Maaf .......

Maaf .......
Episode 33. Menyerbu Gua


__ADS_3

Dziing!


“Urgh!”


“Apa yang terjadi?”


“Kenapa kau ini?”


Dua orang penjaga pintu gua itu menengok heran pada temannya yang tiba – tiba jatuh tersungkur. Malam yang gelap tertutup awan serta angin yang cukup kencang yang membuat api obor mengecil sehingga mereka tidak bisa melihat jelas kondisi temannya.


Melihat hal ini, Panji segera mengambil sebatang anak panah lagi dan menarik busurnya kuat – kuat. Ia membidik ke arah salah seorang diantara mereka yang sedang bergerak mendekati temannya yang tersungkur.


Dziing!


“Urgh!”


Sama seperti orang pertama, orang itu pun jatuh tanpa bisa mengeluarkan suaranya. Sebatang anak panah menancap di tengah lehernya.


Temannya yang berdiri di dekatnya terkejut. Ia segera meloncat menjauh dan menarik pedangnya. Baru saja ia mendarat dan ingin berteriak untuk memperingatkan teman – temannya di dalam gua, ia melihat sebuah bayangan kecil berkelebat ke arah lehernya. Ia yang tak bisa menghindar berusaha menangkis bayangan itu dengan pedangnya.


Jleb!


“Urgh!”


Ternyata pedangnyagagal menangkis bayangan itu yang melesat cepat menembus lehernya. Orang itu hanya mendelik dengan kedua tangan memegang lehernya yang tertembus sebuah pisau belati.


Panji yang berlari cepat setelah melepaskan anak anahnya ternyata langsung melemparkan sebuah pisau belati untuk mencegah orang itu berteriak. Setelah sampai di dekat mereka, ia langsung menebas ketiga orang itu supaya tidak menimbulkan suara yang mencurigakan.


“Ada apa  diluar?”


Sebuah teriakan dari dalam gua mengejutkan Panji. Ia segera berdiri menempel dinding pintu gua dengan pedang di tangan.


“Gombloh, ada apa diluar? Apa kau minum tuak sampai mabuk lagi? Awas kalau kalau kau teledor dan membuat onar lagi seperti kemarin!” bentak suara dari dalam gua itu.


“Maafkan aku, aku terpeleset!” teriak Panji membalas suara itu.


“Bodoh kau, kenapa sampai terpeleset! Kau itu menggangguku saja. Sudah, sekarang aku mau tidur. Kepalaku pusing. Tampaknya aku kebanyakan minum tuak. Bangunkan aku kalau sudah waktunya ganti jaga,” kata orang di dalam gua itu.


“Ya,” balas Panji singkat.


Orang itu menggerutu panjang pendek dan baru berhenti setelah terdengar suara bentakan. Rupanya temannya terganggu mendengar suara gerutuannya.


Panji menyesal karena tadi tanpa berpikir panjang langsung menyerang penjaga gua. Jika ia mau sedikit bersabar dan menunggu lebih lama lagi, ia bisa menghemat waktu karena sebagian besar penjaga tentu sudah mulai tidur.


Setelah berpikir sejenak, Panji duduk di batu yang ada di dekat pintu gua. Ia bersandar di dinding gua dengan mata terpejam.Ia mengatur nafas dan berusaha mengembalikan tenaganya sambil menunggu waktu lebih malam lagi sebelum menyerbu masuk. Iatidak khawatir orang yang di dalam gua akan keluar karena pergantian jaganya


masih lama. Para peronda di luar semuanya juga telah mati. Jadi ia bisa menunggu di sini dengan tenang.


Nyi Danapati yang melihat Panji dari kejauhan mengerutkan keningnya. Ia melihat Panji menyerang ketiga penjaga itu, tapi setelah itu hanya duduk bersandar dan tidak bergerak. Ia menunggu cukup lama tapi Panji tetap tak bergerak. Ia ingin bertanya tapi tidak berani. Kuatir tindakannya akan mengacaukan rencana Panji. Jadi, mau tak


mau, ia hanya bisa duduk diam menunggu.


Waktu terus berlalu dengan tenang. Setelah berdiam cukup lama dan waktu sudah mendekati tengah malam, Panji membuka matanya dan perlahan berdiri. Semua tenaga yang digunakannya seharian telah kembali. Ia merasa segar dan siap beraksi malam ini.


Dengan pedang di tangan, Panji melangkah memasuki gua dengan tenang. Ia berjalan pelan menyusuri gua yang gelap sampai melihat sebuah obor kecil di dinding gua. Di bawahnya ada hamparan batang padi kering yang tertata tak beraturan. Diatasnya ada 3 orang yang sedang tertidur lelap. Suara dengkurannya yang keras terdengar jelas dari jarak yang cukup jauh.


Panji tersenyum kecil melihatnya. Rupanya rencananya berjalan sesuai perkiraannya. Beberapa penjaga gua ini sudah mulai tidur karena merasa nyaman di dalam gua. Sesuai dugaannya, gua ini belum pernah di serang orang sebelumnya.


Ia melangkah pelan mendekati orang yang sedang tertidur itu. Ia mengernyit sedikit saat kakinya tidak sengaja menginjak sebuah ranting kecil yang menimbulkan suara yang cukup keras.


“Hm, Gombloh. Kaukah itu? Apa sekarang sudah waktunya gantian jaga?” gumam salah seorang diantara mereka yang terbangun mendengar suara ranting patah yang terinjak Panji.


“Hah? Sudah waktunya ganti jaga? Bukankah kita tidur baru sebentar?” kata seorang lagi yang tidurnya menghadap kearah Panji. Tiba – tiba ia menyipitkan matanya saat melihat orang yang berdiri di dekat mereka bukan orang yang di kenalnya.


“Hah! Siapa kau?” desisnya.


“Apa maksudmu......”


Orang yang bangun pertama kali tidak bisa meneruskan perkatannya saat pedang Panji tiba – tiba berkelebat menebas lehernya. Orang yang melihat Panji pun hanya bisa terbelalak saat Panji meloncat mendekatinya. Ia tidak sempat berteriak saat pedang Panji melesat memisahkan kepala dari badannya.


“Hm? Ada apa ini? Kenapa kalian ribut ........”


Orang tidur mendengkur tadi rupanya terganggu tidurnya mendengar keributan di dekatnya. Ia membuka matanya perlahan dan bangun dengan susah payah. Belum sempat ia menyelesaikan pertanyaannya, matanya terbelalak saat melihat orang berpakaian hitam berdiri didekatnya dengan pedang berlumuran darah di tangannya. Ia hanya terpaku saat pedang itu bergerak cepat menebas lehernya.

__ADS_1


“Enam orang mati, tinggal 14 orang lagi,” gumamnya muram sambil kembali melangkah menyusuri gua.


Gua itu ternyata cukup panjang. Untunglah dalam jarak tertentu di pasang obor yang cukup menerangi gua, membuat suasana dalam gua menjadi remang – remang. Penerangan ini cukup ideal bagi Panji. Baju zirahnya yang serba hitam memberinya cukup perlindungan dalam suasana yang seperti ini.


Panji terus melangkah dengan hati – hati. Beberapa saat kemudian ia melihat sebuah persimpangan jalan. Di dindingnya ada sebuah obor dengan 3 orang penjaga yang duduk terkantuk – kantuk di bawahnya.


Ia mengerutkan keningnya sebentar sebelum berjalan mendekat dengan kedua tangan meloloskan sepasang belati dari pinggangnya.


“Sudah berapa lama kita disini?” tanya salah seorang diantara mereka.


“Kurasa sudah lebih dari  3 bulan. Memangnya ada apa?”


“Aku sudah bosan di hutan ini. Disini tidak ada hiburan sama sekali. Mau mencari tuak saja kita harus berjalan seharian. Kalau sedang sial, kita malah bisa bertemu laba – laba sialan itu atau kawanan dubuk tutul,” gerutu orang pertama itu sambil menguap.


“Memangnya hanya kau yang bosan. Kita semua sudah bosan di sini. Hanya gara – gara permintaan Dursaha itu, pimpinan kita sampai memindahkan markas kita ke sini,” jawab orang ketiga sambil merebahkan diri di tumpukan jerami kering.


“Hey, jangan tidur dulu. Aku belum ngantuk,” kata orang pertama pelan.


“Persetan. Ketua sedang kembali ke ibukota. Buat apa kita serius berjaga disini. Aku ngantuk, terserah kalau kau masih ingin berjaga,” gerutu orang ketiga sambil berbalik menghadap ke dinding.


“Sialan kau,” gerutu orang kedua yang juga mulai merebahkan dirinya ke tumpukan jerami kering.


“Hey, siapa kau?” tanya orang pertama yang menyadari kedatangan Panji.


Penerangan yang remang – remang dan Panji yang berjalan dengan tenang membuat orang itu ragu – ragu.


Orang pertama itu terkejut saat Panji mendekat. Ia melihat yang mendekat itu bukan temannya, tapi orang berpakaian serba hitam dengan sepasang mata yang dingin memandangnya. Ia ingin berteriak tapi tidak ada suara yang keluar dari tenggorokannya. Sebuah bayangan kecil melesat menembus lehernya.


“Apa.... apa yang terjadi?”


Jleb!


“Urgh!”


“Ada apa sih kalian! Kenapa ...”


“Urgh!”


“9 orang, tinggal 11 orang lagi,” gumam Panji muram.


Panji berdiri sebentar di persipangan jalan itu dan akhirnya memilih untuk berbelok ke kiri. Ia terus berjalan selama beberapa saat sampai ia melihat sebuah ruangan tertutup di depannya.


Perlahan – lahan ia mengintip di ke ruangan itu lewat celah – celah pintu. Ternyata itu adalah sebuah ruangan yang cukup luas. Banyak sekali kotak – kotak kayu dan berbagai macam barang bertumpuk di ruangan itu.


“Hm, mungkin ruangan itu digunakan sebagai tempat mereka menimbun harta rampasan,” gumam Panji pelan.


Sekali lagi ia mengintip ruangan itu dan memeriksanya. Ia melihat setidaknya ada 4 orang di ruangan itu yang sedang duduk berkerumun di dekat sebuah obor.


“Hhh...”


Panji mendesah pelan. Ruangan itu cukup terang karena ada 4 obor yang meneranginya. Ia tidak bisa mendekati mereka dan memberi serangan mendadak seperti sebelumnya. Ia hanya bisa memberikan serangan kejutan dan berharap bisa langsung  membunuh mereka secepatnya sebelum suara pertarungannya membangunkan penjaga yang lain.


“Baiklah Panji, ayo mulai,” gumamnya pelan sambil memegang busur dan anak panahnya. Ia membuka pintu itu sepelan mungkin, berusaha agar tidak ada suara yang keluar. Tapi ia mengernyitkan dahinya saat  pintu itu berderit cukup keras.


“Siapa itu?” teriak salah seorang diantara penjaga di dalam ruangan itu.


“Aku,” jawab Panji cepat.


“Aku? Aku siapa? Cepat jawab. Aku kenal dengan semua penjaga disini,” teriak orang itu lagi.


“Aku. Gombloh,” jawab Panji yang teringat nama penjaga di depan gua.


“Gombloh?” tanya orang itu dengan suara pelan.


“Ya. Aku ngantuk. Aku ingin tidur di ruangan ini.”


“Masukklah,” kata orang itu.


Panji menarik nafas lega. Tanpa ragu, ia membuka pintu itu dan masuk ke dalam dengan cepat. Busur di tangannya di tarik kuat – kuat.


“Hey! Itu bukan Gombloh!” teriak salah seorang diantara 4 orang itu.


“Apa!”

__ADS_1


“Siapa kau?”


Teman – temannya langsung menengok dan terkejut melihat yang masuk keruangan mereka adalah orang berpakaian hitam pekat dan hanya sepasang matanya yang kelihatan. Mereka meloncat berdiri dan mencabut senjata mereka masing – masing


Dziing! “Argh!”


Dziing! “Argh!”


“Kurang ajar!”


Jleb! “Uargh!”


Baru saja kaki mereka menapak di tanah, salah seorang teman mereka sudah menjerit dengan kedua tangan memegang dadanya. Sebuah anak panah menyembul diantara jari – jari tangannya. Belum juga reda rasa terkejut di hati mereka, seorang lagi ikut menjerit dengan kondisi yang sama. Ia terpelanting jatuh ke belakang dengan panah menembus dahinya.


Salah seorang diantara mereka menjerit murka. Tapi sebuah lesatan belati menghentikan teriakannya. Belati itu melesat cepat dan menembus dadanya sampai ke gagangnya.


Panji, yang tidak inginsuara pertempuran membangunkan penjaga lainnya, bergerak cepat mendekati penjaga keempat. Ia menarik pedangnya dan langsung menebas ke arah penjaga itu.


Trang! Trang!


Tang!


“Argh!”


Penjaga itu yang masih terpana melihat ketiga temannya berjatuhan bereaksi hampir terlambat. Ia menangkis serangan Panji saat pedang itu hampir membabat tubuhnya. Ia tidak sempat mengerahkan seluruh kekuatannya sehingga setelah menangkis 2 kali serangan Panji, pedangnya terpental dan hanya bisa terbelalak saat  melihat pedang Panji meluncur deras membelah tubuhnya.


“Fiuh,” gumam Panji sambil menghapus keringat di mukanya.


Raut muka tidak senang terpancar jelas di mukanya saat ia melihat mayat – mayat penjaga gudang itu. Ia telah banyak sekali membunuh, tapi selama ini semua yang dibunuhnya adalah hewan buas dan binatang buruan. Hari ini untuk pertama kali dalam hidupnya ia  telah membunuh sesamanya. Bukan hanya seorang, ia telah membunuh banyak orang. Lebih banyak dari jumlah jari di tangannya. Tidak ada sedikit pun rasa senang atau bangga di hatinya. Bahkan ada sesuatu yang tidak nyaman yang mulai tumbuh dalam hatinya.


Sekali lagi Panji memandang mayat – mayat itu. Saat melihat logo tengkorak berwarna merah di dada kanan mereka, ia mengernyitkan dahinya.


“Mereka adalah anggota Brigade Tengkorak Darah. Mereka telah banyak sekali membunuh dan merampok orang


– orang yang tidak berdosa. Mereka pantas mati. Itu adalah hukuman yang pantas bagi mereka,” gumamnya untuk menenangkan hatinya.


Panji mengedarkan pandangannya ke ruangan itu. Ia melihat ada banyak kotak kayu bertebaran di gudang. Beberapa bergambar kuda yang ada sayapnya.


“Mungkin ini barang – barang dari Ki Danapati, pemilik usaha dagang Kuda Terbang,” gumamnya.


Ia berkeliling lagi dan melihat banyak sekali perhiasan yang bertumpuk – tumpuk di pojok ruangan. Di dekatnya ada sebuah kotak besi yang terbuka. Di dalamnya 2 buah kantung uang. Panji  membuka kantung uang itu dan ternyata isinya koin emas semua. Setelah ragu – ragu sejenak, ia memasukkan kedua kantung uang itu ke dalam tas punggungnya dan melangkah keluar ruangan itu.


“Dengan 4 orang tadi, berarti penjaga gua ini tinggal 7 orang lagi,” gumamnya. “Hhh... hari ini aku benar – benar telah berubah menjadi seorang pencuri dan pembunuh,” desahnya pelan.


“Tapi kalau aku tidak membunuh mereka, bagaimana caranya aku bisa membebaskan Ki Danapati? Kalau tidak salah mereka bahkan berencana untuk membunuhnya jika sudah bertemu dengan orang bernama Dursaha itu,” gumamnya sambil melangkah pelan menyusuri gua. "Uang mereka pun hasil rampasan dari orang yang mereka rampok, bukan usaha mereka sendiri," lanjutnya pelan.


“Persetan. Karena mereka perampok dan pembunuh, maka mereka memang pantas di bunuh,” gumamnya sambil


menggertakkan giginya.


“Hey, siapa kau? Kenapa kau bisa masuk kemari?”


Sebuah bentakan mengejutkan Panji yang berjalan sambil melamun. Ia terkejut saat melihat ada 2 orang penjaga yang berdiri bersandar di dinding di dekat sebuah obor.


“Kenapa berhenti? Kemari kau?” tanya salah seorang yang diantara mereka yang mulai melangkah mendekat.


“Aku Gombloh. Aku baru saja selesai bertugas jaga. Sekarang aku mau tidur,” kata Panji sambil sedikit menundukkan kepalanya.


“Gombloh? Gombloh yang bertugas di pintu gua?” tanya orang kedua yang masih bersandar di dinding.


“Ya.”


“Bocah, rupanya kau pintar juga. Tapi kau membuat kesalahan disini,” kata orang yang bersandar di dinding itu sambil tersenyum dingin. Perlahan ia bergerak menjauhi dinding dan mendekati Panji.


“Pertama, kami kenal Gombloh. Ia bertubuh gemuk, tidak ramping sepertimu. Dan yang kedua, ia jelas tahu kalau penjaga pintu gua tidak diperbolehkan memasuki wilayah ini. Ini peraturan yang sudah diketahui oleh seluruh anggota Brigade Tengkorak Darah. Sekarang pertanyaannya, siapa kau ini?” kata orang pertama yang sudah berada di dekat Panji sambil bertolak pinggang. Ia menyeringai kejam sambil memandang tajam Panji.


“Hhh, apa boleh buat. Aku adalah malaikat maut yang akan mencabut nyawamu,” desis Panji pelan.


“Apa? Apa kau bilang?” kata orang itu sambil mengerutkan keningnya. Suara Panji yang pelan tidak terdengar jelas di telinganya.


“Aku bilang, MATILAH KALIAN!” kata Panji yang dengan cepat mencabut belatinya dan melemparkannya ke arah


orang itu.

__ADS_1


__ADS_2