidak peduli dengan apa yang kalian lakukan. Aku hanya ingin kalian kembali membuat Mama bahagia dan ceria seperti dulu," ucap Randi.
Usianya memang masih muda. Ia baru duduk dibangku SMK. Namun ia sudah tahu betul tentang wanita dan birahi. Ternyata apa yang ia lakukan tidak ada apa-apanya dengan yang dilakukan kakak dan ayahnya.
Randi menyaksikan bagaimana usaha Pak Halim meminta maaf dan meyakinkan Bu Desi atas perasaannya. Rasanya sudah mual dan muak. Randi tidak mau melihat drama ini lagi. Apalagi saat Rayhan datang. Hal yang sama juga dilakukan oleh Rayhan.
Tanpa permisi, Randi segera pergi dari rumah sakit. Ia pulang dan segera bersiap ke sekolah. Nyaris terlambat. Hanya satu menit lagi sampai bel sekolah berbunyi. Hal itu membuat Randi tidak bisa bertemu dengan Lulu sebelum jam pelajaran dimulai.
__ADS_1
Tapi tidak masalah, masih ada jam istirahat dan jam pulang sekolah. Waktu dimana ia akan mendapatkan kebahagiaan hanya dengan melihat wajah Lulu. Randi meminta Wisnu untuk memberi tahu Lulu jika jam istirahat ia menunggunya di tempat biasa.
Kedatangan Lulu membuat Randi melupakan semua masalah yang terjadi pagi ini. Pelukan hangat Lulu berhasil membuat Randi merasa jika semua sudah baik-baik saja. Sayangnya hembusan napas Lulu dan aroma tubuhnya yang khas membuat kepala Randi menjadi kotor.