
Laksana yang mendengar desahan Mahesahanya bisa tersenyum kecut. Matanya memandang tajam Panji Kusuma. Sejujurnya ia semula meragukan kemampuan anak itu. Ia ingin menolak saran Ki Tanjung. Untunglah Baskara mengusulkan tes pertarungan ini. Ia akan sangat menyesal jika anak sebagus ini masuk ke tim lain saat
mereka mempuyai kesempatan untuk merekrutnya.
“Ugh….”
Wiranata mendesah pelan saat ia membuka matanya. Rasa sakit ditubuhnya membuatnya sadar bahwa ia telah kalah. Ia sadar tadi ia telah lengah karena terlalu meremehkan lawannya. Ia berpikir akan mengajukan tarung ulang saat ia mendengar suara Paksi mengaku kalah.
“Paksi sampai mengaku kalah juga? Tak mungkin!” pikirnya. Ia memaksa tubuhnya untuk bangkit saat sadar Gayatri ada di dekatnya tapi tidak memperhatikannya. Pandangannya fokus mengarah ke tengah lapangan.
“Oh, kau sudah sadar?” kata Gayatri setelah melihat Wiranata berusaha untuk duduk. Kedua tangannya bergerak membantu Wiranata duduk.
“Bagaimana anak itu?” desis Wiranata pelan.
“Anak itu hebat! Setelah mengalahkanmu, ia memaksa Paksi mengaku kalah. Ia bisa mengimbangi kecepatan Paksi,” kata Jayanti sambil menengok ke lapangan.
“Oh, begitu,” desahnya pelan. Pandangannya mengarah ke lapangan tempat Panji Kusuma dan Prakosa yang mulai berhadapan muka.
“Bagaimana, apakah kau butuh istirahat?” kata Prakosa sambil tersenyum riang.
“Memangnya kau akan memberiku kesempatan untuk istirahat?” kata Panji sambil menghela nafas tak berdaya. Ia melihat anak muda di depannya ini sudah sangat ingin bertarung dengannya.
“Kalau kau memerlukannya,” kata Prakosa dengan senyum mengembang.
“Gak perlu!”
“Hahaha, sudah kuduga,” Prakosa tertawa keras mendengar jawaban Panji Kusuma.
“Majulah!” kata Panji Kusuma sambil memasang kuda – kudanya.
“Baiklah. Rasakan ini. Hyaaaaa……!”
Prakosa menyerang dengan pukulan cepat lurus ke arah muka. Pukulannya cepat dan bertenaga kuat. Setelah menyaksikan Panji Kusuma bisa mengalahkan Paksi, ia merasa tidak perlu menahan tenaga lagi. Ia mengabaikan pesan Mahesa dan menganggap Panji Kusuma adalah lawan yang setara dengannya.
“Anak ini…..! Sudah kuduga ia akan lupa diri saat bertarung,” gerutu Mahesa saat melihat gerakan Prakosa.
Panji Kusuma mengerutkan keningnya sambil menghindar. Suara angin pukulan lawannya menunjukkan bahwa tenaga lawannya cukup besar.
Whuut…
Whuut…
Prakosa terus melancarkan pukulan dan tendangan tapi bisa dihindari Panji Kusuma dengan mudah. Hal ini memicu kemarahan Prakosa.
“Ayolah! Lawan aku! Apakah kau cuma bisa menghindar?” raungnya marah.
“Baiklah. Jangan menyesal nanti. Kau sendiri yang minta,” kata Panji Kusuma. Kedua tangannya mulai mengepal.
Whuut..
Bugh..
Bugh..
Prakosa memukul lurus ke depan. Panji Kusuma menggeser kepalanya menghindar dengan kedua tangannya bergerak cepat melancarkan pukulan beruntun kearah dada Prakosa.
“Itu….. Bagaimana menurutmu Paksi?” kata Mahesa saat melihat serangan Panji Kusuma.
“Gerakannya mirip denganku, hanya saja kekuatannya lebih besar. Tapi mungkin ini tidak begitu berpengaruh bagi Prakosa,” sahut Paksi pelan.
“Benar, anak itu memang punya kulit badak,” gumam Mahesa. Gadis berekor kuda dan Laksana tertawa mendengar perkataan Mahesa.
Panji Kusuma tertegun saat rentetan pukulannya tidak berpengaruh pada lawannya. Prakosa tetap tak bergeming dan meneruskan serangannya seolah – olah tubuhnya tidak terkena apa – apa.
“Wahahaha…. Bagaimana Panji Kusuma? Kau tidak akan bisa mengalahkanku dengan serangan seperti itu,” ejek Prakosa sambil terus menyerang.
Panji Kusuma tidak membalas ejekan Prakosa. Sambil menghindar, kedua tangannya terus melancarkan serangan beruntun ke tubuh Prakosa.
Saat ia merunduk untuk mengelak pukulan Prakosa, ia tak menyangka tangan lawannya bergerak cepat dari bawah ke atas mengarah mukanya. Tak sempat mengelak, ia menyilangkan kedua tangannya menangkis.
Duagh!
Panji Kusuma terpental dan jatuh bergulingan di rerumputan. Mahesa dan yang lainnya langsung terdiam.
“Prakosa! Bukankah sudah kubilang dia hanya level 2?” teriak Mahesa marah.
“Diam Mahesa! Pukulanku tidak telak mengenainya. Ia menangkis dengan kedua tangannya dan meloncat ke atas. Pukulanku hanya mendorongnya terbang!” sahut Prakosa keras.
“Apa…. Apa maksudmu?” tanya Mahesa kaget. Benarkah anak ini bisa mengelak seperti itu?
“Anak ini melemparkan dirinya ke atas untuk mengurangi efek pukulanku. Seharusnya ia tidak apa – apa sekarang,” dengus Prakosa. Pandangannya menatap tajam ke arah Panji Kusuma yang tergeletak di tanah
tak bergerak.
__ADS_1
Mahesa, Laksana dan yang lainnya melongo mendengar penjelasan Prakosa. Mata mereka melirik Paksi yang hanya bisa nyengir sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena gerakannya bisa ditiru Panji Kusuma.
Panji Kusuma yang mendengar perkataan mereka perlahan bangun. Ia berdiri tegak. Tangannya mengibas – ngibas pakaiannya yang kotor sambil tersenyum. Tak ada luka sedikitpun di tubuhnya.
“Haah…. Dasar monster! Rugi aku mengkhawatirkannya,” desah Mahesa pelan. Laksana yang mendengarnya hanya bisa menepuk jidatnya pelan.
“Cukup main – mainnya! Ayo kita mulai serius sekarang,” kata Panji Kusuma sambil melangkah ke tengah lapangan.
Orang – orang di lapangan itu pun tertegun. Main – main? Jadi dari tadi ia hanya bermain – main? Yang benar saja!
Prakosa yang mendengar perkataan Panji Kusuma mengerutkan keningnya.
“Omong kosong apa yang kau katakan? Ayo maju!” desisnya.
Panji Kusuma diam tak menjawab. Ia memasang kuda – kuda dengan telapak tangan terbuka. Untuk pertama kalinya mukanya serius memandang Prakosa.
“Yang benar saja! Rasakan ini! Hyaaaa….!”
Prakosa yang merasa tidak nyaman langsung bergerak menyerang. Kedua tangannya menyerang bergantian.
Panji Kusuma yang biasanya menghindar untuk pertama kalinya menangkis serangan Prakosa. Kedua tangannya bergantian menangkis serangan lawannya sementara kedua kakinya tegak tak bergerak sedikit pun!
Prakosa yang tengah menyerang suatu saat pertahannya terbuka saat kedua tangannya di tangkis keluar oleh Panji Kusuma. Ia ingin bergerak mundur, tapi terlambat. Panji Kusuma melangkah ke depan dan telapak tangannya bergantian memukul telak dadanya.
Prakosa hanya bisa terbelalak saat telapak tangan Panji Kusuma bergantian menggedor dadanya. Ia terlempar ke belakang dan jatuh bergulingan dibawah tatapan bengong teman – temannya. Ia berusaha bangkit, tetapi rasa sesak di dadanya membuatnya menyerah.
“Aku... Aku kalah,” desahnya sambil memegang dadanya yang sesak.
“Bravo… luar biasa!” teriak Baskara yang selama ini diam. Ia akhirnya merasa lega saat melihat Panji Kusuma bisa mengalahkan Prakosa. Bagaimanapun juga tak mungkin timnya mengecewakan seorang Kepala Bagian Misi, kan?
“Bagaimana Mahesa? Ia lulus kan?” katanya riang.
“Lulus! Lulus dengan memuaskan,” kata Mahesa sambil mengacungkan jempolnya pada Panji Kusuma. Akan sangat rugi kalau orang seperti ini tidak masuk ke kelompoknya.
“Tunggu sebentar,” gadis berekor kuda di samping Mahesa tiba – tiba mengacungkan tangannya.
“Ada apa lagi, Sasti? Apakah kau masih ragu?” tanya Laksana heran.
“Bukan begitu. Kalau bertanding dengan tangan kosong ia tak perlu diragukan lagi. Tapi aku belum melihat kemampuannya memakai senjata. Bagaimana kalau ia bertanding panah denganku?” tanya Sasti sambil melirik ke arah Panji Kusuma.
“Ini…..” Baskara ragu – ragu menjawab. Ia tahu pasti kemampuan Sasti memanah.
“Baiklah. Ayo kita bertanding panah,” jawab Panji Kusuma tenang. “Tapi aku tidak punya busurnya.”
“Kau boleh pakai punyaku,” kata Gayatri. Ia menyerahkan busur dan kantung anak panahnya.
“Kita akan menembak papan itu 10 kali. Siapa yang lebih banyak menembak lingkaran kecil ditengah itulah pemenangnya. Paham?” kata Sasti.
“Baik. Ayo mulai,” kata Panji Kusuma tenang. Ia telah berlatih memanah sejak berumur 4 tahun. Jarak segini bisa dianggap mainan baginya.
Sasti membidik sasaran dengan hati – hati. Anak panahnya meluncur cepat dan semuanya tepat mengenai sasarannya.
Dzing!
Anak panah ke-10 meluncur tepat mengenai lingkaran hitam di tengah. Sasti menengok kearah Panji Kusuma dan tersenyum bangga.
Panji Kusuma hanya tersenyum kecil dan mengangkat bahunya. Ia mengangkat busurnya dan menarik anak panah dari kantungnya.
Dzing!
Dzing!
Anak panah berturut – turut melesat dari busurnya. Mereka melesat cepat dan semuanya menancap tepat di
lingkaran tengah papan sasaran.
“Wow! Bukankah kecepatannya setidaknya 2 kali lebih cepat dari Sasti?” desis Jayanti tak percaya.
“Yeah,” sahut Mahesa dengan muka ceria. Sialan, mereka ternyata mengundang seekor monster! Ia tidak bisa membayangkan kekuatan timnya setelah kedatangan monster seperti Panji Kusuma.
“Aku kalah,” desis Sasti setelah melihat kemampuan memanah lawannya. Walau sama – sama tepat mengenai lingkaran tengah, kecepatan memanah Panji Kusuma jauh lebih cepat dari kecepatannya. Ini menunjukkan perbedaan kemampuannya yang masih kalah dibandingkan lawannya.
“OK semuanya, sekarang berkumpul!” Mahesa bertepuk tangan dan meminta anggotanya berkumpul di tengah lapangan rumput.
“Baiklah, hari ini kita kedatangan anggota baru. Kalian telah melihat sendiri kemampuannya. Apakah ada diantara kalian yang keberatan?” tanya Mahesa sambil mengedarkan matanya. Mereka duduk melingkar di tengah lapangan .
“Tidak,” jawab Paksi sambil mengangkat tangannya.
“Aku juga tidak,” desis Prakosa sambil memegangi dadanya.
“Aku juga,” kata Sasti.
“Wiranata, bagaimana menurutmu?” tanya Mahesa setelah melihat Wiranata hanya menunduk diam tidak mengutarakan pendapatnya.
__ADS_1
“Bagaimana aku bisa mengatakan tidak kalau aku telah kalah telak darinya,” sungut Wiranata sambil meringis kesakitan.
“Maaf, maaf. Tadi aku tidak sengaja. Aku tidak mengukur kekuatanku. Sebenarnya aku bisa menang sebagian besar juga karena kau terlalu meremehkanku,” kata Panji Kusuma sambil mengatupkan kedua tangan di depan mukanya tanda minta maaf.
“Huh, sudahlah. Memang ini juga salahku kok. Kau tidak perlu minta maaf,” sahut Wiranata sambil mengibaskan tangannya santai.
“Terima kasih atas pengertianmu,” sahut Panji Kusuma dengan wajah cerah. Ia kagum atas sikap ksatria Wiranata yang tidak mendendamnya karena kalah. Sikap yang sama juga tampak pada Paksi, Prakosa dan Sasti. Nampaknya kelompok ini berisi orang – orang yang baik.
Panji Kusuma yang merasa bersalah merogoh tas pinggangnya dan mengambil 3 butir pil berwarna merah tua. Ia menyerahkan pil itu kepada Wiranata, Paksi dan Prakosa masing – masing sebutir.
“Kalian makanlah ini, mudah – mudahan cepat sembuh,” katanya.
“Ini… bukankah ini pil multitonik?” Prakosa memegang pil merah tua di tangannya dengan mata terbelalak.
“Pil multitonik?” Wiranata memandang pil ditangannya dengan sangsi.
“Kalau kau tidak mau, sini, buatku saja,” kata Baskara sambil mengangsurkan tangannya.Wiranata menepis tangan Baskara sambil mendelik marah.
“Pil multitonik adalah pil yang mengandung berbagai bahan yang dibutuhkan tubuh dan mudah diserap. Itu bisa mempercepat proses penyembuhan. Tapi karena bahan – bahannya susah didapat maka harganya cukup mahal,” kata Mahesa panjang lebar.
“Berapa harga pil ini?” tanya Wiranata.
“Harga standarnya 5 tael emas sebutir. Tapi karena langka dan banyak yang mencarinya, harganya bisa melambung sampai 40 tael emas sebutir,” desis Prakosa pelan.
“Sebutir 40 tael emas? Mahal sekali,” gumam Sasti takjub.
Tangan Wiranata bergetar pelan. Ia tak percaya harga sebutir pil kecil ini sampai 40 tael emas.
“Panji, ini terlalu berharga. Aku tidak bisa menerima ini,” kata Paksi sambil menyerahkan pil itu kepada Panji Kusuma.
“Sudahlah, makan saja. Pil itu tak ada artinya buatku. Aku punya banyak,” tolak Panji Kusuma.
“Kau punya banyak? Beneran nih?” tanya Prakosa kaget. Panji Kusuma hanya tertawa sambil mengibaskan tangannya. Ia tak menjawab pertanyaan Prakosa.
“Baiklah kalau itu maumu. Terima kasih Panji Kusuma,” kata Prakosa sambil mengatupkan tangannya di dadanya. Ia menelan pil itu dan dadanya pun mulai terasa ringan.
“Sudahlah, sudah hampir sore. Kita mulai saja perkenalannya,” sela Laksana yang sejak tadi diam.
“Baiklah. Mulai dari aku. Namaku Mahesa, umur 16 tahun, level 6. Tim ini bernama Rajawali Perak dan kebetulan aku yang terpilih menjadi ketuanya”
“Prakosa, 16 tahun, level 6, wakil ketua.”
“Sasti, 15 tahun, level 5, pemanah.”
“Jayanti, 16 tahun, level 6, bendahara.”
“Gayatri, 15 tahun, level 5, pemanah.”
“Paksi, 16 tahun, level 6, pengintai.”
“Baskara, 15 tahun, level 5, informasi.”
“Laksana, 15 tahun, level 5, informasi.”
“Wiranata, 15 tahun, level 5, logistik.”
Panji Kusuma terkejut mendengar umur, level dan penugasan kelompok ini. Umur mereka setara dengan level yang hampir seragam. Lagipula yang terendah adalah level 5, level yang termasuk tinggi bahkan untuk standar murid luar. Tidak diragukan lagi, Tim Rajawali Perak ini walaupun jumlahnya kecil, mereka adalah tim elit.
“Panji Kusuma, umur 15 tahun, masih level 2, murid cadangan. Kemampuan senjata panah dan pedang. Tugas masih belum tahu.”
“Sebentar Panji, kupanggil Panji saja ya, apa benar kau masih level 2?” tanya Gayatri pelan.
“Benar, tak mungkin kau masih level 2,” sahut Prakosa. Ia masih belum bisa menerima karena dikalahkan oleh murid cadangan yang masih level 2.
“Sebentar, maaf Panji, level 2 itu level tenaga dalammu, kan?” tanya Mahesa curiga.
“Ya,” jawab Panji sambil tersenyum. Ia bisa menduga arah pembicaraan Mahesa selanjutnya.
“Maksudmu, selain belajar tenaga dalam, Panji juga mempelajari tenaga fisik?” tanya Wiranata yang dadanya mulai lega setelah menelan pil multitonik.
Dalam bela diri, seseorang bisa memilih memperkuat belajar tenaga dalam atau tenaga fisik. Sangat jarang ada orang yang mau mempelajari keduanya karena untuk memperdalam salah satu saja dibutuhkan usaha dan biaya yang sangat besar.
“Berapa level fisikmu?” tanya Mahesa mengabaikan pertanyaan Wiranata.
“Mungkin sekarang aku sudah hampir level 7,” jawab Panji santai.
“Le….level 7?”
‘Monster! Pantas saja Ki Puguh mau membuat rekomendasi untuk anak ini,’ pikir Baskara dan Laksana.
Latihan tenaga fisik berbeda dengan tenaga dalam, tetapi masing – masing mempunyai tingkat kesulitan sendiri – sendiri. Panji Kusuma yang hampir mencapai level 7 tenaga fisik membuktikan keteguhan dan semangatnya dalam berlatih.
Prakosa menghembuskan nafas lega. Bagaimana pun ia masih level 6, kalah dari level 7 masih termasuk normal, kan?
__ADS_1
Mahesa dan yang lainnya akhirnya paham. Panji Kusuma menjadi murid cadangan karena syarat tes masuk Perguruan Langit Biru menggunakan level tenaga dalam. Kalau syarat tes masuknya menggunakan level fisik, dengan umurnya yang baru 15 tahun, Panji Kusuma bisa langsung ikut tes masuk murid inti!
Mereka akhirnya menghabiskan waktu dengan mengobrol sampai sore hari. Panji Kusuma sejak hari itu akhirnya secara resmi diterima sebagai anggota baru Tim Rajawali Perak.