Maaf .......

Maaf .......
Episode 4. Rekomendasi


__ADS_3

Panji Kusuma terus berlari cepat menyeberangi padang rumput. Senyum mengembang di mulutnya saat ia  merasakan tubuhnya ringan dan kecepatannya meningkat pesat. Ia juga merasakan nafasnya sekarang jauh lebih lega. Kondisinya sekarang jauh lebih baik dibandingkan kemarin.


“Mungkin kata Bibi Sekar benar. Tampaknya racun katak racun emas telah menyembuhkanku. Mungkin aku bisa lolos kualifikasi kali ini,” desisnya.


Ia sangat bersyukur bahwa ia telah menyetujui permintaan Ki Puguh. Perjalanan kali ini sangat bermanfaat baginya. Mungkin sejak saat ini ia tidak perlu khawatir penyakitnya kambuh dan harus turun level ke level 1 lagi. Ia juga yakin bisamencapai level 3 saat tes penerimaan murid Perguruan Langit Biru yang akan diadakan 6 bulan lagi.


Iamempercepat larinya dan beberapa saat kemudian ia melihat sebuah hutan terbentang di depannya.


“Rusa totol putih seharusnya ada di balik hutan itu,” gumamnya. Matanya melihat ke langit dan dilihatnya matahari sudah bergerak ke barat.


“Sudah lewat tengah hari, aku harus cepat.”


Tanpa mengurangi kecepatan, ia menerobos hutan dengan kecepatan penuh. Kakinya lincah meliuk – liuk di sela – sela pepohonan. Tangannya bergerak menyingkirkan dahan – dahan pohon yang menghalangi pandangannya.


Akhirnya sampailah ia di sebuah dataran yang cukup luas yang dipenuhi sesemakan dan rerumputan. Ia melihat ada sebuah sungai kecil yang mengalir di kejauhan.


“Sampai juga,” gumamnya. Ia menduga rusa totol putih ada di sekitar tempat ini. Lingkungannya sangat ideal untuk tempat tinggal binatang itu.


Tangannya meraih anak panah dan memasangnya ke busurnya.  Ia berjalan perlahan. Matanya mengamati sekitarnya. Sima Lodra, gurunya, pernah bilang rusa totol putih biasanya sangat waspada.  Mereka akan langsung berlari menghindar saat merasakan bahaya mendekatinya. Mau tak mau ia harus bergerak dengan hati – hati jika ia


ingin berhasil kali ini.


“Aku harus berhasil dalam sekali memanah. Kalau tidak, aku akan kehabisan waktu,” gumamnya pelan.


Setelah berjalan kurang lebih setengah jam, akhirnya ia melihat gerombolan tusa totol putih di kejauhan. Mereka sedang menikmati rumput di dekat sungai kecil. Ada beberapa ekor terlihat sedang meminum air di sungai.


Panji Kusuma mengamati lingkungan sekitar mereka serta menentukan arah anginnya sebelum merebahkan diri dan berjalan setengah merangkak ke arah semak belukar di dekat gerombolan itu.


Ia mengambil anak panah dan mempersiapkan busurnya. Perlahan – lahan ia berdiri dan menarik busurnya kuat – kuat.


Dziing!


Rusa totol putih itu menjerit keras saat tubuhnya tertembus anak panah. Ia tergetar sesaat sebelum meloncat dan berlari kencang menjauh. Kawanan rusa totol putih lainnya yang menyadari ada bahaya juga berlarian menjauh.


“Ck!” Panji Kusuma menjentikkan tangannya kesal. Ia tak menduga rusa totol putih itu tiba – tiba melangkah maju saat ia menembakkan panahnya. Akhirnya panah itu tidak langsung membunuhnya. Ia terpaksa harus mengejar rusa itu.


“Aduh!”


Tangannya yang menyibak semak belukar tiba – tiba terasa sakit. Ia menariknya dan melihat ada seekor ular berwarna belang hitam kuning tergantung lemas di tangan kanannya.


“Ular welang?” desisnya kaget. Ular ini termasuk jenis ular yang mempunyai racun kuat.


“Tapi kenapa ia tergantung lemas begini?”


Ia mengambil ular welang itu dan mengamatinya lebih teliti. Ternyata ular itu sudah mati lemas. Ia mencabut ular


itu dan membuangnya.


Ia juga mengamati tangannya dan melihat ada 2 bintik hitam kecil tanda gigitan ular itu di tangannya. Ia mengurut tangannya dan ada darah biru kehitaman mengalir keluar dari bintik itu sebelum berganti menjadi darah merah segar.


“He….! Ternyata racun ular welang ini tidak berpengaruh pada tubuhku,” serunya saat melihat tangannya tetap utuh dan tidak bengkak. Ia menggerakkan tangannya dan tetap terasa nyaman, tidak ada kelainan sedikit pun.


“Mungkin ini yang dikatakan Bibi Sekar dulu,” gumamnya. Gurunya, Sekar, adalah seorang tabib yang handal. Ia pernah mengatakan bahwa jika ia bisa menyembuhkan penyakitnya dengan menggunakan racun hewan yang sama kuatnya, tubuhnya akan menjadi kebal terhadap sebagian besar racun. Tampaknya perpaduan racun ular harimau salju, ular viper sisik api dan katak racun emas membuat antibodi tubuhnya jauh lebih kuat. Racun ular welang pun tidak mempan di tubuhnya.


“Syukurlah, dengan ini aku tidak perlu takut lagi saat berburu di hutan,” gumamnya senang.


Ia meraih busurnya yang jatuh dan berlari menyusul kearah larinya kawanan rusa totol putih.  Beberapa saat kemudian ia melihat seekor rusa totol putih tergeletak di dekat semak belukar.


“Akhirnya ketemu juga kau,” katanya saat melihat sebatang anak panah yang menembus tubuh rusa itu. Ia mengambil pisaunya dan menyembelih rusa yang nafasnya sudah kembang kempis itu.


“Fyuh,” desisnya sambil menghapus keringat yang mengembun di dahinya. “Aku harus cepat, atau aku akan kemalaman di jalan,” lanjutnya saat melihat matahari sudah condong ke barat.


Ia menyelempangkan busurnya dan mengangkat rusa totol putih itu di bahunya. Kedua tangannya masing – masing memegang kaki depan dan kaki belakang rusa itu.

__ADS_1


“Ugh, berat juga,” gumamnya saat merasakan berat rusa totol putih yang mencapai 100 kg. Tak punya pilihan lain, ia segera mengerahkan tenaga dalamnya untuk mendukungnya.


“Akhirnya….  Enteng juga, tampaknya tenagaku meningkat cukup pesat,” gumamnya gembira.


“Hyaaaa……..!”


Panji Kusuma berteriak keras sambil meloncat cepat berlari kearah Perguruan Langit Biru. Ia berlari sekuat tenaga menerobos padang rumput dan hutan di depannya.


Matahari sudah di hampir tenggelam saat ia memasuki dapur Perguruan Langit Biru. Ia menyerahkan rusa totol putih itu kepada salah seorang koki dapur dan bergegas menemui Ki Puguh di ruangannya.


“Selamat sore Ki Puguh,” sapanya pada seorang lelaki berambut putih yang sedang duduk di meja ruangan sebelah dapur.


“Oh, kau Panji Kusuma. Kukira kau tidak jadi berburu rusa totol putih. Hari sudah sore dan aku hampir menyerah untuk mendapatkan daging rusa jenis itu,” sahut Ki Puguh gembira.


Besok Perguruan Langit Biru akan kedatangan tamu penting dari Kota Manyaran. Ia mendapat tugas untuk memasak daging rusa totol putih dari pemimpin perguruan. Ia telah memesan rusa totol putih ke Bagian Misi Perguruan sejak  seminggu yang lalu tapi sampai tadi pagi tidak ada yang mau mengambil misi itu. Ia hampir menyerah saat ia mendengar kabar dari Bagian Peralatan bahwa seorang murid cadangan bernama Panji Kusuma mau menyediakan pesanannya.


Ia mengenal anak itu karena ia sering memesan daging buruan padanya. Tapi setelah hari mulai sore, ia hampir menyerah. Ia akan menghadap pimpinannya saat Panji Kusuma masuk keruangannya.


“Maaf Ki Puguh. Ada halangan di jalan,” jawab Panji Kusuma sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


“Tidak apa – apa. Yang penting sekarang aku punya daging rusa totol putih. Ini uangnya,” kata Ki Puguh sambil tersenyum senang. Ia mengulurkan sebuah kantung uang kecil di tangannya kepada Panji Kusuma yang menerimanya dengan gembira.


“Panji Kusuma, apakah kau tertarik untuk menyelesaikan misi?” kata Ki Puguh pelan.


“Maksud Ki Puguh?”


“Kalau kau tertarik untuk mencari misi di Bagian Misi perguruan, aku bisa membuat sebuah rekomendasi untukmu.”


“Tapi Ki Puguh, aku masih murid cadangan,” sahutnya pelan.


Setiap murid Perguruan Langit Biru berhak untuk mencari misi di Bagian Misi perguruan. Setiap menyelesaikan misi, mereka akan mendapatkan hadiah uang dan poin kontribusi. Poin kontribusi itu ditukar dengan berbagai hal seperti senjata, pil obat atau lainnya.


Ia sangat ingin bisa ikut dalam misi perguruan, karena selain mendapat poin kontribusi, ia juga bisa mendapatkan pengalaman yang sangat ia perlukan untuk perkembangannya. Sayangnya hanya murid luar dan murid dalam yang bisa ikut dalam misi.


“Murid cadangan bisa ikut misi selama ia memperoleh rekomendasi perguruan. Kebetulan aku termasuk salah seorang yang bisa membuat rekomendasi,” sahut Ki Puguh sambil tersenyum.


“Baiklah. Tunggu sebentar,” kata Ki Puguh sambil menarik secarik kertas dan pena dari atas meja. Ia menulis sebentar dan menyerahkannya kepada Panji Kusuma.


“Terima kasih Ki Puguh.”


“Sama – sama. Aku telah mengenalmu cukup lama. Aku tahu kemampuanmu dan kau telah sering membantuku.  Kurasa kau pantas mendapatkan rekomendasi dariku,” sahut Ki Puguh sambil tersenyum.


“Pergilah ke Bagian Misi besok pagi,” lanjutnya.


“Baik, Ki Puguh.”


Panji Kusuma melangkah keluar ruangan dengan wajah berseri gembira. Akhirnya ia  punya kesempatan untuk ikut dalam misi perguruan. Ia yakin 6 bulan lagi bisa memenuhi syarat sebagai murid luar jika ia sering ikut misi perguruan.


Keesokan harinya, setelah selesai membantu kakek tua menyapu lapangan dan makan pagi, ia langsung menuju ke gedung di samping halaman depan perguruan. Ada tulisan besar “BAGIAN MISI” di atas pintu masuknya.


Panji Kusuma membuka pintu dan melangkah masuk ke sebuah aula besar. Ditengah aula itu ada papan pengumuman besar yang dikelilingi oleh banyak murid Perguruan Langit Biru.


Sebagian besar dari mereka mengenakan seragam murid luar, hanya sebagian kecil yang mengenakan seragam murid dalam.


Merasa tertarik, ia ikut berdesakan dan membaca isi pengumuman yang terpampang di papan pengumuman itu. Ternyata isinya adalah misi perguruan yang belum ada peminatnya. Misi perguruan yang sudah ada yang mengambilnya langsung dihapus dan diganti misi baru.


 


Papan pengumuman itu menuliskan tentang nama misi, lokasi, level minimal peminat, hadiah dan jumlah minimal pesertanya. Semua misi diurutkan berdasarkan ranking kesulitannya.  Rangking terendah adalah E, diikuti D, C, B, A, S dan tertinggi adalah SS.


Panji Kusuma mengerutkan keningnya saat melihat ranking E dan D telah kosong. Sebagian besar isi papan  pengumuman itu adalah ranking B sampai SS, hanya sebagian kecil yang ranking C. Tapi misi ranking C itu semuanya membutuhkan team yang beranggotakan minimal 10 orang dengan kualifikasi pernah menyelesaikan misi kelas D atau level 4.


Ia tertegun cukup lama saat menyadari bahwa ia bahkan tidak punya kualifikasi untuk menyelesaikan misi paling rendah yang terdapat di papan pengumuman. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil tersenyum pahit. Ia akan meninggalkan aula itu saat sebuah suara menghentikan langkahnya.

__ADS_1


“Anak muda, apa yang kau cari disini?”


Panji Kusuma menengok asal suara itu. Dilihatnya seorang lelaki setengah tua berdiri di dekat papan pengumuman dan memandang kearahnya. Ia  melirik sekitarnya dan baru sadar bahwa aula itu telah sepi. Tampaknya ia melamun cukup lama sampai tidak menyadari orang – orang di sekitarnya telah pergi.


“Maaf paman, aku sedang mencari misi,” sahutnya pelan saat tahu orang tua itu berbicara kepadanya.


“Misi? Bukankah kau murid cadangan?” kata orang tua itu setelah melihat Panji Kusuma tidak mengenakan seragam perguruan.


“Apakah kau mempunyai rekomendasi?”


“Ada paman.”


“Dari siapa?”


“Ki Puguh.”


“Ki Puguh? Maksudmu Ki Puguh yang Kepala Dapur perguruan?”


“Ya paman.”


“Coba kulihat.”


Orang itu melangkah mendekati Panji Kusuma dan melihat secarik kertas rekomendasi yang dipegangnya. Ia membacanya dan menelitinya cukup lama. Akhirnya ia memandangi Panji Kusuma cukup lama seakan ia adalah makhluk yang aneh.


“Ini memang tulisan dan tanda tangan Ki Puguh. Anak muda, ada hubungan apa kau dengan Ki Puguh?” tanya orang itu.


“Sebenarnya begini…” Panji Kusuma lalu menceritakan pengalamannya bertemu dan membantu memenuhi pesanan Ki Puguh. Ia juga tak menyangka Ki Puguh akan memberinya surat rekomendasi.


“Oh begitu. Kau beruntung anak muda. Ki Puguh adalah seniorku yang sangat kuhormati. Aku mengenalnya dengan baik. Ia jarang memberikan rekomendasi walaupun banyak orang telah memintanya.”


“Ia sangat pemilih. Hanya beberapa orang tertentu yang bisa membuatnya menulis surat rekomendasi. Kau harus menjaga kepercayaan Ki Puguh padamu dengan baik.”


“Baik paman. Aku akan berusaha semampuku untuk menjaga kepercayaan itu dengan baik.”


“Bagus. Aku suka sikapmu. Siapa namamu anak muda?”


“Panji, paman. Panji Kusuma.”


“Baik, Panji Kusuma. Namaku  Tanjung. Kau bisa menyebutku Ki Tanjung.  Akulah penanggung jawab Bagian Misi ini. Apakah kau ingin ikut dalam misi di papan pengumuman itu?”


“Apakah aku bisa ikut?” tanyanya ragu,


“Masuklah ke ruangan itu. Kau tunggulah disana. Aku akan berusaha membantumu, tapi apakah kau bisa ikut atau tidak itu tergantung pada kemampuanmu sendiri,” kata Ki Tanjung sambil menunjuk ke sebuah ruangan di seberang aula.


“Baik Ki Tanjung. Terima kasih sebelumnya.”


Ki Tanjung memandangi punggung Panji Kusuma yang melangkah menyeberangi aula dengan pandangan aneh. Setelah sekian lama akhirnya Ki Puguh mau memberikan rekomendasinya. Biasanya setiap orang yang direkomendasikan Ki Puguh adalah orang – orang yang berkemampuan hebat. Tapi kali ini ia tidak melihat sesuatu


yang hebat dalam diri  anak muda bernama Panji Kusuma ini.


Ki Tanjung menghela nafas panjang dan melambaikan tangannya pada anak muda yang berdiri di dekat pintu masuk aula.


“Panggil Laksana dan Baskara ke ruanganku,” katanya.


Anak muda itu mengangguk dan berbalik keluar ruangan. Tak lama kemudian ia masuk lagi bersama 2 orang anak muda berpakaian murid luar.


“Ki Tanjung memanggil kami?” tanya salah seorang anak muda itu.


“Apakah tim kalian masih kekurangan orang?”


“Masih, Ki Tanjung. Tim kami masih kurang 1 orang. Apakah Ki Tanjung bisa membantu kami?”


“Ikut ke ruanganku sekarang.”

__ADS_1


Tanpa mempedulikan tatapan bingung kedua anak muda itu, Ki Tanjung melangkah ke ruangan tempat Panji Kusuma menunggu. Kedua anak muda itu hanya bisa berpandangan dan mengangkat bahu sebelum melangkah mengikuti Ki Tanjung.


“Laksana dan Baskara, ini adalah Panji Kusuma. Ia ingin ikut dalam misi tetapi belum masuk tim apapun. Apakah kalian bisa membantunya?” kata Ki Tanjung setelah masuk ke ruangannya.


__ADS_2