Maaf .......

Maaf .......
Episode 15. Misi Penyelamatan


__ADS_3

Tunggul berdiri di mulut gua bersama 4 orang temannya. Pakaian mereka amburadul. Mata mereka cekung karena kurang tidur. Mereka memaksakan diri untuk berdiri dan memegang pedang mereka. Hari ini giliran mereka untuk menjaga pintu gua.


Tunggul ingin memaki Sentanu habis – habisan. Karena kecerobohannya, tim yang dibentuknya dengan susah payah sekarang berada di ambang kehancuran.


Ia menyesali keputusannya menerima Sentanu masuk sebagai anggota timnya. Ia masih mengingat dengan jelas saat – saat Sentanu menemuinya.


Saat Sentanu keluar dari Tim Rajawali Perak, ia menemui Tunggul dan berkata ingin masuk sebagai anggota Tim Singa Gunung. Ia sanggup membayar berapa pun biayanya agar diterima menjadi anggota timnya.


Tunggul tahu kemampuan Sentanu. Anak itu termasuk anak yang cerdas karena bisa mencapai level 6 di usia 16 tahun. Hanya saja wataknya yang ambisius membuatnya terpental dari Tim Rajawali Perak.


Ia tidak khawatir Sentanu akan dapat menggantikannya di Tim Singa Gurun. Bagaimana pun juga, ia sudah menjadi murid dalam dan sebentar lagi lulus. Jadi ia mengajukan syarat agar Sentanu mau membelikan perlengkapan seluruh anggota Tim Singa Gunung jika ingin diterima sebagai anggotanya. Tak disangkanya, Sentanu  menyanggupinya.


Akhirnya hal yang tak diinginkan Tunggul pun terjadi. Dengan kekayaannya, Sentanu mulai bisa mempengaruhi teman - temannya sesama murid luar. Pengaruhnya semakin besar sehingga ia bisa menduduki posisi wakil ketua. Ia menjadi semakin besar kepala dan semaunya sendiri.


Tunggul mengamati kawanan ajag ekor merah yang berkumpul di depan gua dengan putus asa. Mungkin ini hari


terakhir ia bisa hidup. Ia dan teman – temannya masih bisa berdiri hanya mengandalkan semangat juang.


Sudah beberapa hari mereka tidak makan. Persediaan makan sudah habis dan mereka hanya mengisi perut


dengan air yang menetes di dalam gua.


Ia memandang  teman – temannya yang masih setia menemaninya. Mereka telah kehilangan 5 orang pada pertempuran di padang rumput. Saat menyingkir ke dalam gua, mereka kehilangan 5 orang lagi. Sekarang hanya


tinggal 10 orang yang masih bisa berdiri. Untuk menghemat stamina, mereka bergantian jaga.


Ia memandang teman – temannya dan tersenyum getir. Ia ingin mengucapkan salam perpisahan tapi hanya bisa mengangkat pedangnya ke atas.


Ia tahu ia akan mati hari ini. Tapi ia tidak ingin mati sendirian. Ia ingin berjuang dan membunuh setidaknya seekor ajag untuk menemaninya mati.


Ajag – ajag di depan gua itupun tampaknya juga mengetahuinya. Sejak kemarin, mereka menunggu dengan sabar di depan gua, tapi hari ini mereka mulai berdiri dan siap menyerang.


Tunggul berdiri tegak di tengah gua. Tangannya memegang pedang erat – erat. Ia menoleh saat teman – temannya melangkah dan menyejajarinya. Mereka tersenyum kearahnya seolah tahu ini adalah perjuangan terakhir mereka. Mereka tidak mengharapkan akan ada bantuan yang datang. Saat itulah mereka mendengar sebuah teriakan keras.


“Tembaaaa...k!”


Dzii...ing!


Kaing!


Desingan anak panah dan jerit kesakitan ajag menyadarkan Tunggul dan teman – temannya. Mereka menoleh dan terpana saat melihat ada beberapa orang mengenakan seragam murid luar Perguruan Langit Biru menyerang kawanan ajag dengan anak panah.


Tembakan mereka cepat dan terarah. Kawanan ajag ekor merah berusaha mendekat dan menyerang mereka, tetapi


ajag – ajag itu terpental oleh hantaman pedang orang – orang itu.


Tunggul dan teman – temannya tertegun dengan mata terbelalak. Sejak kapan Perguruan Langit Biru mempunyai murid luar sehebat ini?


Beberapa menit berlalu dan kawanan ajag berjumlah kurang lebih 50 ekor itupun tumbang tertembus anak panah maupun hantaman pedang. Orang – orang itu pun berjalan mendekati Tunggul dan teman – temannya yang masih terdiam tak percaya.


“Tunggul, bagaimana kabarmu?” tanya  orang yang berjalan paling depan.


“Mahesa? Apakah benar kau Mahesa?” tanya Tunggul tak percaya.


“Apakah matamu sakit? Memangnya ada orang lain selain aku yang bernama Mahesa?” tanya Mahesa sambil


menepuk pundak Tunggul.


“Kenapa? Kenapa kalian bisa sampai kemari?” tanya Tunggul dengan mata basah.


“Kenapa katamu? Pertanyaan yang aneh. Kami kesini tentu saja untuk mencarimu. Perguruan Langit Biru membuat misi untuk mencari kalian dan kamilah yang mengambilnya,” kata Mahesa pelan.


“Mahesa, sebaiknya ngobrolnya nanti saja. Kasihan Tunggul. Tampaknya mereka kurang istirahat. Sebaiknya kita masuk ke dalam untuk melihat apakah ada yang lain yang memerlukan bantuan kita,” kata Sasti pelan. Hatinya tersentuh saat melihat kondisi Tunggul dan kawan – kawannya yang kurus kering dan berantakan. Ia tak mengira setelah tak bertemu selama beberapa hari, Tim Singa Gunung akan berubah jauh seperti ini.

__ADS_1


Tubuh Tunggul dan teman – temannya menggigil mendengar perkataan Sasti. Mereka memejamkan mata sementara air mata mengalir deras membasahi pipi. Mereka berusaha sekuat tenaga untuk menahan tangis yang ingin keluar.


Mereka telah berhari – hari menderita kelaparan, keletihan, kurang tidur dan harus terus bersiaga menghadapi serangan ajag ekor merah yang bisa menyerang mereka setiap saat. Mereka telah siap mati karena mereka tidak mengharapkan datangnya bantuan. Tak mereka sangka, tim yang mereka ejek justru malah mempertaruhkan nyawa untuk menolong mereka.


Setelah meminta Laksana, Baskara, dan Paksi berjaga di depan pintu gua, yang lain mengikuti Tunggul masuk ke dalam gua. Mereka masuk ke sebuah ruangan yang cukup luas dan terkejut saat melihat banyak orang bergeletakan di lantai gua.


Panji memeriksa mereka semua dan mendapati ada 5 orang yang sudah meninggal, 5 orang luka parah, 3 orang luka sedang dan 5 orang yang hampir pingsan karena kelelahan dan kelaparan.


Mahesa, Prakosa dan Laksana mengubur orang yang sudah mati di dalam gua sedangkan Panji dibantu Sasti, Gayatri dan Jayanti mengobati orang yang terluka. Panji mencairkan pil multitonik serta pil vitalitas dengan air dan meneteskannya ke mulut orang – orang yang terluka.


“Kalian telan ini dan beristirahatlah. Tenaga kalian dibutuhkan besok,” Panji menyerahkan kedua jenis pil itu pada Tunggul dan keempat temannya.


Setelah selesai mengobati, Panji berkumpul dengan semua anggota Tim Rajawali Perak di depan gua. Mereka membagi tugas jaga bergantian  antara kelompok 1 dan kelompok 2. Dengan orang bermata tajam seperti Paksi di kelompok 1 dan Panji di kelompok 2 mereka bisa melihat ajag yang mendekat di tengah siraman cahaya bulan di padang rumput.


Malam itu berlalu dengan tenang. Ada beberapa ajag yang mencoba mendekati gua, tapi panah Tim Rajawali Perak menghentikan langkah mereka.


Keesokan harinya, Tunggul dan 9 orang murid dalam telah kembali sehat. Ketiga orang yang luka cukup parah kondisinya juga sudah jauh lebih baik. Mereka sudah bisa berjalan sendiri. Hanya saja 5 orang yang luka parah yang masih terbaring lemah, tapi kondisinya sudah stabil.


Mereka makan pagi dari persediaan makan yang dibawa Tim Rajawali Perak. Mahesa dan yang lainnya baru paham kenapa Panji meminta makanan kepada Ki Narpada.


Matahari telah sepenggalah saat mereka meninggalkan gua itu. Mahesa meminta Tim Singa Gunung agar menyesuaikan diri. Lima orang murid dalam menggendong anggota yang luka parah, sementara 5 orang lainnya akan bertindak sebagai pengawal tim.


Tim Rajawali Perak juga membagi tugas. Kelompok 1 yang dipimpin Mahesa dengan Paksi di dalamnya akan


berjalan paling depan, sedangkan kelompok 2 akan mengawal daerah belakang.


Mereka menyeberangi padang rumput dengan cepat. Paksi dan Panji beberapa kali melihat ajag ekor merah di kejauhan tapi mereka hanya memandang dari kejauhan.


Mereka bisa menyeberangi rumput dan memasuki hutan setelah lewat tengah hari. Pergerakan mereka melambat karena menyesuaikan dengan orang yang terluka. Akhirnya, mereka terpaksa bermalam di tengah hutan.


Matahari telah tenggelam cukup malam. Langit yang cerah membuat sinar bulan tidak terhalang. Suara jengkerik dan binatang malam mengisi suasana malam yang sunyi.


“Auuuuu........!”


Mereka memasang mata dan telinga untuk mengamati keadaan sekitarnya. Setelah cukup lama tidak ada


suara yang mencurigakan, tiba – tiba mereka mendengar dengkingan halus di beberapa tempat.


Kik   kik     kik


Kik   kik     kik


Kik   kik     kik


Perlahan – lahan Panji menyiapkan busur dan anak panahnya. Ia paham betul suara itu. Dulu ia hampir mati karena tidak menyadari bahaya saat suara itu mendekat. Ia melirik Laksana yang duduk di dahan pohon tak jauh dari pohonnya. Tampaknya anak itu tidak tahu ada bahaya yang mendekat.


Panji mengedarkan matanya. Sinar bulan yang menerobos celah- celah dedaunan membantunya mengamati


daerah sekitar pohon tempatnya duduk. Akhirnya ia melihat ada beberapa bayangan menyelinap di sela – sela semak belukar.


Ia menarik busur tanpa suara. Perlahan – lahan ia membidik bayangan itu dan menembaknya.


Dzii.......ing!


Kaing!


Dzii.......ing!


Nguik!


Anak panahnya  melesat cepat menerjang bayangan itu. Bayangan itu menjerit keras dan jatuh terjerembab. Jeritannya mengejutkan bayangan lain yang membuat mereka mendongak dan terlihat di keremangan malam. Ajag yang lain segera menjerit setelah anak panah susulan Panji  menembus tubuhnya.


Jeritan - jeritan itu juga mengejutkan anggota Tim Rajawali Perak yang lain. Mereka segera memeriksa area sekitar bawah pohon dan langsung menembakkan anak panah saat melihat ada gerakan yang mencurigakan.

__ADS_1


Anak – anak panah melesat dari pohon – pohon di sekitar pohon yang dinaiki Tim Singa Gunung. Jerit kesakitan dan kematian ajag ekor merah terdengar di beberapa tempat. Beberapa saat kemudian jeritan itu mereda. Suasana pun berganti menjadi sunyi senyap seakan tidak terjadi apa – apa.


Tunggul dan teman – temannya menyaksikan pertempuran itu dari pohon tempat mereka duduk. Mereka telah menyaksikan kemampuan Tim Rajawali Perak kemarin. Sekarang pun mereka menyaksikan tim yang sama dalam mengatasi keadaan yang berbeda.


Mereka saling berpandangan dalam diam. Ada ekspresi tak percaya yang terlihat di mata mereka. Tim Rajawali Perak yang sekarang sudah jauh berbeda dari Tim Rajawali Perak yang mereka kenal dulu.


Mereka yang sekarang bisa meladeni musuh, baik dengan serangan jarak jauh maupun jarak dekat. Mereka yang sekarang juga mempunyai kerjasama yang solid yang membuat kemampuan tim mereka meningkat pesat. Itu adalah sesuatu yang tidak pernah mereka lihat di Tim Rajawali Perak yang lama.


Tiba – tiba Tunggul teringat kata –kata Wiranata dan Mahesa di lapangan dekat pintu gerbang saat mereka akan berangkat dulu. Benarkah kedatangan anggota baru yang hanya murid cadangan itu telah mengubah Tim Rajawali Perak sedrastis ini? Pantas saja Wiranata dan Mahesa marah saat anak itu dihina Sentanu.


Malam itu berlalu dengan tenang bagi anggota Tim Singa Gunung. Walaupun kawanan ajag beberapa kali datang, semuanya bisa dihalau dengan mudah oleh Tim Rajawali Perak.


Keesokan harinya saat turun dari pohon, Tunggul melihat banyak bangkai ajag ekor merah tergeletak di berbagai tempat di sekitar pohon tempatnya bermalam. Ia hanya bisa menghela nafas panjang. Diam – diam ia berterima kasih atas pertolongan Tim Rajawali Perak.


Mereka melanjutkan perjalanan melanjutkan perjalanan menembus hutan menuju Desa Ringin Kembar. Mereka melangkah pelan menyesuaikan kondisi orang yang terluka. Akhirnya menjelang tengah hari mereka bisa menembus hutan dan melangkah memasuki area persawahan kering.


Tunggul dan teman – temannya merasakan emosi yang kuat saat melihat pintu gerbang Desa Ringin Kembar di kejauhan. Mereka yang hampir mati akhirnya merasakan lagi semangat hidup yang menyala dalam dada mereka.


Mereka mempercepat jalan menerjang persawahan kering. Tanah sawah yang mengeras sehabis panen memudahkan langkah mereka.


Auuuuu......!


Saat mereka sampai di pertengahan sawah, mereka mendengar lolongan keras ajag di belakang mereka. Mereka


menengok dan melihat banyak kepala ajag ekor merah mulai bermunculan di pinggir hutan.


“Sialan, kenapa mereka datang lagi?” desah teman Tunggul yang terluka parah dengan wajah pucat. Harapan yang sempat tumbuh di dadanya mulai menghilang saat ia menengok dan melihat puluhan ajag mulai berlari mengejar mereka.


“Cepat! Kerahkan tenaga kalian. Kita harus mencapai pintu gerbang secepatnya,” teriak Tunggul.


Ia menghentikan langkahnya dan menghadang kawanan ajag itu dengan pedang terhunus. Beberapa kawannya pun menghentikan larinya dan berdiri disampingnya.


“Tunggul, serahkan para ajag itu pada kami. Kau kawal teman – temanmu agar mereka selamat sampai pintu


gerbang,” kata Mahesa sambil menepuk pundak Tunggul


“Tapi...”


“Tidak ada tapi. Cepatlah! Jangan buang waktu!” teriak Prakosa keras. Ia tidak sabar melihat reaksi lamban Tunggul.


“Bentuk formasi sejajar!” teriak Panji sambil menyiapkan panah di busurnya.


Tim Rajawali Perak berdiri sejajar dengan panah ditangan. Mereka menarik busurnya dan mulai membidik sasarannya.


“Tembak!” teriak Mahesa diikuti melesatnya 10 anak panah yang menerjang ajag yang berlari paing depan.


“Mahesa, mereka terlalu banyak!” teriak Baskara saat melihat banyak ajag ekor merah terus menerus keluar dari hutan.


“Tembak terus! Kita tidak bisa mundur atau Tim Singa Gunung akan menjadi korban,” jawab Mahesa keras. Ia menengok sebentar ke belakang dan melihat ke arah Tim Singa Gunung yang berlari menjauh.


Baskara menggertakkan giginya dan terus menembak secepat yang ia bisa. Ia melirik Panji yang terus menembakkan anak panah dengan sangat cepat. Ia menghembuskan nafasnya dan menguatkan tekadnya. Tangannya meraih anak panah dan mulai menembak lagi.


“Ganti senjata! Masuk ke formasi kelompok!” teriak Mahesa saat ajag ekor merah mulai mendekat dengan cepat.


Tunggul berlari sambil menggertakkan dirinya. Ia merasa dirinya tak berguna. Sejak dirinya masuk sebagai murid dalam, belum pernah ada satu orang pun murid luar yang berani meremehkan dan membentaknya. Tapi sekarang 9 orang murid luar dan 1 orang murid cadangan berani meremehkan kekuatannya dan tidak membutuhkan  bantuannya.


Sekali lagi ia menengok dan spontan ia menghentikan langkahnya. Rasa bersalah mulai tumbuh dalam hatinya. Tempat dimana Tim Rajawali Perak berada sekarang penuh dengan kawanan ajag ekor merah.


“Sialan! Kita balik!” katanya pada kawan – kawan yang menyertainya. Ia menghunuskan pedang dan berlari menuju kawanan ajag mata merah itu.


“Mahesa!” teriaknya keras.


Teriakannya membuat beberapa ajag ekor merah berpaling dan bergerak  menyerangnya. Saat ia bersiap  menghadapi mereka sebuah teriakan keras membuatnya tertegun.

__ADS_1


“Kurang ajar kau Tunggul! Kenapa kau kemari? Cepat kembali!”


__ADS_2