LULU

LULU
Demi uang recehan


__ADS_3

"Lu ayo makan!" ajak Bu Sari saat melihat Lulu keluar dari kamar mandi.


"Ibu makan duluan saja. Lulu mau ke kamar dulu," ucap Lulu dengan wajah lemas.


"Makan dulu. Ibu menunggumu," ucap Bu Sari.


Lulu mengangguk. Setelah menyimpan handuk, Lulu duduk di samping Bu Sari. Mengambil nasi dan lauk. Meskipun ada balado udang, tapi Bu Sari sama sekali tidak melihat rona bahagia pada Lulu. Anak sulungnya itu hanya makan tanpa menikmatinya.


Sebenarnya Bu Sari tahu bahwa ada sesuatu yang terjadi pada Lulu. Namun tidak mungkin ia membahas ini di depan Lita dan Lani. Apalagi saat ini mereka sedang makan. Nanti malam ia akan membahas ini dengan Lulu. Hanya berdua tanpa Lita dan Lani.


Malam ini Bu Sari menahan rasa ngantuknya. Ia harus menunggu Lita dan Lani tidur lebih dulu karena harus membahas masalah Lulu. Namun sayangnya setelah Bu Sari masuk ke kamar Lulu, anak sulungnya sudah tertidur. Matanya terlihat sedikit bengkak.


Bu Sari menarik napas panjang. Ia harus mengurungkan niatnya untuk membahas ini dengan Lulu. Tidak apa, mungkin Lulu lelah dan harus istirahat. Saat akan kembali ke kamarnya, Bu Sari melihat ponsel Lulu menyala. Perlahan Bu Sari mendekat dan melihat ponsel Lulu.


Rara? Ada apa anak ini menelepon Lulu malam-malam? Kenapa Lulu tidak mengaktifkan nada ponselnya? Bahkan tidak menggunakan getar sama sekali.


Pertanyaan demi pertanyaan muncul di kepala Bu Sari. Hingga akhirnya ia berasumsi bahwa masalah yang terjadi pada Lulu ada hubungannya dengan temannya yang bernama Rara itu.


Untuk menjawab rasa ingin tahunya, Bu Sari membaca pesan-pesan yang sudah terkirim dari kontak bernama Rara. Matanya mulai berkaca-kaca. Ia tidak menyangka jika selama ini Lulu membohonginya.


Dadanya sesak saat membaca pesan demi pesan yang ada di ponsel itu. Tubuhnya lemas dan tidak terasa air matanya mulai menetes. Rasanya sakit sekali saat anak yang ia percaya dan banggakan sampai hati membohonginya.


Bu Sari segera pergi meninggalkan kamar Lulu. Menghabiskan malam ini dengan penuh luka dan air mata. Sampai akhirnya Lulu menyadari jika semalam ibunya sudah menangis. Mata yang bengkak itu tidak bisa disembunyikan lagi.


"Ibu rindu Bapak ya?" tanya Lulu saat pagi hari.


Begitu manis sikap Lulu. Ia memeluk Bu Sari dari belakang. Berusaha menenangkan perasaan ibunya. Meskipun ternyata dugaannya salah. Ia tidak tahu jika penyabab bengkak di mata ibunya adalah kebohongan yang sudah diperbuatnya.


"Sudah siap mau sekolah ya? Tumben tidak wangi seperti biasanya," ucap Bu Sari.


Tanpa membahas ucapan Lulu, Bu Sari justru ingin menyindir Lulu. Ia sudah tidak sabar ingin mendengar pengakuan dari Lulu tentang kebohongannya. Atau justru Lulu akan bertahan dengan kebohongannya dengan membuat kebohongan yang lain?


"Biasanya juga begini Bu," ucap Lulu datar.


Lulu bersikap santai karena ia sama sekali tidak menyangka jika ibunya sudah curiga. Ia tidak tahu semua chattingannya dengan Randi sudah terbongkar. Ia sama sekali tidak menyangka jika tangisan ibunya karena kekecewaan padanya.


"Nanti pacarmu di sekolah kabur kalau kamu tidak wangi," ucap Bu Sari.


"Aku kan jomblo, Bu. Jadi tidak perlu khawatir," ucap Lulu.


"Cari pacar dong!" ucap Lita yang tiba-tiba datang dan duduk di ruang makan.

__ADS_1


"Anak sekolah tidak boleh pacaran," ucap Bu Sari dengan tegas.


Ucapan tegas Bu Sari tiba-tiba membuat Lulu tersentak. Ia merasa ucapan itu ditujukan padanya. Namun lagi-lagi Lulu berusaha menenangkan dirinya. Ia tetap bersikap tenang seolah ia pun tidak melanggar aturan keluarganya.


Bu Sari kesal karena sampai Lulu berangkat ke sekolah pun, tidak ada ucapan atau pengakuan dari Lulu. Padahal ia berharap Lulu bisa peka dan meminta maaf. Tapi semua tidak sesuai dengan keinginannya.


"Kamu benar-benar keterlaluan Lulu," ucap Bu Sari geram sambil mengepalkan kedua tangannya.


Saat semua anaknya sudah tidak ada di rumah, Bu Sari kembali menangis. Ia benar-benar harus menghadapi semua ini sendiri. Sebenarnya Bu Sari ingin sekali mengadukan semua ini pada suaminya.


Keadaan mereka yang terpisah jarak membuat Bu Sari mengurungkan niatnya. Ia tidak mau kalau Pak Budi jadi kepikiran dan tidak fokus saat bekerja. Hal itu tentu akan membahayakan suaminya.


Saat di sekolah, Lulu yang merasa kesepian tanpa kehadiran Randi di hari-harinya harus menghabiskan waktu dengan jenuh. Ia yang tidak terlalu dekat dengan teman-temannya membuat tidak terlalu nyaman saat berkumpul bersama mereka.


Kebiasaan Lulu yang sering dihabiskan dengan Randi membuatnya sangat merasa kehilangan saat Randi tidak ada. Bahkan Wisnu pun tidak nampak batang hidungnya. Sekalinya bertemu, mereka terpisah jarak yang cukup jauh. Tentu membuat Lulu tidak bisa bertanya banyak soal Randi.


Hari ini Lulu yang tidak ada bimbingan bisa pulang lebih cepat. Ia sudah janjian dengan Lita. Namun sampai di depan gerbang sekolah, Lulu melihat Lita tengah bersama seorang pria.


"Lita," panggil Lulu.


"Aku pulang duluan ya!" ucap Lita pada pria itu.


"Dia pacarmu?" tanya Lulu.


"Teman Kak," jawab Lita.


"Teman kok sampai dadah-dadah begitu," ucap Lulu.


"Dih, memangnya dadah-dadah cuma boleh sama pacar ya? Kemarin juga kita dadah-dadah sama Bapak," ucap Lita.


"Ngeles aja kamu," ucap Lulu.


Setelah itu tidak ada lagi obrolan sampai motor sudah terparkir di depan rumah. Sudah ada Lani dan Bu Sari yang sedang duduk di ruang tengah.


"Bu, sore ini aku mau main ke rumah teman. Boleh ya?" ucap Lita.


"Baru juga sampai," ucap Bu Sari.


"Ya kan izin dulu. Mainnya nanti sore," ucap Lani.


"Teman yang mana? Ibu harus tahu teman kamu itu siapa saja. Kamu Ibu sekolahkan biar pintar. Jangan sampai pendidikan justru membuat kamu jadi pintar membohongi Ibu," ucap Bu Sari.

__ADS_1


Ucapannya sengaja lebih keras agar Lulu bisa mendengar sindiran itu. Lulu memang sudah masuk ke kamar saat Lita meminta izin untuk main nanti sore. Dan memang benar, Lulu mendengar sindiran itu. Lulu sengaja tidak keluar kamar karena tidak mau bertemu dengan Bu Sari.


Sore hari saat Lita sudah keluar rumah dan Lani sedang sekolah agama, Bu Sari duduk di teras rumah. Ia menunggu Lulu yang biasa menghampirinya. Namun sampai saat ini Lulu sama sekali tidak menemuinya.


"Lu," panggil Bu Sari.


Karena rasa kecewa itu sudah tidak bisa dibendung lagi, Bu Sari memanggil Lulu. Saat mendengar Lulu menjawab panggilannya, Bu Sari masuk dan meminta Lulu duduk di ruang keluarga.


"Ada yang mau kamu sampaikan sama ibu?" pancing Bu Sari.


"Tidak," jawab Lulu sambil menggelengkan kepalanya.


"Apa kamu tidak membohongi ibu?" tanya Bu Sari.


Lulu diam. Ia tahu kalaupun berbohong tentu ibunya akan tahu. Ia hanya pasrah dan membiarkan ibunya mengungkapkan kemarahannya. Tidak sampai lima menit, akhirnya Bu Sari menangis. Lulu begitu terkejut. Ternyata dugaannya meleset. Tidak ada kemarahan sama sekali. Ibunya justru menangis tersedu. Itu membuat Lulu semakin merasa bersalah.


"Kamu tega Lu. Kamu tega sama ibu," ucap Bu Sari disela isak tangisnya.


"Maksud ibu apa?" tanya Lulu.


Bukannya tidak tahu, Lulu hanya berharap jika ketakutannya hanya sebatas ketakutan saja. Namun Bu Sari memang menangis karena ketakutan yang Lulu simpan selama ini akhirnya terjadi.


"Siapa Rara? Kenapa dia muncul setelah Randi tidak ada? Apakah mereka satu orang yang sama? Kamu tega sama ibu," ucap Bu Sari.


"Ma-maaf Bu. Lulu minta maaf," ucap Lulu.


Tidak ada pembelaan sama sekali. Lulu mengakui semua kesalahannya. Berkali-kali Lulu meminta maaf dan menyesali perbuatannya. Apalagi saat Bu Sari menyinggung tentang kosan Wisnu.


"Apa yang kalian lakukan di kosan itu? Berdua kan? Kalian hanya berdua kan di sana?" ucap Bu Sari.


Lulu merasa dadanya sangat sesak. Lidahnya kelu. Ia tidak bisa menjelaskan apa-apa. Hanya air mata dan isak tangis yang menjawab pertanyaan Bu Sari.


"Kamu ibu sekolahkan biar pintar. Ibu bangga saat kamu bisa masuk ke sekolah yang bagus dengan beasiswa. Tapi apa yang kamu lakukan? Apa acara olimpiade itu juga hanya akal-akalan kalian saja?" tuduh Bu Sari.


"Tidak Bu. Olimpiade itu memang ada dan akan dilaksanakan. Lulu tidak berbohong. Maafkan Lulu, Bu. Lulu memang salah tentang Randi. Tapi tidak sekalipun Lulu bohong tentang sekolah. Justru Randi banyak membantu Lulu di sekolah. Randi sering membayar biaya iuran kelompok atau tugas," jawab Lulu.


"Kamu merendahkan diri hanya karena uang recehan seperti itu?" tanya Bu Sari.


"Aku tidak merendahkan diri Bu. Randi memberinya tanpa aku minta," jawab Lulu.


"Dia tidak perlu menunggumu meminta. Karena kamu juga secara suka rela merendahkan dirimu untuknya. Wanita macam apa yang mau dibawa berduaan di kosan," ucap Bu Sari sambil pergi meninggalkan Lulu.

__ADS_1


__ADS_2