
Guk! Guk!
Guk! Guk!
Panji mempercepat larinya saat kawanan buduk tutul itu semakin dekat. Ia ingin menjauhi tempat itu untuk menghindari bahaya lebih lanjut. Bau darah akibat pertempuran dengan buduk tutul akan membuat banyak binatang buas mendekat. Ia tidak ingin binatang buas yang bisa memanjat mendatangi tempatnya bertempur dan membahayakan keselamatan Nyi Danapati.
“Aku harus mencari tempat cukup longgar uantuk menghadapi mereka,” gumamnya. Ia terus berlari cepat sambil sesekali mengedarkan pandangannya untuk mencari tempat yang cocok. Tiba – tiba ia terkejut saat matanya melihat beberapa tulang binatang yang terbungkus jaring laba – laba tergantung di batang - batang pohon di sekitarnya!
“Celaka! Aku memasuki wilayah laba – laba pemburu raksasa!” serunya kaget. Ia langsung menghentikan langkahnya dan terpaku saat melihat tidak kurang dari 15 ekor laba – laba pemburu raksasa bermunculan dari semak belukar di sekitarnya.
Keringat dingin mengucur deras dari punggung Panji saat melihat kawanan laba – laba pemburu raksasa itu perlahan mendekatinya sambil mengeluarkan suaranya yang khas. Sementara itu, suara gonggongan kawanan dubuk tutul di belakangnya semakin mendekat!
“Apakah aku akan mati di tempat ini?” desisnya gugup. Perlahan ia menarik pedangnya dan memegangnya erat - erat.
“Walaupun aku mati, paling tidak salah satu dari kalian harus menemaniku,” geramnya pelan.
Panji menggertakkan giginya sambil mengamati pergerakan kawanan laba – laba pemburu raksasa di depannya.
Ia harus mewaspadai setiap gerakan mereka. Jika ia lengah dan tubuhnya tertangkap jaring laba – laba, maka saat itu juga akan menjadi akhir dari hidupnya. Suara gonggongan dubuk tutul di belakangnya tak ia hiraukan.
Ia mengerutkan keningnya saat melihat 2 ekor laba – laba raksasa mulai mengangkat kepalanyanya dengan ekor mengarah padanya sementara seekor diantaranya mulai merunduk dengan ekor terangkat tinggi – tinggi. Tanpa membuang waktu ia meloncat kesamping dan 2 buah jaring putih dan sebuah semburan racun menerjang ke arah tempatnya berdiri sebelumnya.
Kaing!
Kaing!
Nguik!
Suara teriakan dubuktutul di belakangnya mengejutkan Panji. Ia meloncat menjauh beberapa kali sambil menengok ke belakang sekilas. Ia melihat beberapa ekor buduk tutul terbungkus 2 buah jaring laba – laba dan beberapa ekor berguling –guling dengan tubuh membengkak akibat terkena racun. Rupanya saat ia menghindar tadi, kawanan
buduk tutul terdepan sudah sudah ada di belakangnya. Akibatnya, mereka terkena jaring dan racun laba – laba.
“Mungkin aku bisa memanfaatkan kesempatan ini,” gumam Panji pelan saat melihat semakin banyak kawanan dubuk tutul yang bermunculan dari semak belukar.
Ia menunggu sampai kawanan dubuk tutul itu mendekatinya dan tanpa ragu, ia menerjang ke arah kawanan laba – laba raksasa itu. Pedangnya berkelebat menerjang salah satu laba – laba terdekat dan membabat putus salah satu kakinya.
Ia tidak melanjutkan serangannya, tapi langsung meloncat dan berlari zig zag di sela – sela kawanan laba – laba itu. Laba –laba raksasa itu berusaha menyerangnya, tapi gerakan Panji yang cepat dan kawanan dubuk tutul yang mengejar di belakangnya menghalangi pergerakannya. Akhirnya serangan laba – laba raksasa itu mengenai kawanan dubuk tutul.
Beberapa saat kemudian, Panji berhasil menerobos barisan laba – laba pemburu raksasa. Tiba – tiba ia berguling ke samping saat instingnya merasakan bahaya dari belakangnya. Bersamaan dengan itu sebuah jaring putih dan semburan racun melesat di sampingnya.
“Fiuh.... bahaya,” gumamnya lega. Ia terus bergulingan menjauh dan meloncat berlari ke arah pohon besar terdekat. Setelah menyarungkan pedangnya, ia memanjat pohon itu sampai cukup tinggi dan menengok ke bawah. Senyum lebar terukir di bibirnya saat melihat kawanan laba – laba raksasa itu saling berhadapan dengan kawanan dubuk tutul.
“Sekarang aku bisa istirahat sebentar,”desisnya sambil mengusap keringat di mukanya.
Rupanya kawanan dubuk tutul itu marah saat melihat kawan – kawannya terluka oleh terjangan kuku dan gigitan kawanan laba –laba raksasa. Mereka menggeram keras dan menyerang laba – laba raksasa terdekat. Laba – laba yang kesakitan pun akhirnya membalas menyerang. Terjadilah perkelahian seru antara kawanan laba – laba raksasa dan kawanan dubuk tutul.
Seekor laba – laba yangberada di tengah barisan tiba – tiba meloncat tinggi dan jatuh diantara kumpulan buduk tutul yang beramai – ramai menyerang temannya yang berada di depan barisan. Beberapa ekor buduk tutul menjerit kesakitan saat terkena gigitan taring dan goresan kuku kakinya.
Seekor laba – laba raksasa yang lain merendahkan kepalanya dengan perut terangkat tinggi. Semburan racun berwarna hijau pekat keluar dan menyambar beberapa buduk tutul di dekatnya. Buduk – buduk tutul itupun hanya bisa berteriak dan berguling kesakitan dengan tubuh melepuh.
__ADS_1
Panji mengerutkan keningnya saat melihat 3 ekor laba – laba raksasa melepaskan jaringnya ke arah kawanan buduk tutul. Beberapa ekor buduk tutul terperangkap dalam jaring berwarna putih itu. Mereka hanya bisa meronta – ronta keras tetapi tetap tidak dapat melepaskan diri dari jaring itu.
Panji yang melihat dari atas mengetahui bahwa laba – laba pemburu raksasa itu jauh lebih kuat dari dubuk tutul. Setiap gigitan maupun cakaran kuku kakinya bisa membuat dubuk tutul terluka parah. Lontaran jaring putihnya bisa memerangkap 3 - 4 ekor dubuk tutul sekaligus dan semburan racunnya bahkan bisa melukai lebih banyak lagi. Tapi
jumlah dubuk tutul yang jauh lebih banyak juga merepotkan laba – laba raksasa itu. Setiap semburan jaring laba – laba maupun racun yang keluar akan di balas dengan gigitan beberapa dubuk tutul sekaligus. Laba – laba pemburu raksasa itu pun tumbang satu persatu setelah membunuh dan melukai beberapa dubuk tutul.
Panji mengerutkan keningnya saat menyadari kenyataan ini. Ia bisa menduga laba – laba pemburu raksasa pada akhirnya akan kalah. Walaupun jumlah kawanan budug tutul akan berkurang banyak, mungkin saja jumlah mereka masih akan merepotkannya.
“Apakah aku harus ikut bertarung juga?” gumamnya pelan sambil meraba gagang pedangnya. Ia mengamati
pertarungan di bawah sekali lagi. Ia mengerutkan keningnya saat menyadari laba – laba raksasa tinggal berjumlah 7 orang, sementara kawanan buduk tutul masih cukup banyak. Akhirnya tangannya meraih busurnya dan menyiapkan anak panahnya. Ia menarik busurnya dan membidik ke arah beberapa buduk tutul yang sedang mengepung seekor laba – laba pemburu raksasa.
Dziing!
Kaing.
Dziing!
Kaing.
Anak panah meluncur deras dan seekor dubuk tutul menjerit kesakitan saat kepalanya tertembus anak panah. Suara jeritannya belum mereda tapi seekor buduk tutul di sebelahnya ikut menjerit dengan luka yang sama.
Panji melepaskan anak panahnya 5 kali berturut- turut dan 5 ekor buduk tutul jatuh dengan kepala tertembus anak panah. Laba – laba pemburu raksasa itu pun akhirnya hanya berhadapan dengan 3 ekor buduk tutul.
Panji, yang merasa laba – laba raksasa yang terluka itu bisa bertarung imbang dengan 3 ekor buduk tutul, mulai mengalihkan sasarannya. Ia membidik buduk tutul yang mengepung laba – laba raksasa lainnya dan melakukan hal yang sama.
Ia tersenyum senang saat melihat pertarungan di bawahnya mulai berjalan seimbang. Tapi laba – laba raksasa yang sudah terluka karena menghadapi keroyokan dubuk tutul sebelumnya akhirnya mulai tumbang satu persatu. Buduk tutul yang telah kehabisan lawan pun mulai membantu kawan – kawannya yang lain. Akhirnya, laba – laba raksasa
Panji tersenyum senang. Luka di dadanya telah menutup dan tenaganya telah pulih kembali. Ia yakin bisa menghadapi 10 ekor dubuk tutul itu dengan mudah. Akhirnya, ia pun terjun ke bawah.
Brugh!
“Kemarilah. Bukankah aku yang kalian cari?” tanyanya kalem sambil mencabut pedangnya.
Para dubuk tutul yang baru saja menjatuhkan laba – laba raksasa itu pun terkejut melihat kedatangan Panji. Mereka berbalik dan menggeram marah, memamerkan deretan gigi – gigi mereka yang tajam. Seekor dubuk tutul menyalak keras yang disambut gonggongan dubuk tutul lainnya. Ketika mereka akan bergerak menyerang, Panji sudah mulai meloncat dengan pedang terayun deras ke arah mereka.
Panji, yang tak ingin membuang waktu lebih lama lagi, meloncat ke depan sambil menebaskan pedangnya. Ia mengayunkan pedangnya menyambar kepala dubuk tutul yang paling dekat, ayunan kedua menebas dubuk tutul di sebelahnya dan seterusnya. Setiap ayunannnya melemparkan seekor dubuk tutul dengan tubuh yang berlumuran darah. Beberapa saat kemudian, ia berdiri terengah – engah dengan mayat dubuk tutul bergeletakan di sekitarnya.
Ia menengadahkan kepalanya ke atas dan memejamkan matanya. Keringat yang mengalir deras di mukanya tak dipedulikannya.
“Syukurlah, akhirnya selesai juga,” gumamnya pelan sambil menyarungkan pedangnya.
Ia benar – benar tak menyangka bisa selamat setelah berhadapan dengan 15 ekor laba – laba pemburu raksasa saat dikejar puluhan ekor dubuk tutul. Untunglah ia tak sengaja bisa mengadu kedua jenis binatang buas itu agar saling membunuh. Seandainya saat itu kedua jenis binatang itu tidak saling menyerang, mungkin saat ini ia akan
tergeletak disini dengan tubuh hancur dimakan binatang – binatang buas itu.
“Yang Maha Agung masih melindungiku,” katanya sambil menundukkan kepalanya.
Ia mengedarkan matanya sekali lagi. Di sekitarnya bergeletakkan mayat – mayat dubuk tutul dan laba – laba pemburu raksasa. Beberapa ekor dubuk tutul masih bergulingan dengan tubuh melepuh sementara beberapa yang lain masih meronta – ronta karena terperangkap dalam jaring laba – laba raksasa.
__ADS_1
Panji melangkah mendekati mereka. Ia meloloskan pedangnya dan membunuh dubuk tutul yang terluka parah. Setelah ragu beberapa saat, ia mendekati jaring laba – laba dan membelahnya dengan pedangnya. Para dubuk tutul yang terperangkap segera meloncat keluar dan berlarian menjauh. Ia melakukan hal yang sama dengan jaring laba – laba yang lain dan 15 ekor dubuk tutul pun keluar. Setelah memandang Panji sejenak, mereka berbalik dan berlarian menjauh.
Panji tak menghiraukan mereka. Pandangannya tertuju pada beberapa bungkus jaring laba – laba yang menempel di dahan – dahan pohon. Ia melangkah mendekat dan mengamati jaring itu dengan seksama.
Panji mencabut pisau belatinya dan menggunakannya untuk membelah jaring itu. Ia terkejut saat melihat isinya adalah tulang manusia yang memakai pakaian lengkap beserta senjatanya. Tampaknya mereka ditangkap oleh laba – laba pemburu raksasa untuk persediaan makan mereka. Laba – laba itu menggunakan racunnya untuk melelehkan dagingnya dan menyerapnya, meninggalkan tulangnya beserta pakaian dan senjatanya dalam jaringnya.
Panji memeriksa pakaian dan senjata mereka dan ternyata tetap utuh dan tak berkarat. Rupanya jaring laba – laba itu melindunginya dari karat. Akhirnya ia membuka semua jaring laba – laba dan mengumpukan semua pakaian dan senjatanya.
Panji memeriksa semua senjata itu satu persatu. Matanya bersinar saat tangannya memegang sebuah pedang yang berwarna putih mengkilat. Dari banyaknya lipatan di pedangnya, ia menduga setidaknya pedang itu adalah senjata level 4. Hulu pedangnya terbuat dari gading gajah dan terdapat sebuah persegi dari besi yang di dalamnya ada batu kristal berwarna kuning cerah.
Panji tersenyum senang. Ia mengenali batu itu. Gurunya, Panekti, pernah mengenalkan tentang beberapa batu berharga yang mempunyai kemampuan khusus. Batu kristal kuning itu adalah salah satunya. Itu adalah batu petir yang mengandung listrik. Semua senjata yang ada batu listriknya akan mempunyai serangan tambahan berupa serangan listrik.
“Hehe... mulai sekarang pedang ini akan menjadi senjataku. Karena hulu pedangnya dari gading gajah berwarna putih dan mata pedangnya juga berwarna putih, pedang ini kuberi nama Taring Putih,” katanya sambil mengayunkan pedangnya pelan. Ia tersenyum puas saat melihat beberapa percikan listrik terlihat di sepanjang ayunannya.
Setelah menyarungkan pedangnya, ia mengambil sepasang belati yang sejak tadi menarik perhatiannya. Di bagian gagangnya ada kristal berwarna biru muda terang. Sebuah batu es yang akan menambah kemampuan belati itu berupa kemampuan pembeku. Ia mencabut belati itu dan tersenyum senang. Belati itu juga setidaknya senjata level 4.
Setelah melihat senjata yang lain tidak memenuhi kriterianya, ia mengalihkan perhatiannya pada tumpukan baju zirah di depannya. Sebagian besar baju zirah itu adalah baju besi yang tidak menarik perhatiannya. Pandangannya tertuju pada sebuah baju zirah berwarna hitam yang sepertinya terbuat dari kulit yang lentur dan kuat.
Ia mengambilnya dan memakainya. Ternyata baju itu bisa melar menyesuaikan dengan ukuran tubuhnya. Pelindung
kepalanya pun dilengkapi dengan penutup muka sehingga hanya matanya saja yang terlihat. Merasa puas, ia membuka dan melipat baju zirah itu dan memasukkannnya ke dalam tas punggungnya.
Panji menengadah dan matanya menyipit saat melihat matahari sudah mulai condong ke barat. Rupanya ia telah pergi terlalu lama.
“Aku harus kembali secepatnya. Mudah – mudahan Nyi Danapati tidak pergi dari tempat itu,” gumamnya.
Sekali lagi ia mengedarkan pandangannya dan menghela nafas panjang setelah melihat bangkai puluhan buduk tutul dan laba – laba pemburu raksasa. Ia hampir mati di tempat ini. Tapi bagaimanapun juga, ia harus berterima kasih pada kawanan buduk tutul yang mengejarnya. Karena merekalah ia akhirnya mendapatkan senjata dan baju
zirah yang bagus.
Ia menarik nafas dalam – dalam dan meloncat cepat, berlari menyusuri hutan menuju tempat Nyi Danapati
bersembunyi. Berkat pengalamannya menyusuri hutan, ia dengan mudah menentukan arah jalannya semula dan akhirnya bisa menemukan tempatnya semula.
“Nyi Danapati!” teriaknya setelah ia melihat sekelilingnya dan tidak menemukan Nyi Danapati.
“Apa Nyi Danapati telah pergi dari tempat ini? Apa ada bahaya yang menyerangnya?” desisnya bingung.
“Nyi Danapati, dimana kau? Aku Panji!” teriaknya sekali lagi.
“Aku disini, Panji!” sahut Nyi Danapati dari balik rimbunnya daun di atas sebuah pohon yang tinggi.
“Syukurlah. Kukira Nyai telah pergi dari tempat ini,” kata Panji setelah Nyi Danapati turun dan mendekatinya.
“Maaf, aku pindah ke pohon itu karena di situ daunnya lebih rimbun. Aku merasa lebih aman di pohon itu,” jawab Nyi Danapati pelan.
“Tidak apa – apa. Yang penting Nyi Danapati selamat. Sekarang kita harus kembali menelusuri jalan para perampok itu selagi masih siang hari. Mudah – mudahan jejaknya masih bisa kita ikuti.”
Nyi Danapati mengangguk setuju. Mereka pun melangkah bersama menelusuri jejak para perampok untuk
__ADS_1
menyelamatkan Ki Danapati.